• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tokoh Muslim: Ibnu Sina

Samantha

IndoForum Senior B
No. Urut
43737
Sejak
17 Mei 2008
Pesan
6.450
Nilai reaksi
157
Poin
63
IbnSina-Dushanbe.jpg


Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu." pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).


Awal Kehidupan


Kehidupannyan dikenal lewat sumber - sumber berkuasa. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afganistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.
Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
Ibn Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intellectual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.
Meskipun bermasalah besar pada masalah - masalah metafisika dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku - bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus salat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan - kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata - katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu kedai buku seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.
Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.
Pekerjaan pertamanya menjadi fisikawan untuk emir, yang diobatinya dari suatu penyakit yang berbahaya. Majikan Ibnu Sina memberinya hadiah atas hal tersebut dengan memberinya akses ke perpustakaan raja Samanids, pendukung pendidikan dan ilmu. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama kemudian, musuh - musuh Ibnu Sina menuduh din oa yang membakarnya, dengan tujuan untuk menyembunyikan sumber pengetahuannya. Sementara itu, Ibnu Sina membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awalnya.
Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal.Samanid dynasty menuju keruntuhannya pada Desember 1004. Ibnu Sina menolak pemberian Mahmud of Ghazni, dan menuju kearah Barat ke Urgench di Uzbekistan modern, dimana vizier, dianggap sebagai teman seperguruan, memberinya gaji kecil bulanan. Tetapi gajinya kecil, sehingga Ibnu Sina mengembara dari satu tempat ke tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan, mencari suatu opening untuk bakat - bakatnya. Shams al-Ma'äli Qäbtis, sang dermawan pengatur Dailam, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibn Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, Ibnu Sina bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri idmana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini ; dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.


Kematian

Ibnu Sina wafat pada tahun 1037 M di Hamadan, Iran, karena penyakit maag yang kronis. Ia wafat ketika sedang mengajar di sebuah sekolah. saat itu dia sedang sakit parah tetapi tetap saja bersikeras utuk mengajar anak-anak, saat dia wafat anak-anak itu merasa beruntung sekali mempunyai kesempatan untuk bertemu ke ibnu sina untuk terakhir kalinya karena saat akan dibawa ke rumah dia sudah kehilangan nyawa dan tidak dapat ditolong

Karya Ibnu Sina



  • Qanun fi Thib (Canon of Medicine)(Terjemahan bebas:Aturan Pengobatan)
  • Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  • An Najat
WikiPedia
 
Ingat kita harus hati-hati terhadap pengaruh Filsafat Ibnu Sina yang dikembangkan oleh para Orientalis dan bertujuan untuk menyesatkan kaum Muslimin. Bila aqidah sudah hancur amal-pun pasti akan gugur.!
 
Ingat kita harus hati-hati terhadap pengaruh Filsafat Ibnu Sina yang dikembangkan oleh para Orientalis dan bertujuan untuk menyesatkan kaum Muslimin. Bila aqidah sudah hancur amal-pun pasti akan gugur.!

punya contoh filsafat Ibnu Sina yang harus diwaspadai, gak??

artinya.. Ibnu Sina sendiri kan gak gt.. :)
dia menonjol di bidang kedokteran, sastra, ilmuwan juga.. :)
 
lah jelas jelas dia itu seorang filsuf juga. siapa bilang dia hanya menonjol di bidang itu saja..
disitu di tulis yg TS posting
Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran.


banyak kok yg tau dia itu siapa. dia banyak mengambil ilmu filsafat dari Ariestoteles. Filsafat ini dikembangkan oleh Ibnu Sina. Filsafat yang dianut oleh Ariestoteles dan Ibnu Sina menurut ahli filsafat merupakan filsafat yang sangat-sangat aneh, karena keduanya berpendapat bahwa alam ini ada sebelum adanya (Allah), sedangkan para filosof sebelumnya berkata Bahwa alam ini baru (diciptakan), dan penciptanya ada. (Ighatsatul-Lahafan hal: 257).

Ariestoteles dan lbnu Sina berpendapat bahwa Allah Subhana wa Ta’ala tidak mempunyai kekuasaan apa-apa dan tidak mengetahui sesuatu dan keduanya tidak beriman kepada Malaikat. Malaikat menurut mereka adalah khayalan para Nabi yang berupa cahaya. Malaikat tidak bergerak, tidak naik, tidak turun, tidak berbicara, tidak menulis amal-amal hamba, tidak berpindah-pindah, tidak shalat, tidak rnencabut nyawa, tidak menulis rezeki, ajal dan amal, tidak ada di kanan dan di kiri manusia dll. Semua ini menurut Ibnu Sina tidak ada hakikatnya (Lihat: lghatsatul-Lahafan II : 261).

Mereka tidak percaya kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah Subhana wa Ta’ala melalui Malaikat, karena dia tidak bisa berkata apa-apa dan tidak akan berkata dan Malaikat tidak boleh berkata-kata. (ibid : 262).

KEYAKINAN IBNU SINA YANG SESAT TENTANG NABI DAN RASUL

Rasul-Rasul dan Nabi-nabi menurut Ibnu Sina adalah bualan semata dan bukan utusan dari Allah Subhana wa Ta’ala. Para Nabi dan Rasul mempunyai 3 karakteristik, jika hal ini ada maka ia (menurut dia Ibnu Sina.ed) Nabi :

1. Kekuatan menduga (mengetahui perkara berdasarkan pcrkiraan) hingga ia tahu dengan cepat batas pertengahan dari Sesuatu.

2. Kekuatan mengkhayal, seperti para Nabi mengkhayalkan bentuk cahaya serta cahaya itu dapat bercakap dengan dia dan ia dapat mendcngar (cahaya yang dimaksud ialah Malaikat).

3. Kekuatan untuk mempengaruhi orang, dan ini dilakukan semata-mata dengan jiwa.

Semua ini bisa dilakukan dengan usaha. Ibnu Sina berkata : Filsafat itu merupakan kenabian khusus, adapun kenabian adalah merupakan filsafat umum.

(Lihat : Kitab lghatsatul Lahafan min Mashayidis Syaithan II hal: 262 oleh Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Muhammad Hamid al-Faqiy cet. Darul Ma’rifah-Beirut ; dan Kitab al’Aqa-’id al-Bathiniyyah wa hukmul Islam fiiha hal : 247-248 oleh Dr. Shabir Tha’iimah cet. Maktabah ats-Tsaqafiyyah-Beirut).

PANDANGAN IBNU SINA TENTANG HARI KIAMAT

lbnu Sina dalam bukunya “ar-Risalah al-Adhhawiyyah fi Amril Ma’ad” (cet. Darul Fikr al-’Arabiy-Kairo th. 1368 H / 1949 M) ia berkeyakinan tidak beriman kepada pecahnya langit, berhamburannya bintang-bintang, bangkitnya manusia dengan jasadnya, dan tidak percaya bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengadakan alam ini dari tidak ada menjadi ada. Ia berkeyakinan alam ini Azaliy (lihat Dar’u Ta’arudhui ‘Aql wan Naql V:10 oleh Sayikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim cet. I th.1401 H / 1981 M; Ighatsatul Lahafan II hal. 262).

IBNU SINA ADALAH PENGIKUT ALIRAN SYI’AH SEKTE QARAMITHAH BATHINIYYAII

Ibnu Sina pernah memberitahukan tentang dirinya :

Aku dan Ayahku inengikuti ajaran al-Hakim (1) (Ighatsatul-Lahafan 11 : 266) Dengan begitu jelaslah bahwa Ibnu Sina termasuk Sekte Qaramithah Bathiniyyah (2) sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Dr. Rasyad Salim, Muhammad ilamid al-Faqiy dan Dr. Shabir Tha’iimah.

(1). Al-Hakim adalah Manshur bin al’Aziz Billa Nizar bin al-Mu’iz-Billa al-’Abidiy Sulthan ke III, Kesultanan Syi’ah Fathimiyyah (Dibunuh oleh Sulthan Mahmud Al-Ghazi As-Saljuqi At-Turkey Rahimahullah dari Daulah As-Salajiqah pada Tahun 386 H / 996 M), khalifah Pendusta dan Jahat yang pernah menguasai seluruh wilayah Afrika Utara. Ia mendakwakan dirinya sebagai Tuhan, ia banyak membunuh para ulama (tidak dapat dihitung bilangan ulama yang terbunuh, karena hanyaknya). Ia menulis di Masjid-masjid Jami’ caci makian terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Aisyah dan para shahabat lainnya. Dia-lah sekarang yang dijadikan sesembahan oleb kelompok Druzz di Libanon dan Isma’iliyyah di India. (Ta’liq Ighatsatul-Lahafan oleh Syekh Muhammad Hamid al-Faqiy II hal : 266).

(2). Dinisbatkan kepada Hamdan bin al-Ash’ats, dikenal dengan Qurmuth karena ia orangnya pendek / jadi, pendek langkahnya (qurmuth). Ia seorang pembajak tanah di Kufah. Ia termasuk kelompok Kebathinan, mereka mengaku bahwa mereka orang Syi’ah, mereka adalah Atheis dan Zindiq (orang yang pura-pura Islam). Tahun 286 H mereka mulai mcnampakkan da’wahnya (kcpada kesesatan) melalui Sa’id al-Hasan bin Bahram al-Janabiy setelah ia mengikuti Qaramithah. Kemudian da’wah Qaramithah berkembang dan banyaklah orang-orang jahat yang mengikutinya. Mereka pernah memasuki kota Makkah pada hari Tarwiyah tgl 8 Dzulhijjah th 317 H. Mereka membunuh jama’ah hajji yang sedang Thawaf (mengelilingi Ka’bah) mereka mencabut pintu Ka’bah dan Kiswahnya, dan orang-orang yang dibunuh dimasukkan ke Sumur Zamzam. Mereka mencopot Hajar Aswad dan mereka bawa ke Qothief dan tinggal di sana kurang- lebih selama 22 tahun. Setelah Dunia Islam panik dcngan kejahatan Qaramithah, barulah Khalifah Abbasiyyah al-Muthi’ Billah al-Fadhl Bin al-Muqtadir Rahimahullah mengembalikan Hajar Aswad ketempatnya. Sebenarnya sebelum itu juga mereka telah membunuh orang-orang yang ingin melaksanakan ibadah hajji dan menawan wanita-wanitanya (Lihat : Ta’liq Ighatsatul-Lahafan oleb Syekh Muhammad Hamid al-Faqiy II hal: 248 dan al-’Aqa-id al-Bathiniyyah oleh Dr. Shabir Tha’imah hal : 221 s/d 236).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah betkata : Semua kelompok Qaramithah LEBIH KUFUR dari Yahudi dan Nasrani bahkan lebih kufur dari kebanyakan kaum Musyrikin, karena mereka lebih berbahaya dari kafir harbiy, mereka berpura-pura mencintai Ahul Bait padahal pada hakikatnya mereka tidak beriman kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, tidak beriman kepada perintah, larangan, ganjaran dan siksa. Dan mereka tidak beriman kepada Surga dan Neraka dan tidak juga beriman kepada seorangpun dari para Rasul sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. mereka mengambil dalil al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dari Ulama kaum Muslimin tetapi mereka ta’wilkan dan mereka mengada-adakan dusta serta menda’wakan bahwa yang demikian itu adalah ilmu Bathin (Lihat: Fatawa Syaikhul Islam Jiid 35 halaman : 149-150).

BEBERAPA BANTAHAN PARA ULAMA TENTANG BUKU-BUKU IBNU SINA

1. Syaikh Muhammad asy-Syahrastani rahimahullah (lahir th 479 H wafat th 548 H), ia mengarang satu buku yang berjudul “al-Mushara’ah” [Buku yang ditulis oleh Imam Syahrastani adalah penyempurnaan dari buku Imarn Shadaruddin Asy-Syairazy rahimahullah, yang sebenarnya buku ini dibantah lagi oleh Ibnu Sina di saat Syairazy rnasih hidup, dua buku ini sudah dibaca oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. (Lihat: Al-Milal wan Nihal dan al-Ighatsah)].

Isi buku itu membantah keyakinan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa alam ini terdahulu, keyakinan dia tentang tidak adanya Hari Kiamat (dibangkitkan dengan jasad) serta ia berkeyakinan Allah tidak mempunyai ilmu dan kekuasaan. Beliau (Imam Muhammad asy-Syahrastani rahimahullah) menjelaskan bahwa keyakinan Ibnu Sina itu BATHIL. Tetapi Ibnu Sina tidak mau rujuk kepada kebenaran, bahkan ia menentang dan membantah buku Imam asy-Syairazy rahimahullah itu dengan mengarang satu buku yang berjudul “Mushara’atul Mushara’ah”, Di kitab itu Ibnu Sina menyatakan :

“Bahwasanya Allah tidak menciptakan langit dan Bumi dalam 6 (enam) hari, Allah tidak mengetahui sesuatu apapun, Allah tidak berbuat sesuatu dengan Qudrat dan Ikhtiyarnya dan Allah tidak membangkitkan manusia dari Kuburnya.” (Lihat : Ighatsatul lahafan II hal. 266).

Setelah membawakan pendapat Imam asy-Syahrastani rahimahullah yang menyatakan ajaran Ibnu Sina itu Bathil, Imam lbnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Kesimpulannya Ibnu Sina itu Seorang ATHEIS, Yang KUFUR KEPADA ALLAH, kepada para MalaikatNya, Kufur kepada Kitab-kitab Nya, Kufur kepada Rasul-Rasul Nya dan Kufur kepada hari Kiamat.” (Ighatsatul.Lahfan 11 : 267).

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata: (Menurut ukuran kejelekan), Agama kaum Musyrikin lebih baik dari ajaran Ibnu Sina, al-Farabi dan para pengikutnya (maksudnya kejelekan kaum Musyrikin lebih ringan dibanding kejelekan Ibnu Sina-pen) karena penyembah-penyembah berhala masih mempercayai Allah sebagai al-Khaliq (pencipta) yang mengadakan dari tidak ada, mereka percaya bahwa Allah BERKUASA DAN HIDUP, Penyembah berhala hanya berlaku syirik dalam soal ibadah. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” ( Qs. Az-Zumar : 3 ).

(sedang Ibnu Sina dalam semua hal) (idem 268).

2. Imam Ibnul Qusyairiy rahimahullah mernbantah bukunya Ibnu Sina yang berjudul: Asy-Syifa 3). Asy-Syifa itu sebuah buku Ensikilopedia Filsafat, bantahan beliau rahimahullah dituliskan dalam bentuk Sya’ir :

Kami putuskan persaudaraan dengan sekelompok orang yang sakit yaitu penulis buku asy-Syifa’.

Berapa kali kami sudah kuingatkan : Wahai kaumku! Kalian ini berada di tepi jurang (neraka) bersama penulis buku asy-Syifa’.

Maka tatkala mereka sudah meremehkan penngatan kami, maka kami kembali kepada Allah, Allah cukup (sebagai pelindung kami),

Mereka (Ibnu Sina dan para pengikutnya) mati dalam keadaan mengikuti Agama (‘ajaran,) Ariestoteles, sedangkan kami hidup mengikuti agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . (Lihat: Fatawa Ibnu Taimiyyah 9 hal. 253).

3. Ibnul Jauzi al-Qurasyiy al-Baghdadiy rahimahullah berkata : “Kebanyakan AhIi Filsafat berkeyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengetahui sesuatu?? Ibnu Sina berkeyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengctahui yang partial?? Mereka adalah orang-orang yang PANDIR YANG TELAH DIHIASI OLEH IBLIS.” (Talbiisu Iblis oleh Ibnu Jauzi hal : 47, Tahqiq Mahmud Mahdi al-Istambuli cet. Muassasah ‘ulumul Qur’an-Damaskus).

4. Ibnu Sina menulis buku yang berjudul “al-Isyaaraat wat Tanbiihaat, buku ini ada beberapa jilid yang berisi tentang kayakinan di dalam masalah Dzat, Wujud dan sebagainya. Buku ini telah disyarah oleh seorang filosop Israel. Dan buku Ibnu Sina ini telah dibantah oleh Syaikhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Dar’u Ta’a-rudhul’Aql wan Naql jilid V dan halaman 87 sampai dengan halaman 152 tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim cet. th 1401 H/1981.M. Di halaman 130-131 Ibnu Taimiyyah berkata : “Mereka-mereka yang mengingkari adanya Malaikat adalah Kafir .... dan Ulama’ salaf telah sepakat bahwa mereka yang mengingkari sifat-sifat Allah adalah orang yang paling bodoh dan paling sesat.”

5. Berkata Dr.Shabir Tha’iimah rahimahullah: “Aqidah kebathinan yang dianut oleh sekte Qaramithah, Isma’iliyah dan Nushairiyah adalah KAFIR karena mereka menolak Rukun Iman dan hukum-hukum Islam, dan mereka telah dipengaruhi oleh Filsafat Yunani, Persia dan India. Mereka mengaku-ngaku dirinya sebagai orang-orang Muslim? Padahal mereka sangat jauh dari Islam dan kaum Muslimin. Di antara tokoh-tokohnya ialah : Ibnu Mulkan, Ibnu Sab’in, IBNU ‘ARABY, AL-HALLAJ, IBNU SINA DAN dan yang selain mereka.” (Lihat al-’Aqaaid al-Bathiniyyah wa hukmul Islam fiiha halaman 242 s/d 249).


coba TS klo mau googling tentang kehidupan ibnu sina dan kitab kitabnya
 
Anda bisa melihat dan menyimak sumber yg satu ini.



Ibn Sina BUKAN ORANG ARAB ISLAM !!!!

muskitawati
Sun, 15 Jan 2006 03:06:14 -0800

Sungguh kebohongan dunia Islam yang tidak bisa disanggah karena
sebagai umat Islam saya dididik sejak kecil bahwa Ibnu Sina adalah
orang Arab yang beragama Islam. Dunia Arab dan dunia Islam sama2
satu suara bahwa Ibnu Sina yang tulisannya justru tersebar disegala
penjuru negara2 Barat tanpa satupun tulisannya dalam bahasa Arab yang
diwariskan kepada dunia Islam yang membanggakan dirinya.

Tentu saja, kalo saja dalam study saya selama ini saya bisa menemukan
bahwa Ibnu Sina adalah orang Arab dan Islam, tentunya tidak akan saya
menulis bantahannya dan kritik terhadap ajaran Islam yang
berlandaskan menghalalkan kebohongan demi memperkuat keimanan umatnya
disini.

Percayalah, tulisan saya ini adalah authentic dan original
berdasarkan bukti2 yang saya temukan dalam research saya selama
tahunan.

Ibnu Sina adalah nama Arab yang diberikan oleh penjajah Islam dari
Arab yang membantai umat Zoroaster diPersia dimasa lalu. Nama aseli
ibnu sina adalah AVICENNA. Namanya ini merupakan nama khas para
penganut Zoroaster dimana Avesta adalah kitab suci agama Zoroaster.
Avicenna adalah nama pemberian orang tuanya yang mengambil nama ini
dari nama kitab Avesta.

Avicenna hidup dizaman peralihan kekuasaan di Persia dari berbagai
kekuatan diluar Persia. Dari sumber2 Arab dikatakan bahwa Avicenna
adalah orang Arab yang beragama Islam, sedangkan dari sumber Katolik
dan Kristen biografi Avicenna dikutib dari sumber2 Arab sehingga
hampir semua sumber biografi Avicenna sama2 mengakui dirinya orang
Arab yang beragama Islam. Namun sumber2 Katolik yang meskipun juga
mengutib dari sumber2 Arab, tetapi memberi catatan pasti bahwa
Avicenna bukan orang Arab melainkan orang aseli Persia. Namun
sumber2 Katolik berspekulasi bahwa Avicenna beralih agama dari
Zoroaster ke Islam.

Demikianlah, sumber2 Informasi mengenai Avicenna atau Ibnu Sina
terlalu didominasi oleh Arab dan dunia Islam sehingga menyesatkan
sejarah itu sendiri demi kebesaran Islam dan Arab. Namun, tidak
semua orang Arab ataupun Islam yang suka berbohong, masih banyak
ahli2 Arab maupun Islam yang mengharamkan kebohongan dan berusaha
menguak kebenaran yang sejati dibalik kehidupan Ibnu Sina atau
Avicenna.

Wajar2 saja kalo Avicenna yang tadinya beragama Zoroaster karena dari
ayah yang beragama Zoroaster untuk kemudian beralih menjadi penganut
agama Islam mengingat waktu masa hidupnya yang selalu merasa terancam
pembantaian terutama dari umat Islam penjajah dari Arab. Sumber2
dari Iran menyebutkan kelahiran Avicenna ini adalah disebuah kota
kecil diwilayah Uzbekhistant yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan
Persia, atau jajahan dari kerajaan Persia.

Perlu anda mengetahuinya, bahwa semasa hidupnya Avicenna tidak pernah
memberi pernyataan agama apa yang paling dia percaya, dia tidak
pernah menyangkal kalo ada yang menganggapnya beragama Islam, juga
tidak menyangkal anggapan umat Zoroaster yang menganggap dirinya
sebagai keturunan pendeta2 Zoroaster. Namun dia mengakui terus
terang bahwa dirinya adalah penganut filosofi dari Aristotles, Plato,
dan juga Phytagoras. Semua buku2 yang pernah ditulisnya tidak
satupun yang diwariskan kepada dunia Islam, melainkan kepada dunia
ilmu pengetahuan di dunia Barat.

Terus terang, penelitian saya mengenai Avicenna inipun hanyalah
menyangkut kerajaan2 di Persia dan agama Zoroaster, dan saya tidak
mengumpulkan data2 khusus mengenai Avicenna. Namun, sebagai bahan
pertimbangan pembaca demi tegaknya kebenaran, saya ingin anda semua
menyebarkan kebohongan2 dunia Islam ini dengan bukti2 sejarah yang
ditulis oleh ahli2 sejarah Iran sendiri yang tentunya lebih bisa
mendekati kebenaran katimbang ahli agama Islam dari Arab Saudia.

http://www.iranian.com/History/2002/November/Avicenna/

Sumber website diatas, adalah sumber yang saya anggap lebih mendekati
kebenaran katimbang sumber2 Islam dari Arab Saudia ataupun dari
Indonesia yang sama sekali menggunakan ketenaran Avicenna untuk
propaganda Agama Islam yang sama sekali bukan merupakan agama yang
diyakini oleh Avicenna sendiri. Kita semua bisa memaklumi akan
ketakutan Avicenna terhadap kekejaman agama Islam kepada siapapun
yang menyangkal agama Islam atau dianggap menghina agama Islam.
Bahkan penganut Zoroaster sendiri sudah punah di Iran, dan mereka
melarikan diri ke India dan Gujarat, meski tentunya juga banyak yang
bermigrasi ke Amerika.

Semoga tulisan ini bisa mengurangi ketakaburan umat Islam yang dalam
hidupnya hanya dipenuhi dengan kebohongan2 tentang kebesaran agamanya
karena ketakutan kehilangan kepercayaan umatnya. Jelasnya,
kebohongan hanyalah waktu dimana kebenaran akan terkuak dan umat akan
bersumpah serapah didalam hatinya karena merasa dibohongi. Meskipun
diluarnya mereka se-olah2 tetap Islam karena takut dipenggal karena
murtad, namun dalam hati nuraninya yang paling dalam mengutuk ajaran2
bohong ini sampai keseluruh keturunan mereka yang akan datang.

Ny. Muslim binti Muskitawati.
 
KESIMPULANNYA
Apabila kita mau menilai sescorang maka kita wajib menilai dengan neraca yang adil yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Tidak boleh kita menilai seseorang itu baik berdasarkan jasa-jasanya atau kehebatan maupun keahliannya, karena banyak sekali orang-orang kafir yang telah berjasa untuk kepentingan kaum Muslimin dan mereka tetap dikatakan kafir. Pertama kali kita nilai seseorang adalah tentang aqidahnya, benar atau salah, musyrik, kafir atau mu’min dan sesudah itu baru yang lainnya. Ibnu Sina menurut ukuran nilai Islam dia TELAH KAFIR, jadi Ibnu Sina bukanlah cendekiawan Muslim, tetapi CENDEKIAWAN KAFIR.
 
KESIMPULANNYA
Apabila kita mau menilai sescorang maka kita wajib menilai dengan neraca yang adil yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Tidak boleh kita menilai seseorang itu baik berdasarkan jasa-jasanya atau kehebatan maupun keahliannya, karena banyak sekali orang-orang kafir yang telah berjasa untuk kepentingan kaum Muslimin dan mereka tetap dikatakan kafir. Pertama kali kita nilai seseorang adalah tentang aqidahnya, benar atau salah, musyrik, kafir atau mu’min dan sesudah itu baru yang lainnya. Ibnu Sina menurut ukuran nilai Islam dia TELAH KAFIR, jadi Ibnu Sina bukanlah cendekiawan Muslim, tetapi CENDEKIAWAN KAFIR.

wahh.. keras amat penilaiannya.. :)
menilai seseorang tuh jangan dari satu sisi aja, mas..
ya.. baiklah.. dia adalah Cendekiawan Kafir.. -_-a apapun itu..
sebenernya yang paling berhak menilai ia seorang KAFIR, MUSYRIK, atau tidak.. cuman Allah..
 
wahh.. keras amat penilaiannya.. :)
menilai seseorang tuh jangan dari satu sisi aja, mas..
ya.. baiklah.. dia adalah Cendekiawan Kafir.. -_-a apapun itu..
sebenernya yang paling berhak menilai ia seorang KAFIR, MUSYRIK, atau tidak.. cuman Allah..


ah siapa bilang? itu kan TS yg bilang.
coba kita pelajari lagi tentang Islam..
jadi kita jangan asal ongomong sebelum tau ilmunya.
karena amal tanpa ilmu sama saja kosong..

dan siapa bilang keras? Islam itu Tegas.. mana haq dan mana bathil. tapi terserahlah klo dibilang keras. sekalian aja Al Quran di bilang Keras. coba pahami maksud dari kesimpulan itu

sebenernya yang paling berhak menilai ia seorang KAFIR, MUSYRIK, atau tidak.. cuman Allah..

perkataan yg aneh.
sebaiknya bertanyalah klo tidak tahu.

artinya.. Ibnu Sina sendiri kan gak gt..
dia menonjol di bidang kedokteran, sastra, ilmuwan juga.. <--- coba liat dari sisi yg lain

jadi sebenarnya siapa yg satu sisi? :)
 
@samantha

kita bisa menilai seseorang itu kafir atau tidak kok, asalkan sesuai dengan aturan yang ada dalam ISLAM, orang yang menyembah selain ALLAH SWT (like mbah maridjan) bisa dikatakan musyrik, why? karena memang sudah ada aturan seperti itu,....

oh ya, seperti saran saya yang lalu, pandangan tentang sesuatu itu cukup satu, yaitu pandangan secara ISLAM, maka kita bisa tahu itu benar atau salah.

klo kita make pandangan nasrani, pandangan penganut budha, pandangan penganut hindu, pandangan demokrasi, liberal, komunis dll.... hmmm..... maka kita bukan seorang muslim (bukan muslim yang baik), he..............

mengenai Ibnu Sina, kayaknya yang lebih santer terdengar mengenai filsufnya deh dibanding ilmu kedokterannya........he...........
 
@samantha

kita bisa menilai seseorang itu kafir atau tidak kok, asalkan sesuai dengan aturan yang ada dalam ISLAM, orang yang menyembah selain ALLAH SWT (like mbah maridjan) bisa dikatakan musyrik, why? karena memang sudah ada aturan seperti itu,....

oh ya, seperti saran saya yang lalu, pandangan tentang sesuatu itu cukup satu, yaitu pandangan secara ISLAM, maka kita bisa tahu itu benar atau salah.

klo kita make pandangan nasrani, pandangan penganut budha, pandangan penganut hindu, pandangan demokrasi, liberal, komunis dll.... hmmm..... maka kita bukan seorang muslim (bukan muslim yang baik), he..............

mengenai Ibnu Sina, kayaknya yang lebih santer terdengar mengenai filsufnya deh dibanding ilmu kedokterannya........he...........

Lalu apakah Nabi Musa termasuk syirik karena Nabi Musa tidak mengenal Allah?yg beliau kenal adl Yahweh..begitu jg Nabi Isa yg menyebut Tuhan dengan Eloah/Eloi CMIIW
 
Lalu apakah Nabi Musa termasuk syirik karena Nabi Musa tidak mengenal Allah?yg beliau kenal adl Yahweh..begitu jg Nabi Isa yg menyebut Tuhan dengan Eloah/Eloi CMIIW

nabi musa dan nabi isa adalah nabi umat Islam. dan nabi musa mengenal ALLAH
begitu juga nabi isa. nabi isa menyebut Tuhan dengan sebutan ALLAH.

mungkin jakaloco mendapat dari sumber yg berbeda.
 
@jakaloco

mungkin versi anda beda dengan versi kami mengenai Nabi Musa dan Nabi Isa
mereka adalah Nabi-nabi ISLAM yang menyebarkan agama Tauhid dan mereka tidak musryik.

@asoy

Islam Lo.. Islam KTP!!
so.. benerin keIslaman lo..

alhamdulillah, saya selalu dalam jalan mempelajari ilmu agama,...

nggak mau tuh di bilang ISLAM KTP :) klo masih belajar sih iya, he......

sukron.......
 
@Samantha

yap, disisi tsb dia memang berjasa, dan kita patut berterimakasih, tapi hati2, jangan semua yang dilakukannya itu dianggap benar, dan hasil akhirnya kita musti tahu dia itu masih dalam keadaan beriman atau musyrik. Dan dia dikatakan Musyrik krn ada dasarnya, semua ada dasarnya. Jadi manusia bisa mengatakan demikian, berbicara dgn apa adanya sesuai dgn fakta yg terjadi.

sama aja kayak mau makan, makan pasti dimasukan kemulut, kalo makan dimasukan ke hidung dgn sengaja dibilang oprang itu adalah "Ngawur.". nah, manusia mengatakan dia "Ngawur" karena ada dasarnya. masak apa2 musti Allah saja yg mengetahui sementara manusia gak boleh tahu =)).

analoginya gt :D


(Catatan : Dasar dari statment itu termasuk dalam ruang lingkup ilmu)
 
wow, seru juga disini bahasannya...

ikut menyimak....
 
Anda bisa melihat dan menyimak sumber yg satu ini.



Ibn Sina BUKAN ORANG ARAB ISLAM !!!!

muskitawati
Sun, 15 Jan 2006 03:06:14 -0800

Sungguh kebohongan dunia Islam yang tidak bisa disanggah karena
sebagai umat Islam saya dididik sejak kecil bahwa Ibnu Sina adalah
orang Arab yang beragama Islam. Dunia Arab dan dunia Islam sama2
satu suara bahwa Ibnu Sina yang tulisannya justru tersebar disegala
penjuru negara2 Barat tanpa satupun tulisannya dalam bahasa Arab yang
diwariskan kepada dunia Islam yang membanggakan dirinya.

Tentu saja, kalo saja dalam study saya selama ini saya bisa menemukan
bahwa Ibnu Sina adalah orang Arab dan Islam, tentunya tidak akan saya
menulis bantahannya dan kritik terhadap ajaran Islam yang
berlandaskan menghalalkan kebohongan demi memperkuat keimanan umatnya
disini.

Percayalah, tulisan saya ini adalah authentic dan original
berdasarkan bukti2 yang saya temukan dalam research saya selama
tahunan.

Ibnu Sina adalah nama Arab yang diberikan oleh penjajah Islam dari
Arab yang membantai umat Zoroaster diPersia dimasa lalu. Nama aseli
ibnu sina adalah AVICENNA. Namanya ini merupakan nama khas para
penganut Zoroaster dimana Avesta adalah kitab suci agama Zoroaster.
Avicenna adalah nama pemberian orang tuanya yang mengambil nama ini
dari nama kitab Avesta.

Avicenna hidup dizaman peralihan kekuasaan di Persia dari berbagai
kekuatan diluar Persia. Dari sumber2 Arab dikatakan bahwa Avicenna
adalah orang Arab yang beragama Islam, sedangkan dari sumber Katolik
dan Kristen biografi Avicenna dikutib dari sumber2 Arab sehingga
hampir semua sumber biografi Avicenna sama2 mengakui dirinya orang
Arab yang beragama Islam. Namun sumber2 Katolik yang meskipun juga
mengutib dari sumber2 Arab, tetapi memberi catatan pasti bahwa
Avicenna bukan orang Arab melainkan orang aseli Persia. Namun
sumber2 Katolik berspekulasi bahwa Avicenna beralih agama dari
Zoroaster ke Islam.

Demikianlah, sumber2 Informasi mengenai Avicenna atau Ibnu Sina
terlalu didominasi oleh Arab dan dunia Islam sehingga menyesatkan
sejarah itu sendiri demi kebesaran Islam dan Arab. Namun, tidak
semua orang Arab ataupun Islam yang suka berbohong, masih banyak
ahli2 Arab maupun Islam yang mengharamkan kebohongan dan berusaha
menguak kebenaran yang sejati dibalik kehidupan Ibnu Sina atau
Avicenna.

Wajar2 saja kalo Avicenna yang tadinya beragama Zoroaster karena dari
ayah yang beragama Zoroaster untuk kemudian beralih menjadi penganut
agama Islam mengingat waktu masa hidupnya yang selalu merasa terancam
pembantaian terutama dari umat Islam penjajah dari Arab. Sumber2
dari Iran menyebutkan kelahiran Avicenna ini adalah disebuah kota
kecil diwilayah Uzbekhistant yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan
Persia, atau jajahan dari kerajaan Persia.

Perlu anda mengetahuinya, bahwa semasa hidupnya Avicenna tidak pernah
memberi pernyataan agama apa yang paling dia percaya, dia tidak
pernah menyangkal kalo ada yang menganggapnya beragama Islam, juga
tidak menyangkal anggapan umat Zoroaster yang menganggap dirinya
sebagai keturunan pendeta2 Zoroaster. Namun dia mengakui terus
terang bahwa dirinya adalah penganut filosofi dari Aristotles, Plato,
dan juga Phytagoras. Semua buku2 yang pernah ditulisnya tidak
satupun yang diwariskan kepada dunia Islam, melainkan kepada dunia
ilmu pengetahuan di dunia Barat.

Terus terang, penelitian saya mengenai Avicenna inipun hanyalah
menyangkut kerajaan2 di Persia dan agama Zoroaster, dan saya tidak
mengumpulkan data2 khusus mengenai Avicenna. Namun, sebagai bahan
pertimbangan pembaca demi tegaknya kebenaran, saya ingin anda semua
menyebarkan kebohongan2 dunia Islam ini dengan bukti2 sejarah yang
ditulis oleh ahli2 sejarah Iran sendiri yang tentunya lebih bisa
mendekati kebenaran katimbang ahli agama Islam dari Arab Saudia.

http://www.iranian.com/History/2002/November/Avicenna/

Sumber website diatas, adalah sumber yang saya anggap lebih mendekati
kebenaran katimbang sumber2 Islam dari Arab Saudia ataupun dari
Indonesia yang sama sekali menggunakan ketenaran Avicenna untuk
propaganda Agama Islam yang sama sekali bukan merupakan agama yang
diyakini oleh Avicenna sendiri. Kita semua bisa memaklumi akan
ketakutan Avicenna terhadap kekejaman agama Islam kepada siapapun
yang menyangkal agama Islam atau dianggap menghina agama Islam.
Bahkan penganut Zoroaster sendiri sudah punah di Iran, dan mereka
melarikan diri ke India dan Gujarat, meski tentunya juga banyak yang
bermigrasi ke Amerika.

Semoga tulisan ini bisa mengurangi ketakaburan umat Islam yang dalam
hidupnya hanya dipenuhi dengan kebohongan2 tentang kebesaran agamanya
karena ketakutan kehilangan kepercayaan umatnya. Jelasnya,
kebohongan hanyalah waktu dimana kebenaran akan terkuak dan umat akan
bersumpah serapah didalam hatinya karena merasa dibohongi. Meskipun
diluarnya mereka se-olah2 tetap Islam karena takut dipenggal karena
murtad, namun dalam hati nuraninya yang paling dalam mengutuk ajaran2
bohong ini sampai keseluruh keturunan mereka yang akan datang.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

jangan rusuh di sini kau keturunan ular beludak :-@:-q
pulang ke kandang mu sana :D
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.