roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Sabtu, 15 November 2008 | 10:21 WIB
JAKARTA, SABTU - Berdasarkan Data Organisasi Kesehatan dunia (WHO) sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang tahun 1976-2008 akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup, Amanda Katil Niode mengatakan munculnya penyakit ini karena temperatur suhu panas bumi yang terus meningkat.
"Yang paling jelas kelihatan penyakit demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat mematikan," katanya di sela-sela penganugerahan Raksaniyata 2008 di Jakarta, Jumat (14/11). Menurut dia, masalah kesehatan akibat pemanasan global memang sangat dirasakan parahnya oleh negara-negara berkembang yang sebagian masih miskin karena minimnya danang sehingga tak mampu lagi melaksanakan berbagai program persiapan dan tanggap darurat.
Untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan manusia itu, tidak bisa dilakukan sendiri oleh masing-masing negara. Upaya itu baru akan berhasil jika dilakukan melalui kerja sama global, seperti misalnya meningkatkan pengawasan dan pengendalian penyakit-penyakit infeksi, memastikan penggunaan air tanah yang kian surut, dan mengkoordinasikan tindakan kesehatan darurat.
"Itu semua penting dilakukan, karena perubahan iklim jelas-jelas akibat dari kegiatan manusia yang tak peduli terhadap keseimbangan alam, yang kemudian berimplikasi serius terhadap kesehatan publik," ujarnya.
Selain menyebabkan gangguan kesehatan, perubahan iklim juga mengakibatkan berbagai bencana alam yang sangat besar. Sepanjang tahun 2006 telah terjadi 390 bencana besar di dunia yang banyak menelan korban.
"Amerika Serikat paling banyak terjadi bencana dibanding negara-negara lain, tetapi untuk jumlah korban paling banyak saat tsunami terjadi di Aceh pada 2004 lalu," jelasnya.
Di Indonesia sendiri, kata dia, bencana alam banyak terjadi akibat kesadaran masyarakat yang lemah, seperti pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembuangan karbon dioksida (CO2). Agar bencana alam dapat diminimalisir diperlukan sinkronisasi antara pemerintah, dunia usaha dan individu.
Panglima TNI Khawatirkan Dampak Perubahan Iklim
Kamis, 13 November 2008 | 20:31 WIB
NUSA DUA, KAMIS - Seiring dengan munculnya perubahan iklim secara global, tidak sedikit pulau-pulau kecil dikhawatirkan akan tenggelam dilibas permukaan air laut yang terus meningkat. Kekhawatiran seperti itu sempat mendapat pembahasan yang cukup serius dalam Konferensi Panglima Angkatan Bersenjata Asia Pasifik di Nusa Dua, Bali, yang berakhir Kamis (13/11) petang.
Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menyatakan, bila pulau-pulau kecil tenggelam akibat munculnya pemanasan global, dipastikan akan menjadi ancaman cukup serius bagi keamanan suatu negara. "Tidak menutup kemungkinan akan menjadi ancaman yang serius. Masalahnya, warga masyarakat yang pulaunya tenggelam, akan ramai-ramai migrasi ke negeri lain," ucapnya.
Dalam kondisi yang demikian selain akan dapat menjadi ancaman bagi keamanan suatu negara, juga tentunya suatu musibah yang memerlukan penanganan yang tidak bisa dianggap kecil. Mengingat hal itu, peserta konferensi sepakat untuk secara bersama-sama ambil bagian dalam upaya menekan penggunaan bahan bakar fosil yang berdampak pada perubahan iklim. Dengan demikian, adanya perubahan iklim yang terbukti telah cukup banyak menimbulkan bencana alam, senantiasa dapat ditekan di masa mendatang.
"Semua negara sepakat untuk ambil bagian dalam upaya menekan semakin melajunya tingkat pemanasan global tersebut," kata Panglima TNI.
Senada dengan Jenderal Djoko Santoso, Panglima Komando Armada Amerika Serikat di Asia Pasifik, Admiral Timothy J Keating menyebutkan, sejumlah danang tentunya telah disiapkan terkait kepentingan negara-negara Asia Pasifik dalam upaya penanggulangan pemanasan global.
Namun demikian, Keating tidak merinci besarnya anggaran baik yang disiapkan maupun yang dibutuhkan untuk kepentingan tersebut.
Konferensi yang telah berlangsung selama tiga hari itu, diikuti para panglima angkatan bersenjata dari 26 negara di Asia Pasifik.
JAKARTA, SABTU - Berdasarkan Data Organisasi Kesehatan dunia (WHO) sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang tahun 1976-2008 akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup, Amanda Katil Niode mengatakan munculnya penyakit ini karena temperatur suhu panas bumi yang terus meningkat.
"Yang paling jelas kelihatan penyakit demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat mematikan," katanya di sela-sela penganugerahan Raksaniyata 2008 di Jakarta, Jumat (14/11). Menurut dia, masalah kesehatan akibat pemanasan global memang sangat dirasakan parahnya oleh negara-negara berkembang yang sebagian masih miskin karena minimnya danang sehingga tak mampu lagi melaksanakan berbagai program persiapan dan tanggap darurat.
Untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan manusia itu, tidak bisa dilakukan sendiri oleh masing-masing negara. Upaya itu baru akan berhasil jika dilakukan melalui kerja sama global, seperti misalnya meningkatkan pengawasan dan pengendalian penyakit-penyakit infeksi, memastikan penggunaan air tanah yang kian surut, dan mengkoordinasikan tindakan kesehatan darurat.
"Itu semua penting dilakukan, karena perubahan iklim jelas-jelas akibat dari kegiatan manusia yang tak peduli terhadap keseimbangan alam, yang kemudian berimplikasi serius terhadap kesehatan publik," ujarnya.
Selain menyebabkan gangguan kesehatan, perubahan iklim juga mengakibatkan berbagai bencana alam yang sangat besar. Sepanjang tahun 2006 telah terjadi 390 bencana besar di dunia yang banyak menelan korban.
"Amerika Serikat paling banyak terjadi bencana dibanding negara-negara lain, tetapi untuk jumlah korban paling banyak saat tsunami terjadi di Aceh pada 2004 lalu," jelasnya.
Di Indonesia sendiri, kata dia, bencana alam banyak terjadi akibat kesadaran masyarakat yang lemah, seperti pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembuangan karbon dioksida (CO2). Agar bencana alam dapat diminimalisir diperlukan sinkronisasi antara pemerintah, dunia usaha dan individu.
Panglima TNI Khawatirkan Dampak Perubahan Iklim
Kamis, 13 November 2008 | 20:31 WIB
NUSA DUA, KAMIS - Seiring dengan munculnya perubahan iklim secara global, tidak sedikit pulau-pulau kecil dikhawatirkan akan tenggelam dilibas permukaan air laut yang terus meningkat. Kekhawatiran seperti itu sempat mendapat pembahasan yang cukup serius dalam Konferensi Panglima Angkatan Bersenjata Asia Pasifik di Nusa Dua, Bali, yang berakhir Kamis (13/11) petang.
Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menyatakan, bila pulau-pulau kecil tenggelam akibat munculnya pemanasan global, dipastikan akan menjadi ancaman cukup serius bagi keamanan suatu negara. "Tidak menutup kemungkinan akan menjadi ancaman yang serius. Masalahnya, warga masyarakat yang pulaunya tenggelam, akan ramai-ramai migrasi ke negeri lain," ucapnya.
Dalam kondisi yang demikian selain akan dapat menjadi ancaman bagi keamanan suatu negara, juga tentunya suatu musibah yang memerlukan penanganan yang tidak bisa dianggap kecil. Mengingat hal itu, peserta konferensi sepakat untuk secara bersama-sama ambil bagian dalam upaya menekan penggunaan bahan bakar fosil yang berdampak pada perubahan iklim. Dengan demikian, adanya perubahan iklim yang terbukti telah cukup banyak menimbulkan bencana alam, senantiasa dapat ditekan di masa mendatang.
"Semua negara sepakat untuk ambil bagian dalam upaya menekan semakin melajunya tingkat pemanasan global tersebut," kata Panglima TNI.
Senada dengan Jenderal Djoko Santoso, Panglima Komando Armada Amerika Serikat di Asia Pasifik, Admiral Timothy J Keating menyebutkan, sejumlah danang tentunya telah disiapkan terkait kepentingan negara-negara Asia Pasifik dalam upaya penanggulangan pemanasan global.
Namun demikian, Keating tidak merinci besarnya anggaran baik yang disiapkan maupun yang dibutuhkan untuk kepentingan tersebut.
Konferensi yang telah berlangsung selama tiga hari itu, diikuti para panglima angkatan bersenjata dari 26 negara di Asia Pasifik.