1.Sukanto Tanoto
Chairman dan CEO PT Raja Garuda Mas International dan Komisaris Utama PT Inti Indorayon Utama, ini salah satu raja produsen minyak kelapa sawit dan pulp and paper di dunia.
2.Putera Sampoerna
presiden ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna. Putera adalah generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Dia adalah putra dari Aga Sampoerna dan cucu dari Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan Sampoerna.
3.Eka Tjipta Widjaja
CEO Sinarmas group.
4.Rachman Halim
Rachman Halim atau Tjoa To Hing (lahir tahun 1947) adalah pemimpin perusahaan rokok Indonesia, Gudang Garam yang berbasis di Kediri, Jawa Timur.
5.R Budi Hartono
Robert Budi Hartono alias Oei Hwie Tjhong (lahir di Kudus tahun 1942?) adalah pemilik perusahaan rokok kretek Indonesia, Djarum. Robert adalah anak kedua dari Oei Wie Gwan, pendiri Djarum. Selain Djarum, Robert juga mempunyai saham di bunk Central Asia.
6.Aburizal Bakrie
Komisaris Utama/Chairman, Kelompok Usaha Bakrie
7.Eddy Katuari
salah satu anak dari Ferdinand Katuari, pendiri Grup Wings, pria ini berhasil membawa usaha yang dimulai dari perusahaan sabun cuci pada 1948 menjadi pemain terkemuka dalam bisnis toiletries di Indonesia. Kini kerajaan bisnisnya mencakup industri personal care, toiletries, household, kimia dasar, makanan, minuman, properti, perdagangan, hingga perbankan. Salah satu ekspansi yang cukup diperhitungkan lawan bisnisnya ialah masuknya grup ini ke bisnis makanan dan minuman melalui PT Kurnia Alam Segar dengan meluncurkan minuman merek Jas Jus dan Segar Dingin serta mi instan merek Mi Sedaap.
8.Trihatma Haliman
Trihatma Kusuma Haliman, Pemilik Grup Agung Podomoro yang mengelola 27 proyek properti berskala besar di Jakarta dan sekitarnya
9.Arifin Panigoro
Alumni Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai usahanya tidak langsung menjadi bos di Meta Epsi Drilling Company (Medco).
10.Liem Sioe Liong
Pengusaha Sudono Salim, yang bernama asli Liem Sioe Liong, sempat menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia. Bahkan, konglomerat yang dikenal dekat dengan mantan Presiden Soeharto, ini sempat masuk daftar jajaran 100 terkaya dunia. Setelah krisis ekonomi dan reformasi politik, kekayaannya menurun.
Dia pun memilih lebih lama tinggal di Singapura, setelah rumahnya Gunung Sahari Jakarta dijarah dan diobrak-abrik massa reformasi. Kerusuhan reformasi 13-14 Mei 1998, itu tampaknya membuat Oom Liem trauma tinggal di Indonesia.