• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Relativisme VS Toleransi

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. jebling
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

jebling

IndoForum Beginner C
No. Urut
42685
Sejak
5 Mei 2008
Pesan
730
Nilai reaksi
5
Poin
18
Salam Damai

Setelah topik2 "panas" yg keras dan sensitif karena membongkar "aib" Gereja, yg dituduhkan oleh pihak2 tertentu secara "terstruktur" dengan tendensi memojokkan Gereja Katolik (GK) hingga saat ini, sekarang kita akan mencoba membahas masalah yg lebih adem.

Di forum ini, saya pernah menjadi "terdakwa" atas 2 buah kasus:
"Musuh dalam selimut" bagi GK dan "Fanatik" akan GK.
Walaupun, bagi saya, "dakwaan" tersebut sangat aneh karena satu sama lain bertentangan! Seharusnya, apabila saya menjadi "musuh dalam selimut" bagi GK, semestinyalah bahwa saya bukan seorang yg fanatik, atau sebaliknya.

Mengapa sampai terjadi dakwaan semacam itu?
Kesimpulan saya adalah bahwa kita terjebak dalam pemahaman relativisme iman untuk menunjukkan toleransi kita.

Untuk itu, marilah kita mencoba melihat apa yg dikatakan Paus Yohanes Paulus II dan juga Kardinal Yoseph Ratzinger, sebelum beliau dipilih menggantikan pendahulunya tersebut.

Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 14 September 1998 mengumumkan secara resmi ensiklik kepausan: Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi yang membahas hubungan antara iman dan akal budi.

Sri Paus percaya bahwa iman dan akal budi tidak hanya sepadan, namun penting bagi satu dengan yang lain. Iman tanpa akal budi, ia berargumen, akan menjurus pada ketakhyulan (superstisi). Akal budi tanpa iman akan menjurus pada paham Nihilisme dan Relativisme.


Sekarang kita lihat apa yg dikatakan Kardinal Yoseph Ratzinger, seperti ditulis oleh Rm. Dhesy Ramadhani SJ:

KARDINAL Joseph Ratzinger menjadi Paus ke-265 dan memilih nama Benediktus XVI. Sebelum konklaf dimulai, Ratzinger mengatakan bahwa satu bahaya besar bagi Gereja Katolik Roma adalah tersebarnya suatu “relativisme iman”. Pernyataan tersebut merangkum inti keyakinan Ratzinger selama ini.

Pada tahun 1984 Vittorio Messori, seorang wartawan Italia, melakukan wawancara dengan Ratzinger. Dalam terjemahan bahasa Inggris, hasil wawancara tersebut diterbitkan dengan judul The Ratzinger Report: An Exclusive Interview on the State of the Church (1985). Salah satu pertanyaan kritis-atau mungkin lebih tepat dikatakan sebagai salah satu kekhawatiran di kalangan orang Katolik Roma-adalah bahwa keyakinan Ratzinger akan menghambat berkembangnya dialog antar-agama. Dalam kerangka pembicaraan tentang hubungan Gereja Katolik Roma dengan Gereja-gereja lain, ia mengatakan, “dialog dapat memperdalam dan memurnikan iman Katolik, tetapi tidak dapat mengubahnya dalam tataran esensinya yang sejati” (1985:155).

Dalam kesempatan yang sama Ratzinger juga menegaskan, “definisi-definisi jelas dari iman seseorang akan membantu semua pihak, termasuk partner dalam dialog” (1985:155). Dengan kata lain, dialog hanya bisa terjadi justru kalau masing- masing pihak sungguh meyakini imannya. Di sini terlihat kembali keyakinan Ratzinger bahwa dialog antar-agama tidak boleh jatuh menjadi suatu sikap yang mengagungkan “relativisme iman”.

Dalam konteks dialog antar-agama, sebuah sikap yang bisa muncul adalah sikap yang begitu saja menganggap bahwa semua iman itu sama. Sikap semacam ini mengidentikkan “toleransi” dengan “relativisme”. Toleransi (Latin: tollerare, berarti �mengangkat�) adalah sikap yang memperlihatkan kesediaan tulus untuk mengangkat, memikul, menopang bersama perbedaan yang ada antara satu agama dan agama lain. Relativisme adalah sikap yang yakin bahwa segala sesuatu adalah relatif; bahwa segala sesuatu ditentukan bukan oleh apa yang ada dalam dirinya sendiri, melainkan oleh hubungan (Latin: relatio) antara sesuatu dan sesuatu yang lain.

Relativisme iman adalah sikap yang menghayati iman bukan dengan keyakinan akan apa yang ada dalam kekayaan iman tertentu, melainkan dengan pemutlakan adanya hubungan dengan iman lain. Relativisme menomorduakan gerakan ke arah dalam karena terus menyibukkan diri dengan pandangan ke arah luar. Relativisme menghindari kejujuran untuk melihat ke-khas-an yang berbeda di dalam karena terus mencoba menemukan ke-umum-an yang sama di luar.


Sebuah dialog antar-agama yang sejati tidak mungkin ada tanpa sebuah keyakinan akan apa yang ada di dalam kekayaan iman tertentu. Dengan kata lain, relativisme iman, dalam bentuknya yang paling ekstrem, justru akan membawa orang pada sebuah keengganan, atau bahkan ketakutan, untuk berpegang pada komitmen imannya. Tanpa sebuah komitmen iman ke dalam, tidak mungkin seseorang bisa menopang bersama apa yang ada di luar. Relativisme iman, dengan demikian, justru merupakan musuh terbesar yang bisa menghambat terciptanya sebuah toleransi antar-agama yang sejati.


Sebuah uraian yg sangat lengkap sudah diungkapkan Paus Yohanes Paulus II dan Kardinal Yoseph Ratzinger, tentang bagaimana kita harus mendudukkan Iman yg benar dalam hubungannya dengan dialog dan toleransi kehidupan beragama.

Yang menjadi pertanyaan adalah:
Apakah Iman yg benar mendukung dialog dan toleransi kehidupan beragama?
Jawaban saya: Belum tentu!
Tetapi apabila pertanyaan tersebut diganti demikian:
Apakah Iman katolik yg benar mendukung dialog dan toleransi kehidupan beragama?
Jawaban saya: Ya!
Karena Ajaran GK yg benar tidak mendukung antitoleransi sekaligus juga tidak mendukung Relativisme Iman

Ajaran GK tentang diluar Gereja (katolik) tidak ada keselamatan (Extra Ecclesiam Nulla Salus) adalah salah satu dari Ajaran GK (yg sangat alkitabiah) yg mencerminkan anti-relativisme iman. (tidak akan saya bahas lebih lanjut di topik ini)
Ajaran Keselamatan ini tidak bertentangan dengan ajaran toleransi GK.

Dalam KS kita menemukan banyak hal ttg bagaimana kita harus bersikap kepada orang yg "berbeda", misalnya cerita tentang "Orang Samaria yg baik hati", dan yg lebih lagi adalah ajaran Yesus: Barang siapa berbuat bagi saudaraku yg paling hina ini (bukan seiman, sebangsa, etc) telah melakukan untuk Aku!

Ajaran Yesus ini secara lebih mendetail di ungkapkan oleh GK dalam konsili Vatikan II dengan diterbitkannya: Ajaran Sosial Gereja (ASG)

Saya memang tidak akan membahas lebih dalam ttg Ajaran Sosial Gereja atau Ajaran GK dari KS yg menyatakan toleransi secara lebih mendalam (silakan kalau memang ada yg ingin membahasnya, bisa juga di topik ini)
Tetapi yg akan saya utarakan adalah:
Bagi kita, umat katolik, akal budi dan toleransi mengharuskan adanya iman katolik yg benar, karena tanpa iman katolik yg benar akan terjerumus dalam "relativisme iman" yang dinyatakan sesat oleh GK.
Iman yg benar bukan hanya cukup dengan apa yg diungkapkan dalam credo: aku percaya tetapi juga ttg pemahaman yg benar akan Ajaran-Ajaran GK dan juga Sejarah GK yg telah berziarah di dunia ini lebih dari 2000 tahun.

Semoga hal ini membantu meningkatkan iman sekaligus toleransi kita sebagai umat Katolik!


Salam
Jebling
 
Ajaran GK tentang diluar Gereja (katolik) tidak ada keselamatan (Extra Ecclesiam Nulla Salus) adalah salah satu dari Ajaran GK (yg sangat alkitabiah) yg mencerminkan anti-relativisme iman. (tidak akan saya bahas lebih lanjut di topik ini)
Ajaran Keselamatan ini tidak bertentangan dengan ajaran toleransi GK.

Benar bro....dan ajaran tersebut masih berlaku hingga kini

Dalam KS kita menemukan banyak hal ttg bagaimana kita harus bersikap kepada orang yg "berbeda", misalnya cerita tentang "Orang Samaria yg baik hati", dan yg lebih lagi adalah ajaran Yesus: Barang siapa berbuat bagi saudaraku yg paling hina ini (bukan seiman, sebangsa, etc) telah melakukan untuk Aku!
.

Berbuat di sini ada dua macam, berbuat kebaikan atau sebaliknya berbuat kejahatan. Apapun yg telah kita perbuat pada konteks seperti yg dikutip bro jebling, sama saja kita telah perbuat pada Yesus.


Salam damai
 
Salam Damai

Setelah topik2 "panas" yg keras dan sensitif karena membongkar "aib" Gereja, yg dituduhkan oleh pihak2 tertentu secara "terstruktur" dengan tendensi memojokkan Gereja Katolik (GK) hingga saat ini, sekarang kita akan mencoba membahas masalah yg lebih adem.

Sehubungan dengan pernyataanmu di atas, topik2 yang dibuat sebagai usaha untuk memojokkan GK Kudus merupakan salah satu contoh sebagian orang yang secara tidak langsung "mempertentangkan" satu sama lain antara iman, akal budi, dan hati nurani [tidak disinergikan] :) Akibat dari itu suatu yang bersifat kodrati berupaya untuk mengkoreksi suatu hal yang adikodrati.

Untuk itu, marilah kita mencoba melihat apa yg dikatakan Paus Yohanes Paulus II dan juga Kardinal Yoseph Ratzinger, sebelum beliau dipilih menggantikan pendahulunya tersebut.

Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 14 September 1998 mengumumkan secara resmi ensiklik kepausan: Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi yang membahas hubungan antara iman dan akal budi.

Sri Paus percaya bahwa iman dan akal budi tidak hanya sepadan, namun penting bagi satu dengan yang lain. Iman tanpa akal budi, ia berargumen, akan menjurus pada ketakhyulan (superstisi). Akal budi tanpa iman akan menjurus pada paham Nihilisme dan Relativisme.

Suatu yang sangat ok sekali Jembling :) Dalam surat ensiklik Paus di atas, ada suatu hal yang ingin saya angkat untuk menjadi perhatian kita bersama. Dalam ensiklik tsb juga ada tertulis:

"akal budi dan iman adalah seperti dua sayap dimana roh manusia naik untuk mencapai kontemplasi kebenarandan Tuhan telah menempatkan di dalam hati manusia keinginan untuk mengetahui kebenaran- yaitu untuk mengenal dirinya sendiri- sehingga dengan mengenal dan mengasihi Allah- semua orang, pria dan wanita -dapat juga sampai pada kepenuhan kebenaran tentang diri mereka sendiri.

Tujuan Allah memberikan akal budi kepada manusia termasuk suara hati adalah bukan untuk mempertentangkan atau bahkan mencoba mereduksi iman yang merupakan kebenaran abolute dengan akal budi atau perasaan manusia. Seperti yang dikatakan oleh Paus, Akal Budi manusia seharusnya digunakan untuk oleh manusia untuk menjadi alat melakukan KONTEMPLASI KEBENARAN. Akal budi harus digunakan secara sungguh-sungguh dalam mempelajari iman Katholik. Walaupun mempelajari iman Katolik membutuhkan banyak waktu, mengingat banyaknya sumber yang harus dipelajari, -seperti dari kitab suci, dokumen-dokumen Gereja, tulisan para Bapa Gereja dan Para Kudus, dll - namun ini merupakan hal yang sangat berguna dan tidak dapat diukur manfaatnya bagi keselamatan jiwa kita. Suatu kenyataan yang harusnya mendorong kita adalah bagaimana saudara-saudari kita dari agama Kristen lain yang justru kembali ke pangkuan Gereja Katolik setelah mempelajari ‘kekayaan iman’ tersebut. Padahal kita sendiri yang Katolik belum tentu mengetahui dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dan yang paling menyedihkan lagi, kadang kala dengan pengetahuan kita yang minim, sebatas menggunakan akal yang terbatas dengan informasi, menggunakan perasaan manusia [yang sangat relatif dan sangat tergantung dari frame of reference] kita mengkritisi dan mencoba untuk memojokkan Iman Katholik kita sendiri....hanya karena suatu hal yang tidak diketahui dengan pasti oleh kita sendiri :(

Mempelajari iman kita [Katholik] adalah suatu bentuk kerendahan hati, yang dimulai dari sikap ketaatan, menerima pernyataan wahyu Allah yang dipercayakan oleh Yesus Kristus kepada Gereja-Nya. Jika ada pengajaran yang belum kita mengerti, kita mohon karunia Roh Kudus untuk membimbing kita, namun kita harus percaya bahwa Roh Kudus itu telah lebih dahulu bekerja pada para Rasul dan kini terus bekerja di dalam para pengganti mereka, sehingga dengan kerendahan hati kita harus menerima sepenuhnya pengajaran Gereja. Dengan sikap ini, tentulah pada waktuNya, Tuhan akan membantu kita memahami pengajaran tersebut.

Jd kesimpulannya akan ada tiga hal yang penting bagi kita sendiri sebagai umat Katholik:

Pertama, kenali imanmu, sayangilah Tuhan dan Gerejamu, kedua, hiduplah sesuai dengan imanmu dan ketiga, sebarkanlah imanmu.

Dalam konteks dialog antar-agama, sebuah sikap yang bisa muncul adalah sikap yang begitu saja menganggap bahwa semua iman itu sama. Sikap semacam ini mengidentikkan “toleransi” dengan “relativisme”. Toleransi (Latin: tollerare, berarti �mengangkat�) adalah sikap yang memperlihatkan kesediaan tulus untuk mengangkat, memikul, menopang bersama perbedaan yang ada antara satu agama dan agama lain. Relativisme adalah sikap yang yakin bahwa segala sesuatu adalah relatif; bahwa segala sesuatu ditentukan bukan oleh apa yang ada dalam dirinya sendiri, melainkan oleh hubungan (Latin: relatio) antara sesuatu dan sesuatu yang lain.

Relativisme iman adalah sikap yang menghayati iman bukan dengan keyakinan akan apa yang ada dalam kekayaan iman tertentu, melainkan dengan pemutlakan adanya hubungan dengan iman lain. Relativisme menomorduakan gerakan ke arah dalam karena terus menyibukkan diri dengan pandangan ke arah luar. Relativisme menghindari kejujuran untuk melihat ke-khas-an yang berbeda di dalam karena terus mencoba menemukan ke-umum-an yang sama di luar.


Sebuah dialog antar-agama yang sejati tidak mungkin ada tanpa sebuah keyakinan akan apa yang ada di dalam kekayaan iman tertentu. Dengan kata lain, relativisme iman, dalam bentuknya yang paling ekstrem, justru akan membawa orang pada sebuah keengganan, atau bahkan ketakutan, untuk berpegang pada komitmen imannya. Tanpa sebuah komitmen iman ke dalam, tidak mungkin seseorang bisa menopang bersama apa yang ada di luar. Relativisme iman, dengan demikian, justru merupakan musuh terbesar yang bisa menghambat terciptanya sebuah toleransi antar-agama yang sejati.
[/COLOR]

Sebuah uraian yg sangat lengkap sudah diungkapkan Paus Yohanes Paulus II dan Kardinal Yoseph Ratzinger, tentang bagaimana kita harus mendudukkan Iman yg benar dalam hubungannya dengan dialog dan toleransi kehidupan beragama.

Yang menjadi pertanyaan adalah:
Apakah Iman yg benar mendukung dialog dan toleransi kehidupan beragama?
Jawaban saya: Belum tentu!
Tetapi apabila pertanyaan tersebut diganti demikian:
Apakah Iman katolik yg benar mendukung dialog dan toleransi kehidupan beragama?
Jawaban saya: Ya!
Karena Ajaran GK yg benar tidak mendukung antitoleransi sekaligus juga tidak mendukung Relativisme Iman

Ajaran GK tentang diluar Gereja (katolik) tidak ada keselamatan (Extra Ecclesiam Nulla Salus) adalah salah satu dari Ajaran GK (yg sangat alkitabiah) yg mencerminkan anti-relativisme iman. (tidak akan saya bahas lebih lanjut di topik ini)
Ajaran Keselamatan ini tidak bertentangan dengan ajaran toleransi GK.

Dalam KS kita menemukan banyak hal ttg bagaimana kita harus bersikap kepada orang yg "berbeda", misalnya cerita tentang "Orang Samaria yg baik hati", dan yg lebih lagi adalah ajaran Yesus: Barang siapa berbuat bagi saudaraku yg paling hina ini (bukan seiman, sebangsa, etc) telah melakukan untuk Aku!

Waduh...saya sangat setuju sekali dengan tulisanmu jebling :)

Semoga hal ini membantu meningkatkan iman sekaligus toleransi kita sebagai umat Katolik!

Amin.

Salam
Rafa02
 
Sehubungan dengan pernyataanmu di atas, topik2 yang dibuat sebagai usaha untuk memojokkan GK Kudus merupakan salah satu contoh sebagian orang yang secara tidak langsung "mempertentangkan" satu sama lain antara iman, akal budi, dan hati nurani [tidak disinergikan] :) Akibat dari itu suatu yang bersifat kodrati berupaya untuk mengkoreksi suatu hal yang adikodrati.
Setuju sekali denganmu, Rafa
Mungkin contoh pernyataanmu bahwa suatu yg bersifat kodrati berupaya untuk mengkoreksi suatu hal yg adikodrati adlah apa yg dilakukan oleh Friedrich Nietzsche tentang Nihilisme.

Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.

Perumpamaan sederhana adalah seperti ini:
Saya mempunyai kulit yg berbeda (lebih coklat) dibandingkan 3 orang sadara saya. Nihilisme menyimpulkan bahwa saya bukanlah anak dari kedua orang tua saya, yg juga menjadi kedua orang tua saudara2 saya tsb.
Maka, orang2 yg berteori semacam ini pasti akan segera mendapatkan the best punch dari saya dan saudara2 saya, karena kenyataannya kami berempat adalah benar lahir dari buah cinta kedua orang tua kami!

Agar tidak sampai kepada kesimpulan2 yg tidak benar seperti diatas dibutuhkanlah peranan Iman yg benar.

Mempelajari iman kita [Katholik] adalah suatu bentuk kerendahan hati, yang dimulai dari sikap ketaatan, menerima pernyataan wahyu Allah yang dipercayakan oleh Yesus Kristus kepada Gereja-Nya. Jika ada pengajaran yang belum kita mengerti, kita mohon karunia Roh Kudus untuk membimbing kita, namun kita harus percaya bahwa Roh Kudus itu telah lebih dahulu bekerja pada para Rasul dan kini terus bekerja di dalam para pengganti mereka, sehingga dengan kerendahan hati kita harus menerima sepenuhnya pengajaran Gereja. Dengan sikap ini, tentulah pada waktuNya, Tuhan akan membantu kita memahami pengajaran tersebut.
Justru ketaatan inilah yg paling sulit dilakukan!
Cobalah iseng2 nanya ke Pastor, Bruder, Suster yg terikat dengan kaul.
Biasanya mereka berkaul 3 hal: Kemiskinan, Kemurnian dan Ketaatan
Dan dari ketiga hal itu yg paling sulit dilakukan sehingga paling sering menjadi alasan untuk menanggalkan jubah adalah Ketaatan, bukan kemiskinan atau kemurnian.
Apalagi bagi kita, orang awam seperti ini, yg berdoa pun kalau ingat, ketaatan akan menjadi hal yg sukar dilakukan.

Jd kesimpulannya akan ada tiga hal yang penting bagi kita sendiri sebagai umat Katholik:

Pertama, kenali imanmu, sayangilah Tuhan dan Gerejamu, kedua, hiduplah sesuai dengan imanmu dan ketiga, sebarkanlah imanmu.
Jangan takut, imanmu (iman katolik) tidak akan pernah bertentangan dengan toleransi dan kemanusiaan! Walaupun kadang terasa keras.


Salam
Jebling
 
Saya ingin mengangkat topik ini supaya Bro Medy bisa membacanya.

Bro Medy kan suka jajan di gereja lain.
 
Saya ingin mengangkat topik ini supaya Bro Medy bisa membacanya.

Bro Medy kan suka jajan di gereja lain.
Saya rasa, masih banyak juga member atau pembaca yg seperti member Medy..... dulupun saya begitu, bahkan lebih parah!
Tetapi saya sadari bahwa dengan menerima Ajaran Gereja Katolik secara benar, tidak akan pernah bertentangan dengan prinsip toleransi yg juga diajarkan oleh Gereja Katolik.
Sampai saat ini, teman2 saya masih sama dan semakin bertambah banyak justru teman dari agama lain.
Kami semua menghormati hak mereka untuk memeluk agama yg lain dengan saya, menghormati ibadah mereka, dan bekerja sama untuk membangun hidup bersama yg lebih baik.
Tetapi saya tetap menjaga Ajaran Gereja Katolik, dan merekapun tahu itu.
Tidak masalah, selama kita tidak memaksakan ajaran Gereja Katolik kepada mereka dalam tata kehidupan bersama.
Kecuali di forum ini, saya rasa yg non-katolik memang harus tunduk pada Ajaran Gereja Katolik.... Namanya juga Forum Religi Katolik!


Salam
Jebling
 
Kami semua menghormati hak mereka untuk memeluk agama yg lain dengan saya, menghormati ibadah mereka, dan bekerja sama untuk membangun hidup bersama yg lebih baik.
Ketika ada timbul kesadaran untuk bersatu (ada ngga sebetulnya keinginan untuk bersatu itu sih ? :P) dari perbedaan perbedaan yg ada, maka sebetulnya harus secara sadar dari ke dua belah pihak untuk menyadari adanya perbedaan terlebih dahulu.

Tanpa melihat adanya perbedaan perbedaan atau berpura pura sama mustahil akan bersatu dan kita akan terus berpecah pecah, sungguh di sayangkan.

1 Kor
1:10 Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir
 
Ketika ada timbul kesadaran untuk bersatu (ada ngga sebetulnya keinginan untuk bersatu itu sih ? :P) dari perbedaan perbedaan yg ada, maka sebetulnya harus secara sadar dari ke dua belah pihak untuk menyadari adanya perbedaan terlebih dahulu.
Benar Bos...
Kita masing2 harus menyadari bahwa kita berbeda dengan yg lain!
Oleh karenanya kita harus menghormati keberbedaan tersebut.

Memang ada orang/kelompok yg alergi terhadap perbedaan, sukanya maen hantam sana-sini!

Ada juga yg takut akan perbedaan, jenis ini yg biasanya terjatuh dalam relativisme.

Yg paling benar adalah orang/kelompok yg sadar akan perbedaan tetapi tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai penghalang untuk hidup bersama.
Walaupun relatif lebih sedikit, tetapi kelompok ini semakin berkembang!


Salam
Jebling
 
Sundul lagi dan mudah2an gak bikin kepala benjol :D (bagi yang mengerti hendaklah mengerti bagi yang tidak gak kenapa2 juga :D )

Tidak masalah, selama kita tidak memaksakan ajaran Gereja Katolik kepada mereka dalam tata kehidupan bersama.

Dalam iman Katholik memang sudah tertulis secara jelas mengenai masalah toleransi. Ide dasarnya adalah bahwa tak ada manusia yang bisa memiliki kebenaran utuh maupun cara menemukan kebenaran secara sempurna. Pencarian kebenaran adalah suatu proses yang panjang bagi manusia sebagai proses yang kompleks, tidak instant. Bagi kita yang sudah beragama Katholik, kita sudah diberikan rahmat keselamatan dan kita patut mensyukuri hal tersebut, namun di sisi lain sesuai dengan tulisan sebelumnya sudah pantas dan layaklah kita sebagai manusia terus berusaha mengusung toleransi seperti yang diajarkan iman Katholik kepada orang2 yang belum menemukan KEBENARAN SEJATI, namun tetap berpegang pada pilar kebenaran (Ef 4:15).

Selain itu toleransi diperlukan agar suara hati masing-masing orang dapat berfungsi secara wajar dan saling dihargai.

Dalam Katekismus Gereja Katolik telah ditulis:

160 (Kebebasan iman)

Supaya iman itu manusiawi, "manusia wajib secara sukarela menjawab Allah dengan beriman; maka dari itu tak seorang pun boleh dipaksa melawan kemauannya sendiri untuk memeluk iman. Sebab pada hakikatnya kita menyatakan iman kita dengan kehendak yang bebas" (DH 10). "Allah memanggil manusia untuk mengabdi diriNya dalam roh dan kebenaran. Maka ia juga terikat dalam suara hati, tetapi tidak dipaksa ... Adapun itu nampak paling unggul dalam Kristus Yesus" (DH 11). Kristus memang mengundang untuk beriman dan bertobat, tetapi sama sekali tidak memaksa, "Sebab Ia memberi kesaksian akan kebenaran, tetapi tidak mau memaksakan kepada mereka yang membantahnya. KerajaanNya tidak dibela dengan menghantam dengan kekerasan, tetapi dikukuhkan dengan memberikan kesaksian akan kebenaran serta mendengarkannya. Kerajaan itu berkembang karena cinta kasih, cara Kristus yang ditinggikan di salib menarik manusia kepada diriNya" (DH 11).



Pemaksaan kepada orang lain untuk melawan hati nuraninya adalah suatu DOSA, dan itu bukanlah suatu hal yang disukai Allah!

Kecuali di forum ini, saya rasa yg non-katolik memang harus tunduk pada Ajaran Gereja Katolik.... Namanya juga Forum Religi Katolik!

Nah ini dia neh....(mudah2an kepalaku gak benjol) :D Saya sangat setuju sekali dengan tulisan di atas dari Bang Jebling, karena dalam suatu toleransi tetap ada suatu batasan sehingga tidak jatuh dalam penurunan harkat, martabat, dan kewibaan iman suatu kebenaran. Toleransi menjadi suatu masalah pada saat ada seseorang / oknum yang mencoba menggunakan "kebaikan" toleransi untuk melakukan "pemaksaan iman kepada orang lain" entah dengan cara yang kasar/terang-terangan/ mungkin dengan cara halus namun terselubung. Yang lebih menyedihkan lagi...banyak orang yang kurang memahami makna dan batasan dari kata toleransi tersebut. Saya rasa kita disini mencoba mengusung pemahaman ini dalam berdiskusi dengan rekan2 lain yang non-Katholik:

"Cinta pada Tuhan (tanpa batas) dan cinta sesama meminta toleransi sampai batin" :D

Saya teringat dengan kata2 St. Thomas Aquinas yang mengatakan sebagai berikut "menerima iman itu bebas, namun melaksanakan apa yang sudah dipilih itu wajib". Adalah suatu hal yang benar bagi kami mempertanggung jawabkan iman yang ada pada kami. Di sisi lain seperti yang disampaikan oleh Bang Jebling (Kecuali di forum ini, saya rasa yg non-katolik memang harus tunduk pada Ajaran Gereja Katolik.... Namanya juga Forum Religi Katolik!)...saya rasa yang merasa dirinya non-Katholik harus memahami hal ini lebih jauh saat berdiskusi di forum religi Katolik.....bukan karena kami tidak toleran, namun karena rekan2 non-katholik juga terikat pada pilihan yang sudah anda buat sendiri....pada saat anda memilih untuk berdiskusi di Forum Religi Katholik, saya rasa sudah layak dan pantas...rekan2 lain menghormati ajaran dan iman Katholik, juga prosedur dari Forum ini....

Masalahnya memang banyak dari kita (termasuk saya tentunya ::D ), masih harus berusaha untuk semakin baik dalam berdiskusi seperti yang disampaikan St. Petrus:

1 Petrus 3:15-16
Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.


sehingga tidak juga melanggar aturan Forum...karena ini juga merupakan pilihan kami berdiskusi di sini.

Benar Bos...
Kita masing2 harus menyadari bahwa kita berbeda dengan yg lain!
Oleh karenanya kita harus menghormati keberbedaan tersebut.

Memang ada orang/kelompok yg alergi terhadap perbedaan, sukanya maen hantam sana-sini!

Ada juga yg takut akan perbedaan, jenis ini yg biasanya terjatuh dalam relativisme.

Yg paling benar adalah orang/kelompok yg sadar akan perbedaan tetapi tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai penghalang untuk hidup bersama.
Walaupun relatif lebih sedikit, tetapi kelompok ini semakin berkembang.

Bisa dikatakan manusia yang tidak menyukai dan tidak ingin menjalankan toleransi dalam kehidupannya adalah suatu PELANGGARAN KODRAT! Sebab setiap manusia dari kodratnya sendiri memang setara. Bila ingin ditarik lebih jauh dari penciptaan manusia, Allah sendiri sudah menanamkan benih toleransi kepada kita....penghargaan kepada binatang, tumbuhan, alam, bahkan termasuk pada jenis kelamin yang berbeda.

Sebagai Pencipta, Allah sendiri menunjukkan bahwa toleransi bukanlah suatu hal yang salah. Toleransi Allah yang sangat sungguh luarbiasa sendiri ditunjukkan oleh-Nya dimana manusia diberikan Allah kesempatan untuk memilih akan berbuat baik dan memihak Allah, ataukah berbuat jahat dan menolak Allah. Dengan demikian kemungkinan bahwa melakukan dosa dan kejahatan (jadi "menolak Allah") itu memang ditolerir Allah yang mahabaik, atas dasar cintanya kepada kebebasan manusia. Sebab hanya dengan kebebasan itulah manusia pantas menjadi ciptaan Allah. Bahwa terbuka kernungkinan manusia memilih menolak Tuhan, itu risiko yang diambil Tuhan dengan menciptakan manusia berbudi. Namun apakah artinya Allah melepaskan begitu saja pilihan manusia tsb?......Tentu saja Tidak! Pilihan akhir manusia mengandung suatu KONSEKUENSI...manusia yang menentukan sendiri jalan yang akan dipilih...Heaven or Hell.

Allah tau akan konsekuensi pemberikan Free Will, dari pilihan manusia yang bertentangan dari kebaikan (suatu yang dilakukan manusia dalam konteks dosa) tidak akan bisa menghentikan Allah untuk membuat suatu menjadi baik bahkan dari dosa pilihan manusia..dari dosa manusia terjadi penebusan lewat kesediaan Allah memberi toleransi kepada manusia untuk memilih berbuat kejahatan dan kedosaan daripada selalu berbuat baik :D

Terakhir saya ingin mengutip tulisan dari Paus Leo XIII dimana tertulis dalam Ensiklik 'Immortale Dei' (1885) dikatakan:

"orang tak mempunyai dasar untuk menentang toleransi atau secara serampangan mendukung toleransi yang "adil"


Salam,
Rafa02
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.