Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Sumber gambar: Liputan6.com
Selamat datang di era dimana sosial media sudah jadi bagian dari kehidupan beberapa akbar orang, khususnya orang Indonesia. Seperti yg kita tau, pangsa pasar sosial media di Indonesia itu gede banget, dimana menurut riset dari We Are Social, pengguna Internet di Indonesia per awal 2020 ada sekitar175,2 juta pengguna. Ini artinya, lebih dari separuh orang Indonesia udah melek soal sosial media.
Dari Databooks, pada tahun 2020 Youtube jadi sosial media terbanyak yg dipakai di Indonesia, dengan persentase pengguna sebesar 88%, diikuti dengan Whatsapp di angka 84%, selanjutnya ada Facebook di 82%, & selanjutnya ada Instagram di 79%. Di bawahnya ada Twitter, Line, FB Messenger, LinkedIn, Pinterest, & WeChat.
sumber: databooks.katadata.co.id
Ini gak dapat dipungkiri karena memang pada dasarnya sosial media itu sifatnya adiktif, dimana orang-orang berlomba-lomba menunjukkan eksistensi dirinya, tak terkecuali orang Indonesia yg memang pada dasarnya suka banget bersosialisasi. Dengan adanya sosial media, orang-orang dapat memajang apapun yg ia mau, entah itu momen bahagia, sedih, menunjukkan bahwa ia butuh bantuan, & sebagainya.
Berkaitan dengan konteksnya "menunjukkan eksistensinya", orang-orang berlomba-lomba memajang momen bahagia di sosial medianya, & gak mau ketinggalan momen satu dengan yg lain demi mendapatkan pengakuan demi mempertegas eksistensinya. Inilah yg menciptakan seakan fungsi sosial media bergeser dari sarana untuk menciptakan manusia semakin mudah berinteraksi satu dengan yg lain jadi sebuah ajang masing-masing perseorangan untuk berlomba mendapatkan pengakuan atas eksistensi mereka. Disinilah mulai terjadi persaingan yg tidak berfaedah cuma demi sebuah eksistensi.
Berhubungan dengan persaingan demi eksistensi, ane menyoroti satu sosial media, yaitu Instagram, sebuah media sosial yg menyediakan pentas bagi para penggunanya untuk memajang foto, video, & juga story supaya dapat dilihat oleh para pengikutnya. Bahkan sebuah riset lain dari RSPH pada tahun 2017 menunjukkan bahwa Instagram adalah sosial media terburuk untuk kesehatan mental. Ane menyoroti Instagram paling intens karena fitur itulah yg lebih memudahkan seseorang menunjukkan eksistensi mereka dalam bentuk visual secara lebih intens, dibandingkan dengan media sosial lain seperti halnya Facebook maupun Youtube maupun Whatsapp.
(Disclaimer: ane gak benci Instagram samasekali, bahkan ane pun punya akun Instagram sendiri. Ane cuma memutuskan untuk rehat demi meng-cut-off diri ane dari persaingan eksistensi semacam itu).
Memang benar mengatakan orang-orang kalo main sosial media itu jangan baperan, & sayangnya itu terjadi di ane. Sayangnya, seakan sosial media itu memang menyasar kerentanan manusia yg memiliki kebutuhan primer & naluri untuk mendapatkan eksistensi & pengakuan, serta merasa dianggap oleh orang lain. Sebuah bisnis yg dapat dibilang bagus, tetapi juga agak "jahat" di saat yg sama.
Sumber gambar: fonepaw.com
Karena inilah akhirnya ane memutuskan untuk rehat dari sosial media bernama Instagram ini selama SETAHUN PENUH (sebenernya lebih sedikit sih, 25 November 2018-6 Desember 2019).Sebuah opsi yg sulit memang, mengingat ane hidup di zaman & lingkungan yg mana sosial media ini memang jadi primadona bagi banyak orang. Apalagi masa-masa itu adalah masa-masa dimana ane menjalani tahun terakhir jadi seorang mahasiswa yg berkutat dengan skripsi, yg mana ini artinya dapat aja ane ketinggalan informasi tentang siapa saja yg akan wisuda.
Pilihan ane ini ane akui cukup beresiko karena ane akan kemungkinan ketinggalan banyak update dari temen-temen soal update hidup mereka, & ane bakal ketinggalan banget untuk meng-upload momen-momen ane tersebut, khususnya momen saat ane lulus sidang, wisuda, mendapat pekerjaan, & juga perjalanan perdana ane ke luar negeri, karena semuanya terjadi di tahun yg sama, yaitu tahun 2019. Yang ane pikirkan saat itu, peduli setan? Toh satu-satunya sumber informasi soal kehidupan teman-teman & update berita gak cuma dari Instagram. Ane masih mengaktifkan Facebook karena ane suka dengan meme-meme & berita yg diposting disana, yg mana jumlahnya lebih banyak daripada postingan teman-teman & orang-orang terdekat soal kehidupan mereka. Media sosial lain yg masih ane aktifkan adalah Whatsapp, demi keperluan pekerjaan & wawancara, & juga Line, karena waktu itu ane masih ada di grup jurusan demi informasi mengenai sidang & wisuda & lain-lain soal kampus. Ane cuma mau menghindari toxicnya persaingan eksistensi di Instagram, yg mana ini melibatkan ane.
"1 tahun, lama banget gan? Gak kudet tuh? Gak ada pikiran kepo tuh soal ngapain aja temen-temen ente di IG?"
Ane akui opsi ane ini emang ekstrim bagi seorang pengguna smartphone tingkat akut seperti ane, apalagi bakal banyak momen bagus yg bakal terlewatkan seperti yg ane sebutkan tadi. Tapi balik lagi, toh IG bukan satu-satunya sumber berita & update tentang dunia luar.
Balik ke topik. Semua itu dimulai pada akhir November 2018, ketika ane melihat update dari kehidupan temen-temen kampus ane, yg satu dari temen-temen sejurusan, & yg satunya lagi temen-temen satu klub. Yang satunya ada proyek rame-rame, yg satunya lagi ada acara surprise-in temen ane yg ulang tahun & juga kebetulan yg ulang tahun itu temen baik ane. Yang jadi masalah disini adalah ane gak dilibatkan dalam kedua acara tersebut, yg mana keduanya udah ane anggap temen. Disini ane merasa "Segitunya kah ane gak dianggap?".
Poin tersebut adalah titik balik terbesar hidup ane dalam usia 20an awal ini. Ane memang bodoh segitu mudahnya jatuh kedalam krisis eksistensial cuma karena update kehidupan mereka yg sebenernya gak begitu penting untuk hidup ane. Di titik itulah ane pun memutuskan untuk uninstall Instagram, dengan asa ane gak akan lagi ngeliat update kehidupan mereka untuk sementara ini.
Setidaknya untuk saat itu, cuma sedikit pikiran jernih yg dapat ane pakai: fakta bahwa ane gak dapat mengontrol apapun yg mereka mau posting di Instagram, & jangan hingga kemarahan ane berbuah sesuatu yg merugikan orang lain. Ya sudah, quit Instagram & lebih fokus ke real life & mimpi ane jadi opsi yg baik.
Faktanya, selama setahun tanpa Instagram tidak se-"mundur" yg ane kira. Faktanya ane masih dapat dapet update soal kapan temen-temen ane sidang & ane pun masih dapat menghadirinya, & juga ane masih dapat dapet update tentang berita & kehidupan di luar sana, & yg jelas, mengingat tahun 2019 itu tahun politik mengingat adanya Pilpres 2019, ane gak perlu terganggu dengan perdebatan antara kubu 01 & 02 yg memang udah panas dari 2014 dulu
.
Gak sempet eksis pun juga gak jadi masalah buat ane, toh ane gak rugi apapun begitu gak posting ane lolos sidang, gak perlu posting kehidupan ane di tempat kerja, & juga gak perlu posting soal wisuda ane. Itu memang milestone dalam kehidupan ane, tetapi sepenting itukah ane posting itu demi eksistensi? Sepenting itukah eksistensi di dunia maya yg jelas-jelas bias dari realita? Bumi tetap berputar meski ada 1 momen yg gak sempet diposting.
Sumber Gambar: thedailypretty.com
Rasanya 1 tahun tanpa sosmed itu bener-bener nyaman, jauh dari gangguan distraksi gak penting dengan julid melihat kehidupan orang lain, social comparison dengan orang lain, & juga yg jelas, dapat fokus dengan diri sendiri untuk hidup seperti ngeskripsi, cari kerja, & meraih mimpi ane. Plus, ane dapat punya lebih banyak waktu untuk berpikir & merenung soal hidup, memberikan perspektif baru soal hidup yg ane jalani, mendewasakan pola pikir ane, & juga mengerjakan apa yg ane sukai demi mengalihkan pikiran ane dari pikiran-pikiran gak penting soal kehidupan yg lain "mereka sekarang lagi apa ya?". Disini ane pun memilih untuk balik lagi mengerjakan hobi ane yg udah lama ane tinggalkan, yaitu koleksi mainan. Bahkan, ane pun juga mendapatkan minat baru dengan menonton film-film & serial baru yg belom pernah ane tonton sebelumnya.
Saking nyamannya hidup tanpa sosmed, pernah at some point ane kepikiran gak mau balik lagi ke Instagram loh
. Tapi tetep aja, ada sedikit rasa kepo di dalam hati ane yg bertanya "mereka lagi ngapain ya?". Akhirnya pada Desember 2019, ane pun memutuskan untuk iseng install IG lagi, & ternyata semua gak seburuk yg ane kira. Gak ada lagi rasa iri hati atau social comparison dalam diri ane karena ane udah merasa cukup puas menjalani hidup yg ane jalani & gak perlu dibandingkan lagi dengan kehidupan & circle pertemanan orang lain, & juga ane udah lebih kuat dalam menghadapi masalah serupa, masalah yg sama yg menciptakan ane jatuh pada setahun sebelumnya. IG pun ane perbaiki juga dengan mulai follow akun-akun yg dapat menambah pengetahuan & wawasan ane, sehingga isi feed ane lebih positif.
Berkaitan dengan konteksnya "menunjukkan eksistensinya", orang-orang berlomba-lomba memajang momen bahagia di sosial medianya, & gak mau ketinggalan momen satu dengan yg lain demi mendapatkan pengakuan demi mempertegas eksistensinya. Inilah yg menciptakan seakan fungsi sosial media bergeser dari sarana untuk menciptakan manusia semakin mudah berinteraksi satu dengan yg lain jadi sebuah ajang masing-masing perseorangan untuk berlomba mendapatkan pengakuan atas eksistensi mereka. Disinilah mulai terjadi persaingan yg tidak berfaedah cuma demi sebuah eksistensi.
Berhubungan dengan persaingan demi eksistensi, ane menyoroti satu sosial media, yaitu Instagram, sebuah media sosial yg menyediakan pentas bagi para penggunanya untuk memajang foto, video, & juga story supaya dapat dilihat oleh para pengikutnya. Bahkan sebuah riset lain dari RSPH pada tahun 2017 menunjukkan bahwa Instagram adalah sosial media terburuk untuk kesehatan mental. Ane menyoroti Instagram paling intens karena fitur itulah yg lebih memudahkan seseorang menunjukkan eksistensi mereka dalam bentuk visual secara lebih intens, dibandingkan dengan media sosial lain seperti halnya Facebook maupun Youtube maupun Whatsapp.
(Disclaimer: ane gak benci Instagram samasekali, bahkan ane pun punya akun Instagram sendiri. Ane cuma memutuskan untuk rehat demi meng-cut-off diri ane dari persaingan eksistensi semacam itu).
Memang benar mengatakan orang-orang kalo main sosial media itu jangan baperan, & sayangnya itu terjadi di ane. Sayangnya, seakan sosial media itu memang menyasar kerentanan manusia yg memiliki kebutuhan primer & naluri untuk mendapatkan eksistensi & pengakuan, serta merasa dianggap oleh orang lain. Sebuah bisnis yg dapat dibilang bagus, tetapi juga agak "jahat" di saat yg sama.
Sumber gambar: fonepaw.com
Karena inilah akhirnya ane memutuskan untuk rehat dari sosial media bernama Instagram ini selama SETAHUN PENUH (sebenernya lebih sedikit sih, 25 November 2018-6 Desember 2019).Sebuah opsi yg sulit memang, mengingat ane hidup di zaman & lingkungan yg mana sosial media ini memang jadi primadona bagi banyak orang. Apalagi masa-masa itu adalah masa-masa dimana ane menjalani tahun terakhir jadi seorang mahasiswa yg berkutat dengan skripsi, yg mana ini artinya dapat aja ane ketinggalan informasi tentang siapa saja yg akan wisuda.
Pilihan ane ini ane akui cukup beresiko karena ane akan kemungkinan ketinggalan banyak update dari temen-temen soal update hidup mereka, & ane bakal ketinggalan banget untuk meng-upload momen-momen ane tersebut, khususnya momen saat ane lulus sidang, wisuda, mendapat pekerjaan, & juga perjalanan perdana ane ke luar negeri, karena semuanya terjadi di tahun yg sama, yaitu tahun 2019. Yang ane pikirkan saat itu, peduli setan? Toh satu-satunya sumber informasi soal kehidupan teman-teman & update berita gak cuma dari Instagram. Ane masih mengaktifkan Facebook karena ane suka dengan meme-meme & berita yg diposting disana, yg mana jumlahnya lebih banyak daripada postingan teman-teman & orang-orang terdekat soal kehidupan mereka. Media sosial lain yg masih ane aktifkan adalah Whatsapp, demi keperluan pekerjaan & wawancara, & juga Line, karena waktu itu ane masih ada di grup jurusan demi informasi mengenai sidang & wisuda & lain-lain soal kampus. Ane cuma mau menghindari toxicnya persaingan eksistensi di Instagram, yg mana ini melibatkan ane.
"1 tahun, lama banget gan? Gak kudet tuh? Gak ada pikiran kepo tuh soal ngapain aja temen-temen ente di IG?"
Ane akui opsi ane ini emang ekstrim bagi seorang pengguna smartphone tingkat akut seperti ane, apalagi bakal banyak momen bagus yg bakal terlewatkan seperti yg ane sebutkan tadi. Tapi balik lagi, toh IG bukan satu-satunya sumber berita & update tentang dunia luar.
Balik ke topik. Semua itu dimulai pada akhir November 2018, ketika ane melihat update dari kehidupan temen-temen kampus ane, yg satu dari temen-temen sejurusan, & yg satunya lagi temen-temen satu klub. Yang satunya ada proyek rame-rame, yg satunya lagi ada acara surprise-in temen ane yg ulang tahun & juga kebetulan yg ulang tahun itu temen baik ane. Yang jadi masalah disini adalah ane gak dilibatkan dalam kedua acara tersebut, yg mana keduanya udah ane anggap temen. Disini ane merasa "Segitunya kah ane gak dianggap?".
Poin tersebut adalah titik balik terbesar hidup ane dalam usia 20an awal ini. Ane memang bodoh segitu mudahnya jatuh kedalam krisis eksistensial cuma karena update kehidupan mereka yg sebenernya gak begitu penting untuk hidup ane. Di titik itulah ane pun memutuskan untuk uninstall Instagram, dengan asa ane gak akan lagi ngeliat update kehidupan mereka untuk sementara ini.
Setidaknya untuk saat itu, cuma sedikit pikiran jernih yg dapat ane pakai: fakta bahwa ane gak dapat mengontrol apapun yg mereka mau posting di Instagram, & jangan hingga kemarahan ane berbuah sesuatu yg merugikan orang lain. Ya sudah, quit Instagram & lebih fokus ke real life & mimpi ane jadi opsi yg baik.
Faktanya, selama setahun tanpa Instagram tidak se-"mundur" yg ane kira. Faktanya ane masih dapat dapet update soal kapan temen-temen ane sidang & ane pun masih dapat menghadirinya, & juga ane masih dapat dapet update tentang berita & kehidupan di luar sana, & yg jelas, mengingat tahun 2019 itu tahun politik mengingat adanya Pilpres 2019, ane gak perlu terganggu dengan perdebatan antara kubu 01 & 02 yg memang udah panas dari 2014 dulu
Gak sempet eksis pun juga gak jadi masalah buat ane, toh ane gak rugi apapun begitu gak posting ane lolos sidang, gak perlu posting kehidupan ane di tempat kerja, & juga gak perlu posting soal wisuda ane. Itu memang milestone dalam kehidupan ane, tetapi sepenting itukah ane posting itu demi eksistensi? Sepenting itukah eksistensi di dunia maya yg jelas-jelas bias dari realita? Bumi tetap berputar meski ada 1 momen yg gak sempet diposting.
Sumber Gambar: thedailypretty.com
Rasanya 1 tahun tanpa sosmed itu bener-bener nyaman, jauh dari gangguan distraksi gak penting dengan julid melihat kehidupan orang lain, social comparison dengan orang lain, & juga yg jelas, dapat fokus dengan diri sendiri untuk hidup seperti ngeskripsi, cari kerja, & meraih mimpi ane. Plus, ane dapat punya lebih banyak waktu untuk berpikir & merenung soal hidup, memberikan perspektif baru soal hidup yg ane jalani, mendewasakan pola pikir ane, & juga mengerjakan apa yg ane sukai demi mengalihkan pikiran ane dari pikiran-pikiran gak penting soal kehidupan yg lain "mereka sekarang lagi apa ya?". Disini ane pun memilih untuk balik lagi mengerjakan hobi ane yg udah lama ane tinggalkan, yaitu koleksi mainan. Bahkan, ane pun juga mendapatkan minat baru dengan menonton film-film & serial baru yg belom pernah ane tonton sebelumnya.
Saking nyamannya hidup tanpa sosmed, pernah at some point ane kepikiran gak mau balik lagi ke Instagram loh
Quote:
Pelajaran
Ada beberapa pelajaran yg dapat ane dapatkan selama setahun tanpa Instagram tersebut, & ane berharap dapat berguna buat agan-agan pembaca sekalian:
1. Agan-agan sekalian bukanlah pusat dunia ini. Semua orang memiliki kepentingan & kehidupannya masing-masing, & jangan expect mereka untuk 100% peduli sama keharapan agan-agan sekalian, & sebaliknya, agan-agan punya kehidupan sendiri yg harus dijalani.
2. Kita gak akan dapat mengontrol apa yg orang lain mau posting atau katakan. Yang agan-agan dapat lakukan adalah: tetap nekat melihat tetapi sakit hati, atau tutup mata & telinga agan, lalu pergi menjauh. Orang bilang kita gak dapat tutup 100 mulut, tetapi kita dapat tutup 2 telinga kita.
3. Jujurlah pada diri agan sendiri.Tentang apa yg harap agan-agan lakukan, apa yg harap agan-agan capai, & hidup seperti apa yg agan-agan harapkan. Waktu agan-agan terlalu berharga untuk urusin kehidupan orang lain.
4. Hidup ini bukan tentang persaingan. Kita semua terlahir unik & memiliki waktunya masing-masing.Sekali agan-agan memiliki pola pikir bersaing yg gak sehat, itu akan menyusahkan agan-agan sendiri. Begitu agan-agan menganggap pertemanan adalah suatu persaingan, maka titik kejatuhan agan-agan sudah tinggal menghitung waktu.
5. Fokuslah pada realita. Sosial media itu gak lebih dari sekedar pentas orang-orang untuk menunjukkan eksistensi diri mereka.
1. Agan-agan sekalian bukanlah pusat dunia ini. Semua orang memiliki kepentingan & kehidupannya masing-masing, & jangan expect mereka untuk 100% peduli sama keharapan agan-agan sekalian, & sebaliknya, agan-agan punya kehidupan sendiri yg harus dijalani.
2. Kita gak akan dapat mengontrol apa yg orang lain mau posting atau katakan. Yang agan-agan dapat lakukan adalah: tetap nekat melihat tetapi sakit hati, atau tutup mata & telinga agan, lalu pergi menjauh. Orang bilang kita gak dapat tutup 100 mulut, tetapi kita dapat tutup 2 telinga kita.
3. Jujurlah pada diri agan sendiri.Tentang apa yg harap agan-agan lakukan, apa yg harap agan-agan capai, & hidup seperti apa yg agan-agan harapkan. Waktu agan-agan terlalu berharga untuk urusin kehidupan orang lain.
4. Hidup ini bukan tentang persaingan. Kita semua terlahir unik & memiliki waktunya masing-masing.Sekali agan-agan memiliki pola pikir bersaing yg gak sehat, itu akan menyusahkan agan-agan sendiri. Begitu agan-agan menganggap pertemanan adalah suatu persaingan, maka titik kejatuhan agan-agan sudah tinggal menghitung waktu.
5. Fokuslah pada realita. Sosial media itu gak lebih dari sekedar pentas orang-orang untuk menunjukkan eksistensi diri mereka.
Quote:
IFers yg baik sering meninggalkan rate 5, komeng, dan juga
Quote:
Referensi:
Pengalaman ane sendiri jelas
Detik.com - Ada 175,2 Juta Pengguna Internet di Indonesia
Databooks.katadata.co.id - 10 Media Sosial yg Paling Sering Dipakai di Indonesia
Tirto.id - Baik Buruk Efek Instagram Bagi Kesehatan Mental
Thread by agan ipangperalta soal "Kenapa Instagram Tidak Disukai"
Thread by agan moviegangsta "Silent HP 7 Hari Rasanya Tenang Banget"
Hari ini 17:05