hendladi
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 113568
- Sejak
- 15 Jan 2011
- Pesan
- 685
- Nilai reaksi
- 2
- Poin
- 18
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/02/16/1817447620X310.jpg[/IMG
KENDAL, KOMPAS.com - Anggota Komisi C DPRD Jawa Tengah, Khafid Sirotudin, berharap pembangunan jalan tol Batang-Semarang merupakan jalan tol terakhir yang dibangun di Jawa Tengah.
Pasalnya biaya untuk membangun jalan tol sangat mahal dan membutuhkan lahan yang sangat luas. Khafid lebih setuju dengan membangun double track (rel ganda) kereta api. "Karena biayanya lebih murah, ke depan pembangunan track ganda harus diprioritaskan dibadingkan membangun jalan tol," ujar Khafid.
Dia mencontohkan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun jalan tol per kilometernya mencapai Rp35 miliar. Sedangkan biaya untuk membangun double track hanya Rp10 miliar per kilometer. Demikian juga dari segi lahan. Double track lebih irit karena hanya membutuhkan lahan 26 meter, sedangkan jalan tol membutuhkan lahan 100 meter.
Dikatakan beberapa daerah di Jawa Tengah akan dimudahkan jika ingin membangun double track. Sebab banyak aset PT Keret Api Indonesia (KAI), yang kini banyak terbengkalai dan masih bisa dioptimalkan.
Pembangunan double track diyakini tidak akan banyak memakan lahan warga karena lahan milik PT KAI masih cukup banyak. "Jadi pembangunan double track tidak akan banyak menggusur lahan milik warga sekitar," ujar Khafid yang juga anggota FPAN ini.
Kelebihan lain dari pembangunan double track adalah bahan bakar yang dibutuhkan lebih irit. KA membutuhkan 1 liter untuk jarak 2 km, namun mampu mengangkut seribu penumpang sekaligus. Sedangkan bus untuk jarak 6 km menghabiskan 1 liter bahan bakar. Tapi bus hanya mampu mengangkut 50 penumpang.
Dengan perbandingan tersebut, ia berharap ke depan pembangunan double track lebih diprioritaskan. Sehingga pembangunan jalan tol Batang-Semarang merupakan jalan tol terakhir yang dibangun di Jateng.
Diakui pembangunan jalan tol Batang-Semarang bakal menerjang sekitar 1.000 hektar lahan pertanian produktif. Dia khawatir jika tidak dicermati lahan pertanian yang menyusut makin banyak dan berpengaruh terhadap ketersediaan pangan. Ia lantas meminta, supaya pembangunan jalan tol Semarang - Batang yang memakan lahan pertanian produktif, agar dibelokkan.
KENDAL, KOMPAS.com - Anggota Komisi C DPRD Jawa Tengah, Khafid Sirotudin, berharap pembangunan jalan tol Batang-Semarang merupakan jalan tol terakhir yang dibangun di Jawa Tengah.
Pasalnya biaya untuk membangun jalan tol sangat mahal dan membutuhkan lahan yang sangat luas. Khafid lebih setuju dengan membangun double track (rel ganda) kereta api. "Karena biayanya lebih murah, ke depan pembangunan track ganda harus diprioritaskan dibadingkan membangun jalan tol," ujar Khafid.
Dia mencontohkan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun jalan tol per kilometernya mencapai Rp35 miliar. Sedangkan biaya untuk membangun double track hanya Rp10 miliar per kilometer. Demikian juga dari segi lahan. Double track lebih irit karena hanya membutuhkan lahan 26 meter, sedangkan jalan tol membutuhkan lahan 100 meter.
Dikatakan beberapa daerah di Jawa Tengah akan dimudahkan jika ingin membangun double track. Sebab banyak aset PT Keret Api Indonesia (KAI), yang kini banyak terbengkalai dan masih bisa dioptimalkan.
Pembangunan double track diyakini tidak akan banyak memakan lahan warga karena lahan milik PT KAI masih cukup banyak. "Jadi pembangunan double track tidak akan banyak menggusur lahan milik warga sekitar," ujar Khafid yang juga anggota FPAN ini.
Kelebihan lain dari pembangunan double track adalah bahan bakar yang dibutuhkan lebih irit. KA membutuhkan 1 liter untuk jarak 2 km, namun mampu mengangkut seribu penumpang sekaligus. Sedangkan bus untuk jarak 6 km menghabiskan 1 liter bahan bakar. Tapi bus hanya mampu mengangkut 50 penumpang.
Dengan perbandingan tersebut, ia berharap ke depan pembangunan double track lebih diprioritaskan. Sehingga pembangunan jalan tol Batang-Semarang merupakan jalan tol terakhir yang dibangun di Jateng.
Diakui pembangunan jalan tol Batang-Semarang bakal menerjang sekitar 1.000 hektar lahan pertanian produktif. Dia khawatir jika tidak dicermati lahan pertanian yang menyusut makin banyak dan berpengaruh terhadap ketersediaan pangan. Ia lantas meminta, supaya pembangunan jalan tol Semarang - Batang yang memakan lahan pertanian produktif, agar dibelokkan.