• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Madhab Istana

asoybanget

IndoForum Beginner A
No. Urut
52516
Sejak
12 Sep 2008
Pesan
1.375
Nilai reaksi
47
Poin
48
Sangat disayangkan pada saat ini telah ada sebuah ‘Madhab’ baru yang disebut sebagai ‘Lidah Penguasa’ (Madhab Istana). Madhab ini memiliki banyak ulama dan banyak masyarakat yang mengikuti mereka begitu saja. Satu-satunya tujuan mereka adalah untuk membenarkan keberadaan para penguasa Thaghut di negeri umat Islam. Mereka (ulama-ulama) ini memiliki banyak nama dan gelar-gelar cemerlang. Ulama-ulama rusak dan penghipnotis ini menggunakan bahasa yang indah untuk mengelabui massa.


Mereka telah membenarkan berbagai tindakan jahat yang dilakukan oleh rezim-rezim thaghut di negeri-negeri kaum Muslimin antara lain:



· Melarang umat Islam memberontak melawan penguasa yang telah melakukan ‘Kufur Akbar’ dengan melegalisasikannya sebagai sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.



·Mengeluarkan fatwa yang membolehkan masyarakat memilih dalam Pemilu Demokrasi Kufur demi mendapatkan keuntungan

sesaat.



· Mereka mendeklarasikan bahwa orang-orang yang menentang penguasa untuk mempertahankan

negeri-negeri Islam di cap sebagai ‘Khawarij’



· Penerapan Undang-undang buatan manusia oleh para penguasa thaghut.



· Mengijinkan orang-orang Amerika menempati negeri 2 Masjid Suci (Mekkah & Madinah)



· Mendukung Kuffar (orang-orang kafir) melawan Mujahidin



· Mengadakan perjanjian dengan orang kafir harbi



· Mengadili dengan konstitusi kafir,contoh PBB



Tindakan-tindakan jahat yang dilakukan oleh madhab ini jauh lebih buruk dan lebih berbahaya daripada mereka yang hanya mengikuti Madhab-madhab kuno saja. Para ulama dari madhab modern saat ini lebih berbahaya dari Yahudi dan Nasrani, karena tidak seperti Yahudi dan Nasrani yang diketahui banyak orang bahwa mereka itu adalah musuh, ulama-ulama penguasa thaghut ini adalah musuh dalam selimut. Mereka adalah syetan-syetan yang bertopeng Muwahidin.



Para pengikut madhab ini secara visual lebih parah dari orang buta, dan pendengaran mereka lebih pekak dari orang tuli. Apabila kitab Allah ditunjukkan kepadanya, mereka menutup mata. Dan apabila hadits-hadits dibacakan atasnya, mereka tutup telinga. Tapi mereka mengklaim dengan istilah-istilah yang bermartabat seperti Salafi, Ahlul Hadits, Ahlu Sunnah dll. Para pengikut buta ini menganggap dirinya telah mengikuti nash dengan menjadikan ulama-ulama itu sebagai panutan dalam beribadah.



Allah SWT berfirman :



‘Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah (dengan mentaatinya dalam hal-hal yang mereka buat halal atau haram menurut keinginan mereka tanpa ada perintah dari Allah), dan juga Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS.9:31)



Sangatlah sulit menemukan perbedaan Musyrikin di jaman Nabi Ibrahim (as) yang mereka terbiasa mengikuti tokoh-tokoh idolanya dengan orang-orang saat ini yang merujuk kepada ulama-ulama yang mengubah halal menjadi haram dan haram menjadi halal.

Imam Ibnu Haj (seorang ulama dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah) berkata dalam Tafsirnya tentang ayat diatas:

‘Ulama-ulama yang buruk adalah yang menyebabkan ‘syari’at’ Isa menjadi lenyap. Masyarakat mengikuti pendeta-pendeta dan rahib-rahibnya tanpa dalil dengan megatakan bahwa urusan-urusan mereka berada di tangan pendeta dan rahib-rahib itu. Sejak hari jum’at hingga hari minggu mereka (pendeta dan rahib-rahib) itu akan memperbarui ‘Din’ untuk masyarakat berdasarkan apa yang mereka pikirkan mengenai manfaat dan mudharat atau yang akan menyenangkan bagi penguasa. Biasanya masyarakat keluar dari Sinagog atau Gereja-gereja mereka dengan mengatakan bahwa mereka (pendeta dan rahib-rahib) itu telah memperbarui ‘Din’ bagi mereka dan ia berbeda dari minggu yang lalu.



Inilah penyakit-penyakit yang menyebabkan lenyapnya syari’at Isa (as). (Disampaikan dalam kitab Al-Madkhal vol.1 hal.94) ( Hari Sabtu adalah permulaan hari Sabath bagi Yahudi. Setelah hari Jum’at mereka tidak dapat bekerja sampai berakhirnya Sabath. Untuk mengatasi dilema ini pendeta-pendeta memberi mereka fatwa yang salah agar mereka meletakkan jaring-jaring ikannya pada hari Jum’at sehingga pada saat hari Sabath berakhir, mereka akan mendapati jaring-jaring ikan tersebut penuh dengan ikan. Sementara itu, orang-orang Nasrani akan melakukan segala macam perbuatan dosa selama sepekan dan pada hari Minggu, mereka akan menemui rahib-rahibnya, mengakui dosa-dosa mereka dan rahib itupun akan memberi ampunan pada mereka.)



Imam Ibnu Haj menjelaskan bahwa pendeta dan rahib-rahib itu akan memberi keputusan ritual tanpa dalil (bukti) dan masyarakat akan mengikuti mereka secara membabi buta. Tindakan ini sangat berbahaya karena seseorang akan melanggar prinsip “dilarang mendahului Allah dan Rasul-Nya (saw)”.



Imam Syafi’i (semoga Allah merahmatinya) berkata,



“siapa saja yang mengikuti seseorang secara membabi buta dalam hal membuat sesuatu menjadi terlarang (haram) atau menjadi boleh (mubah) sedangkan ada sebuah hadits shohih yang menentang hal itu, dan para pengikut buta yang mencegah dirinya dari beramal sesuai dengan Sunnah, maka dia telah menjadikan seseorang yang dia ikuti (secara buta) itu sebagai Tuhan selain Allah, Yang Maha Tinggi, dengan menjadikan halal sesuatu yang telah Allah haramkan. Sesungguhnya kita hanyalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya”.



Wahai kaum muslimin ketahuilah, bahwa tidak ada seorangpun yang berhak untuk ditaat secara mutlak kecuali Allah dan perintah-Nya berada di atas perintah seluruh mahluk. Mengikuti perkataan yang bertentangan dengan ucapan Muhammad SAW adalah penyimpangan dan penghianatan terhadap ikrar dalam ibadah yang telah dibuat bersama Allah SWT.
 
Mengapa diwaktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa tidak berkata" ini adalah suatu berita bohong yang nyata. Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena, mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah disisi ALLAH orang yang dusta
(Annur:13)
Ingatlah diwktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakn dgn mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal hal itu adalah sangat besar disisi ALLAH
(Annur:15)

Jangnlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuannya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati seumanya itu akan dimantai pertagungjawabannya
alisra':36
 
“Wahai Ka’ab Ibnu Ujrah, Aku mencari lindungan Allah untukmu dari kepemimpinan orang bodoh. Akan ada penguasa, siapa saja yang datang kepada mereka kemudian membantu mereka dalam kezaliman dan membenarkan kebohongan mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan tidak membantu mereka dalam kezaliman mereka, tidak juga membenarkan kebohongan mereka, maka dia dari golonganku dan aku dari golongannya, dia akan diizinkan menuju ke Haud (Telaga Rosulullah saw. di surga).”
(Dikoleksi oleh Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Hibban; Al-Al Bany dalam “Shahih At-Targhib wat Tarhib”, Hadits No 2243)

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran), mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (Al Baqarah: 257)

Syaikh Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah juga mengatakan bahwa: “Para ‘ulama ijma (setelah menyebutkan bahwa mereka itu tertipu oleh saksi tadi) bahwa mereka itu murtaddun walaupun mereka itu bodoh akan hal itu karena tertipu oleh saksi palsu itu”.

“Engkau tidak mungkin mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka itu ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka atau karib kerabatnya…” (QS. Al Mujadillah [58] : 22)
 
“Wahai Ka’ab Ibnu Ujrah, Aku mencari lindungan Allah untukmu dari kepemimpinan orang bodoh. Akan ada penguasa, siapa saja yang datang kepada mereka kemudian membantu mereka dalam kezaliman dan membenarkan kebohongan mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan tidak membantu mereka dalam kezaliman mereka, tidak juga membenarkan kebohongan mereka, maka dia dari golonganku dan aku dari golongannya, dia akan diizinkan menuju ke Haud (Telaga Rosulullah saw. di surga).”
(Dikoleksi oleh Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Hibban; Al-Al Bany dalam “Shahih At-Targhib wat Tarhib”, Hadits No 2243)

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran), mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (Al Baqarah: 257)

Syaikh Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah juga mengatakan bahwa: “Para ‘ulama ijma (setelah menyebutkan bahwa mereka itu tertipu oleh saksi tadi) bahwa mereka itu murtaddun walaupun mereka itu bodoh akan hal itu karena tertipu oleh saksi palsu itu”.

“Engkau tidak mungkin mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka itu ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka atau karib kerabatnya…” (QS. Al Mujadillah [58] : 22)

for assoy bersumpahlah anda atas nama ALLAH jikalau semua infromasi yang anda peroleh benar-benar anda dapati dari mata kepala sendiri atau telinga sendiri (dgn kata lain anda memang hidup lama disana dan hidup disana ketika perisitiwa perang teluk itu terjadi pada tahun 1990, jangan- jangan ketika persitiwa itu terjadi anda belum lahir atau lagi main kelereng pula)

cukuplah ayat diatas sebagai nasehat yang intinya jangan gampang mengkafirkan seseorang apatah lagi berfatwa (jika ente merasa 'ulama) kebablasan memvonis negara saudi arabia negara kafir.

lihatlah artikel yang saya postingkan berupa transkrip bedah buku aku melawan teroris karya imam samudra dimana salah satu isinya percakapan mantan panglima laskar jihad alustad ja'far umar thalib ketika beliau ketemu langsung dengan syaikh bin baz yang anda juluki keledai ilmu yang buta (tak takutkah anda menjuluki beliau demikian) atau mazdab istana jikalaulah sekaliber beliau ente berani menta'jir apatah saya orang awam ini, tetapi yang tahu hanya ALLAH siapakah anda ini (maaf dari berbagai tulisan anda saya berkesimpulan anda setipe dengan imam samudra and the gang orang yang semangatnya membela agama terlau menggelora tetapi tanpa didukung kaidah-kaidah ilmu yang benar, sehingga hasilnya ya seperti ini seperti banteng ketaton yang sedang ngamuk, satu lagi saya khawatir anda lakukan ini hanya karena kedengkian anda akan dakwah yang mulia ini mulai diterima masyarakt indonesia, mudah-mudahan ALLAH memberikan anda taufik dan hidayahnya, janganlah kesalahan beberapa da'i salafi dalam cara mentahjir suatu kelompok dan kebetulan itu kelompok anda membuat anda seperti orang kebakaran jenggot, pokoke balas ya salah satunya ini adlah anda menjelek-jelekkan penguasa saudi arabia dan 'ulama speti syaikh bin baz dan utsaimin yang merupakan salah satu 'ulama rujukan da'i salaf.

Yang paling penting mereka sudah berbuat salah satu buktinya tersebarnya dakwah salaf ini ke seluruh penjuru dunia yang merupakan program pemerintah saudi dengan memberikan beasiswa kepada calon-calon da'i diseluruh dunia untuk menuntut ilmu disaudi arabia (tentunya anda sepakatkan bahwa air yang murni tentunya berada di mata air, dan tentunya ilmu agama dan pemahamannya yang murni tentunya dipusatnya yaitu makkah dan madinah yang tidak pernah putus sejak islam itu datang sampai sekarang sehingga hukum-hukmnya sudah mendarah daging bagi penduduknya, tetapi itupun anda kafirkan karena dua kota haram ini termasuk dalam kerajaan saudi arabia yang anda cap sebagai negara kafir (tidak takutkah anda dengan pendapat ini yang mungkin and kutip dari kitab terjemahan alwala' wal bara' karya salman alaudah?? atau tafsir fidzilalil qur'an karya sayid qutub ??? ataupun artikel provoksi pada majalah sabili )

Sudahkan anda berperan dalam agama ini (lihatlah dirimu dan keluarga-keluargamu) sudahkah mereka anda dakwahi (jangan-jangan malah anda kafirkan mereka).

sperti kata 'ulama sebelum daulah islamiyah ini tegak, maka tegakkanlah dihati-hati kamu.
Sebelum anda berjihad perbaikilah keyakinan anda, tegakkan sholat, jikalau imam memanggilmu untuk berjihad, maka berjihadlah karena Ahlus sunnah berjihad dibelakang seorang imam (apakah itu khalifah ataupun amir yang memiliki kekuasaan, tentara, wilayah dan penduduk bukan amir organisasi/kelompok).
Jihad qital hukumnya fardhu 'ain jikalau negerinya diserang musuh dan fardhu kifayah untuk selainnya.

Salaf tidak mengkafirkan orang selama dia masih sholat dan tidak keluar ucapan ataupun tindakan yang menyebabkannya keluar dari islam ini dan dia sadar melakukannya serta sudah ditegakkan hujjah yang kuat baginya.

Tidaklah kami dalam menimba ilmu dari sembarangan orang (pokoke bisa baca ayat or hadis), karena rasullullah pernah bersabda jikalau suatu masalah tidak dipegang oleh ahlinya maka lihatlah kehancurannya. Apatahlagi masalah agama tidaklah sembarang orang berkata-kata dlam agama ini

Bagaimana anda ?? (syaikh assoybanget, 'khibarul ulama mutakhirin Indonesia Alumni xxxxxx, kemampuan bahasa arab (terpatah-patah), hapal hadis ( ????), tafsir ( ????) , hapal alquran (hanya juz'amma itupun kalau hapal), tahu asbabun nuzul (apalagi), tahu asbabul wurud (itu dia).
maaf ini hal yang pantas bagi anda yang suka mejelek-jelekan 'ulama.
Kalaulah kalian mujahidin apa peran HTI ketika pecah perang ambon, poso dan sampit ???
jangan-jangan itu hanya sekedar penisbatan saja (kayak-kayaknya telah beperang dijalan ALLAH untuk membela agama ini) anda tahu arti (hizbut tahrir)
saya khawatir orangp-orang seperti anda bisanya menjelek-jelekkan orang.
 
gw memang gak kesana,tapi gw meyakini, sperti halnya gw meyakini nabi gw muhammad saw, tanpa gw harus hidup pada masa itu.
dan gw pun selalu mentabayuni segala berita yg ada

klo pun seperti pertanyaan balik mengapa abdzul membela..itu apakah abudzul pernah kesana?
dan apakah semua gambar ini rekayasa?

2jfg6jt.jpg

abdullahbush2.jpg

king-abdulazizUtusan+Inggris.jpg

saud-2.jpg

fahd-4.jpg

abdul-2.jpg

abdul-5.jpg

abdul-8.jpg



dan gw bersayahadat aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah..
bahwa gw meyakini tersebut dari orang2 yg beriman, orang yg berjihad, orang2 yg selalu berusaha menegakan kalimat tauhid. tanpa gw harus hidup tanpa zaman itu.dan harus hidup disana..Insya ALLah semuanya sudah di tabayun.

dan ingta semua itu bukan prasangka dan gw gak pernah membenarkan yg salah dan mensalahkan yang benar.gw sebagai muslim juga paham.

yunus 36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
 
ABUDZUL comment anda di tunggu kawan,,,, :">
 
mau nanya nih, bagaimana pendapat temen-temen tentang khilafah muawiyah?
sama gak seperti yang dilakukan para penguasa arab sekarang?
 
Insya Allah gw jawab.

Sebagai contoh, ketika Muawiyah memaksa rakyat untuk membait anaknya Yazid sebagai Khalifah, merupakan bentuk penyimpangan dari syariah Islam. Sebab dalam Islam Khalifah adalah hasil pilihan rakyat dan kerelaan rakyat (ikhtiar wa ridho). Jadi yang menyimpang adalah tindakan Muawiyahnya bukan sistem Khilafahnya. Sehingga tiidak bisa kemudian dikatakan bahwa sistem Khilafah adalah sistem yang otoriter berdasarkan sejarah di era muawiyah ini.

jelas berbeda dengan Arab, klo Arab bukan negara Islam, klo khilafah muawiyah itu adalah negara Islam. walaupun melakukan pada saat merebut kekuasaanya dengan bedarah, tapi tetap sistem yg diberlakukan adalah sistem islam, aturanya adalah aturan Islam.negaranya tetap khilafah islam, bukan kerajaan seperti saudi arabia.

masalah yg dilakuakan dinasti saud sangat lah berbeda. sangat amat berbeda.
1. apakah khilafah muawiyah membiarkan umat islam di bantai kaum kafir?
2. apakah khilafah muawiyah memfasilitasi kaum kafir untuk membantai umat islam di negeri lainya?
3. apakah khilafah muawiyah membiarkan dan mempersilahkan menempati negeri 2 Masjid Suci (Mekkah & Madinah)?
4. apakah khilafah muawiyah melakuakn perjanjian2 yg menguntungkan kaum kafir?
5.apakah khilafah muawiyah mengikuti konstitusi kafir, seperti halnya sekarang PBB?

lihat saja perluasan islam yg dilakuakn khilafah muawiyah, sehingga bisa menaklukan spanyol dengan melakukan dakwah dan jihad.



Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728H) menjelaskan betapa pentingnya bersatu di bawah satu kepemimpinan dengan mengatakan :

’Enam puluh tahun diatur oleh pemimpin yang kejam (khalifah yang sah) adalah lebih baik daripada satu malam tanpa Imam’.(Minhaj v.2 hal.146
).

untuk abudzul

Sudahkan anda berperan dalam agama ini (lihatlah dirimu dan keluarga-keluargamu) sudahkah mereka anda dakwahi (jangan-jangan malah anda kafirkan mereka).

Insya Allah sudah gw lihat, emang nya abudzul tahu? dan ketika misalnya keluarga gw belum benar apakah, gw gak boleh berdakwah bersamaan ke masyarakat?
PAmanya Rasulullah SAW kadalah kafir, tapi apaklah RAsul hanya berdakawah di seputar pamanya saja? tidak kan?

Kalaulah kalian mujahidin apa peran HTI ketika pecah perang ambon, poso dan sampit ???
jangan-jangan itu hanya sekedar penisbatan saja (kayak-kayaknya telah beperang dijalan ALLAH untuk membela agama ini) anda tahu arti (hizbut tahrir)
saya khawatir orangp-orang seperti anda bisanya menjelek-jelekkan orang.

menjelek jelekan seseorang? gw cuman menginfokan keburukan para penguasa agar umat muslim bisa sadar? dan gw pun memakai dasar, tidak menggunakan hawa nafsu
klo masalah HTI tanyakan saja orang HTI...
yg gw tahu juga orang2 laskar jihad aswaja di poso cuman berolah raga saja..lari2, muter2 di jalan, melakukan rajam bagi anggotanya yg berzinah. pimpinanya melakukan jamuan dengan TNI.

untuk abudzul, coba buat seminar untuk tabayun di daerah sendiri, undanglah orang2 yg kau anggap khawarij, atau neo mutazilah (soalnya itu kata2 itu melulu sih yg gw denger di kajianya, klo menjelek jelekan orang lain). dari kalangan orang yg kau cap khawarij dan neo mutazilah masing2 datangkan pembicara.. biar umat menyaksikan, dan bisa saling tabayun.
 
pertanyaanya berlanjut, gpp kan mas?

Sebagai contoh, ketika Muawiyah memaksa rakyat untuk membait anaknya Yazid sebagai Khalifah, merupakan bentuk penyimpangan dari syariah Islam. Sebab dalam Islam Khalifah adalah hasil pilihan rakyat dan kerelaan rakyat (ikhtiar wa ridho). Jadi yang menyimpang adalah tindakan Muawiyahnya bukan sistem Khilafahnya. Sehingga tiidak bisa kemudian dikatakan bahwa sistem Khilafah adalah sistem yang otoriter berdasarkan sejarah di era muawiyah ini.

apakah seluruh khalifah (yang pernah ada) memang dipilih oleh rakyat dan diridhoi atau dibaiat oleh seluruh rakyat/umat?
mengapa tidak ada cara yang baku ketika menetapkan seorang khilafah, seperti perbedaan pengangkatan Abu bakar, Umar dan khalifah lainnya?
dengan penyimpangan yang dilakukan muawiyah, apakah itu berarti bahwa bisa juga terjadi penyimpangan2 lainnya yang dilakukan oleh seorang khalifah?
jika terjadi penyimpangan seperti itu, apakah hak/kewajiban umat? bolehkan membangkang atau melawan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh seorang khilafah?

jelas berbeda dengan Arab, klo Arab bukan negara Islam, klo khilafah muawiyah itu adalah negara Islam. walaupun melakukan pada saat merebut kekuasaanya dengan bedarah, tapi tetap sistem yg diberlakukan adalah sistem islam, aturanya adalah aturan Islam.negaranya tetap khilafah islam, bukan kerajaan seperti saudi arabia.
mohon penjelasannya, soalnya saya masih bingung soal yang ini. Jadi karena muawiyah menggunakan sistem khilafah, itu berarti sistem yang dilakukan oleh muawiah, sistem islam, gt bukan maksudnya?
CMIIW...


masalah yg dilakuakan dinasti saud sangat lah berbeda. sangat amat berbeda.
1. apakah khilafah muawiyah membiarkan umat islam di bantai kaum kafir?
2. apakah khilafah muawiyah memfasilitasi kaum kafir untuk membantai umat islam di negeri lainya?
3. apakah khilafah muawiyah membiarkan dan mempersilahkan menempati negeri 2 Masjid Suci (Mekkah & Madinah)?
4. apakah khilafah muawiyah melakuakn perjanjian2 yg menguntungkan kaum kafir?
5.apakah khilafah muawiyah mengikuti konstitusi kafir, seperti halnya sekarang PBB?
kira2, ketika terjadi perang antara muawiah dengan Imam Ali, apakah itu bukan salah satu bentuk pembantaian?
bagaimana juga dengan menghinaan terhadap Imam ALi yang dilakukan para ulama di masjid-masjid ketika khutbah jumat pada saat muawiah menjadi khilafah?
setau saya sih, muawiah membuat peraturan2 yang hanya menguntungkan keluarganya...

bagaimana juga pendapat anda tentang khilafah yazid? apakah masih bisa disebut sistem yang islami?

terimakasih
 
pertanyaanya berlanjut, gpp kan mas?



apakah seluruh khalifah (yang pernah ada) memang dipilih oleh rakyat dan diridhoi atau dibaiat oleh seluruh rakyat/umat?
mengapa tidak ada cara yang baku ketika menetapkan seorang khilafah, seperti perbedaan pengangkatan Abu bakar, Umar dan khalifah lainnya?
dengan penyimpangan yang dilakukan muawiyah, apakah itu berarti bahwa bisa juga terjadi penyimpangan2 lainnya yang dilakukan oleh seorang khalifah?
jika terjadi penyimpangan seperti itu, apakah hak/kewajiban umat? bolehkan membangkang atau melawan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh seorang khilafah?


mohon penjelasannya, soalnya saya masih bingung soal yang ini. Jadi karena muawiyah menggunakan sistem khilafah, itu berarti sistem yang dilakukan oleh muawiah, sistem islam, gt bukan maksudnya?
CMIIW...



kira2, ketika terjadi perang antara muawiah dengan Imam Ali, apakah itu bukan salah satu bentuk pembantaian?
bagaimana juga dengan menghinaan terhadap Imam ALi yang dilakukan para ulama di masjid-masjid ketika khutbah jumat pada saat muawiah menjadi khilafah?
setau saya sih, muawiah membuat peraturan2 yang hanya menguntungkan keluarganya...

bagaimana juga pendapat anda tentang khilafah yazid? apakah masih bisa disebut sistem yang islami?

terimakasih

semoga ini bisa menjawab semua sejarah kelamnya khilafah/negara islam.

Salah satu argumentasi yang kerap dilontarkan untuk menolak sistem Khilafah adalah alasan sejarah. Sejarah Khilafah digambarkan sebagai fragmen kehidupan yang penuh darah, kekacauan dan konflik. Paling tidak ada tiga argumentasi sejarah yang dilontarkan:
(1) Khalifah merupakan sistem otoriter dan diktator;
(2) Pembunuhan yang tejadi dimasa Khulafuur-rosyidin;
(3) Perlakuan terhadap non muslim dan wanita. Berdasarkan fakta sejarah ini kemudian disimpulkan bahwa sistem Khilafah adalah sistem yang tidak layak bagi manusia. Sistem ini pun dituduh sebagai sistem yang diktator, tidak memiliki mekanisme untuk mencegah penyimpangan dan kekacauan. Sistem inipun dituduh tidak memperhatikan non muslim dan merendahkan derajat wanita. Secara mendasar ada beberapa kesalahan mendasar dari argumentasi diatas. Pertama, dalam menempatkan posisi sejarah Islam. Perlu kita ketahui bahwa kewajiban Khilafah bukanlah didasarkan kepada argumentasi sejarah. Artinya, sejarah bukanlah dalil untuk menerima atau menolak sistem Khilafah. Dalam Islam , yang menjadi dalil syara’ adalah al Qur’an , as Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas. Karena itu kewajiban Khilafah haruslah merujuk kepada empat dalil tersebut.

Namun bukan berarti sejarah (tarikh) tidak ada artinya sama sekali. Sejarah sebagai peristiwa masa lampau bisa dijadikan pelajaran dan kajian tentang pelaksanaan dari hukum-hukum syara oleh manusia. Artinya, dari sejarah kita mengetahui apakah hukum syara tersebut dilaksanakan atau tidak, kita juga tahu bahwa apa akibat kalau hukum-hukum syara tersebut tidak dilaksanakan. Sebab bagaimanapun manusia sebagai pelaku hukum-hukum syara bukanlah ma’sum (yang tidak mungkin salah). Sebagai manusia bisa saja Khalifah melakukan kekeliruan dalam pengertian menyimpang dari batasan-batasan hukum syara’. Satu-satunya yang ma’sum yang tidak mungkin keliru adalah para nabi dan Rosululullah.

Sebagai sistem yang dipraktekkan oleh manusia sistem Khilafah adalah sistem politik yang manusiawi. Karena itu dalam berbagai praktek dalam sistem Khilafah, bisa saja terjadi kekeliruan. Namun yang penting disini dicatat disini adalah kalau penyimpangan yang dilakukan oleh Khalifah atau pejabat negara, bukan berarti kemudian sistem Khilafahnya yang salah dan keliru. Tapi pelaksanaan dari orang-orangnya. Adalah tidak relevan menyalahkan sistem yang ideal dengan melihat kesalahan dari pelaku sistem yang ideal tersebut.

Contoh sederhana adalah keliru menyimpulkan Islam kalau melihat prilaku orang-orang Islam saat ini. Di Indonesia misalnya, sebagai besar pelaku kriminal adalah orang Islam, banyak pelaku korupsi juga orang Islam, harus diakui banyak orang Islam yang tidak menjaga kebersihan dan lingkungannya. Namun, tentunya tidak disimpulkan- dengan hanya melihat kelakuan dari orang-orang Islam tersebut- bahwa Islam adalah agama yang menganjurkan pemeluknya melakukan kejahatan seperti itu.

Untuk menilai Islam haruslah dilihat bagaimana sumber-sumber Islam dalam hal ini syariah Islam mengatur dan menjelaskan persoalan tersebut. Tidak ada satu dalilpun di dalam Al Quran dan Sunnah yang memerintahkan seperti itu. Justru sistem Islam melarang dan menghukum para pelaku kriminal dan korupsi. Islam juga mengajarkan pemeluknya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Artinya, fakta-fakta yang salah tersebut justru diakibatkan karena pemeluk Islam meninggalkan ajaran Islam yakni syariah Islam tentang perkara tersebut. Bukan karena syariah Islam itu sendiri. Sama halnya dengan fakta-fakta buruk dalam sistem Khilafah, bukan disebabkan oleh sistem Khilafah itu sendiri. Tapi justru bentuk penyimpangn dari syariah Islam yang seharusnya diterapkan secara konsekuen dalam sistem Khilafah oleh rakyat dan penguasanya.

Sebagai contoh, ketika Muawiyah memaksa rakyat untuk membait anaknya Yazid sebagai Khalifah, merupakan bentuk penyimpangan dari syariah Islam. Sebab dalam Islam Khalifah adalah hasil pilihan rakyat dan kerelaan rakyat (ikhtiar wa ridho). Jadi yang menyimpang adalah tindakan Muawiyahnya bukan sistem Khilafahnya. Sehingga tiidak bisa kemudian dikatakan bahwa sistem Khilafah adalah sistem yang otoriter berdasarkan sejarah di era muawiyah ini.

Kesalahan kedua adalah, terjebak pada generalisasi. Menyimpulkan sistem khilafah adalah sistem yang buruk hanya dengan mengungkap beberapa fakta sejarah adalah keliru. Beberapa fakta sejarah tentang sikap Khalifah tidaklah kemudian bisa mencerminkan keseluruhan dari sistem Khilafah tersebut. Apalagi yang dilakukan oleh Khalifah tersebut adalah bentuk penyimpangan dari sistem Khilafah yang ideal. Adalah keliru menggambarkan masa pemerintahan Bani Umayyah dengah hanya memfokuskan sejarah seorang Yazid. Atau menggambarkan masa pemerintahan Bani Abbas hanya dengan mengambil sebagian peristiwa dan tingkah laku para Khalifahnya. Apalagi yang menjadi fakta sejarah itu adalah buku-buku sejarah yang dibuat oleh musuh-musuh Islam yang nyata kebenciannya terhadap Islam

Sama halnya kita adalah keliru menggambarkan pemerintahan Bani Abbas dengan membaca kitab Al Aghani yang dikarang untuk menceritakan tingkah laku para biduan, para pemabuk, penyair,dan sastrawan atau membaca buku-buku tasawuf yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Yang perlu diperhatikan cerita-cerita tentang para penguasa dan pejabatnya banyak ditulis oleh pihak-pihak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebagian besar mereka adalah pencela atau pemuja yang tidak bisa diterima periwayatannya.

Sumber sejarah yang bisa diterima adalah yang bisa dipertanggungjawabkan periwayatnya sehingga sumber-sumbernya layak diterima. Persis sama dengan cara yang ditempuh dalam periwayatan hadits. Cara penulisan seperti ini (yang periwayatan yang bisa dipertanggungjawabkan) bisa dilihat dalam kitab tarikh Tabari dan Siroh Ibnu Hisyam.

Kesalahan
ketiga adalah saat menjadikan sistem demokrasi sebagai standar untuk menilai baik dan buruknya Khalifah atau sistem Khilafah. Sistem Khilafah tidak bisa dinilai dari pradigma baik dan buruk menurut sistem demokrasi. Apalagi dengan asumsi kalau itu tidak sesuai dengan sistem demokrasi berarti sistem itu adalah diktator, otoriter dan jelek. Padahal sistem demokrasi sendiri adalah sistem yang buruk yang tidak layak dijadikan sebagai standar untuk menilai baik dan buruk bagi kaum muslim. Yang harus dijadikan standar , sekali lagi adalah syariah Islam. Dengan asumsi kalau berbeda dengan demokrasi adalah diktator atau otoriter , maka banyak yang keliru menyimpulkan sistem khilafah itu adalah diktator dan otoriter. Padahal standar yang digunakan ini jelas keliru. Sebagai contoh, dalam sistem demokrasi , sebuah sistem dikatakan baik kalau menganut asas trias politika. Berdasarkan asas ini, harus dipisahkan tiga fungsi dalam sistem politik (legislatif, yudikasi, dan eksekutif). Alasannya, kalau tiga fungsi ini tertumpu pada satu orang seperti dalam sistem Teokrasi di Eropa, penguasa itu akan cendrung menjadi diktator.

Sementara dalam sistem Khilafah, Khalifah selain sebagai eksekutif (pelaksana pemerintahan), dia juga memiliki wewenang sebagai yudikatif untuk mengadili pelanggaran di tengah masyarakat. Jelas kalau berdasarkan cara pandang demokrasi ini, sistem Khilafah ini berarti otoriter atau diktator.

Apalagi muncul kesalahan saat menganggap Khalifah juga memiliki fungsi legislasi seperti sistem teokrasi, yang menganggap suara raja adalah suara Tuhan. Sehingga kata-kata raja adalah kebenaran itu sendiri. Karena itu raja tidak pernah salah. Kemudian disimpulkan sistem Khilafah akan sama kondisinya dengan sistem teokrasi yang memunculkan penguasa yang diktator dan otoriter.

Menyamakan sistem Khilafah dengan teokrasi seperti ini adalah keliru. Sebab, kata-kata Khalifah bukanlah otomatis kata-kata Tuhan yang pasti benar. Khalifah dalam keputusan dan kebijakannya tetap harus merujuk kepada hukum syara’. Karena itu, Khalifah sangat mungkin salah dan menyimpang dari hukum syara. Untuk itu, Islam mewajibkan untuk melakukan koreksi terhadap penguasa (muhasabah lil hukkam) yang menyimpang dari hukum syara’. Ada kewajiban koreksi ini jelas menunjukan bahwa Islam melihat kemungkinan bahwa Khalifah itu keliru. Kalau kata-kata Khalifah selalu benar, untuk apa Islam mewajibankan mengkoreksi penguasa yang menyimpang ?

Kesalahan
keempat adalah saat menyimpulkan bahwa Khilafah tidak memiliki sistem tertentu dengan melihat terjadinya konflik, pembunuhan atau kekecauan di beberapa bagian dari sejarah Khilafah. Seperti terjadinya pembunuhan terhadap Khalifah. Kemudian dengan sederhana menyimpulkan karena ada pembunuhan terhadap kepala negara berarti tidak ada mekanisme politik yang menjamin keamanan kepala negara dan masyarakatnya. Padahal seharusnya kita harus meneliti lebih mendalam apakah hal tersebut terjadi karena ketidakmampuan sistem idealnya atau karena penyimpangan dari sistem ideal tersebut. Apa yang terjadi dalam konflik-konflik berdarah dalam Islam, justru karena menyimpang dari sistem ideal Islam yakni syariah Islam, bukan karena akibat penerapan syariat Islam itu sendiri

Untuk menilai apakah tidak ada sistem untuk mencegah itu seharusnya yang dijadikan rujukan adalah sumber sistem itu, dalam hal ini adalah syariah Islam. Dalam hal ini syariah Islam jelas memiliki cara untuk mencegah dan menangani konflik tersebut.

Kalau semata-mata ada kekecauan dan pembunuhan, kenapa tidak dikatakan bahwa sistem demokrasi tidak memiliki sistem ? Padahal pembunuhan kepala negara, politikus, juga terjadi dalam sejarah sistem demokrasi seperti di Amerika Serikat dan Eropa . Sejarah negara-negara demokrasi, seperti halnya sejarah Khilafah Islam, bukanlah tanpa konflik. AS yang sering diklaim sebagai kampiun demokrasi pernah mengalami perang saudara yang berdarah-darah. Kalau pembunuhan terhadap Khalifah sebagai kepala negara menjadi soroton ,apakah AS sepi dari hal itu ? Bagaimana dengan pembunuhan terhadap Kennedy, percobaan pembunuhan terhadap Reagen dan pemimpin-pemimpin politik AS lainnya.

Revolusi Perancis
sebagai peristiwa penting demokrasi juga penuh darah. Runtuhnya negara komunis yang kemudian berubah menjadi negara demokrasi, penuh dengan pertumpahan darah dan konflik seperti yang terjadi di Balkan saat ini. Hal ini secara mendalam dibahas Jack Snyder dalam From Voting to Violence yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Darah
 
Mas mau tanya nih. .
khiLafah Bani Ummayah ada kan ya? klo ada, saya mau tau dong tentang bani ummayah ?
terima kasih mas :)
 
inilah kiblatnya orang yg mengaku salafi...
jadi siapakah sebenarnya khawarij?
hehehehe
 
justru itu jawabanya..
sudahlah klo mau bantah argumentasi tentang dinasti saud bantah saja...jangan kemana mana postinganya.....
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.