• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Fir’aun Amenhotep IV Yang Monotheistik

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. arcala
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

arcala

IndoForum Beginner A
No. Urut
89881
Sejak
20 Jan 2010
Pesan
1.120
Nilai reaksi
71
Poin
48
Fir’aun-fir’aun Mesir pada umumnya bersifat brutal, menindas, suka berperang dan orang-orang yang bengis. Secara umum menereka mengadopsi agama politheisme Mesir dan mendewa-dewakan diri mereka sendiri melalui agama ini.

Namun terdapat seorang Fir’aun dalam sejarah Mesir yang sangat-sangat berbeda dengan yang lainnya. Fir’aun ini mempertahankan kepercayan terhadap sang pencipta Yang Tunggal dan karenanya ia mendapakan perlawanan yang sangat kuat dari para pendeta Amon, yang mereka itu mendapatkan keuntungan dari agama politheisme dan dengan beberapa prajurit yang membantu mereka, sehingga akhirnya Fir’aun itu terbunuh. Fir’aun ini adalah Amenhotep IV yang mulai berkuasa di abad XIV SM.
Ketika Fir’aun Amenhotep IV dinobatkan sebagai raja pada 1375 SM, ia menjumpai kekolotan (konservatisme) dan tradisionalisme yang telah berlangsung selama berabad-abad, sehingga susunan masyarakat dalam hubungannya dengan istana kerajaan terus berlanjut tanpa adanya perubahan.

Masyarakat menutup pintu rapat-rapat terhadap peristiwa dari luar dan kemajuan agama. Konservatisme yang sangat keras ini juga dikatakan oleh para pengembara Yunani kuno sebagai diakibatkan oleh kondisi geografis alam Mesir seperti disebutkan diatas. Sesuai dengan ketentuan Fir’aun, agama resmi menuntut kepercayaan yang tidak terbatas dalam segala hal yang lama dan tradisional. Namun Amenhotep IV tidak menyetujui agama resmi tersebut.

Ahli sejarah Ernst Gombrich menulis :
Amenhotep IV melakukan banyak perubahan terhadap banyak kebiasaan yang disucikan oleh tradisi tua dan tidak ingin untuk melakukan penyembahan terhadap tuhan yang berbentuk dalam berbagai simbol yang aneh dari kaumnya. Baginya hanya satu Tuhan yang perkasa yaitu Aton, yang
disembahnya dan yang diejawantahkannya dalam bentuk matahari Ia menyebut dirinya setelah tuhannya, sebagai Akhenaton, dan ia memindahkan istananya menjauh dari jangkauan para pendeta dari tuhan-tuhan yang lain ke suatu tempat yang sekarang disebut dengan El-Amarna.

firaun.png

Amenhotep IV/ Akhenaton​

Setelah kematian ayahnya, Amenhotep IV muda mendapatkan tekanan yang hebat. Tekanan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa ia membangun sebuah agama yang berdasarkan paham monotheisme dengan mengubah agama tradisional politheisme Mesir dan memcoba untuk melakukan perubahan perubabahan yang radikal dalam berbagai bidang. Namun para pemimpin Thebes tidak memperbolehkannya untuk menyampaikan pesan dari agama ini. Amenhotep IV dan orang-orangnya kemudian berpindah dari kota Thebes dan bermukim di Tell-El-Amarna. Disini mereka membangun sebuah kota baru yang modern yang dinamakan ”Akh-et-aton”. Amenhotep IV mengubah namanya yang berarti “kesenangan/kesayangan dari sang Amon” menjadi Akh-en-aton yang berarti “Tunduk kepada sang Aton”. Amon adalah nama yang diberikan untuk patung (totem) yang terbesar dalam kepercayaan politheisme bangsa Mesir. Menururt Amenhotep IV, Aton adalah “pencipta dari surga dan dunia”, penyamaan nama sebutannya untuk Allah.

Merasa terganggu dengan perkembangan ini, maka para pendeta Amon ingin merenggut kekuatan Akhenaton dengan menciptakan krisis ekonomi di negaranya. Akhenaton akhirnya terbunuh dengan cara diracun oleh para komplotan yang ingnin menghancurkannya. Para Fir’aun berikutnya merasa khawatir dan merekapun tenggelam dalam pelukan pengaruh para pendea tersebut.

Setelah Akhenaton, muncullah Fir’aun yang berkuasa dengan kekuatan militer. Hal ini sekali lagi mengakibatkan tradisi lama politheisme menjadi berkembang luas dan adanya usaha untuk kembali ke masa lalu. Beberapa abad kemudian, Ramses II yang berkuasa paling lama dalam sejarah Mesir diangkat menjadi raja. Menurut banyak ahli sejarah, Ramses II adalah Fir’aun yang menyiksa Bani Israel dan berperang terhadap Nabi Musa.


selengkapnya baca disini
 
Ada juga raja unik yang mencoba keluar dari tradisi ya :D, walaupun buntutnya rada tragis /swt. Pernah baca juga sih ;).
 
Ada juga raja unik yang mencoba keluar dari tradisi ya :D, walaupun buntutnya rada tragis /swt. Pernah baca juga sih ;).

sebenarnya lebih dari itu lho mbak..
ada sumber yang menyebutkan bahwa sebenarnya akhenaton/amenhotep IV inilah yang disebut oleh salah satu kitab suci sebagai Dzulkarnain :D
ini di buktikan oleh si sumber (seorang peneliti) saat melakukan perjalanan ilmiah menyusuri jejak perjalanan sang raja dari mesir hingga ke negeri china.:)
 
Baru tau kalau yang ini mah :D, coba googling cari informasi ah /ho.
 
Hmm...

Rupanya masih ada juga firaun yang lurus.../gg
 
Merasa terganggu dengan perkembangan ini, maka para pendeta Amon ingin merenggut kekuatan Akhenaton dengan menciptakan krisis ekonomi di negaranya. Akhenaton akhirnya terbunuh dengan cara diracun oleh para komplotan yang ingnin menghancurkannya. Para Fir’aun berikutnya merasa khawatir dan merekapun tenggelam dalam pelukan pengaruh para pendea tersebut.

menurut sumber lain yang saya baca, sebenarnya akhenaton/amenhotep IV adalah putra dari Fir'aun Ramses II yang mendukung Nabi Musa saat berdebat dengan Ramses II di istananya. sampai saat ini tidak di temukan bukti bahwa Amenhotep IV/Akhenaton meninggal dan di kuburkan di Mesir. Dengan kata lain, baik mumi akhenaton maupun mumi neferetiri (permaisurinya) tidak di temukan di pekuburan keluarga raja di El-Amarna. dengan kata lain lagi, bisa jadi Akhenaton mengungsi keluar Mesir bersama permaisuri dan beberapa pengikutnya melalui Laut Merah.

@Emon32 : Dalam lumpur yang paling kotor-pun kadang ada permen mata yang tertimbun.
@Rosa89 : ni bacaannya
 
Promosi :D.

Btw...
Kalau beliau enggak dimakamkan dimesir berarti kematiannya karena diracun masih kontroversi ya?, hmm interesting /ho.
 
ga promosi kok..tu e-book nya google:D

bisa di katakan kontroversi. secara makamnya belum di temukan..
cuma berdasarkan data ilmiah yang pernah saya baca (mudah"an rujukan yang saya peroleh benar), kemungkinan beliau meninggal di negeri china.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.