Follow along with the video below to see how to install our site as a web app on your home screen.
Catatan: This feature may not be available in some browsers.
Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis. Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.
Warning neh bwat yang suka pake antibiotik. Sebenarnya ini bukan masalah yang relatif baru. Hanya pakar2 kesehatan semakin khawatir melihat kecenderungan peningkatan konsumsi antibiotik di Indonesia.
Penggunaan antibiotik yang salah atau tidak tuntas dapat menimbulkan resistensi pada bakteri penyebab penyakit. Yang lebih berbahaya lagi hal ini bisa membentuk jenis kuman baru yang resisten terhadap berbagai antibiotik seperti misalnya salah satu jenis kuman penyebab infeksi, ESBL (Extended Spectrum Beta Lacmanase).
Masalahnya, negara kita ternyata adalah salah satu negara yang rentan terhadap penyakit2 infeksi, dan sudah jadi kebiasaan dokter2 kita juga harus selalu menyertakan antibiotik dalam resep2 mereka. Padahal menurut Ketua Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (IARW) Prof Dr Robert Utji SpMK, penggunaan antibiotik terhadap pasien pascaoperasi misalnya, tidak selalu diperlukan, minimalisasi terhadap kemungkinan infeksi yang menimpa pasien bisa dilakukan dengan cara penanganan yang baik terhadap pasien.
Nah pemberian antibiotik yang tidak tepat dan jenis2 antibiotik sudah tidak efektif lagi untuk jenis2 kuman tertentu semakin menunjang sifat resistensi kuman2 tersebut.
Alternatif yang sedang dikembangkan untuk melawan kuman penyebab infeksi adalah penggunaan probiotik. Penggunaan probiotik cenderung lebih safe karena probiotik menggunakan jasa makhluk hidup (bakteri) yang menguntungkan untuk tubuh kita guna menekan pertumbuhan bakteri jahat/patogen.
Jadi mulai sekarang hati2 pake antibiotik yaaa
Untuk info lebih lengkap, ini source gw : http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=25121&Itemid=69
probiotik kan tidak diserap dan hanya efektif untuk infeksi pada saluran pencernaan.
jika infeksinya di luar saluran pencernaan tetap membutuhkan antibiotik misalnya infeksi saluran pernafasan bawah.
tetep aja masyarakat umum tidak diperkenankan untuk sembarangan membeli antibiotik tanpa anjuran dokter.
lebih aman, jika sakit dan minum obat uang dijual bebas tetep tidak sembuh, ya harus k dokter
efeknya resisten antibiotik emang bahanya bgt, blm lama ini, rekan saya seorang dokter paru menemukan pasien TBC dengan MDR (multiple drug resistant) artinya udh ga mempan lagi di kasih INH, Rifampisin, etambutol, dan streptomycin.
klo dah kaya mo di kasih apa coba?
salahnya dokter kita itu bagi bagi antibiotik udah kaya permen aja. padahal klo cuma sakit flu dll,.. istirahat, banyak minum vitamin & air putih juga baik sendiri 3-4 hari.
di luar negri terutama negara2 maju, penyebaran kuman tidak setinggi negara kita karena biasanya mereka lebih ngerti tentang kebersihan dan higienis.
dan juga mereka gizinya baik sehingga daya tahan tubuh lebih baik, lebih mudah mengatasi serangan virus/kuman ringan.
nah, ni negara kita, kebersihan atau gizi masyarakat gmana?
So, kayaknya pemerintah kita kudu kasih porsi perhatian yang lebih besar lagi sama kesehatan lingkungan dan gizi masyarakat yaaa??
Selama ini kayaknya masalah ini kurang dapat perhatian. Gw jadi ingat kasus flu burung lagi deh..
@ kimi :
masalah MDR pada pykt TBC memang rumit. tentu saja pengobatan TBC ini juga sangat ditentukan oleh pasien sendiri. bisa saja orang tsb minum obat tdk teratur sehingga timbul resistensi thd obat tsb diatas
@kesakesa
masalah kesehatan lingkungan, masyarakat juga harus berperan aktif utk mewujudkannya, jangan diserahkan ke pemerintah aja, yang butuh sehat siapa?? kalo pingin sehat jangan diem aja..
masalah gizi, pemerintah sdh berusaha memberikan penjelasan tentang gizi kpd masyarakat. kadang orang2 sendiri yang ribet, salah satu contohnya pemerintah menggalakkan program pemberian ASI saja pd bayi sampai umur 6 bulan (ASI EKSKLUSIF), nyatanya banyak ibu yg sdh memberikan makanan atau mengganti dgn susu botol, itu fakta yg sering terjadi di masyarakat
^
iya juga seeeh Tapi pemerintah kan harus tetep proaktif... Masyarakat pasti seneng ikut ambil bagian untuk menjaga lingkungannya sendiri. Tapi kaLo sarana dan prasarana untuk itu ga ada? Gw ambil contoh tentang pembuangan sampah kota. Sampah2 dibiarkan bertumpuk sampai mengganggu semua orang. Ga semua pemerintah kota lalai sih. TApi ada kan, yang dulu sampai masuk news segala. (Lupa persisnya /sry)
di luar negri terutama negara2 maju, penyebaran kuman tidak setinggi negara kita karena biasanya mereka lebih ngerti tentang kebersihan dan higienis.
dan juga mereka gizinya baik sehingga daya tahan tubuh lebih baik, lebih mudah mengatasi serangan virus/kuman ringan.
nah, ni negara kita, kebersihan atau gizi masyarakat gmana?
nah, itu juga maksud saya. terlalu keras itu, di luar negeri baisanya hanya diberikan obat sesuai gejala penyakit, misalnya batuk pilek panas, hanya dikasih obat pereda batuk pilek panasnya, paling2 ditambahi obat imunomodulator (obat utk meningkatkan kekebalan tubuh), dengan harapan gejala reda dan kuman dpt dibunuh oleh kekebalan tubuh.
jika dgn obat tsb tdk sembuh baru diberi obat yg lbh keras yaitu anti biotik karena membantu membunuh kuman penyebab infeksi yg menimbulkan batuk pilek panas