GOLDWAY
IndoForum Senior E
- No. Urut
- 108195
- Sejak
- 4 Nov 2010
- Pesan
- 3.835
- Nilai reaksi
- 273
- Poin
- 0
arsip lama kk, namun perlu di angkat,
semoga kita selalu ingat.......
Semoga Allah swt membimbing kita ke arah hidup yang lebih baik. Amien
semoga kita selalu ingat.......

Publikasi 30/11/2001 10:39 WIB
eramuslim - Menjelang perpisahannya dengan Nabi Musa as, Nabi Khidir as, memberi nasihat,
"Hai Musa, janganlah terlalu banyak bicara, dan jangan pergi tanpa perlu,
dan jangan banyak tertawa, juga jangan mentertawakan orang yang berbuat salah,
dan tangisilah dosa-dosa yang telah kamu perbuat, hai putra Ali 'Imran."
(Tanbighul Ghafilin: 192-193).
Tertawa, bukanlah sesuatu yang dilarang.
Siapa saja boleh tertawa selagi ingin. Dengan tertawa menunjukkan, bahwa seseorang sedang dalam keadaan senang.
Bahkan tertawa bisa menjadi ilham bagi seorang penulis untuk membuat sebuah buku.
Subhanallah, tidak didapati dalam ajaran di luar Islam yang mengatur tata hidup sedemikian rupa,
hingga masalah kecil seperti tertawa.
Allah swt berfirman,
"Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak
menangis sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan."
(QS. At-Taubah:82).
Dalam salah satu haditsnya Rasulullah SAW bersabda,
"Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa, ...."
(HR.Abu Dzar ra).
Rasulullah SAW tidak pernah tertawa, kecuali hanya tersenyum, tidak menoleh
kecuali dengan wajah penuh (maksudnya: tidak melirik).
(Ja'far Auf, Mas'ud dari Auf Abdillah).
Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa :
tersenyum itu hukumnya sunnah, sedang tertawa terbahak-bahak dihukumi makruh.
Dalam surat An-Najm (53): 59-61 Allah memperingatkan,
"Apakah dengan ajaran ini, kalian ta'ajub (heran)? Kamu tertawa dan tidak menangis.
Sedangkan kalian terlengah."
Ibnu Abbas ra berkata,
"Barangsiapa tertawa di saat berbuat maksiat, maka akan bercucuran tangis di neraka."
Rasulullah SAW memberi peringatan,
"Celakalah orang yang berdusta supaya ditertawakan orang lain. Celakalah dia, celakalah dia!"
(HR. Tirmidzi)
Menurut Yahya Mu'adz Razy sebagaimana dikutip al-Faqih
ada empat hal yang dapat menjadi obat bagi mereka yang terkena "penyakit" seperti ini, yaitu:
1. Ingat akan dosa-dosa yang telah diperbuat selama ini.
2. Sibuk dengan bekerja (memenuhi nafkah) untuk diri dan keluarga.
3. Ingat bahwa jatah umur yang ada tinggal sedikit, dan akan datang kehidupan baru diakhirat.
4. Memperhatikan setiap musibah yang menimpa, baik diri keluarga maupun orang lain.
Sementara itu, Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu
pernah berkata: "Ada tiga hal yang membuatku tertawa:
a. Aku tertawa melihat orang yang berangan-angan panjang dengan dunia padahal maut tengah mengejarnya.
b. Orang yang lengah sedang maut tak pernah lengah darinya.
c. Serta orang yang tertawa dengan mulut yang terbuka penuh
sementara ia tidak tahu apakah perbuatannya itu mengandung amarah Rabbnya atau Ridha-Nya
source taken from milist eramuslim/Slammby/leksandriyani
Semoga Allah swt membimbing kita ke arah hidup yang lebih baik. Amien



