• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Manusia Berusia Panjang, Setelah Meninggal, Jasadnya Tidak Membusuk

LoVe_ChiKa

IndoForum Junior A
No. Urut
8777
Sejak
17 Nov 2006
Pesan
3.571
Nilai reaksi
379
Poin
83
Pada tanggal 24 September 2000 jam 10 pagi, mobil ambulans yang membawa jenazah Wu Yun Qing perlahan menuju ke Kuil Lingquansi. Para murid menjaga posisi duduk Wu, wajah menghadap arah tenggara, punggung ke arah barat daya, dimasukkan ke dalam sebuah guci keramik dengan diameter 80 cm, tinggi 100 cm, dikaitkan pada sebuah tutup dan disegel pada hari berikutnya. Tinggi makam 180 cm terbagi menjadi 6 tingkat, tangga pijakan terbuat dari batu alam.

Dua tahun tiga bulan menjelang genap 3 tahun wafatnya Wu Yun Qing, para pakar membuka gucinya lebih awal. Alasannya, Wu yang berusia 160 tahun telah meninggal hampir 800 hari, jika jasadnya tidak membusuk bisa dipastikan sekarang, tidak perlu ditunggu sampai genap tiga tahun baru dibuka. Apalagi lagi sekarang ini musim dingin, baunya tidak akan terlalu menyengat. Tanggal 23 Desember 2000, pakar antiseptik datang ke kuil persemayaman di Anyang dan menyuruh tukang batu supaya membuka stupa itu pada jam 21.59 malam.

Setelah undakan batu warna hijau bersusun enam itu digeser satu per satu, tampak sebuah baskom porselen yang dikancing dalam posisi terbalik. Para pakar melarang para tukang batu meneruskannya lagi, mereka turun tangan sendiri mengikis semen yang merekat di pinggir guci tersebut sedikit demi sedikit, setelah baskom tembikar itu terbuka, sepuputan bau wangi ringan bertebaran dalam guci.

Seorang pakar merangkak ke mulut guci dan menjulurkan tangannya ke dalam, meraba sekejap bagian punggung Wu, serta merta berteriak: "Jubah almarhum tidak rusak, otot punggungnya masih tetap lentur!" Serentak orang-orang memegangi keempat sudut lapik katun tempat ia bersemedi, memegang punggung, memapahnya keluar lalu meletakkannya di atas sebuah papan. Di bawah sinar matahari, tampak kulitnya berwarna kemerah-merahan, kulitnya lembut, almarhum tampak berwibawa dan arif bijaksana, sama seperti semasa hidupnya dulu, berambut dan berjanggut putih.

Seorang pakar antiseptik dari Jiuhuashan bernama Fengwanzhong membuka jubah sang biksu lalu memencet bokongnya, terbentuk sebuah kubangan, tapi segera merata kembali. Ia terkejut dan berkata: Umumnya orang mati dalam waktu belasan jam, sekujur tubuhnya akan menjadi kaku, selang 100 hari, daging dan tulangnya terpisah dan membusuk. Orang tua ini telah meninggal selama 823 hari, tubuhnya masih begitu lentur, sungguh sangat langka.

Jubah dan kain putih yang membalut tubuh orang tua itu digunting, tampak tetap dalam posisi bersemedi sewaktu wafatnya, seluruh kulit tubuh tampak utuh, karena berjalan kaki telanjang sepanjang tahun, maka kapalan di kakinya terlihat jelas, kasar dan halusnya lengan kiri merata, tungkai lengan kanan terlihat menonjol, katanya akibat dipergunakan untuk bekerja sepanjang tahun.

Ketika penulis datang untuk wawancara pada tanggal 16 Februari 2001, tampak tubuh orang tua itu duduk tegap di dalam Kuil Lingquansi dalam keadaan utuh wajahnya, ditutup sehelai kain kuning (tanda hormat), menunggu sampai 5% air dalam jasadnya yang tersisa menguap dan kering total, seluruh tubuh dilaburi serbuk emas dan disemayamkan di dalam Kuil Lingquansi selamanya.

RAHASIA HIDUP PANJANG UMUR
Walau sampai saat ini, jasad Wu Yun Qing yang tidak membusuk setelah meninggal, masih menjadi sebuah teka-teki, namun lagu yang sering dilantunkan olehnya "nyanyian empat tidak serakah dalam hidup ini", menyadarkan generasi sekarang. "Ada empat tembok dalam hidup manusia: minuman keras, wanita, uang serta kegagahan, orang bersembunyi di dalam tembok itu. Jika ada yang sanggup melompat keluar tembok, bukan dewa pun akan berumur panjang."

Menurut informasi, sejak beberapa puluhan tahun lalu, orang tua itu tinggal di dalam sebuah rumah gua yang berukuran 25 meter persegi di desa dan Kecamatan Chinghuapian kota Yan-An. Pada tembok sebelah timur menghadap ke selatan, dibikin sebuah tempat tidur di atas lantai, tembok selatan di atas tempat tidurnya bersemayam sebuah patung Dewa Kwan-Im, di bawah patung terdapat sebuah pedupaan kecil, di kanan-kiri tembok digantung sepasang kuplet antitesis, bagian atas berbunyi: "Siapa gerangan yang tahu akan ada sebuah kitab sejati di dunia ini." Sedang bagian bawahnya berbunyi: "Melampaui batas hidup dan tampak tidak ada kehidupan." Dan di sinilah tempat Wu Yun Qing sering membakar dupa dan bersembahyang.

Pak tua Wu juga dikenal berpembawaan sopan, dan pernah belajar ilmu bela diri di kala remaja, gemar membaca kitab agama Buddha dan Tao, belajar ilmu Jin Ding Shen-dan ketika berusia enam belasan tahun di Taixingshan, saat 40 tahun meninggalkan gunung Taixingshan berkelana ke berbagai tempat dan banyak berkenalan dengan kaum cendekiawan serta menyerap tidak sedikit rahasia ilmu kultivasi tingkat tinggi dari mereka, kemudian menjadi pendeta Huasan dan menekuni ilmu Nei-Dan-Gong.

Semasa hidupnya dia beberapa kali berkata kepada muridnya, Suhuajen, bahwa jika ingin belajar Nei-Dan-Gong dari aliran Taoisme, maka pertama-tama harus membentuk keadilan sebagai ideologi, mengerti jelas rahasia kehidupan manusia dan perubahannya, berkultivasi sama dengan beramal kebajikan di duniawi. Mempunyai keteguhan hati, ulet, berkultivasi tidak putus-putus dari tahun ke tahun, menjadikan seratus tahun menjadi satu hari. Yang ketiga, ketenangan hati, tidak terusik oleh urusan duniawi sepenuh jiwa-raga dalam menjalani kultivasi.

Suhuajen pernah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sehari-harinya sang guru bersemedi dengan teguh dan tepat waktu, di setiap kondisi selalu menyisihkan sedikit waktu untuk berlatih. Di malam hari umumnya sang guru tidur dengan posisi duduk dan tidak pernah berselimutan. Seberapa tinggi ilmu yang dikuasainya, tidak pernah dia singgung. Yang diketahui ketahanannya terhadap panas dan dingin luar biasa, di musim panas-panasnya tidak pernah mengipas, dan tidak pernah memakai perapian dan sarung tangan serta topi, pada saat yang paling dingin, lebih 20 derajat di bawah nol, bertelanjang kaki sepanjang tahun. Musim dingin tahun 1983, saat dia pergi berkelana ke Wutang utara, berjalan dengan kaki telanjang di atas salju, ketika itu ada seorang kepala pendeta agama Tao bermarga Che yang berada di atas gunung pernah bertanya padanya: "Mengapa Pak Pendeta tua berlari di atas salju dengan kaki telanjang dan tidak takut akan dingin?" Menurut Suhuajen, kaki sang guru tidak pernah luka sedikit pun karena dingin, walau tidak pakai kaus kaki atau sepatu.

Yang membedakannya dengan kaum cendekiawan umumnya adalah walaupun pak tua Wu seorang petinggi agama Taoisme, tak pernah ia menyembunyikan identitasnya seolah-olah misterius. Beliau tinggal di sebuah desa, mahir berfilosofi juga bercocok tanam, berkultivasi dan bekerja, berprinsip hidup dengan "bekerja di waktu matahari terbit dan istirahat pada waktu matahari tenggelam," tidur sore bangun pagi untuk bekerja keras. Sebuah keranjang selalu berada di tangannya ketika bepergian, melihat ada kotoran kambing atau kerbau lantas dipungut, diberikan ke halaman rumah siapa saja yang sampai duluan. Dalam urusan berpakaian, tidak pernah memilih, mengenakan sepotong baju berlapis warna abu-abu dari musim panas hingga rontok dan sepotong baju kapas tebal dari musim dingin hingga semi, sering menambal sulam sendiri.

Dalam hal makanan seumur-umur tidak pernah makan daging dan menganjurkan menu sederhana atau vegetarian dan kuah mie acap kali terlewatkan, menumis sayur selalu dengan minyak sayur. Pak tua Wu menganggap rokok sama dengan lauk pauk dan daging, ia sering berkata yang merokok dan minum, akan dicuci ususnya oleh sang raja neraka dan akan disuruh melintasi gunung berasap yang panjangnya kurang lebih 800 kilometer setelah meninggal nanti. Namun beliau tidaklah keras kepala, bertemu dengan orang luar daerah yang tidak tahu-menahu kondisi dan merokok, dia pun tidak gelisah atau panik.

(Sumber: Dajiyuan)
 
wew keren....
Nice Thread /no1

ada foto nya ga cc?
 
jd cman mkan vgetarian trz bsa kyak gtu tuh
ckckck..
 
RAHASIA HIDUP PANJANG UMUR
Walau sampai saat ini, jasad Wu Yun Qing yang tidak membusuk setelah meninggal, masih menjadi sebuah teka-teki, namun lagu yang sering dilantunkan olehnya "nyanyian empat tidak serakah dalam hidup ini", menyadarkan generasi sekarang. "Ada empat tembok dalam hidup manusia: minuman keras, wanita, uang serta kegagahan, orang bersembunyi di dalam tembok itu. Jika ada yang sanggup melompat keluar tembok, bukan dewa pun akan berumur panjang."


Syarat yang sangat-sangat-sangat-sangat susah untuk manusia jaman skarang [-(
 
keren bgt ya bs kek gitu /hmm

bs awet gitu badan ny :D
 
great posting bro :D

coba ada pic nya, pasti lbh keren lagi :P
 
gw pernah baca, orang2 walaupun bukan dewa ataupun nabi, kalau dia selalu berbuat kebaikan di masa hidupnya, kalo meninggal jasadnya g' busuk tapi malah wangi...

gw percaya dech... /ok /ok
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.