• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Why do you believe a place caller Purgatory can purify your sins?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Rafa02
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Rafa02

IndoForum Newbie D
No. Urut
56529
Sejak
7 Nov 2008
Pesan
72
Nilai reaksi
0
Poin
6
Sesuai pernyataan Bung Manukdadali, maka kami akan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seseorang yang ingin menguji iman dan pengajaran Katholik. Saya akan mnencoba menjelaskan pertanyaan seorang penganut Protestant aliran Benny Hinn mengenai Api Penyucian / Purgatory.

Here we goes..... :D

Api Penyucian / Purgatory pada dasarnya merupakan suatu hal yang selalu diajarkan dan diimani oleh Gereja. Baru pada abad ke-16, kaum Protestan memutuskan untuk menolak doktrin yang telah lama ada ini. Jika kita mempelajari sejarah Gereja serta membaca tulisan-tulisan Gereja Perdana, kita dapat melihat bahwa api penyucian senantiasa diajarkan oleh Gereja. Menolaknya berarti menolak ajaran yang telah diwariskan kepada kita melalui para Rasul Kristus sendiri.

Doktrin ini telah ada sejak jaman para rasul. Ada banyak doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia dituliskan dalam katakomba-katakomba di Roma pada abad pertama. Bukti akan api penyucian juga dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana, antara lain seperti yang di bawah ini:

Trifina mengajak Tekla pulang ke rumah bersamanya dan mereka pun tidur. Dan lihatlah, anak perempuan Trifina, yang telah meninggal dunia, menampakkan diri kepada ibunya dan berkata, “Ibu, biarlah wanita muda Tekla ini engkau ambil sebagai puterimu untuk menggantikan aku; mintalah padanya untuk berdoa bagiku, agar aku dapat dipindahkan ke kebahagiaan kekal.” Maka Trifina, dengan wajah duka berkata, “Puteriku, Falconilla, telah menampakkan diri kepadaku dan memintaku mengambil engkau untuk menggantikannya; sebab itu Tekla, aku berharap engkau berdoa bagi puteriku agar ia dapat dipindahkan ke kebahagiaan dan kehidupan kekal.” (Kisah Paulus dan Tekla, 8:5-6; 160 A.D.)

Ada banyak referensi lainnya mengenai api penyucian dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana, seperti dalam Prasasti Abercius (190 A.D.), Kemartiran Perpetua dan Felisitas 2:3-4 (202 A.D.), dan Tertulianus dalam Mahkota (3:3, 211 A.D.). Masih banyak lagi referensi lainnya yang dengan jelas menunjukkan bahwa umat Kristiani sejak jaman para rasul telah percaya akan api penyucian.

Argumentasi utama yang diajukan kebanyakan para penolak paham purgatory (terutama kaum protestant) karena mereka menganggap dalam alkitab tidak dijelaskan mengenai masalah Api Penyucian ini. Memang di Alkitab tidak ada ungkapan Api Penyucian tapi gambaran dimana Api bersifat memurnikan dapat kita temukan di 1Kor 3:15:

"Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api."

Dasar lain dari pemahaman dan dasar adanya iman akan Api Penyucian terdapat di dalam kitab Makabe yang Kedua, kita membaca bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan korban penghapus dosa dan doa-doa bagi para prajurit yang meninggal dengan mengenakan jimat-jimat, yang dilarang oleh hukum Taurat; Kitab Suci mencatat, “Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya.” (12:42) dan “Dari sebab itu maka [oleh Yudas Makabe] disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka” (12:45). Ayat ini membuktikan praktek bangsa Yahudi mempersembahkan doa-doa dan korban guna membersihkan jiwa mereka yang telah meninggal.

Penguatan mengenai pemahaman di atas juga terdapat dalam kitab Zakharia dan juga kitab Sirakh (7:33). Dalam Kitab Zakharia, Tuhan bersabda, “Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas.” Sekolah Rabi Shammai menafsirkan ayat ini sebagai pemurnian jiwa melalui belas kasihan dan kebaikan Tuhan, mempersiapkan jiwa untuk kehidupan kekal. Dalam Kitab Sirakh 7:33 tertulis, “orang mati pun jangan kau kecualikan pula dari kerelaanmu”, ditafsirkan sebagai memohon kepada Tuhan untuk membersihkan jiwa. Singkat kata, Perjanjian Lama dengan jelas menegaskan adanya semacam proses pemurnian bagi jiwa umat beriman setelah mereka meninggal dunia.

Penguatan akan bukti nyata mengenai Api Penyucian di sampaikan sendiri oleh Santa Perawan Maria yang menampakkan dirinya di hadapan Beato Alain de la Roche, dimana Bunda mengatakan: “Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku meringankan penderitaan anak-anakku.”

Protestan mengalami kesulitan dengan doktrin api penyucian karena dua alasan utama: Pertama, ketika Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1532, ia mengeluarkan tujuh Kitab dari Perjanjian Lama, termasuk kedua Kitab Makabe, di mana setidak-tidaknya pemurnian jiwa dinyatakan secara samar. Kedua, John Calvin mengajarkan bahwa kita telah kehilangan kehendak bebas kita karena dosa asal dan bahwa Tuhan telah menentukan sebelumnya apakah suatu jiwa akan diselamatkan atau dikutuk; karena itu, jika kita tak dapat memilih untuk berbuat dosa dan jika nasib abadi kita sudah ditentukan, siapakah yang membutuhkan api penyucian? Singkatnya, para pemimpin Protestan menolak ajaran Gereja Kristen yang sudah berabad-abad lamanya itu saat mereka menyangkal doktrin api penyucian.

Secara lugas jika ada yang menanyakan mengapa perlu adanya Api Penyucian? Toh bukankah Allah bisa menghapus semua dosa yang dilakukan manusia? Jawabannya adalah sebagai berikut:

1. Api penyucian ada semata-mata karena belas kasih Allah. Persyaratan untuk masuk ke dalam surga begitu sulit karena “tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis” (Why 21:27). Agar dapat langsung menuju surga, kita harus sepenuhnya bebas dari noda dosa. Artinya bahwa kita harus dalam keadaan rahmat, bebas dari dosa-dosa ringan, telah sepenuhnya melunasi penitensi dan siksa dosa temporal atas segala dosa kita, serta bebas dari keterikatan duniawi yang menjauhkan kita dari Tuhan (misalnya: harta benda, dendam, dsb). Begitulah, kita dapat melihat betapa sulitnya menghindari api penyucian, tetapi dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita dapat melakukannya!

2. Setiap Dosa adalah kerjauhan kita dengan Allah, namun dosa-dosa yang dilakukan tetap merupakan dosa, kecil ataupun besar, namun Allah adil!Dan sebagai Allah yang konsisten dosa-dosa kecil yang sama seperti luka sayatan kecil di tubuh kita yang tidak akan membahayakan keselamatan jiwa, namun tetap perlu disembuhkan. Dan seperti luka sayatan yang ditaruh dengan antispetik...rasanya tetap sakit :D begitu juga saat proses yang terjadi dalam Api Penyucian. Proses pemurnian di api penyucian sangat menyakitkan (sebagai akibat dari dosa yang dipulihkan). Jiwa-jiwa di sana melihat bagaimana dosa telah memisahkan mereka dari Tuhan dan mereka menyesali secara mendalam apa yang telah mereka lakukan. Bahkan dosa ringan sekalipun menyebabkan mereka menderita, sebab seringan apapun dosa, dosa tersebut merupakan penghinaan terhadap Allah karena ketidaktaan pada kehendak-Nya. Jiwa-jiwa menderita memiliki kerinduan yang kuat untuk berada di surga, tetapi mereka tak dapat, karena ketaklayakan mereka. Hal ini juga mengakibatkan sengsara hebat dalam diri mereka. Jiwa-jiwa memohon, “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.” (Mzm 130:1-2). Walau jiwa-jiwa di sana menderita sengsara yang dahsyat, tetapi mereka juga memiliki sukacita yang besar oleh karena pengharapan bahwa suatu hari nanti mereka akan berada di surga.

3. Tujuan api penyucian adalah untuk memurnikan kita dari segala noda dosa, silih atas segala hutang dosa sepanjang hidup kita, serta melepaskan kita dari segala keterikatan duniawi agar kita dapat sepenuhnya mengasihi Tuhan dan sesama (dihubungkan dengan point 1 & 2). Setelah noda dosa sepenuhnya dibersihkan, maka jiwa akan segera masuk dalam kemuliaan dan persekutuan penuh dengan Tuhan di surga.

Mungkin ada beberapa orang yang akan menanyakan ini, apakah ada kemungkinan orang yang berada dalam api penyucian tidak akan masuk dalam Surga? Dalam Katekismus sendiri menegaskan bahwa Api Penyucian adalah untuk orang yang meninggal dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah namun belum sempurna. Jadi Api Penyucian adalah untuk orang yang sudah selamat. Karena sudah selamat sudah barang tentu akan masuk surga.

Jadi dalam disimpulkan bahwa adanya Api Penyucian merupakan suatu bentuk KASIH ALLAH kepada manusia dan juga menunjukkan KONSISTENSINYA sebagai Allah untuk menyiapkan orang2 yang masih belum SEMPURNA tetapi diperkenankan masuk ke surga.

Sebagai penutup Bapa Suci Yohanes Paulus II mengatakan:

"Sebelum kita masuk dalam Kerajaan Allah, setiap noda dosa dalam diri kita harus dibersihkan, setiap cacat dalam jiwa kita harus disempurnakan."

Salam,
Rafa02
 
:-bd:-bd:-bd
Jawaban yg bagus Rafa02....
Memang seharusnyalah kita melihat KS sebagai seuatu yg utuh, Sabda Allah yg satu.

=D>=D>

Salam
Jebling
 
Karna Allah menciptakan manusia jelas Dia gak mau donk ciptaan-Nya diambil setan di neraka
Makanya Dia menciptakan api penyucian supaya ciptaan-Nya suci dan bisa masuk surga
 
Yang pasti, surga itu merupakan tempat yang kudus dari Yang Kudus.
So, yang bisa masuk surga adalah Yang Kudus dan segala sesuatu yang telah dikuduskan terlebih dahulu.

GBU
 
Salam kenal AzV :D

Karna Allah menciptakan manusia jelas Dia gak mau donk ciptaan-Nya diambil setan di neraka

Betul, karena dari awal mula Allah menciptakan dan menempatkan manusia dalam Firdaus, namun sebagai Allah yang Konsisten (memberikan Free Will) kepada manusia, dan memberikan pilihan keputusan tersebut kepada manusia itu sendiri, maka Rahmat pertama diberikan Allah kepada manusia harus tetap dijaga dan dipelihara dengan baik. Pada akhirnya manusia sendirilah yang menentukan mau atau tidaknya menjaga Rahmat yang ada tersebut sampai saat maut menjemput. Rahmat Allah memberikan keselamatan yang merupakan rahmat yang harus konsisten dan dijaga dengan perbuatan yang sejalan dengan iman :D

Dari banyak pilihan manusia yang tidak bijak sehingga menciptakan dosa, maka Allah telah memberikan Putra-Nya yang Tunggal sebagai penebus dunia, dan itu merupakan suatu rahmat. Pilihan ada pada kita untuk menjaga rahmat yang sudah diberikan Allah kepada kita, atau menyia-nyiakan semua itu dan selalu ingin mencoba untuk menyalibkan Yesus kedua kali.

Makanya Dia menciptakan api penyucian supaya ciptaan-Nya suci dan bisa masuk surga

Yang perlu ditekankan adalah Api Penyucian diperuntukkan pada orang-orang yang meninggal dalam keadaan berahmat dalam persahabatannya dengan Allah namun belum sempurna. Jika kita meninggal dalam keadaan yang tidak berahmat (berdosa besar), maka orang tersebut tidak akan bisa masuk dalam api penyucian apalagi surga :D dan konsekuensi dari dosa besar adalah masuk dalam API NERAKA :D

Salam,
Rafa02
 
Bagaimana dengan orang2 yang tidak mengenal (bukan tidak mau mengenal) hukum Allah? Bukankah mereka tidak mengenal dosa?
 
Mohon penjelasannya, kapan proses di purgatory berlangsung, apakah segera setelah kita mati atau setelah kedatangan Yesus yang kedua kali?

Terima kasih.
 
Melengkapi penjelasan Rafa02, nanti akan ditambahkan seperlunya

Matius 12:32 : Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.

Ayat ini menyatakan bahwa beberapa jenis dosa dapat diampuni di dunia yang akan datang? Jika seseorang meninggal dan pergi ke neraka, sedikitpun dosa mereka tidak akan diampuni. Tidak ada dosa yang dapat dihapuskan di surga, karena tidak ada yang tidak suci yang dapat masuk. Karenanya, satu-satunya penjelasan logis adalah adanya tempat ketiga dimana dosa masih dapat diampuni. Gereja Katholik menamakan tempat ini Api Penyucian (purgatory).

Mat 5:26
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kita harus melunasi semua hutang dosa kita (yang ringan sekalipun) sebelum kita bisa masuk kedalam Kerajaan Surga.

Iman Gereja mengenai purgatory secara jelas diekspresikan di Konsili Trent (Sess. XXV) :

"Whereas the Catholic Church, instructed by the Holy Ghost, has from the Sacred Scriptures and the ancient tradition of the Fathers taught in Councils and very recently in this Ecumenical synod (Sess. VI, cap. XXX; Sess. XXII cap.ii, iii) that there is a purgatory, and that the souls therein are helped by the suffrages of the faithful, but principally by the acceptable Sacrifice of the Altar; the Holy Synod enjoins on the Bishops that they diligently endeavor to have the sound doctrine of the Fathers in Councils regarding purgatory everywhere taught and preached, held and believed by the faithful" (Denzinger, "Enchiridon", 983).​
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.