• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Ada Banyak Cara Berkeringat di Jakarta

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
Di kota besar, seperti Jakarta, ada banyak pilihan untuk melakukan sesuatu, termasuk sekadar berkeringat. Orang bisa berkeringat dengan merogoh kocek Rp 100.000 per bulan atau bisa juga berkeringat dengan membayar hingga berjuta-juta rupiah.

Selama beberapa tahun terakhir, pusat kebugaran atau fitness centre bermunculan hampir di setiap sudut Jakarta, mulai dari kawasan di pinggir kota hingga di jantung kota. Mereka menawarkan harga yang bervariasi. Tergantung Anda mau memilih yang mana.

Menjamurnya pusat kebugaran bukan tanpa sebab. Perbaikan kesejahteraan warga kota menjadi salah satu penyebab. Masyarakat kini memiliki lebih banyak uang yang bisa dialokasikan di luar kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka tak segan mengeluarkan uang guna bergabung dengan pusat kebugaran.

Namun, bagi mantan atlet binaraga nasional, yang kini sibuk mengurusi klub kebugaran, Ade Rai, perbaikan kesejahteraan bukan menjadi pendorong utama banyak orang bergabung dengan pusat kebugaran. ”Saya melihat semakin banyak orang yang memiliki kesadaran untuk hidup sehat. Faktor inilah yang menjadi pendorong utama. Kalau tingkat kesejahteraan rasanya tidak. Bukankah tingkat kesejahteraan kita rasanya kini semakin menurun?” ujar Ade.

Apa pun penyebabnya, akhirnya menjadi tak penting. Faktanya, pusat kebugaran bermunculan di mana-mana dengan anggota yang membeludak.

Sebagai contoh Fitness First, pusat kebugaran yang berpusat di luar negeri. Mereka hadir di Jakarta sekitar dua tahun silam dan kini sudah memiliki tujuh cabang. Salah satu cabangnya terletak di Gedung Apartemen Oakwood, Kuningan.

Baru berdiri selama satu tahun, Fitness First Oakwood rata-rata memiliki 2.500 anggota per bulan. Setiap hari ada 600 orang yang datang untuk mencari ”keringat”. Karena lokasinya berada di daerah perkantoran Mega Kuningan, anggota Fitness First Oakwood kebanyakan pekerja. Jam paling sibuk atau peak hour berlangsung pada pukul 18.00 hingga pukul 19.00.

Untuk menjadi anggota, orang harus merogoh kocek Rp 400.000 per bulan. Kalau masih ada uang lebih, orang bisa menjadi anggota Platinum dengan iuran hampir Rp 500.000 per bulan. Keuntungannya, anggota Platinum bisa berlatih di cabang mana saja di seluruh dunia.

Kegairahan menjaga kebugaran tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi juga di daerah pinggir Jakarta. La Christie, pusat kebugaran di Jalan Raya Joglo, Ciledug, menjadi saksi kegairahan masyarakat pinggiran Jakarta dalam menjaga kesehatan.

Untuk menjadi anggota, orang perlu mengeluarkan uang Rp 110.000 per bulan. Saman, instruktur La Christie, Ciledug, mengatakan, jumlah anggota mencapai angka rata-rata sekitar 30 orang per bulan. Jumlah ini, menurut dia, tergolong banyak.

Menurut Ade Rai, pasar pusat kebugaran terbagi menjadi empat kategori. Kategori pertama meliputi pusat kebugaran dengan iuran anggota sekitar Rp 100.000 per bulan. ”Jumlah pusat kebugaran ini banyak sekali. Ada di perkampungan dan di gang-gang,” ujar Ade.

Kategori kedua adalah pusat kebugaran yang mensyaratkan anggota untuk membayar iuran Rp 200.000-Rp 300.000. Di atasnya, kategori menengah ke atas, merupakan pusat kebugaran dengan iuran Rp 300.000 hingga Rp 700.000 per bulan. ”Ada pula yang iurannya lebih dari Rp 700.000 per bulan,” kata Ade.

Ada harga, ada rupa. Di pusat kebugaran dengan iuran Rp 300.000 ke atas, orang betul-betul ”berkeringat” dengan nyaman. Sehabis mengolah tubuh, anggota bisa mandi dengan air hangat di kamar mandi yang bersih, wangi, dan mengilap. Orang bisa pula mandi sauna.

”Megagym”

Ade Rai menyebut pusat kebugaran Rp 300.000 ke atas sebagai megagym. Kalau di dunia ritel, megagym sama dengan hipermarket. ”Ada tiga pemain besar di kategori ini, yakni Gold’s Gym, Celebrity Fitness, dan Fitness First,” tutur Ade.

Pilihan aktivitas megagym sangat beragam dan tidak hanya terbatas pada penggunaan alat, seperti treadmill atau bench press. Orang juga bisa mengikuti kelas yang pilihannya sangat banyak, antara lain pilates, yoga, body pump, dan body combat.

Pada kelas body combat di Fitness First Mal Taman Anggrek, pertengahan pekan ini, sekitar 50 orang bersama-sama melakukan gerakan meninju dengan diiringi musik berdentum keras.

Kelas lain yang digemari pada kategori megagym adalah spinning atau disebut pula kelas RPM. Di kelas ini, sejumlah 20-30 orang bersama-sama mengayuh sepeda stasioner dalam suatu ruangan. Temponya semakin lama semakin kencang.

”Wah rasanya asyik sekali,” kata Kartika (32), karyawan. Ia rela cepat-cepat meninggalkan kantor dan antre di kelas tersebut di Gold’s Gym Mal Citraland untuk merasakan asyiknya berkeringat beramai-ramai sambil mengayuh habis-habisan sepeda stasioner.

Tentu saja layanin spesial, seperti mandi sauna dan kelas RPM, tak ditemui di kelompok pusat kebugaran dengan iuran Rp 100.000 per bulan. Kelompok ini cukup menyediakan berbagai peralatan olah tubuh, antara lain sepasang treadmill dan sepasang sepeda stasioner.

layanin yang beragam tidak hanya membuat orang memiliki tubuh bugar, tetapi juga membuat orang merasa gembira. Faktor inilah yang tampaknya menjadi senjata pamungkas pusat kebugaran kategori megagym dalam menjaring anggota.

”Tadinya saya ikut fitness hanya untuk nurunin berat badan. Tetapi, setelah target berat badan tercapai, rasanya kok enak ya ikut fitness terus. Fun (gembira) gitu,” kata Yeni, anggota Fitness First Mal Taman Anggrek. Yeni baru lulus kuliah dan kini masih mencari pekerjaan.

Jika masih ada uang lebih, orang bisa mengikuti program yang lebih mahal lagi, yakni personal trainer. Pada program ini orang mendapat pendampingan khusus. Target apa pun yang dimaui anggota bisa dicapai dalam waktu satu atau dua bulan.

Biayanya cukup beragam. Sebuah pusat kebugaran mematok harga Rp 6 juta untuk enam sesi pertemuan. Ini baru untuk anggota kategori silver. Bagi anggota kategori emas, biayanya mencapai Rp 7 juta untuk jumlah sesi yang lebih kurang sama.

Mana yang Anda pilih, terserah Anda. Yang jelas, di Jakarta Anda bisa berkeringat dengan banyak cara dan pilihan.
 
Biasanya sih orang2 Jakarta udah bayar iuran perbulan, plus sewa trainer...
akhirnya malah ga pernah datang latihan, alasannya Sibuk!
 
Org Jakarta ga perlu susah2x ke tpt fitnes...

kan di jakarta nya aja udaranya udah panas... diem di ruangan (yg tanpa AC) aja dah keringetan... ;))
 
wakakakk tul banget tuch dulu seh pernah tergoda gw, cuma dilihat dari waktu gw yang kek gini, mana sempet kek gtuan, paling klo mo OR gw ke UI jalan keliling UI juga dah keringetan ( secara hutan sebesar itu gityu loh)
 
Biasanya sih orang2 Jakarta udah bayar iuran perbulan, plus sewa trainer...
akhirnya malah ga pernah datang latihan, alasannya Sibuk!

wakakakk tul banget tuch dulu seh pernah tergoda gw, cuma dilihat dari waktu gw yang kek gini, mana sempet kek gtuan, paling klo mo OR gw ke UI jalan keliling UI juga dah keringetan ( secara hutan sebesar itu gityu loh)

tergandung ke mental individunya:

kalo fitnes dipandang sebagai hanya dari segi practise nya saja... yah kaya yang dibilang om Tusuk sate... sama saja kaya nafsu gede tenaga kurang.

KAlo buat Om Pinna.... yah kembali ke diri masing-masing. Jalan santai, lari-lari... juga ok kok buat Olah Raga. Tapi harap diingat, fitness tuh bukan bina raga.... itu ngaco kalo pake analogika kaya gitu.

Fitness artinya.... berasaal dari FIT.... biar pass.

Nah, anda ingin body anda pas, silahkan fitness, atur pola makan dsb. Jadi, olah raga bagi penduduk jakarta yang lahannya memang sudah sangat sempit karena dibangun macem-macem, alternatif paling bagusnya yah Fitness.

Seperti om Pinna. OR ke UI... dengan alasan gak sempat ke Fitness.... kok kontradiksi yah.... apa gak lebih repor ke UI? kalo om rumahnya dekat UI yah gpp... pas.

Bagi yang lain... misalnya yang rumahnya jauh dari tempat untuk bisa OR yang luas kaya gitu. Dan ini biasa terjadi di kota kota besar. Mau kemana? lari-lari sepanjang jalan.... ntar dikejar anjing lagi.

Bagi penduduk kota besar, bahkan olah raga juga butuh biaya gak kecil. Yah salah satu nya fitness. Olah raga, cari kringet. Fitness tuh sangat komplek. Bukan hanya sekedar olah raga. Tapi sudah jadi gaya hidup. Bila anda masih gak ngeh juga....

Nih.... faktanya:

Dari olah raga yang populer di Indonesia, mungkin hanya 2 bidang saja yang ada dibuat majalah/media cetak press nya:

1. Sepak Bola (Bola.... soccer... dll)
2. Fitness/Bina Raga/Body Building (Menhealth, Fit, Muscle, dll)

Yah ujung ujungnya terserah anda. Mau pilih olah raga mana. Bila ada info tentang fitness di mana-mana... dan anda kebetulan tidak suka fitness, yah jangan sinis.... Ada banyak jalan menuju keringat, salah satunya fitness.... dan ini sehat....

Aneh saja kalo ada yang nganggap fitness jelek... :-/:-/:-/:-/
 
klo gue mending olahraga d lapangan aja kagak mau ikut ikutan yang d mall males /gg /gg
 
Lagian rajin amat cari gym di mall..... cape deh....
 
Bisa emang bisa.... wakakaka... banyak yang sinis pada gym... padahal apa salahnya gym....? bukannya nge gym itu justru gaya hidup yang sehat, apalagi bagi penduduk Jakarta yang udah terkenal kesumpekannya?....

Kalo saya disini, lari-lari keliling kota/desa aja masih enak....
 
bagi gue sih : olahraga tuh yang penting badan sehat buakn prestise /no1
 
lari2 aja di komplek, uda keringetan koq./gg
 
Ketahuan lihat situs porno sama nyokap juga keringatan kok...
 
nunggu busway berjam jam juga keringetan , naik busway juga masi keringetab ( pas jam sesek seseknya ) , nah biasanya gw lagi sesek sesekan gitu gw juga tahan perut gw, tarik aja kedalam, kerasa kok bedanya
 
Mau keringatan ? Ikut kuli panggul beras aja. Panggul beras 20 karung, pasti keringatan + sehat :D Canda2.
Kalau menurut saia, kita lari2 tiap pagi juga sehat, ga perlu bayar alias gratis.
 
tante preman aneh neh...:Dcari kringet sih gampang tp harus di imbangi dgn pemasukan =))
 
loe cari duit kelilingan d jalan juga udh berkeringat kok =)) =)) =))
 
Nunggu kabar DI PHK apalagi /omg mending kalo dapat pesangon, kalo tidak /omg
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.