Ajido-Marujido
IndoForum VIP: The Special One
- No. Urut
- 10016
- Sejak
- 31 Des 2006
- Pesan
- 4.815
- Nilai reaksi
- 146
- Poin
- 63
JAKARTA – Pemerintah berjanji tahun depan frekuensi pemadaman listrik di Jawa-Bali akan berkurang.
Keandalan sistem kelistrikan Jawa-Bali diperkirakan semakin meningkat dengan adanya sejumlah pembangkit baru, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang 60 Megawatt (MW) dan PLTP Darajat 110 MW.
“Dengan begitu, kita usahakan tidak ada lagi pemadaman,” ujar Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral JPurwono di Jakarta kemarin. Dia mengatakan, meskipun tambahan daya relatif masih kecil, keandalan sistem Jawa-Bali akan bertambah sehingga kemungkinan terjadinya pemadaman dapat dikurangi. Saat ini, sistem Jawa-Bali terbilang masih rentan pemadaman pada saat beban puncak akibat masih minimnya cadangan daya.
Terkait dengan itu, Purwono mengatakan bahwa pemerintah masih tetap akan mendorong penghematan penggunaan listrik di rumah tangga agar mengurangi terjadinya defisit listrik. Lebih lanjut Purwono mengungkapkan, untuk mengatasi defisit listrik tahun 2008, pemerintahakan mengandalkan tambahan daya dari tenaga panasbumi yang merupakan sumber energi yang bersih dan terbarukan.
Tetapi, kata dia, untuk pembangkit di luar Jawa-Bali, mau tidak mau masih akan mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar minyak dan transmisi interkoneksi. Pasalnya, pembangkit listrik tenaga uap yang memiliki daya besar baru dapat dioperasikan paling cepat 2009 dan pertengahan 2010.
Kerugian PLN Jateng
Direktur Transmisi dan Distribusi PT Perusahaan Listrik Negara (persero) Herman Darnel Ibrahim mengatakan, pada bencana tanah longsor di Jawa Tengah, terjadi kerusakan jaringan dan fasilitas kelistrikan PLN. “Beberapa jaringan roboh dan rusak. Kerugian, setelah didata sekitar Rp 200 juta,” tuturnya. Sedang untuk daerah banjir, relatif tidak ada kerusakan jaringan PLN. Untuk bencana tanah longsor, jelas dia, terdapat sekitar 1.700 pelanggan PLN yang menjadi korban kerusakan.
Sedangkan untuk banjir, di sekitar Solo, pada 26 Desember 2007 terdapat sekitar 6.700 pelanggan PLN yang menjadi korban. “Untuk keamanan, aliran listrik kami padamkan dulu,” papar Herman. PLN, lanjut dia, telah melakukan serangkaian perbaikan seiring dengan surutnya air. Jika pada 26 Desember 2007 terdapat sekitar 1.600 gardu listrik yang padam, pada 28 Desember 2007 tinggal sekitar 400 gardu yang masih belum dihidupkan. “Untuk rumah-rumah pelanggan korban banjir, pada dasarnya kami tinggal menunggu air surut. Jika sudah tidak digenangi air, aliran listrik ke kawasan korban banjirakan langsung kami hidupkan,” tuturnya.
Keandalan sistem kelistrikan Jawa-Bali diperkirakan semakin meningkat dengan adanya sejumlah pembangkit baru, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang 60 Megawatt (MW) dan PLTP Darajat 110 MW.
“Dengan begitu, kita usahakan tidak ada lagi pemadaman,” ujar Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral JPurwono di Jakarta kemarin. Dia mengatakan, meskipun tambahan daya relatif masih kecil, keandalan sistem Jawa-Bali akan bertambah sehingga kemungkinan terjadinya pemadaman dapat dikurangi. Saat ini, sistem Jawa-Bali terbilang masih rentan pemadaman pada saat beban puncak akibat masih minimnya cadangan daya.
Terkait dengan itu, Purwono mengatakan bahwa pemerintah masih tetap akan mendorong penghematan penggunaan listrik di rumah tangga agar mengurangi terjadinya defisit listrik. Lebih lanjut Purwono mengungkapkan, untuk mengatasi defisit listrik tahun 2008, pemerintahakan mengandalkan tambahan daya dari tenaga panasbumi yang merupakan sumber energi yang bersih dan terbarukan.
Tetapi, kata dia, untuk pembangkit di luar Jawa-Bali, mau tidak mau masih akan mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar minyak dan transmisi interkoneksi. Pasalnya, pembangkit listrik tenaga uap yang memiliki daya besar baru dapat dioperasikan paling cepat 2009 dan pertengahan 2010.
Kerugian PLN Jateng
Direktur Transmisi dan Distribusi PT Perusahaan Listrik Negara (persero) Herman Darnel Ibrahim mengatakan, pada bencana tanah longsor di Jawa Tengah, terjadi kerusakan jaringan dan fasilitas kelistrikan PLN. “Beberapa jaringan roboh dan rusak. Kerugian, setelah didata sekitar Rp 200 juta,” tuturnya. Sedang untuk daerah banjir, relatif tidak ada kerusakan jaringan PLN. Untuk bencana tanah longsor, jelas dia, terdapat sekitar 1.700 pelanggan PLN yang menjadi korban kerusakan.
Sedangkan untuk banjir, di sekitar Solo, pada 26 Desember 2007 terdapat sekitar 6.700 pelanggan PLN yang menjadi korban. “Untuk keamanan, aliran listrik kami padamkan dulu,” papar Herman. PLN, lanjut dia, telah melakukan serangkaian perbaikan seiring dengan surutnya air. Jika pada 26 Desember 2007 terdapat sekitar 1.600 gardu listrik yang padam, pada 28 Desember 2007 tinggal sekitar 400 gardu yang masih belum dihidupkan. “Untuk rumah-rumah pelanggan korban banjir, pada dasarnya kami tinggal menunggu air surut. Jika sudah tidak digenangi air, aliran listrik ke kawasan korban banjirakan langsung kami hidupkan,” tuturnya.
