Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Proses budaya perusahaan jadi toxic dapat mulai dari hal kecil. Anda mengutarakan ide saat meeting brainstorm, lalu seseorang mengejek ide itu & menciptakan lelucon. Semua orang tertawa karena lucu. Anda juga ikut tertawa, namun sekarang Anda merasa takut kalau ditanya pendapat. Tidak lama kemudian, tidak ada yg berani mengutarakan ide karena semua orang akan langsung mengolok-oloknya.
Kita sering bicara bagaimana budaya adalah bagian yg penting dari perusahaan Anda. Tidak mudah untuk membangun budaya (culture) yg baik, & sayangnya cuma butuh satu orang toxic untuk menghancurkannya.
Karyawan yg toxic:
Menurunkan kinerja seluruh regu hingga 40%
Membuat karyawan yg baik harap keluar
Mempengaruhi orang lain supaya jadi toxic
Mengakibatkan hingga $50.000 kerugian
Bagaimana dapat satu orang toxic mengakibatkan akibat yg begitu besar, & apa yg dapat kita lakukan sebagai pemimpin HR untuk mencegah ini?
Bagaimana cara budaya jadi toxic?
Perilaku toxic ditoleransi
Mentoleransi perilaku toxic sama dengan memperbolehkannya secara pasif. Mari kembali sejenak ke contoh di awal. Ketika tindakan yg merusak (misalnya bullying) dibiarkan terjadi, pemimpin memberi sinyal bahwa tidak apa-apa untuk mengerjakannya.
Perilaku toxic dapat jadi ditoleransi tanpa sengaja. Kita mungkin tidak sadar akan akibat negatif yg dapat berakar dari apa yg terlihat seperti candaan.
Yang lebih buruk adalah ketika pemimpin sadar akan ini, namun dengan sengaja memutuskan untuk membiarkan perilaku toxic karena karyawan tersebut memberi performa tinggi. Ini pemikiran yg berlawanan karena produktivitas yg diberikan oleh orang toxic tidak sebanding dengan kerugian moral & finansial yg diakibatkan.
Hal buruk lebih kuat daripada hal baik
Pernah berpikir mengapa jauh lebih mudah mengingat pengalaman buruk daripada yg baik? Kita sering dapat menceritakan kembali hal buruk yg dialami di kantor, tetapi ketika ditanya tentang hal baik yg terjadi, kita harus berusaha mengingat.
Ternyata memang natural bahwa pengalaman negatif mempunyai akibat lebih akbar di pikiran manusia daripada pengalaman positif. Insting untuk menghindari hal buruk lebih kuat daripada keharapan akan hal baik.
Inilah mengapa perilaku toxic sangat mudah tersebar di budaya perusahaan, & mengapa sangat sulit untuk membangun & mempertahankan nilai-nilai yg positif. Jika pemimpin tidak mengerjakan apa-apa, satu orang toxic cukup untuk menghancurkan budaya perusahaan.
Ketika orang toxic jadi pemimpin
Kualitas toxic dapat diukur mengpakai Dark Tetrad, atau sisi gelap dari kepribadian. Salah satu faktor dalam dark tetrad, Machiavellianism, adalah yg mendorong orang toxic untuk memanipulasi & memanfaatkan orang lain untuk maju.
Pada awalnya mereka terlihat sebagai calon pemimpin yg baik mengpakai karisma, komunikasi, & manipulasi. Setelah mencapai posisi kepemimpinan, akan mudah bagi mereka untuk menyebar perilaku toxic & merusak budaya perusahaan Anda.
Bagaimana cara menghindarinya?
Tidak ada toleransi untuk perilaku toxic
Perilaku toxic lebih memungkinkan untuk dikendalikan saat sebelum terlambat. Ketika Anda melihat tipe candaan yg dapat berubah jadi sesuatu yg lebih buruk, segera maju & beritahu bahwa itu tidak ditoleransi. Ketika ada yg dilapor menunjukkan kecenderungan toxic, segera urusi & disiplinkan kalau butuh.
Tulis non-toleransi akan perilaku toxic di peraturan perusahaan. Lelucon boleh saja, tetapi hinaan tidak memiliki tempat di lingkungan kerja. Buktikan bahwa Anda serius tentang membangun & memelihara budaya yg positif untuk semua talent.
Waktunya melepas
Terkadang orang yg toxic tidak mau berubah walaupun dihadapi, diberi pelatihan, atau bahkan didisplin. Inilah waktunya untuk menciptakan keputusan akbar & memutuskan hubungan.
Menyimpan orang yg toxic walaupun memberi performa tinggi tidak akan membawa keuntungan apapun. Sebuah studi oleh Harvard Business School menemukan bahwa menghindari orang toxic ternyata lebih menguntungkan daripada merekrut top talent.
Jangan merekrut orang toxic
Cara termudah untuk menghadapi karyawan toxic adalah dengan tidak merekrut mereka dari awal. Dengan proses seleksi yg baik, Anda dapat mendeteksi kalau kandidat memiliki kecenderungan toxic atau jadi problematic.
Inilah gunanya asesmen kepribadian. Orang yg manipulatif dapat dengan mudah berbohong di interview, tetapi tes psikometri dapat memberitahu semuanya tentang psikologi seorang kandidat: kalau kepribadian cocok dengan budaya perusahaan, atau kalau berisiko merusak budaya tersebut.
Dengan asesmen yg terbukti secara ilmiah di Dreamtalent, Anda dapat mendeteksi kandidat toxic dari awal & menghindari membawa risiko tersebut ke dalam budaya perusahaan Anda.
Redirect Notice
www.google.com
Semoga kaskus tetap sering jaya di udara.....!
Thread tercipta bukan untuk huru hara
tapi huuuurrrraaaaaaa