yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
bunk Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI (BI Rate) pada Desember 2012 ini di level 5,75 persen. Ini berarti sudah 11 bulan bunk sentral mempertahankan BI Rate sejak Februari 2012 lalu.
Gubernur BI Darmin Nasution menjelaskan tingkat suku bunga tersebut dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan target inflasi di 2012 dan 2013 di level 4,5 plus minus 1 persen. "Kami tetap mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen," kata Darmin di Jakarta, Selasa (11/12/2012).
Darmin menilai kinerja tahun 2012 dan prospek tahun 2013-2014 secara umum masih menunjukkan perekonomian domestik yang tetap tumbuh baik dengan stabilitas yang tetap terjaga.
Ke depan, dengan mencermati risiko perekonomian global, Dewan Gubernur akan memperkuat kebijakan untuk mengelola keseimbangan eksternal ke tingkat yang berkesinambungan dengan tetap memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
"Kami meyakini bahwa penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta dukungan koordinasi dengan Pemerintah akan mampu menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional," tambahnya.
Di sisi lain, perekonomian dunia tahun 2012 masih tumbuh lebih lambat dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Eropa mengalami kontraksi terkait dengan berlarut-larutnya penyelesaian krisis di kawasan tersebut.
"Sementara itu, ekonomi AS tumbuh cukup baik meskipun dibayangi kekhawatiran terhadap ancaman jurang fiskal (fiscal cliff)," tambahnya.
Di kawasan Asia, China dan India, sebagai mitra dagang utama Indonesia, juga mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas yang turun cukup tajam menyebabkan tekanan inflasi global menurun.
Sejalan dengan itu, respons kebijakan negara-negara maju dan juga beberapa negara emerging markets secara umum masih cenderung akomodatif.
Pada tahun 2013 dan 2014, bunk Indonesia memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh lebih tinggi dan harga komoditas dunia juga akan mengalami kenaikan.
Di kuartal IV-2012 ini, bunk sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan tetap terjaga di level 6,2 persen. Sehingga secara keseluruhan tahun 2012 akan tumbuh 6,3 persen.
"Kinerja pertumbuhan ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi, sementara penurunan kinerja ekspor masih berlanjut," tambahnya.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan kembali meningkat didorong oleh tetap kuatnya permintaan domestik serta peningkatan ekspor seiring dengan prospek pemulihan ekonomi global dan perbaikan harga komoditas internasional.
Aktivitas ekonomi yang meningkat juga akan didorong oleh persiapan Pemilu dan daya beli yang membaik. Di sisi lain, investasi tetap kuat seiring dengan iklim usaha yang kondusif dan optimisme terhadap fundamental dan prospek ekonomi Indonesia.
Gubernur BI Darmin Nasution menjelaskan tingkat suku bunga tersebut dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan target inflasi di 2012 dan 2013 di level 4,5 plus minus 1 persen. "Kami tetap mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen," kata Darmin di Jakarta, Selasa (11/12/2012).
Darmin menilai kinerja tahun 2012 dan prospek tahun 2013-2014 secara umum masih menunjukkan perekonomian domestik yang tetap tumbuh baik dengan stabilitas yang tetap terjaga.
Ke depan, dengan mencermati risiko perekonomian global, Dewan Gubernur akan memperkuat kebijakan untuk mengelola keseimbangan eksternal ke tingkat yang berkesinambungan dengan tetap memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
"Kami meyakini bahwa penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta dukungan koordinasi dengan Pemerintah akan mampu menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional," tambahnya.
Di sisi lain, perekonomian dunia tahun 2012 masih tumbuh lebih lambat dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Eropa mengalami kontraksi terkait dengan berlarut-larutnya penyelesaian krisis di kawasan tersebut.
"Sementara itu, ekonomi AS tumbuh cukup baik meskipun dibayangi kekhawatiran terhadap ancaman jurang fiskal (fiscal cliff)," tambahnya.
Di kawasan Asia, China dan India, sebagai mitra dagang utama Indonesia, juga mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas yang turun cukup tajam menyebabkan tekanan inflasi global menurun.
Sejalan dengan itu, respons kebijakan negara-negara maju dan juga beberapa negara emerging markets secara umum masih cenderung akomodatif.
Pada tahun 2013 dan 2014, bunk Indonesia memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh lebih tinggi dan harga komoditas dunia juga akan mengalami kenaikan.
Di kuartal IV-2012 ini, bunk sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan tetap terjaga di level 6,2 persen. Sehingga secara keseluruhan tahun 2012 akan tumbuh 6,3 persen.
"Kinerja pertumbuhan ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi, sementara penurunan kinerja ekspor masih berlanjut," tambahnya.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan kembali meningkat didorong oleh tetap kuatnya permintaan domestik serta peningkatan ekspor seiring dengan prospek pemulihan ekonomi global dan perbaikan harga komoditas internasional.
Aktivitas ekonomi yang meningkat juga akan didorong oleh persiapan Pemilu dan daya beli yang membaik. Di sisi lain, investasi tetap kuat seiring dengan iklim usaha yang kondusif dan optimisme terhadap fundamental dan prospek ekonomi Indonesia.