• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

[Pecinta Kopi] Kopi Luwak, Rp 1 Juta Secangkir

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
LONDON, KAMIS - Bertanyalah kepada orang Inggris, kopi apa paling mahal di dunia, maka bangsa peminum teh itu akan menjawab kopi yang diambil dari kotoran musang. Anggapan ini mungkin sama dengan masyarakat tradisional Indonesia.

Mengapa termahal? Di Inggris kopi yang bekas dimakan musang (Paradoxurus hermaphroditus) dan keluar lagi bersama kotorannya itu dijual dengan harga 50 poundsterling atau hampir Rp 1 juta. Demikian dilaporkan Daily Mail dalam situs internetnya, Kamis (10/4).

Mungkin ketika mendengar asal kopi itu, penikmatnya akan gemetar. Namun bagi kafe Peter Jones, itulah yang membuat kopi itu juara. Kafe di Sloane Square itu menjual espresso, Americano dan latte dengan biji kopi itu mulai April.

Mau tahu dari mana Jones mendapatkan bahan baku yang akan membuat kafenya terkenal itu? Ia membeli 60 paket eksklusif campuran Jamaica Blue Mountain dan Kopi Luwak dari Indonesia. Biji kopi ini termasuk langka, karena dipanen kurang dari 200 kg per tahun.

Diyakini, luwak (musang dalam bahasa Jawa) itu bisa memilih biji kopi terbaik berdasarkan nalurinya. Mereka memilih biji yang lembut dan memakannya, tetapi hanya bagian luarnya yang bisa dicerna, sedangkan sisanya dibuang bersama kotoran. Cairan kotoran itulah yang diyakini memperkaya cita rasa kopi luwak itu.

Sekarang, para pelanggan Jones bisa merasakan sendiri sensasi kopi luwak itu. Sedangkan semua keuntungan dari penjualannya akan disumbangkan untuk penderita kanker.

Salah satu pelanggan Jones, Hannah Silver (23) mengatakan, "Saya sebenarnya agak khawatir sebelum mencoba, tetapi ternyata saya sangat suka. Agak berasa tanah dan sangat lembut."


172716p.jpg

Musang (Paradoxurus hermaphroditus) memanjat pohon.
 
Anomali, From Indonesia With Coffee

Alkisah, di abad 11, seorang penggembala kambing di Etiopia suatu pagi menemukan kambing-kambingnya bergerak lebih lincah dan energik dari biasanya di dekat pohon yang berbuah merah. Tingkah laku mereka yang tak biasa menimbulkan rasa penasaran di hati si penggembala. Tertarik, ia menyantap buah-buah kecil yang sekarang dikenal dengan nama kopi. Segera saja tubuhnya merasa lebih segar.

Tak lama, seorang sufi asal Yaman, Shaikh ash-Shadhili yang sedang berkeliling Etiopia, kebetulan lewat. Melihat efek yang ditimbulkan dari buah-buah tersebut, ia lalu mengeksplorasi, mulai dari merebus hingga memanggangnya. Hasilnya, terciptalah minuman kopi yang menjadi obat penghilang kantuk sebelum sembahyang dan menjadi minuman favorit di mesjid-mesjid hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia, baik jenis Arabika maupun Robusta. Sayang, kualitas premium kopi asli Indonesia malah jarang bisa dinikmati karena kebanyakan langsung diimpor ke beberapa negara. Masyarakat Indonesia, hanya bisa menikmati kopi dengan kualitas kedua ataupun ketiga.

Tak banyak yang tahu kalau Indonesia mempunyai kopi Arabika yang setara dengan Jamaica Blue Mountain Coffee, salah satu jenis kopi terbaik dan termahal di dunia. Jauh di ujung timur Indonesia, Wamena, Papua, di ketinggian 1600 meter di atas laut, terdapat kebun-kebun kopi milik penduduk asli Papua.

"Biji kopi di Wamena itu sama kualitasnya dengan biji kopi dari Jamaica. Pada jaman kolonial, ada orang Belanda yang membawa biji kopi dari Blue Mountain dan ditanam di Papua. Dengan kontur tanah dan cuaca yang mirip, kopi ini bisa dan memiliki kualitas mirip dengan aslinya," jelas Muhammad Abgari, pemilik Anomali Coffee beberapa waktu lalu di Jakarta.

Jamaica Blue Mountain Coffee adalah kopi Arabika yang ditanam di daerah Blue Mountain di Jamaica. Kondisi pegunungan yang sejuk, berkabut dan tanahnya yang subur di ketinggian 1700 meter di atas laut menjadikan Blue Mountain sebagai tempat yang ideal untuk menghasilkan kopi kualitas premium.

Diantara kopi Arabika lainnya, kopi ini mengandung kafein paling sedikit, lembut, tidak terlalu pahit, kandungan rasa asam yang pas. Well balanced.

Jadi, Indonesia patut berbangga karena mewarisi benih-benih kopi kualitas terbaik di dunia. Hal ini jualah yang membuat dua pemuda pecinta kopi, Irvan Helmi dan Muhammad Abgari bertekat melestarikan kopi Indonesia dan mempopulerkannya ke berbagai belahan bumi.Mimpi besar itu mulai diwujudkan dengan membuka kedai kopi mungil di kawasan Senopati, Jakarta dengan nama Anomali Coffee, kopi yang tak biasa. Mau tahu?
 
Kopi Ateng Jadi Harapan

SIMALUNGUN, RABU - Kopi lintong atau dikenal dengan kopi ateng menjadi terkenal di kawasan Danau Toba. Warga banyak berharap pada kopi ini untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kini kopi itu mempunyai julukan baru sebagai kopi sigalar utang atau kopi untuk membayar hutang.

"Belakangan ini saja saya baru menanam kopi ateng, hasilnya bagus. Saya sebelumnya menanam tomat dan bawang, tetapi hasilnya jelek," tutur Saur Mawati Damanik (53), Rabu (16/7) saat ditemui di rumahnya di Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Perdamean, Kabupaten Simalungun.

Tanaman kopi milik Saur kini sedang berbuah. Saat berbuah kini dia bisa memetik hasilnya dua minggu sekali selama tiga sampai lima bulan. Dia tidak susah mencari pasar kopinya karena pembeli datang sendiri ke rumahnya. "Untuk satu tumbak (dua liter) biji kopi yang sudah dijemur, saya bisa jual Rp 13.000 sampai Rp 14.000," katanya.

Dia lebih menyukai menanam kopi daripada tomat atau bawang. Tanaman bawang miliknya terkena penyakit yang membuat hasilnya sedikit. Menanam kopi, menurutnya, jauh lebih praktis daripada menanam tomat atau bawang. "Saya hanya perlu memerhatikan pupuk dan membersihkan ilalang di sekitar tanaman," katanya.

Saur berkeinginan menambah lahan kopinya yang kini seluas empat rante atau setara dengan 1.600 meter persegi. Warga sekitar juga banyak yang menanam kopi ateng. Selain di desanya, daerah Sipitu-pitu, Kabupaten Simalungun, dekat Desa Tigaras juga dikenal sebagai penghasil kopi.

Hal yang sama diakui oleh Siti Damanik. Rejeki dari tanaman kopi ateng dapat dia rasakan dari orangtuanya. Orangtuanya kini lebih banyak menggantungkan hasil kopi ateng daripada tambak ikan di Danau Toba. Tambak ikan di sekitar tempatnya tidak berhasil lantaran pada 2004 dilanda virus mematikan. "Kopi ateng ini banyak membantu ekonomi keluarga kami," katanya.

Kopi ateng juga dikenal di Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Samosir. Kopi ini juga dipakai sebagai bahan obat pengganti obat diare. Tokoh masyarakat Bakti Raja, Kabupaten Samosir mengakui warga mulai banyak menanam kopi ateng. Tanaman itu, tuturnya, ditanam warga untuk menggantikan produk bawang samosir yang sudah melewati masa jayanya.

Produk kopi ateng disebut-sebut menyamai legenda kopi luak yang tersohor. Nama kopi ateng diambil dari postur pohon yang pendek, seperti pelawak bernama Ateng. Sebelumnya, daerah utama penghasil kopi ateng ada di Kabupaten Humbang Hasundutan dan Dairi.
 
Kopi Jawa (Dulu) Kopi Kelas Dunia

MENJELANG petang akhir pekan di Jalan Braga, Bandung, tiga gadis Belanda, Annelieke, Lisette, dan Esther dari Leiden, melepas lelah setelah berkeliling kota tua dengan minum kopi. Let's have a cup of Java-mari minum secangkir Jawa-adalah undangan minum kopi yang populer bagi orang Eropa dan Amerika.

Minum kopi masih menjadi kebiasaan orang Eropa daratan dan Amerika, tidak ubahnya minum teh di sore hari bagi orang Inggris. "We do love coffee," kata Annelieke singkat. Selama empat bulan berada di Jawa medio tahun 2007, kopi menjadi salah satu menu minuman harian mereka.

Itulah sepenggal riwayat tidak terpisahkan kopi jawa bagi orang kulit putih yang dulu menjadi primadona yang diangkut dari perkebunan dataran tinggi melalui Jalan Raya Pos untuk diekspor ke Eropa. Kopi Jawa adalah salah satu primadona seperti kina, tebu, teh, dan karet yang kini semakin surut pamornya karena sistem budidaya pertanian yang coba sana coba sini sehingga kehilangan fokus.

Sebagai contoh nyata adalah kerangka-kerangka beton bangunan bedeng buatan Belanda di tengah sawah dan kebun di sebuah perkampungan di Cadas Pangeran. Di masa silam, menurut warga, bedeng tersebut merupakan bagian dari kompleks perkebunan kopi yang tumbuh subur di sekitar wilayah tersebut.

Sungguh disayangkan, kopi jawa akhirnya kehilangan pamor karena salah urus dan kebijakan pemerintahan yang tidak tentu arah. Berbeda dengan Malaysia yang tetap melestarikan perkebunan karet dan lada sejak zaman Kolonial Inggris hingga pascakemerdekaan tahun 1957 tetap lestari sampai detik ini.

Padahal, menurut Widya Pratama, pemilik Aroma Kopi yang didirikan sejak tahun 1930, kopi terbaik di dunia adalah kopi jawa. "Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin ataupun Afrika. Untung sekarang sudah mulai ada kesadaran lagi untuk menanam kopi jawa. Dulu dataran tinggi Lembang merupakan surga perkebunan kopi yang kini tergusur perumahan. Sekarang di Pangalengan sudah mulai dirintis penanaman kopi jawa," kata Widya.

Yuvlinda Susanta, Manager Komunikasi PT Sari Coffee Indonesia yang mengelola Starbucks, menjelaskan, pihaknya pernah mengenalkan kembali kopi jawa melalui gerai kopi Starbucks yang ada di seluruh dunia. "Secara kualitas memang sangat bagus. Tetapi dari sisi kuantitas selanjutnya tidak terpenuhi sehingga penjualan terhenti. Kita masih terus mencari upaya untuk mengangkat kembali citra kopi jawa," kata Yuvlinda.

Berawal dari Tanam Paksa

Kejayaan kopi jawa berawal dari penerapan tanam paksa (cultuur stelsel) masa Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch berkuasa (1830-1840). Peter Boomgard dalam buku Anak Jajahan Belanda Sejarah Sosial dan Ekonomi Jawa 1795-1880 mencatat, tanam paksa mewajibkan petani mengalokasikan seperlima lahan untuk tanaman bagi pasar Eropa, yakni kopi, tebu, nila, teh, dan tembakau.

Sungguh indah Jawa tempo dulu. Betapa pertanian dan perkebunan dikelola secara terarah meski ada praktik korupsi serta pengisapan di kalangan elite penguasa Bumiputera. Alfred Russel Wallace—sang naturalis terkenal yang namanya diabadikan sebagai garis pemisah keragaman fauna di sebelah barat dan timur Nusantara—bahkan mengklaim Jawa sebagai The finest tropical island in the world atau pulau tropis terbaik di dunia. Wallace berkelana selama tiga setengah bulan di Jawa tahun 1861. Pulau tersubur, terpadat, dan terindah di seluruh tropis. Begitu banyak gunung berapi memberkahi Jawa dengan tanah yang subur, kenang Wallace.

Dalam Java a Travellers Anthology disebutkan, Wallace mengunjungi kebun kopi di Wonosalem di kaki Gunung Arjuna tidak jauh dari Surabaya. Wallace mengumpulkan spesimen burung merak di Wonosalem. Dalam jurnal yang diterbitkan tahun 1869 itu Wallace juga memuji-muji sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang tetap mempertahankan keberadaan elite lokal di tingkat desa, para bupati, budidaya perkebunan kopi dan teh, keindahan alam, candi-candi Jawa yang lebih indah dari India dan peninggalan purbakala di Amerika Latin wilayah jajahan Inggris.

Eksotisme Jawa dikenal di dunia Barat, terutama lewat hasil buminya, yakni kopi. Widya Pratama menambahkan, kopi jawa dari jenis Arabica ataupun Robusta memiliki kualitas premium di dunia.

Namun, biji kopi harus disimpan lima tahun untuk jenis Robusta dan delapan tahun bagi kopi Arabica untuk selanjutnya diproses demi mendapatkan rasa terbaik. Dari 100 kilogram biji kopi (berry) kering akan didapat sekitar 80 kilogram bubuk kopi yang bebas dari rasa masam. Memasak biji kopi jawa pun seharusnya menggunakan kayu bakar dari pohon karet dan disangray di dalam sebuah wadah berbentuk globe. "Sayang banyak pengusaha kopi jawa yang sekarang tidak mematuhi kaidah tersebut dan mengejar omzet belaka tanpa memedulikan mutu," kata Widya.

Demi membangkitkan kembali kejayaan kopi jawa, Widya mulai merintis penanaman kembali kopi di sekitar Pangalengan bermitra dengan petani lokal. Kopi jawa terbaik hanya dipanen setahun sekali. Dia menyayangkan hilangnya perkebunan kopi di Lembang dan sekitar Cadas Pangeran. Kini, perlahan tetapi pasti, pamor kopi jawa mulai dibangkitkan oleh pelaku bisnis meski jauh dari perhatian pemerintah.
 
Indonesia Berpotensi Ciptakan Spesial Kopi

Indonesia yang merupakan produsen kopi keempat terbesar dunia memiliki peluang yang besar untuk menciptakan produk kopi yang khas dan berkualitas internasional. Kopi spesial itu dapat dikembangkan pada varietas kopi Arabica yang diproduksi pada sejumlah wilayah.

Demikian dikemukakan Pejabat Sementara Direktur Eksekutif Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) Edi Susmadi, di Jakarta, Selasa (12/2). Permintaan kopi spesial di dunia meningkat tujuh persen per tahun.

Edi mengatakan, kopi Arabica dikenal memiliki keunggulan dalam hal kualitas dan kekentalan. Harga jualnya juga dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan kopi robusta.

Ekspor kopi Indonesia tahun 2007 lalu mencapai 300.000 ton, sejumlah 53.000 ton di antaranya merupakan kopi Arabica. Beberapa daerah penghasil kopi Arabica di antaranya Aceh, Sumatera Utara, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Peningkatan kualitas produksi kopi Arabica untuk menghasilkan kopi yang khas diarahkan pada penanaman secara organik, kestabilan mutu, dan peningkatan kualitas pengolahan.
 
"Cupping", Menikmati Kopi Sedalamnya

Kegiatan cupping atau mencoba beberapa rasa dan aroma kopi sekaligus lalu membandingkannya selalu dilakukan kafe khusus kopi di mana pun di dunia ini.

Peter Slack, anggota staf Caswell, yaitu kafe yang khusus menjual kopi, menuturkan, cupping dilakukan untuk terus memantau mutu kopi yang mereka miliki, juga memantau mutu pemanggangan biji kopi (roasting) yang mereka lakukan.

Cupping dilakukan dalam beberapa tahap yang relatif sudah baku. Penilaian yang diberikan cupper (orang yang melakukan cupping) pun relatif sudah dibakukan. Ada tabel Rasa-Aroma yang membantu dalam memberikan penilaian saat cupping.

Penilaian dalam proses cupping memang sangat relatif tergantung dari latar belakang orang yang melakukan, tetapi secara umum cupping yang dilakukan di mana pun memberi hasil yang tidak terlalu berbeda.

Menurut Peter Slack, proses cupping diawali dengan menilai fragrance—bau kopi sebelum diseduh—yaitu dengan mencium bubuk kopi kering. Tahap berikutnya, menilai aroma kopi, yaitu mencium bau kopi yang sudah diseduh.

”Fragrance dan aroma bisa berbeda,” kata Slack.

Pemanggangan menentukan mutu fragrance, sementara penyeduhan menentukan aroma. Secangkir kopi yang kita nikmati sebetulnya ditentukan dalam banyak tahap pembuatan, yaitu sejak pemilihan bibit, penanaman, cara panen, cara penyimpanan biji, cara memanggang biji, cara menyeduh, bahkan sampai cara menghidangkan.

Meminjam istilah Peter Lydian, penggemar berat kopi, dari satu pohon kopi bisa didapat ratusan rasa dan mutu kopi karena bisa terjadi ratusan kombinasi pemanfaatannya.

Tahap cupping berikutnya adalah mengecap kopi. Kecapan ini untuk mencari keasaman, keasinan, kemanisan, dan kepahitan sebuah produk kopi.

Yang tidak kalah penting adalah masalah after taste, apakah rasa masih mengendap di lidah setelah semua kopi ditelan. Mutu rasa yang mengendap juga menentukan mutu sebuah produk kopi.

Di kalangan penggemar berat kopi, ada rasa kepuasan kalau bisa menentukan keunggulan sebuah produk kopi terhadap produk lainnya walau beda itu sangatlah tipis.

”Tidak pernah ada dua macam produk kopi yang mutunya sama persis. Menemukan perbedaan yang sangat sedikit itu adalah kepuasan utama penggemar kopi,” kata Peter Lydian. (arb)
 
Obati Luka dengan Kopi

Selain murah dan mudah didapat, ternyata kopi aman dan efektif untuk mengobati berbagai jenis luka.

SIAPA yang tak kenal kopi? Serbuk hitam beraroma khas ini sangat digemari di Indonesia. Tapi tahukah kita kalau kopi tak hanya identik dengan minuman yang begitu nikmat saat diseruput selagi hangat? Selain sebagai pengusir kantuk yang membuat tubuh kembali terasa segar, kopi ternyata mampu diandalkan untuk mengobati luka.

Dr. Hendro Sudjono Yuwono MD, Ph.D. sudah membuktikan khasiat kopi tersebut. Ahli bedah pembuluh darah dari RS Hasan Sadikin, Bandung ini sudah berkutat melakukan serangkaian penelitian terhadap kopi sejak awal tahun 2004. Hasilnya? Kopi ternyata sangat efektif dan aman untuk mengatasi berbagai jenis luka! Dari luka besut lantaran terjatuh, luka tergores benda tajam, luka bakar, sampai luka "koreng" yang sudah terinfeksi. Hebatnya lagi, semua usia dapat menggunakannya, termasuk anak-anak.

Dalam penelitiannya, Hendro menemukan zat antibakteri dalam serbuk kopi yang tergolong sangat kuat. Meski belum diketahui secara pasti jenis kandungannya, namun zat ini terbukti sangat efektif membasmi kuman Methicillin Resistant Starhylococcus Aureus (MRSA) yang sering dijumpai pada luka bernanah.

Hendro menggunakan tikus dan marmot yang sengaja dilukai dengan cara dibakar sedikit. Tikus diobati dengan kopi sementara marmot diobati dengan obat medis untuk luka bakar. Ternyata tikus dapat sembuh dengan baik tanpa ada perbedaan sedikitpun dengan marmot. "Tidak timbul infeksi atau efek samping lainnya," papar Hendro yang mengaku tidak berniat untuk mematenkan hasil temuannya ini.

Awal tahun 2005 Hendro yang menyelesaikan spesialisasi bedah pembuluh darah tepi di Universitas Leiden dan pendidikan S3 ilmu bedah di Universitas Amsterdam, Belanda menggunakan kopi untuk menyembuhkan luka para pasiennya. Ada berbagai jenis luka yang ditangani, dari luka besut/serut karena terjatuh hingga luka bakar dan luka bernanah. Ternyata pengobatannya bisa berjalan efektif dan hasilnya bisa disetarakan dengan hasil pengobatan yang sudah baku. "Sejauh ini saya tidak melihat ada efek samping yang muncul dari pengobatan luka dengan kopi," tukas dosen di FK Unpad ini.

CARA PAKAI

* Taburkan secara merata di atas luka. Cukup tipis saja, tidak perlu terlalu tebal.

* Frekuensi bisa 3x sehari; pagi, siang, dan sore.

* Setelah ditaburi kopi, luka harus tetap kering dan sama sekali tak boleh terkena air. Bila terkena air, luka jadi basah terus-menerus sehingga pengobatan tak berjalan efektif. Jika ingin mandi atau melakukan aktivitas yang bersentuhan dengan air, tutuplah luka dengan rapat.

KONTRAINDIKASI

Satu hal terpenting untuk diperhatikan, apakah anak alergi terhadap kopi atau tidak. Alergi terhadap kopi bisa dilihat dari munculnya warna kemerahan atau gatal-gatal di sekitar area luka. Bila demikian, hentikan pemakaian karena sangat mungkin luka justru akan semakin meluas dan dalam lantaran anak pasti tidak tahan untuk tidak menggaruknya. Tapi kalau anak pernah minum kopi dan tidak ada efek samping yang muncul, seperti mual, pusing atau gatal-gatal, bisa dikatakan dia tidak alergi kopi.

PERIH ATAU TIDAK?

Berbeda dari obat merah yang bisa menimbulkan rasa perih saat diteteskan atau salep yang memunculkan rasa dingin, kopi malah memberikan rasa hangat.

PERLUKAH RESEP DOKTER?

Pemakaian kopi tak memerlukan resep dokter. Kopi bisa langsung ditaburkan di atas luka. Hanya saja, kopinya haruslah kopi robusta yang belum dicampur apa-apa. Kopi tak bermerek ini biasanya dijual di pasar-pasar tradisional yang langsung digiling di tempat. Sebetulnya tuntutan keaslian ini tak lain karena, "Saya belum melakukan penelitian terhadap kopi lain yang bermerek," kata Hendro. Jadi, bila ingin menggunakan kopi bermerek, boleh-boleh saja namun ia tak menjamin apakah penyembuhan lukanya efektif atau tidak.

BERAPA LAMA LUKA BISA SEMBUH?

Bila lukanya relatif kecil akibat tergores pisau, pengobatannya boleh jadi hanya butuh waktu singkat. Setelah diobati mungkin saja lukanya segera kering dan sembuh. Namun luka yang sama, bisa saja sembuh lebih lama bila setelah diobati lukanya basah terkena air.

Waktu penyembuhan luka juga tergantung pada kondisi luka itu sendiri. Kalau luas/lebar dan cukup dalam tentu butuh beberapa kali pengobatan. Ini berarti bisa makan waktu berhari-hari. Untuk luka yang sudah terinfeksi, pengobatannya tentu butuh waktu lebih lama, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Pasalnya, butuh waktu khusus untuk membasmi bakteri yang sudah bercokol di luka tadi. Luka yang sudah terinfeksi ini ditandai sebagai luka yang bernanah, sudah lebih luas dari luka awal, dan biasanya disertai adanya jaringan daging yang membusuk. Yang juga makan waktu cukup lama adalah pengobatan luka pada penderita diabetes melitus. Oleh karena itu, tetap barengi pengobatan medis. Luka yang diderita para diabetesi, contohnya, baru akan efektif kalau pengobatan diabetesnya berjalan terus.

Penulis : Irfan Hasuki
 
Warung Multikultur Kota Medan

073430p.jpg


Berkunjung ke warung kopi Apek di Jalan Hindu Nomor 37, Medan, kita akan mendapat bukti bahwa Kota Medan adalah kota tua yang hidup karena dukungan etnis yang beraneka ragam.

Di warung itu etnis China, Jawa, Tamil, Nias, Mandailing, Toba, Karo, Simalungun, hingga Melayu dengan latar belakang agama beraneka ragam hidup rukun, duduk bersama, dan bercanda gembira.

Sebelum tengah hari adalah waktu pas untuk singgah sarapan atau makan siang. Setelah waktu itu, menu makanan biasanya tidak lengkap lagi meskipun warung baru tutup sekitar pukul 14.00.

Sebenarnya nama warung itu Warung Kopi Mieng Hao. Letaknya di kawasan bangunan tua Belanda di daerah Kesawan, tepatnya di pojok Jalan Hindu dan Jalan Perdana. Warung dibuka pertama kali sekitar tahun 1922 saat kawasan Kesawan masih dipenuhi kantor perkebunan Sumatera Timur.

Pemiliknya, Thaia Tjo Lie (86), lebih dikenal dengan sebutan Apek. Kalau tidak kecapaian, pria berusia lanjut itu sering tampak berada di belakang meja menyiapkan minuman untuk pelanggan. Yang selalu ada di warung adalah istrinya, Lee King Lien (84), dan anak perempuan mereka.

Kopi yang dihidangkan Apek adalah kopi hitam. Orang sering menyebutnya kopi O. Artinya kopi pahit tanpa gula. Ia merahasiakan resepnya. Tetapi, Apek mengatakan kopi sumatera yang paling enak baginya adalah dari Sidikalang dan Lintong Hasundutan. ”Asal rasanya terus terjaga, pelanggan tidak akan pergi,” kata Apek.

Masih asli

Gula dan susu cair dihidangkan terpisah dari kopi. Cangkir penghidang kopi terlihat sangat tua. Mungkin sama tua dengan tempat gula, susu, dan meja bulat yang beberapa di antaranya masih asli dengan alas marmer serta kursi kayu. Bangunan dua lantai sekitar 5 meter x 6 meter yang digunakan untuk warung (lantai dua jadi rumah tinggal) juga asli, belum direnovasi.

Kondisi dalam warung sederhana. Mebel ditata seadanya. Di salah satu sudut warung ada tempat pemujaan berikut makanan persembahan. Warung kopi itu dibuka orangtua Apek, Thia A Kee dan Khi Lang Kiao, imigran asal Hongkong. Sayangnya Apek sudah tidak bisa lagi runut bercerita.

Karena warung sudah tua, tamu yang pernah singgah macam-macam. Warung ini pun menjadi saksi perjalanan sejarah Indonesia. Puluhan tahun lalu, pegawai dan direktur perusahaan perkebunan seperti London Sumatra Company, Harrison Crossfield, atau NV Borzoi suka singgah di warung itu.

Saat pendudukan Belanda, tentara Belanda singgah. Saat tentara Jepang datang, mereka juga singgah. Saat perang kemerdekaan, Jamin Ginting, si pahlawan nasional yang namanya diabadikan jadi nama jalan di Kota Medan, juga mampir di warung Apek.

Tak ada menu yang disodorkan kepada tamu. Sepertinya semua orang sudah tahu apa yang disediakan Apek. Untuk minuman, selain kopi, ada juga teh tong, sebutan untuk teh tanpa gula bagi orang Medan. Ada juga es teh.

Apek juga menyediakan sarapan roti tawar bakar dengan selai sarikaya. Pelanggan juga bisa minta telur rebus. Siapa pun yang masuk ke warung juga boleh pesan makanan ke pedagang di sekeliling warung kopi Apek yang memang berhadapan dengan pasar pagi.

Keberagaman budaya

Warung ini menjadi bukti Kota Medan terbentuk dari komunitas berbagai kebudayaan yang membaur menjadi satu. Pelayan warung, misalnya, perempuan keturunan Batak, Clara br Pasaribu (21), dan satunya gadis keturunan Nias, Ester Gahö.

Di dalam warung ada dua pedagang lain, yaitu M Arumugam (55) yang disebut Pak Ane, pria keturunan India Tamil. Dia sudah berjualan makanan khas India seperti roti cane dan martabak mesir selama 33 tahun di warung Apek. Di gerobak Pak Ane tertulis ”Nasi Briani, hari Jumat”. Ia memang khusus menjual nasi briani khas India pada hari Jumat.

Satu lagi adalah Riandi (50), pria keturunan Jawa kelahiran Sumatera yang dipanggil Omo atau Somo. Dia memarkir gerobaknya di sudut lain warung, meracik soto daging sapi dan ayam sejak tahun 1974. Bau sotonya tak kalah harum dengan bau kopi Apek. Ia merupakan generasi kedua yang berjualan di warung Apek, menggantikan ayahnya, Napon (82), yang hingga kini masih hidup.

Di luar warung, ada Arifin (50) yang menjual nasi lemak. Ada pula Koh Hasan (55) yang berjualan cakwe dan kwetiau persis di kanan pintu masuk warung Apek.

Semua makanan dijual antara Rp 2.000 hingga Rp 20.000 per porsi. Soto misalnya, Rp 12.000 per porsi. Sedangkan kopi tanpa gula, tetapi dengan susu Rp 8.000 per cangkir. ”Ada juga yang minta cokelat panas, ada yang harganya Rp 20.000 per gelas,” kata salah satu anak Apek.

Pengunjung warung pun macam-macam. Dari politikus, anggota Dewan, kepala dinas, konsul Amerika Serikat di Medan, seniman, wartawan, usahawan, hingga orang kebanyakan. ”Saya berlangganan selama 20 tahun. Asal lapar saya singgah ke sini,” tutur Gunawan Chandra (71), warga Medan.

Warung buka hari Senin hingga Jumat pukul 06.00-14.00, sedangkan hari Sabtu pukul 06.00-13.30. Pada hari Minggu, warung buka pukul 06.00-11.30. Jadi, sekali duduk, segala menu bisa dipesan.
 
Antara Arabika dan Robusta

Asal-muasal kapan kopi dikenal manusia tidak jelas benar. Beberapa catatan sejarah menyebutkan, kopi mulai dilirik manusia pada abad ke-9. Waktu itu, para penggembala kambing di Etiopia, Afrika, melihat kambing mereka menjadi riang gembira seusai memakan dedaunan dan biji kopi.

Demikianlah, kopi memang paling dikenal sebagai zat yang membangkitkan kesegaran dan kebugaran manusia. Sejalan dengan waktu, kopi mulai menempati aneka strata dalam kehidupan manusia, dari sekadar minuman, perangkat upacara, bahkan menjadi komoditas dagang yang sangat menjanjikan.

Kopi pernah dilarang di Turki pada abad ke-17 semasa kekuasaan Ottoman untuk alasan politik. Kata coffee sendiri mulai dikenal di Inggris pada akhir abad ke-16, mungkin turunan dari kahveh dalam bahasa Turki atau qahweh dalam bahasa Arab.

Leonhard Rauwolf, ilmuwan Jerman, pada tahun 1583 kembali ke Jerman setelah mengembara ke daerah Afrika dan Timur Tengah, menuliskan deskripsi minuman kopi. ”Minuman itu hitam seperti tinta, tetapi mujarab menyembuhkan beberapa penyakit, terutama di perut. Ia dibuat dari seduhan biji yang disebut bunnu,” tulis dia.

Indonesia adalah salah satu negara pengekspor kopi utama dunia bersama Brasil, Kolombia, Meksiko, dan India. Belakangan, Vietnam muncul sebagai raksasa pengekspor kopi bahkan duduk di peringkat kedua di bawah Brasil pada 2005. Sedangkan lima negara terbesar dalam mengimpor kopi saat ini adalah AS, Jerman, Brasil, Jepang, dan Perancis.

Secara umum kopi terbagi dalam dua jenis, yaitu kopi robusta (Coffea canephora) dan kopi arabika (Coffea arabica). Robusta mengandung kafein dua kali lipat kandungan Arabika, tetapi kalah dalam aroma.

Kopi robusta yang berasal dari pantai barat Afrika ini umumnya tumbuh di belahan bumi timur yang tropis. Ia adalah produk unggulan Brasil. Umumnya kopi robusta dianggap punya mutu di bawah arabika. Walau begitu, robusta mutu tinggi umumnya justru menjadi andalan minuman espresso (sejenis minuman kopi yang sangat pekat).

Keunggulan robusta terhadap arabika adalah kemudahan perawatannya dalam penanaman. Arabika tidak tahan cahaya matahari yang terlalu kuat, juga butuh biaya perawatan lebih tinggi.

Kemudahan penanaman membuat Perancis mengenalkan robusta ke Vietnam pada akhir abad ke-19. Sejak itulah Vietnam terus tumbuh sebagai pengekspor robusta utama dunia. (arb)
 
Fakta Menarik dari Starbuck

Lebih dari sekedar kopi dan gerainya yang mengglobal, ternyata Starbuck juga menyimpan fakta-fakta yang menarik.

1.TIAP HARI 2 GERAI BARU DIBUKA
Sebenarnya Starbuck telah ada sejak tahun 1971, tetapi ekspansi yang agresif mulai dilakukan ketika Howard Schultz menjadi CEO pada tahun 1987. Saat ini Starbuck memiliki 14.396 gerai. Jika dibagi menjadi 20 tahun atau 7.300 hari, maka rata-rata dalam sehari ada dua gerai baru yang dibuka.

2. NAMA STARBUCK BERASAL dari TOKOH NOVEL
Nama starbuck ternyata diambil dari nama tokoh dalam novel Moby Dick. Tokoh Starbuck memiliki sifat konservatif dan percaya pada takhyul.
Satu-satunya hal yang mendekati tokoh Starbuck seperti dalam novel adalah gambar putri duyung pada logo. Semula logo itu menggambarkan putri duyung bertelanjang dada tapi kemudian diperhalus dengan ditutupi rambut panjangnya yang tergerai.

3. STARBUCK DIJUAL untuk BUKA GERAI TEH
Pemilik awal Starbuck, Jerry Baldwin yang juga pemilik Peets Coffee & Tea, membuka gerai pertama Starbuck di Seattle, namun pada tahun 1987 mereka menjualnya pada Howard Schultz agar mereka lebih fokus mengurusi gerasi Peets Cofee & Tea. Saat ini market share Starbuck 70 kali lebih besar dibanding dengan Peets.

4. TIAP KARYAWAN DIPERLAKUKAN SAMA
Sikap dan strategi perusahaan ini berlawanan dengan kebijakan konvensional yang berlaku di banyak perusahaan. Setiap karyawan, apa pun jabatannya, bahkan tenaga paruh waktu sekalipun diperlakukan dengan hormat. Selain tunjangan kesehatan yang lengkap, perusahaan memberikan program pembelian saham pada setiap karyawan.

5. TIDAK ADA FRANCHISE
Salah satu aturan yang masih dijalankan sampai sekarang adalah Starbuck tidak membuat franchise untuk kepemilikan individu. Menurut pendirinya hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan standar tiap gerai
 
wow.. lengkap kali.. kopi luwak emg mahal bgt... padahal kotoran alias kopi daur ulang loh... aneh yah...
 
enakan maman sama kopi ginseng milik satu MLM terkenal?
 
sayang kopi indonesia kalah pamor dengan kopi asing /no1
 
Kopi buat obat vertigo.... Titi chan kalo mau sembuh harus minum kopi, max 2 gelas sehari. Jangan kopi luwak... bisa bangkrut.... bisa gila justru jadinya.... =))
 
Kopi buat obat vertigo.... Titi chan kalo mau sembuh harus minum kopi, max 2 gelas sehari. Jangan kopi luwak... bisa bangkrut.... bisa gila justru jadinya.... =))

kopi luwak, mau beli saja mesti pesan dulu /swt

sudah gitu, ini sungguhan kopi luwak 100% apa campuran yah, sy juga kurang paham. beli mahal2, ga tahu nya tetap saja kopi luwak campuran /wah

yang jelas dari warnanya memang beda, lebih kekuning-kuningan dibanding kopi biasa :-/

minum kopinya Linda sajalah, dijamin asli dari Linda, ma kasih ya Lin /thx
 
wakakaka.... cici effie buka rahasia linda punya pabrik kopi.... wekekekeke.... bisa jadi isyu baryu nih.... isyin aqyu....
 
minum kopi abis sejuta???
buseeeet.../hmm
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.