• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

The Lounge Forum Islam

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. K1t3
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Assalamu'alaikum..
Selamat Pagi sadaya na...

Wa'alaikum salam teh....

Sundanya makin oke :-bd

alaikum salam, neng,..

ane baru OL yang lain mana ya????

hadir..

Alhamdulillah baru bisa OL...

pagi2x meeting ane disalahin big bos..

curhat dikit ya...

Kapasitas database server sudah overload dengan lebih dari 400 session/user dari berbagai kota, nah karena overload, ya mau ga mau saya restart, wong user gimana mau masuk kalau kepenuhan.

Nah si big bos malah nyalahin saya kenapa musti direstart segala, padahal sudah dijelasin kemampuan server sudah maksimal dan musti diupgrade memorynya.

Kesimpulan tadi pagi meeting, minta hari ini jangan direstart.

Buset, perusahaan ga mau rugi upgrade server tapi minta performance maksimal.. udah untung miliaran tapi masih itung2xan.

aya aya wae... :(

Dan yang lebih sedih, manajer saya malah diam saja :((
 
sabar aja kang....

hehehe selamet yah sdh masuk 3 K...... ;)
 
sabar aja kang....

hehehe selamet yah sdh masuk 3 K...... ;)

Wualah ga nyangka udah banyak hehehehe

Iya brader, 5 menit lagi meeting lagi nih... (piling saya perusahaan mau mencari kambing hitam :( )

saya off dulu....

To All : wish me luck ya ...

bismillah....

بسم الله
 
mo nanya.. apakah kalau misalnya.. posting sampe ke sekian.. misal 10rb harus dirayakan dengan bikin thread? soalnya gw sering mendapati itu di sini..
dan duluuu pas posting gw mau nyampe 1000 rencananya mau bikin suatu thread.. ehh pas gw liat.. posting gw kebablas udah 1500 lebih =))
 
mo nanya.. apakah kalau misalnya.. posting sampe ke sekian.. misal 10rb harus dirayakan dengan bikin thread? soalnya gw sering mendapati itu di sini..
dan duluuu pas posting gw mau nyampe 1000 rencananya mau bikin suatu thread.. ehh pas gw liat.. posting gw kebablas udah 1500 lebih =))

kalo masalah harus nggaknya, tergantung member masing2, mba....

ada juga yg seperti Kang Cimo, yg nggak terlalu memusingkan jumlah posting....

dan ada juga yg membuat tread utk mengingatkan, dengan mengundang teman2 utk mampir......

yah, tergantung masing2 member aja kok.....;)

kalo saya sih nggak mau pusing lah, pokoknya ada topik bagus buat di share, ya saya buat..... nggak tergantung jumlah postingan...... :):)
 
@om cimo good luck ya bro,..

boss ane hari ini libur,..senengnya,.. tapi paper work masih banyak nih bro,... heeeh,..
 
@Goldway: oohh gt.. :) selama hampir lima tahun maen forum gak pernah meng-euphoria-kan jumlah posting ;))

@Junea: sini aku bantuin... bantu dengan do'a ya ;))
 
Assalamu'alaikum..
Selamat Pagi Sadaya na...

@Junea: hehehehe udah terkirim kan doanya? ;))
 
Assalamu'alaikum..
Selamat Pagi Sadaya na...

@Junea: hehehehe udah terkirim kan doanya? ;))
alaikum salam warahmatullah,....
kayaknya sih udah sis,... soalnya paperworknya dah selesai kemarin,... thank you yaaa>:D<>:D<

tapi sekarang nambah lagi,.... heeeeh,..

kali ini kirim beras aja dech sis,...:D:D
 
hahahaha aduh aduh beras, ya?? beli permen aja saia ngutang barusan -_-a

=================

ada satu cerita yang menusuk perasaan aku..

jadi gini..

aku punya sahabat. panggil aja Karmen (bukan nama sebenarnya). dua hari lalu, dia dateng ke tempat kerjaku.. mengantarkan surat undangan.. Subhanallah.. dia mau menikah tanggal 23 January besok.. bahagia dong, melihat sahabatku bahagia.. :)
abis gitu.. aku sedikit mengungkit rencana ziarah ke makam sahabat kami satunya, yang udah tiada sejak taun 2008. trus dia bilang, katanya dia udah gak boleh lagi ke mana-mana selain menyelesaikan kuliahnya.. dan larangan ini dikeluarkan oleh calon suaminya.

Masyaallah..

aku sempat berpikir, "apakah setelah menikah.. silaturrahmi pun terputus? kecuali sang suami mengizinkan??" (bertambah lagi alasan, kenapa aku belum siap menikah..). karena ada lagi temenku.. yang malah gak boleh facebookan.. waduh.. kalau aku dapat suami kek gt.. bakal terputus tali silaturrahmi aku dengan hampir 5000 teman nettersku... kan, banyak teman, bisa menambah panjang usia kita.. -_-a

ohh.. gw harus gimana, ya? keluarga udah mendesakku untuk segera mengakhiri masa lajangku..
 
weew,.. cowok macam apa itu????
menurut ane sis mendingan tinggalin aja cowok kayak gitu,...

gini lho,.. Suami idaman (pemuda idaman,lanange jagat (lagu tarling cirebonan) ialah cowok yang punya komitment membahagiakan keluarga, tanpa keluar dari akidah keislaman,..
kedua faktor itu harus ada,..

Menurut ane cowok temen kamu itu cuma punya satu salah satu dari dua kriteria diatas,....

mosok mau membahagiakan keluarga dengan cara ga boleh silaturahim,...

Asma Nadia salah satu contoh muslimah yang berhasil berkarya sekaligus menjalankan akidah islam,...
 
Assalamu'alaikum...

Alhamdulillah masih bisa ol di IF ....

dan kesimpulan meeting kemaren adalah I'm the winner but the boss never loss :))

Kumaha sadayana dararamang???

@samantha :

kita ambil dari kisah saja ya :

149529_160229124019282_152306401478221_263014_8006442_a.jpg

Wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.



Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Setelah bertanya - tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah.



Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan.

Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.

“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.

“Saya Fatimah, putri Rasulullah”

“Oh, iya. Ada keperluan apa?”

“Saya hanya berkunjung saja”

“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”

“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”

“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki - laki”

“Tetapi Hasan masih anak - anak”

“Walaupun anak - anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”

“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa.



Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.

Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein ( saudara kembar Hasan ) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.

“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”

“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”

“Dia perempuan?”

“Bukan, dia lelaki”

“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”

“Tetapi dia juga masih anak - anak”

“Walaupun anak - anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”

“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa.



Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.



Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.



“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”

“Ada keperluan apa?”

“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”

“Oh, begitu”

Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut - sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.

“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.

“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”

Fatimah benar - benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”



“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”



“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”

“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”

“Ya… ternyata inilah rahasia itu”

“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.

“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara - gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”

Subhanallah.
 
Lanjutan.....

Taat kepada suami atau Ibu ??
Di zaman Rasulullah dulu, ada seorang sahabat yang ingin berperang, dan berpesan kepada istrinya untuk tak meninggalkan rumah selama dia tak ada. Istri sahabat ini berjanji patuh. Namun, nasib memang susah diduga. Berselang hari, datang seorang utusan dari keluarganya, dan mengabarkan tentang ibunya yang sakit keras, dan mengharap kedatangan si istri. Si istri ini, dengan meminta maaf, berkata tak dapat hadir. Suaminya tak ada di rumah, dan dia telah berjanji untuk patuh pada pesan suami, tak akan meninggalkan rumah. Si utusan paham.

Sehari kemudian, utusan itu datang lagi, mengabarkan si ibu sakitnya kian menjadi. Si istri tetap kukuh, dan tak ingin ingkar janji. Keesokan lagi, si utusan datang, dengan wajah yang pucat. Dia mengabarkan, si ibu telah berpulang, dan sampai akhir hidupnya, dia tak melihat wajah anaknya. Si istri menangis, tapi dia tak berani menghadiri pemakaman itu. Dia harus patuh pada suaminya.

Lama setelah peristiwa itu, bertanyalah sahabat kepada Rasulullah atas peristiwa itu. Mereka sebagian "mencela" kepatutan sang istri pada suami. Tapi apa kata Rasulullah? "Karena kepatuhan istrinya itulah, ibunya kini telah berada di syurga." Sungguh kisah yang luar biasa.

Jadi ibu, patuh pada suami memang wajib hukumnya. Namun, kepatuhan itu bersyarat. Syarat itu tentu tidak bertentangan dengan agama kita. Kedua, kepatuhan itu juga wajib untuk suami yang seagama dengan kita. Dan ketiga, kepatuhan itu wajib sepanjang suami berada di jalan yang benar.

Menyangkut cerita ibu, memang agak dilematis. Suami keras, ibu juga. Patuh pada suami wajib, pada ibu apalagi. Namun, jika tidak bisa didamaikan, jd ibu dapat membandingkan tingkat kesalehan ibu dan suami. Jika suami selama ini memang mampu menjadi imam dalam keluarga, dan "kekerasan" dia pada mertua adalah sikap yang wajar dan bukan merupakan kedurhakaan, ibu dapat mematuhinya. Namun jika suami ibu belum mampu menjadi imam di dalam keluarga, tidak mencukupi kewajibannya sebagai suami dan ayah bagi anak ibu, perintahnya tentu dapat ibu nilai sesuai dengan nurani atau hanya merupakan luapan emosi atau dendam karena dulu tak mendapat restu.

Ibu juga dapat melakukan hal yang sama pada ibu Anda. Nilailah ketaatannya kepada Allah. Nilailah apakah "perselisihan" mereka hanya urusan-urusan kecil atau menyangkut masalah prinsip. Ibu dapat melihat mana yang lebih dapat ibu ajak bicara, suami atau ibu Anda. Mana yang dapat ibu jadikan teladan. Dan ibu harus jujur, jangan karena dia melahirkan Anda, maka Anda berpihak padanya, atau karena dia ayah anak-anak ibu pun membelanya. Kejujuran penilaian ibu akan membuat sikap ibu punya nilai di mata Allah.

Selebihnya marilah berdoa pada Allah. Ajak suami berdoa agar Allah membuka pintu hari ibu Anda dan menerima dapat kehadirannya. Ajak ibu Anda berdoa agar percaya bahwa suami Anda dapat membuatnya bangga.

INTINYA ADALAH :

Sebelum menikah pasti anda telah mengenal siapa calon suami nya kan...

So be wise to choose teh... :-bd
 
tapi, dulu aku pernah mendengar info...
bahwa patuh kepada suami jauh lebih utama dari pada dengan ibu. benar gak, ya??

karena, mamaku pernah hidup dengan seorang pria, yang bahkan melarang mamaku berhubungan dengan keluarga saudara... -_-a
 
yaaaa,.. menurut aku kalau mau masuk surga lebih dulu,... yaa contohlah mutiah,.. tapi kalo mau masuk surga belakangan pake yang biasa aja ga pa pa kaan,.. he,.he,..
 
tapi, dulu aku pernah mendengar info...
bahwa patuh kepada suami jauh lebih utama dari pada dengan ibu. benar gak, ya??

karena, mamaku pernah hidup dengan seorang pria, yang bahkan melarang mamaku berhubungan dengan keluarga saudara... -_-a

Semua jawaban ada di kisah kedua, silakan di telaah lagi teh tentang cerita kedua... :-bd

yaaaa,.. menurut aku kalau mau masuk surga lebih dulu,... yaa contohlah mutiah,.. tapi kalo mau masuk surga belakangan pake yang biasa aja ga pa pa kaan,.. he,.he,..

paket spesial dan paket biasa ya kan :D
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.