Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Mengirim Anak ke Pesantren Bukan untuk Keren
Bismillahirrahmanirrahiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Beberapa tahun terakhir, mengirim anak ke pesantren sudah semakin marak. Memondokkan anak seolah sebuah trend tersendiri. Bahkan ada sebuah lagu yg seolah mewakili para santri ataupun orang tua santri, dengan judul Mondok itu Keren.
Apapun yg melatar belakangi para orang tua untuk memondokkan anaknya, tentu saja semua demi kebaikan anak, apalagi di zaman serba digital seperti saat ini.
Lalu, apa saja yg perlu dipersiapkan orang tua ketika harap memondokkan anak? Berikut ini, modal minimal yg harus dimiliki:
1. Niat Benar
Tentu saja niat adalah langkah paling awal & utama dari sebuah perbuatan. Jika niat benar karena Allah semata, yg lebih sering kita sebut dengan mengatakan ikhlas, pasti hasilnya akan baik.
Misal saja, ada orang tua yg memondokkan anak dengan niat ia sudah tidak sanggup lagi untuk mendidik anaknya, karena sudah terlanjur salah asuhan atau pergaulan.
Ketahuilah, ujung-ujungnya di pondok pun akan menyusahkan pihak pondok. Dan, cepat atau lambat akan berdampak buruk pada lingkungan pondok. Itulah yg akhirnya akan merusak citra pondok pesantren.
Untuk itu, benar-benarlah dalam menata niat. Jadi mondok bukan untuk keren, bukan pula untuk terbebas dari tanggung jawab mendidik & mengasuh. Atau pun niat-niat yg lain.
Berusahalah cuma tetap mengharap ridha-Nya semata, bukan yg lain.
2. Materi
Biaya untuk memondokkan anak memang lebih banyak. Untuk itulah perlu bagi orang tua mempersiapkan materi lebih saat berniat memondokkan anak.
Mengapa demikian? Tentu saja, karena pondok itu bagai rumah kedua bagi anak. Jika anak-anak itu ada di rumah, sekolah di rumah saja, maka biaya operasional ikut dalam satu rumah, bersama anggota keluarga yg lain.
Sedangkan mereka sedang berada di tempat lain, tentunya tidak lepas dari biaya operasional itu. Meski memang ada pondok pesantren yg biaya per bulannya tidak besar.
3. Tega & Rela
Kata Tega, adalah mengatakan wajib yg harus dimiliki orang tua, meski itu mengatakan yg sungguh berat untuk dilaksanakan.
Bagaimana tidak berat? Kita selaku orang tua, terpaksa harus terpisah dari anak-anak yg sejak kecil berada di dekapan kita. Rela menahan rindu, rela berjauhan & rela tidak dapat melihatnya setiap hari.
Tidak cuma rela, tetapi kita juga harus tega ketika melihat mereka makan seadanya, seperti menu wajib 3T, atau mungkin ketika mereka dalam kondisi sakit, sedangkan kita tidak dapat merawatnya. Semua harus dilalui, meski berat & tidak mudah.
Lalu, bagaimana supaya kita tetap tenang & biasa saja ketika anak-anak harus dipondokkan?
Saat ada rasa sedih karena rindu atau semacamnya, coba ingat kembali niat kita, anggap saja mereka itu sedang berjihad yg pahalanya surga.
Quote:
Adapun dalil yg mendukung bahwa menuntut ilmu termasuk jihad adalah firman Allah Taala,
(51) (52)
Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yg memberi peringatan (rasul). Maka janganlah anda mengikuti orang-orang kafir, & berjihadlah kepada mereka dengan Al Quran dengan jihad yg besar (QS. Al Furqon: 51-52).
Ibnul Qayyim berkata dalamZaadul Maad, Surat ini adalah Makkiyyah (turun sebelum Nabishallallahu alaihi wa sallamberhijrah, -pen).
Di dalam ayat ini berisi perintah berjihad melawan orang kafir denganhujjahdanbayan(dengan memberi penjelasan atau ilmu, karena saat itu kaum muslimin belum punya kekuatan berjihad dengan senjata, -pen).
Bahkan berjihad melawan orang munafik itu lebih berat dibanding berjihad melawan orang kafir. Jihad dengan ilmu inilah jihadnya orang-orang yg spesifik dari umat ini yg jadi pewaris para Rasul.
Dalam hadits juga menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wa sallambersabda,
Siapa yg mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya cuma untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yg mentilik-tilik barang lainnya. (HR. Ibnu Majah no. 227 & Ahmad 2: 418, shahih mengatakan Syaikh Al Albani).
Adapun dalil yg mendukung bahwa menuntut ilmu termasuk jihad adalah firman Allah Taala,
(51) (52)
Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yg memberi peringatan (rasul). Maka janganlah anda mengikuti orang-orang kafir, & berjihadlah kepada mereka dengan Al Quran dengan jihad yg besar (QS. Al Furqon: 51-52).
Ibnul Qayyim berkata dalamZaadul Maad, Surat ini adalah Makkiyyah (turun sebelum Nabishallallahu alaihi wa sallamberhijrah, -pen).
Di dalam ayat ini berisi perintah berjihad melawan orang kafir denganhujjahdanbayan(dengan memberi penjelasan atau ilmu, karena saat itu kaum muslimin belum punya kekuatan berjihad dengan senjata, -pen).
Bahkan berjihad melawan orang munafik itu lebih berat dibanding berjihad melawan orang kafir. Jihad dengan ilmu inilah jihadnya orang-orang yg spesifik dari umat ini yg jadi pewaris para Rasul.
Dalam hadits juga menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wa sallambersabda,
Siapa yg mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya cuma untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yg mentilik-tilik barang lainnya. (HR. Ibnu Majah no. 227 & Ahmad 2: 418, shahih mengatakan Syaikh Al Albani).
Selain mengingat niat orang tua saat memondokkan, satu lagi cara supaya dapat tetap tenang, yaitu sering-sering mendo'akan kebaikan untuk mereka. Mintalah kepada Allah yg maha kasih & maha menjaga untuk anak-anak kita yg sedang berada di pondok pesantren.
Semoga bermanfaat, hingga jumpa pada thread berikutnya.
Wassalamu'alaykum
Penulis: NovellaHikmiHas
Narasi : Oppri
Sumber gbr : google, pinterest, dokpri
Sumber lain : Link
Hari ini 00:46Penulis: NovellaHikmiHas
Narasi : Oppri
Sumber gbr : google, pinterest, dokpri
Sumber lain : Link