Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
"Dan janganlah anda takut kepada mereka yg dapat membunuh tubuh, tetapi yg tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah khususnya kepada Dia yg berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka."
--- Matius 10:28
Di antara rangkaian ayat Injil yg melintasi batas liturgi & politik, Matius 10:28 memegang posisi strategis sebagai imperatif eksistensial sekaligus artikulasi teologis atas rekanan antara kekuasaan, ketakutan, & tubuh manusia. Ayat ini tidak cuma berbicara tentangmartyria---kesaksian iman dalam penderitaan---tetapi juga memproduksi kerangka interpretatif yg memungkinkan sebuah tindak kekerasan memperoleh justifikasi spiritual.
Tatkala ledakan mengguncang halaman depan sebuah gereja di Makassar pada pukul 10:28 WITA, waktu itu jadi lebih dari sekadar penanda kronologis. Ia berubah jadi penanda simbolik. Waktu 10:28 bukanlah angka acak. Ia merepresentasikan struktur tanda yg menunjuk kembali ke teks suci, menciptakan resonansi antara peristiwa dunia & teks ilahi. Maka, pertanyaan yg perlu diajukan bukan lagi "apa yg terjadi?" melainkan "mengapa waktu 10:28 dipilih?" & "pesan apa yg harap diciptakan melalui waktu tersebut?"
Dalam kajian teologi & semiotika kekuasaan, waktu bukan hanyachronos---aliran linier peristiwa---melainkan jugakairos, momen yg sarat makna, titik intervensi ilahi atau politis dalam sejarah. Waktu 10:28 bukanlah kronologi, melainkan kairologi: pemilihan waktu untuk menciptakan resonansi dengan Matius 10:28. Ini adalah bentuktheological encoding---pengkodean spiritual dalam tubuh publik.
Teori Michel Foucault tentangregimes oftruthmemberikan kita kerangka untuk memahami bagaimana kebenaran diproduksi bukan lewat fakta, melainkan lewat struktur wacana yg mengatur persepsi. Dalam konteks ini, waktu ledakan adalah bagian dariapparatusproduksi makna. Ia jadi semacamritualized index,penanda simbolik yg memungkinkan sebuah kekerasan dibaca sebagai penganiayaan religius, & karenanya membangkitkan afeksi solidaritas kepada komunitas iman yg dianggap diserang.
Jean Baudrillard pernah menulis bahwa dalam dunia yg dibanjiri simulakra, terorisme bekerja bukan cuma melalui ledakan fisik, tetapi melalui "symbolic exchange ofdeath"---pertukaran simbolik kematian. Ledakan di Makassar, kalau ditinjau dari waktu yg nyaris identik dengan ayat injil, menjelma jadi lebih dari sekadar aksi kekerasan. Ia jadi teater spiritual, sebuah dramaturgi penderitaan yg mengundang konversi afeksi publik ke dalam kerangka iman.
Inilah yg disebut Giorgio Agamben sebagaisacralization of violence---proses di mana kekerasan diserap ke dalam logika kesucian. Tubuh yg hancur bukan lagi cuma korban, melainkan altar. Waktu yg dipilih bukan sekadar teknis, melainkandivine appointment. Maka, kalau benar waktu 10:28 dipilih secara sadar, kita berhadapan dengan bentuk mutakhir dari apa yg disebut Ren Girard sebagaiscapegoating mechanism---pengorbanan simbolik yg dibutuhkan untuk menyatukan komunitas melalui rasa takut bersama.
Setiap peristiwa akbar sering diikuti oleh narasi. Namun tidak semua narasi muncul secara natural. DalamCriticalDiscourse Analysis, wacana dipahami sebagai produk kekuasaan & alat kontrol sosial. Maka, wacana "gereja dibom oleh pelaku radikal" yg dikaitkan dengan waktu 10:28 membentuk skenariopredeterminedmoralaxis---garis moral yg sudah disiapkan sebelumnya. Di satu sisi, umat yg diserang disebut "tak bersalah" & "setia"; di sisi lain, pelaku disimbolkan sebagai "kekuatan jahat" yg layak dimusnahkan.
Waktu yg terlalu presisi (10:28), letak yg penuh muatan religius (gereja), & narasi cepat dari aparat (teroris ISIS, suami-istri pelaku bom bunuh diri, dll.) adalah elemen dariscripted trauma---trauma yg dirancang supaya dapat segera dikapitalisasi secara politis & religius. Dalam terminologi Slavoj Zizek, ini adalah bentuk "ideologicalfantasy": peristiwa yg tampaknya nyata, tetapi sebenarnya diproduksi untuk mengisi kekosongan dalam struktur ideologis dominan.
Kecurigaan bahwa bom Makassar adalah rekayasa bukan sekadar teori pinggiran. Ia berakar pada analisis kepada modus operandi kekuasaan dalam membentuk musuh internal. Dalam banyak negara pascakolonial, terorisme berfungsi sebagai narasi perekat nasionalisme & alat legitimasi kepada militerisme. Negara modern membutuhkan teror supaya tetap dapat mengatur melalui rasa takut.
Ledakan pada 10:28 dapat dibaca sebagai bagian dari liturgi negara---ritual kekerasan yg dihadirkan supaya negara dapat tampil sebagai penyelamat. Sama seperti misa atau jumatan yg memiliki waktu tetap, struktur, & tujuan spiritual, maka ledakan teror pun memiliki struktur, waktu, & tujuan politis. Ia bukan insiden, tetapi inskripsi; bukan gangguan, tetapi grammar kekuasaan.
Matius 10:28 bukan ayat sembarangan. Ia mengandung kekuatan untuk menggerakkan afeksi massa, membangun rasa takut, & memproduksi kesetiaan kepada otoritas spiritual. Jika waktu 10:28 dipilih untuk menciptakan asosiasi ini, maka kita harus bertanya: siapa yg memilihnya, & untuk tujuan apa?
Dalam dunia di mana kebenaran sering dikonstruksi melalui waktu & simbol, maka analisis kepada bom Makassar tidak dapat cuma berhenti pada teknis forensik atau investigasi aparat. Ia harus masuk ke wilayah semiotika, teologi, & politik pengetahuan.
Karena terkadang, yg meledak bukan cuma tubuh---tetapi akal sehat kolektif kita.