• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

umur di akherat

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. noobee
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

noobee

IndoForum Newbie F
No. Urut
52497
Sejak
12 Sep 2008
Pesan
17
Nilai reaksi
0
Poin
1
gua orang atheist yg tak beragama

skarang gua bingung, menurut agama hindu kalau hidup di surga atau neraka rupa kita itu kira kira terlihat umur berapa?
 
Klo Menurut gw sih rupa kita, yah seperti pas mau meninggal. tau bener apa salah!?, monggo the master di jawab
 
gua orang atheist yg tak beragama

skarang gua bingung, menurut agama hindu kalau hidup di surga atau neraka rupa kita itu kira kira terlihat umur berapa?

Pujangga menyimpulkan “VASU DEVA KUTUMBKAM” – seluruh umat manusia ini bagaikan satu keluarga besar.
Kesimpulan ini setelah melihat bahwa tujuan hidup setiap orang itu sama – Ketenangan, Ketentraman, Kedamaian…, Moksa.

Pikiran membuat tubuh beraktivitas dan hasil aktivitas itu mempengaruhi roh. Pada manusia yang mati stula sarira hancur (karena ditanam maupun di bakar) namun sukma sarira / jiwatman tidak. Roh yang dibungkus pikiran lepas bagaikan udara yang dibungkus kembungan.

Saat meninggal berujud : Suratman
Dalam kondisi ini Roh masih dibungkus kuat oleh pikiran keduniawian atau disebut sebagai masih terikat (belum bebas) maka penyatuan atman dengan brahman tidak terjadi.
Dalam keadaan ini atman akan menjelma kembali (reinkarnasi) berulang-ulang.

Roh yang tiada lain adalah atman selalu berusaha menyatu dengan Brahman (Hyang Widhi) yang suci.

Penyatuan ini bisa terjadi bila roh terlepas dari ikatan pikiran keduniawian. Bila hal itu terjadi (ibarat udara dalam kembungan yang menyatu dengan udara bebas) yang disebut sebagai "amoring acintya" atau MOKSA

Jadi bentuk di Sorga atau Neraka sangat ditentukan oleh 'sari-sari pikiran' yang membungkus Roh / Atman.

Artinya bila semasa hidup pikiran senang berbuat amoral dapat dengan mudah menggerakkan tubuh berbuat amoral sehingga memuaskan pikiran, maka ketika sudah mati pikiran inipun ingin tetap berbuat amoral tetapi tidak ada tubuh yang bisa diperintah beraktivitas maka dalam keadaan demikian pikiran menderita; itulah yang disebut neraka.

Bentuk berasal dari Pikiran, maka dari itu 'Kendalikanlah Pikiran !'
Kendali pikiran terdapat pada tulang punggung dan sejajar dengan letaknya bhrumadya/Kening. Secara umum disebut Ajna Chakra (di antara alis) memiliki dua daun bunga, itulah pengendali pikiran.
 
Yang Muslim boleh ikut jawab di sini ya, Saya tertarik dengan pertanyaannya dan jg krn sang penanya seorang Atheis? klo dari forum Hindu memperkenankan menjawab saya jawab, klo nggak mohon penanya masuk thread baru di/posting lg di forum Islam insyaallah saya bantu menjawab. Klo kurang berkenan saya mohon maaf sebesar-besarnya terima kasi.>:D<
 
Yang Muslim boleh ikut jawab di sini ya, Saya tertarik dengan pertanyaannya dan jg krn sang penanya seorang Atheis? klo dari forum Hindu memperkenankan menjawab saya jawab, klo nggak mohon penanya masuk thread baru di/posting lg di forum Islam insyaallah saya bantu menjawab. Klo kurang berkenan saya mohon maaf sebesar-besarnya terima kasi.>:D<

di forum islam Ts nya juga bertanya hal yg sama...lihat saja di forum islam
 
Bentuk berasal dari Pikiran, maka dari itu 'Kendalikanlah Pikiran !'


wow menurut saya ini jawaban yg scientific...
jawabannya bagus masuk akal karena saya pikir kalau pikiran kita senang, kita akan awet muda, kalau kita stress kita bsa cepat mengkerut

tapi biar gimana pun kalau umur berubah wujud pun berubah.
 
Pertanyaan nya sekarang adalah Siapa Pikiran itu siapa yang mengendalikannya.

Klo Pikiran itu dikendalikan Oleh Kita, dimana dalam diri kita terdapat sinar Suci Tuhan Yang disebut Atman, Kenapa Pikiran Kita bisa memikirkan hal yang tidak baik?
Have You Got The idea.

Mohon Jawabannya
 
Bentuk berasal dari Pikiran, maka dari itu 'Kendalikanlah Pikiran !'
Kendali pikiran terdapat pada tulang punggung dan sejajar dengan letaknya bhrumadya/Kening. Secara umum disebut Ajna Chakra (di antara alis) memiliki dua daun bunga, itulah pengendali pikiran.
maaf bingung..

kalo dibilang mengendalikan pikiran..
berati pikiran sndiri masih ada donk ?

kalo pikiran masih ada, berati masi bisa berpikir..
kalo masih bisa berpikir berati masih mgkin bereinkarnasi .. ?

Kemudian saat dibilang mengendalikan pikiran..pikiran itu yg seperti apa ?
siapa yg mengendalikan ? bukannya yg mengendalikan pikiran itu juga pikiran ? /?

berpikir + berpikir = mikir2.. /heh
 
sorry ya pertanyaannya jadi complicated skrg...

saya udah mikirin pertanyaan ini dari 2-3 tahun lalu tp sampai skarang blom ada jawaban pasti
 
Pikiran dalam hati kita tak akan mungkin membawa kita lebih dari suatu dimensi kejiwaan, tetapi Atman dapat menghubungkan kita ke Yang Maha Esa yaitu Brahman.

Bhagavat Gita: “Oh Arjuna yang gagah perkasa! Seperti samudra yang tenang walaupun sungai-sungai menuju kearahnya dari berbagai jurusan maka seharusnya sikap seorang yang telah mengendalikan dirinya, berdiri tenang tanpa harus terusik oleh segala nafsu yang masuk ke dirinya. Hanya manusia semacam itulah yang akan mencapai kedamaian, bukan yang selalu mengikuti hawa nafsunya.

Manusia akan mencapai kedamaian/ketenangan hatinya kalau ia mengesampingkan semua nafsu-nafsunya, dan bekerja tanpa suatu ikatan atau keinginan, tanpa merasa bahwa ini “aku yang berbuat” dan “itu adalah milikku.”

Mengendalikan pikiran untuk “Menguasai dirimu sendiri dengan Dirimu (Atman) sendiri, hancurkanlah musuhmu yang bernama nafsu, musuh yang paling sukar untuk ditaklukkan.”

Di dalam ajaran Buddha kita juga menemukan sabda Sang Buddha seperti berikut ini:
Seseorang harus meninggalkan amarahnya,
Seseorang harus meninggalkan kesombongannya.
Seseorang harus melepaskan semua keterikatannya
Karena penderitaan tidak akan pernah singgah
Pada seseorang yang tidak terikat pada nama dan
Kemashyuran, atau pada ia yang tidak pernah merasa
Memiliki sesuatu apapun juga.


Lalu bagaimana seseorang dapat mencapai tingkat kesadaran semacam ini?

Caranya adalah dengan menggabungkan daya-intelek (Buddhi) kita dengan jalan pikiran kita.
Setelah intelek kita sadar bahwa semua unsur dualisme yang kelihatannya amat berlawanan ini seberarnya sama saja, dan hanya merupakan permainan pikiran kita belaka, maka secara tahap demi tanpa kesadaran kita akan meningkat dan kita akan melaju ke arah Yang Maha Esa dengan baik, dan jadilah kita seorang Buddhi-Yukta (seorang yang telah mencapai kesadaran).

Seorang Buddhi-Yukta yang baik adalah ia yang telah berhasil mengendalikan hawa-nafsunya yang bersifat aneka-ragam. Ia juga adalah seorang yang bersikap sama dan tenang dalam setiap keberhasilan maupun kegagalan, bersikap tenang dalam segala tugas-tugasnya, dan tidak memiliki ambisi pribadi tertentu atau nafsu duniawi lagi.
Semua perbuatannya sudah menjadi kewajibannya untuk Yang Maha Esa semata.
Seseorang semacam ini tidak perlu harus dapat melihat Sang Atman yang bersemayam di dalam dirinya, tetap sudah pasti ia akan dapat merasakan kehadiran Sang Atman ini.

Seorang Buddhi-Yukta yang sempurna akan selalu tenang tindak-tanduknya, dan stabil jiwanya, akibat dari pengaruh Sang Atman yang bersemayam di dalam dirinya.
 
gua orang atheist yg tak beragama

skarang gua bingung, menurut agama hindu kalau hidup di surga atau neraka rupa kita itu kira kira terlihat umur berapa?

sy pernah bc buku berkeliling alam neraka dari agama Budha. Yg tersiksa disana adalah memiliki rupa spt saat terakhir dia meninggal.

Hanya saja, dineraka sipembuat dosa akan mati -bahkan- sampai beberapa kali sehari. Setelah mati karena siksaan, akan dihidupkan kembali, lalu mati lagi, trus hidup lagi, demikian seterusnya sampai masa hukuman selesai.

Kl hidup disurga jg sama, rupanya sama spt saat terakhir dia meninggal. Hanya saja akan tampak jauh lebih agung dan harum daripada saat ia hidup didunia.

Yak, kalo dipandang dari segi Budhisme, rupa disurga dan neraka adalah sama spt kala terakhir ia meninggal.

Bagi agama lain yg punya versi yg lain sy siap mendengarkan dengan baik :)
 
Roh yang tiada lain adalah Atman selalu berusaha menyatu dengan Brahman.

Penyatuan ini bisa terjadi bila roh terlepas dari ikatan pikiran keduniawian. Bila hal itu terjadi (ibarat udara dalam kembungan yang menyatu dengan udara bebas) yang disebut sebagai "amoring acintya" atau MOKSA
. Inilah tujuan utama Umat Hindu.

Saat meninggal berujud : Suratman
Dalam kondisi ini Roh masih dibungkus kuat oleh pikiran keduniawian atau disebut sebagai masih terikat (belum bebas) maka penyatuan atman dengan brahman tidak terjadi. Dalam keadaan ini atman akan menjelma kembali (reinkarnasi) berulang-ulang dan Bumilah sebagai tempat kembali untuk menempuh jalan menuju kebebasan abadi.

Bumi adalah pertengahan antara surga dan nekara, sehingga dua sisi kehidupan itulah yang ada di permukaan bumi ini (Rwabineda selalu ada yaitu siang-malam, hidup-mati, baik-buruk, pro – kontra dan lain sebagainya + dan - ).

Disinilah manusia dibebaskan untuk menuju sorga dan neraka.


Uraian tentang Neraka


Planet-planet Neraka merupakan destinasi bagi mereka yang ber-ajal untuk mengalami penderitaan sebagai pahala atas segala kegiatan mereka yang jahat dan keji, tentu saja jika orang-orang bisa memutuskan/memilih, untuk diri mereka sendiri, apakah akan pergi ke neraka atau tidak, maka tak seorang pun memilih pergi kesana.
Tapi sayangnya kita tak bisa memilih, dan hal ini tergantung pada otoritas-otoritas yang lebih tinggi, yang menyaksikan dan menghakimi segala tindakan kita.

Ada kesalah-kaprahan umum diantara banyak orang bahwa sepanjang apa yang kita lakukan tidak membahayakan seseorang atau tak terlihat siapa pun, maka kita bebas melakukan segala hal yang kita inginkan.
Namun kitab Veda menekankan bahwa, “matahari, api, angkasa, udara, para dewa, bulan, senja, malam, siang, segala-arah, air, tanah, dan Roh Yang Utama (Paramatma) Sendiri semuanya menyaksikan segala kegiatan Makhluk hidup. ” (bhag.6.1.42) menurut saksi-saksi ini, makhluk hidup tak dapat pergi kemana pun dimana tak ada yang melihat apa yang dilakukannya.

Penguasa planet-planet neraka dan pengatur akhirat-afterlife mereka yang diajalkan untuk menghuni wilayah alam-semesta yang lebih gelap ini adalah Yamaraja. Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa Yamaraj tinggal di Pitriloka bersama pelayan-pelayan pribadinya dan sambil menerapkan aturan dan peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan

Yang Maha Kuasa, memiliki agen-agen yang bernama Yamadhuta (para bala tentara Yamaraja), menyeret semua orang-orang berdosa padanya segera setelah mereka mengalami kematian.
Setelah mereka membawa ke pengadilanya, beliau menghakimi secara pantas mereka sesuai kegiatan berdosa khusus mereka dan mengirim mereka ke salah satu planet-planet neraka untuk hukuman yang cocok.

“Beberapa otoritas mengatakan bahwa ada total 21 planet neraka, dan beberapa mengatakan 28. nama-nama planet neraka itu adalah : Tamisra, Andhatamisra, Raurava, Maharaurava, Kumbhipaka, Kalasutra, Asipatravana, Sukaramukha, Andhakupa, Krmibhojana, Sandamsa, Taptasurmi, Vajrakanttaka-salmali, Vaitrani, Puyoda, Pranarodha, Visasana, Lalabhaksa, Sarameyadana, Avici, Ayahpana, Ksarakardama, Raksogana-bhojana, Sulaprota, Dandasuka, Avatanirodhana, Paryavartana da Sucimukha. Semua planet-planet neraka ini dimaksudkan sebagai tempat hukuman bagi makhluk hidup.” (Bhag. 5.26.7)

Diseluruh literature Veda, khususnya di dalam kitab-kitab Purana, ada uraian mengenai planet-plnaet neraka ini, tetapi sekurang-kurangnya kita dapat melihat tempat semacam apakah neraka itu dan orang-orang macam apa saja yang diangkut kesana.

Seseorang yang mengambil alih istri sah, anak-anak atau uang orang lain diseret pada saat kematian, oleh Yamadhuta yang menakutkan, yang mengikatnya dengan tali waktu dan melemparkannya dengan paksa kedalam planet-planet neraka yang bernama Tamisra.
Di planet yang gelap ini, orang-orang berdosa di hukum oleh para Yamadhuta, yang memukuli dan memarahinya. Dia menderita kelaparan, dan ia tak diberikan air untuk diminum. Demikianlah para asisten Yamaraj yang penuh murka, membuatnya menderita, dan kadang-kadang ia jatuh pingsan menerima berbagai siksaan mereka.
” (Bhag.5.26.8).

Di dalam kehidupan ini, orang-orang melakukan kekerasan terhadap para makhluk hidup. Oleh karena itu, setelah kematian, ketika ia di seret ke nerka oleh Yamaraj, para maklhuk hidup itu yang dulu ia sakiti muncul sebagai binatang yang bernama ruru untuk memberikan rasa yang amat sakit padanya. Orang terpelajar menyebut neraka ini Raurava. Hewan ini tak dapat kita lihat di bumu, ruru ini bersifat lebih sakit daripada ular.” (bhag.5.26.11)

Mengenai hal ini, setiap orang dapat melihat bahwa ada orang-orang yang memiliki mentalitas raksasa / iblis dan bersenang-senang dengan menyakiti maklhuk lain tanpa rasa adil / justiable. Orang yang melakukan kekerasan seperti itu akan diseret ke Raurava, dimana para makhluk hidup yang telah mereka sakiti di masa lalu mengambil wujud sebagai ruru dan memberikan penderitaan yang luar biasa kepada mereka, seperti dijelaskan dalam ayat berikut :

Hukuman di neraka yang bernama Maharaurava adalah wajib bagi orang memelihara badannya dengan menyakiti yang lain. Di neraka ini, pada hewan ruru yang dikenal dengan nama krayavada menyiksanyadan memakan dagingnya. Untuk pemeliharaan badan mereka dan untuk kepuasan lidah mereka, orang-orang jahat/cruel memasak hewan-hewan dan burung–burung lemah/poor dan hidup2. orang-orang seperti itu dikutuk bahkan oleh pemakan-manusia. Pada kehidupan mereka kemudian, mereka dieret oleh para Yamadhuta ke neraka yang bernama kumbhipaka, dimana mereka di dalam minyak yang mendidih.” (bhag.5.26.12-13)

Seorang pembunuh brahmana dimasukkan ke neraka yang bernama Kalasutra, yang memiliki garis tengah.jari-jari 80.000 mil dan seluruhnya terbuat dari tembaga.
Dipanasi dari bawah oleh api dan dari atas oleh matahari yang membara, permukaan tembaga planet ini sangat panas sekali.
Demikianlah para pembunuh brahmana menderita terbakar baik dari dalam maupun dari luar.
Dari dalam ia terbakar oleh rasa lapar dan haus, dan dari luar dia terbakar dari pansa matahari dan api yang berada dibawah permukaan tembaga.
Oleh karena itu ia kadang-kadang terbaring, kadang duduk, kadang-kadang berdiri, dan kadang-kadang berlari kesana kemari. Dia harus menderita seperti ini selama ribuan tahun sebanyak rambut di tubuh hewan (yang ia bunuh).
” (bhag.65.26.14)

Di dalam kehidupannya berikutnya, seorang raja atau wakil pemerintah yang berdosa yang menghukum orang yang tak berdosa, atau yang memberikan hukumana pada badan seorang brahmana, diseeret oleh Yamadhuta ke nereaka yang bernama Sukharamuka, dimana asisten Yamaraj yang paling perkasamenghancurkannya précis seperti orang menghancurkan tebu untuk mendapatkan airnya.
Para maklhuk hidup yang berdosa menangis ……, sama seperti seorang manusia yang tak berdosa melaksanakan hukuman.
Ini adalah akibat dari menghukum orang yang tak bersalah.
” (bhag.5.26.16)

Seseorang dalam keadaan terpaksa Merampok, permata (atau benda-benda berharga) dan emas milik seorang brahmana -atau malahan, orang lainnya—ditempatkan kedalam neraka bernama Sandamsa. Disana kulitnya dilapisi dan dipisahkan oleh bola-bola dan jepitan besi merah-panas, maka keseluruhan badannya terpotong menjadi berkeping-keping.” (Bhag.5.26.19)

Pada waktu kematian, criminal-kriminal demikian itu dengan segera diseret oleh tentara Yamaraj dan dihukum dengan mengupas kulit mereka dengan jepitan besi panas.

Jika semua pencuri tahu nasib seperti demikian menantinya setelah kematian atas penderiataan yang ia timbulkan pada yang lainnya, dia tidak akan melanjutkan kegiatan semacam itu.

“Seorang laki-laki atau wanita yang terlibat dalam hubungan seksual dengan pasangan tak sahnya, dihukum setelah kematian para asisten Yamaraj di neraka yang bernama Taptasurmi.
Disanalah laki-laki dan wanita yang demikian dipukul dengan cambbuk.
Sang laki-lki dipaksa untuk memeluk besi merah panas yang berbentuk wanita.
Dan yang wanita dipaksa untuk memeluk bentuk yang serupa namun laki-laki.
Itulah hukuman bagi seks yang tak sah.” (bhag.5.26.20)

Hukuman-hukuman di planet-planet neraka kedengarannya sangat kejam, namun seseorang menjadi kapok dan menyesal dengan menderita sambil mengingat kegitatang-kegiaan berdosa masa lalunya.
Seseorang seperti itu mungkin masih membawa penderitaan yang mendalam di dalam bawah sadar mereka di kehidupannya kemudian dan akan menahan dari kegiatan yang sama di masa mendatang.

“Di wilayah Yamaraj ada ratusan dan ribuan planet-planet neraka. Orang-orang tidak saleh seperti yang telah saya sebutkan-dan yang tdak saya sebutkan—semuanya harus masuk ke berbagai planet-planet ini sesuai dengan tingkat ketidak-salehan mereka. Mereka yang saleh, bagaimanapun juga, memasuki sistem planet yang lain, yaitu planet planet para dewa, baik yang saleh maupun yang tidak saleh, kedua-duanya lagi dibawa kebumi setelah segala pahala dari kegiatan saleh atau tidak saleh mereka habis.” (bhag.5.26.37)

Dari ayat ini, kita dapat mengerti bahwa neraka bukalah sebuah tempat dmana dihukum secara abadi setelah kematian.
Hanyalah reaksi bagi kegiatan-kegiatan tertentu yang keji.
Namun sesuai dengan intensitas penderitaan, maka seolah-olah keliatannya kekal / abadi.

Setelah reaksi atas segala kegiatan-kegiatan habis terpakai, orang itu umumnya kembali memasuki atmosfer bumi untuk memulai lagi.
Kemudian dia dapat melanjutkan mengembara lagi ke berbagai tingkat sistem planet, atau berbagai spesies kehidupan, sampai secara bertahap, ia mengalami berbagai aspek keberadaan material, dari paling bawah sampai planet-planet surga atas surga.

BAGAIMANA pun juga, kita harus mengetahui bahwa mengembara terus menerus ke berbagai sistem planet/kehidupan, atau ke berbagao speseis kehidupanm, bukanlah caranya untuk mendapatkan kebahagian sejati.

Kebahagian yang selalu kita rindukan berada diluar kurungan alam material ini bak dari atas sampai bawah, atau surga neraka-yang bersifat sementara di dunia ini.


Uraian mengenai Surga

Kita semua tahu bahwa jika diberikan pilihan, semuanya maka akan memilih pergi ke surga.

Dan sebagaian besar orang mempunyai sejenis pemahaman akan surga yang membuat mereka yakin bahwa surga adalah suatu tempat yang luar biasa.
Bahkan jika kehidupan kita di bumi jauh dari ideal, jika kita sekali sudah mencapai surga, maka segala sesuatunya akan menjadi baik-baik saja.

Uraian Sorga terdapat pendapat yang berbeda-beda.

Di dalam kitab kitab Veda, kita memdaptakan informasi yang eksplisit tentang apakah surga itu, misalnya kita dapat malihat beberapa tempat dibumi yang sebenarnya bagaikan surga.

Jika kamu mengunjungi sebuah pulau tropis dimana ada pantai-pantai panjang berpasir putih yang cukup mendapat cahaya matahari yang dilengkapi dengan hembusan angin sejuk yang melewati pohon-pohonnya, membawa aroma bunga-bunga eksotis dan suara-suara ombak, air sebening kristal menghempas tepi pantai dan tidak lupa ada gadis-gadis yang berbadan indah memakai busana penuh warna, siap melayani segala kebutuhan kita.

Tidakkah merasa seperti di surga?
Tak diragukan banyak orang akan suka pengalaman semacam itu, karena setiap orang tertarik di dalam kenikmatan material.

Namun Masalahnya adalah tempat-tempat seperti itu sulit dicapai atau makan banyak biaya untuk tinggal lama disana atau kita harus segera balik setelah kunjungan singkat. Kunjungan semacam itu tidak pernah cukup, dan kita akan selalu ingin kembali ke tempat-tempat serupa, lagi dan lagi.

Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa tempat-tempat surgawi itu merupakan tempat dimana para makhluk hidup mengahabiskan / menggunakan kegiata-kegiatan mulianya dimasa yang lalu (sebagai karma baiknya).

Tempat-tempat surgawi ditemukan di tiga tempat yaitu di atas bumi, surga planet-planet bawah, dan planet-planet surga atas.
Hanya orang-orang yg paling sangat berbudhi dapat memasuki surga atas. Orang-orang hanya dapat mengalami atmosfer surga yang lebih rendah yang dapat ditemukan di bumi atau planet-planet bawah.

Jadi bumi adalah pertengahan antara surga dan nekara, sehingga dua sisi kehidupan itulah yang ada di permukaan bumi ini (Rwabineda selalu ada yaitu siang-malam, hidup-mati, baik-buruk, pro – kontra dan lain sebagainya + dan - ). Disinilah manusia dibebaskan untuk menuju sorga dan neraka.

Jaman Satya-yuga dan Treta-yuga
Dijelaskan di dalam Srimad Bhagavatam (5.17.12) bahwa di surga atas termasuk dibumi sebelum munculnya jaman kali ribuan tahun yang lalu para penduduk hidup selama sepuluh ribu tahun dan semuanya mirip dewa. “mereka mempunyai kekuatan badan sepuluh ribu gajah dan badan sekuat halilintar. Masa muda dalam kehidupan mereka sangat menyenangkan, baik pria dan wanita menikmati persatuan seks dengat sangat menyenangkan dengan jangka waktu yang lama.
Setelah sekian lama mengalami kenikmatan sensual dan ketika sekitar setahun masa kehidupan masih tersisa-sang ister mendapatkan seorang anak.
Demikianlah standar kesenangan para penuduk surga ini sama persis dengan manusia yang hidup pada Treta-yuga (ketika tidak ada gangguan).
Bahkan planet bumi ini merupakan surga pada zaman satya-yuga dan treta yuga.
Setiap orang sangat saleh dan mempraktekkan yoga.
Mereka tidak begitu mempedulikan kenikmatan inderawi, meskipun tersedia dengan mudah.
Demikianlah, planet bumi menyediakan para penduduknya dengan segala yang mereka butuhkan dengan atmosfer yang paling menyenangkan.

Jaman Dvapara-yuga dan Kali-yuga
Baru kemudian, setelah datang Dvapara yuga dan khususnya zaman sekarang Kali yuga,
“Ada banyak taman penuh bunga dan buah sesuai dengan musim, dan ada pertapaan-pertapaan yang dihias dengan baik.
Antara gunung-gunung besar yang membatasi batasan wilayah-wilayah ada danau danau yang sangat besar berisi air jernih penuh dengan bunga-bunga padma yang baru tumbuh.

Burung air seperti angsa, bebek, ayam air, dan angsa merasa sangat senang karena keharuman bunga-bunga padma, dan suara-suara kumbang yang mempesona memenuhi udara.

Dalam keadaan yang menyenangkan, isteri-isteri para dewa tersenyum dengan jenaka kepada suami-suami mereka dan melihat mereka dengan tatapan nafsu.seluruh dewa dan isteri-isterinya di sediakan bubuh cendana dan kalungan bungan secara teratur oleh pelayan-pelayan mereka.
Dengan cara begini, para penduduk varsha kedelapan menikmati, tertarik dengan kegiatan lawan jenis.
Dari uraian ini, kita dapat melihat bahwa kesenangan surgawi yang dialami oleh para penduduk planet-planet atas sering berdasarkan seks dan semua itu hanya kenikmatan inderawi yang berbentuk lebih halus saja.
Hal ini tidak banyak berbeda dari apa yang dialami oleh manusia di bumi.
Satu perbedaannya adalah para penduduk planet planet itu menikmati seperti itu tanpa ada gangguan selama bertahun-tahun jika mereka menginginkan; sedangkan, para penduduk bumi hanya dapat menikmati seperti itu hanya dalam waktu singkat.

Uraian lain tentang beberapa bagian surga di planet-planet atas adalah tentang gunung Trikuta, yang tingginya 80.000 mil dan dikelilingi oleh sebuah lautan susu.

Seperti halnya bumi dikelilingi oleh air asin, planet-planet atas juga memiliki lautan, namun terdiri dari air-air yang lebih menyenangkan.

“tiga bahan dasar yang utama yang ada di puncak gunung Trikuta terbuat dari besi, perak dan emas, dan memperindah segala arah dan angkasa.
Gunung ini juga memeiliki puncak yang lain, yang penuh dengan permata dan berbagai mineral dan dihiasi dengan pohon-pohon, tanaman menjalar dan semak-semak yang indah.
Suara-suara air terjun di atas gunung menciptakan vibrasi yang menyenangkan.
Begitulah adanya gunung itu, semakin meningkatkan keindahan di segala penjuru.
Tanah lapang di kaki gunung selalu di bersihkan oleh gelombang ombak susu membentuk emerald di sekiling gunung di delapan penjuru mata angin.
Para penduduk planet-planet atas seperti para Siddha, Carana, Ghandarva, Vidyadhara, para Naga, Kinnara dan Apsara- biasanya pergi ke gunung untuk sport.
Demikialah semua gua gua di gunung penuh dengan penduduk-penduduk surgawi ini.” (bhag.8.2.7-8)

“lembah-lembah di bawah gunung Trikuta terhias indah dengan banyak beraneka hewan hutan, dan di dalam pohon-pohon, yang terawat di taman-taman oleh para dewa, ada beraneka jenis burung bersiul / mengerik? dengan suara-suara merdu.
Gunung Trikuta punya banyak danau dan sungai, dengan pantai-pantai yang ditutupi dengan permata / mutiara-mutiara kecil menyerupai butiran-butiran pasir.
Airnya sejernih kristal, dan ketika bidadari para dewa mandi di dalamnya, badan-badan mereka memeberikan keharuman kepada air dan angin sepoi yang bertiup disana, yang memeperkaya atmosfer disana.” (Bhag. 8.2.7-8)

Di planet-planet surga, badan-badan para wanitanya/maidens tidak hanya indah, tetapi juga memberikan keharuman kepada danau-danau dan juga angin sepoi yang bertiup.

Di planet bumi ini, setiap orang dapat mengalami bahkan jika badan kita tidak dimandikan setiap hari, maka akan mulai berbau tidak sedap.

Untuk menutupinya, orang sering menggunkan deodorant atau wewangian buatan untuk badan mereka agar berbau harum, untuk menutupi kenyataan bahwa mereka tidak mandi dengan teratur.

Tentu saja, hal ini, jauh dari standar surga ketika kita harus mentolerir bau tak sedap badan orang-orang di sekitar kita.

Oleh karena itu, hal ini, adalah pembanding yang baik untuk mengerti bagaimana planet-planet surga ribuan kali lebih mewah disbanding planet bumi ini.

Dengan mempelajari literature Veda, kita dapat mempelajari tempat-tempat seperti surga ini.

Namun mencoba untuk mencapai pengetahuna seperti itu lewat indera dan peralatan yang terbatas seperti teleskop, yang merupakan perpanjangan indera-indra kita yang cenderung salah faulty sense, kita tak akan pernah mampu mengamati dengan wajar keadaan-keadaan dari planet planet yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, kita dapat mendapat pemahaman apa planet planet yang lebih tinggi itu seperti uraian yang ditemukan di dalam buku-buku seperti Srimad-Bhagavatam, yang menguraikan kemewahan dewa
Indra, Raja Surga, sebagai berikut :
Hiranyakasipu, Yang memiliki segala kemewahan mulai bermukim di surga, dengan taman Nandananya yang terkenal, yang dinikmati oleh para dewa.
Pada kenyataannya, dia tinggal di istana dewa Indra, Raja Surga, yang paling mewah. Istana itu di bangun secara langsung oleh arsitek para dewa Visvakarma dan dibuat sedemikian hingga indah solah olah dewi keberuntangan alam semesta ini berstana disana. Jalan-jalan setapa di kediaman Raja Indra terbuat dari coral, lantainya terhias dengan emerald yang tak ternilai, tembok-temboknya terbuat dari kristal, dan pilar-pilar terbuat dari batu yang bernama vaidurya.canopi-canopi terhias dengan indah, tempat tempat duduk terhias dengan ruby, dan tempat tidur dari sutera, seputih busa, yang terhias mutiara. Gadis-gadis istana itu kebanyakan dari kita bahkan tidak dapat membayangkan sebuah rumah dengan tembok-tembok kristal, coral steps, lantai yang dilapasi jamrud, kursi kurs dilapisi ruby, dan tempat-tempat tidur dilapisi mutiara.
Namun disini adalah sebuah uraian istana amat besar sejenis ini, dimana banyak orang tinggal.


Ini adalah wilayah surga dimana hanya mereka yang kualifaid dapat memasukinya.

Kita taka akan mampu pergi kesana dengan alat alat roket atau capsul ruang angkasa. Satu satu cara yang sebenarnya kita dapat memasuki atmosfer kahyangan atau surga adalah dengan kegiatan-kegiatan mulia, karma baik, atau kesempurnaan mistis.

Bagaimana pun, bagi mereka yang benar-benar bijaksana, mencapai surga tak begitu penting.
Bab Kelimabelas dalam Bhagwad Gita memaparkan dari seluruh ciptaan yang bagaikan sebuah pohon-terbalik yang akarnya di atas— pada Yang Absolut Transenden—dan manifestasi-manifestasi sebagai ciptaan-ciptaan yang beraneka-ragam turun ke bawah sebagai dahan- dahan, cabang-cabang, ranting-ranting, daun-daun, bunga-bunga dan buah-buahnya. Maksud dari puja-puji itu adalah, bahwa Prinsip Kreatif Dewata hadir dimana-mana sebagai kekuatan pengendali suprima imanen, sama halnya dengan getah atau vitalitas dari si pohon yang menyusupi setiap selnya, dari atas sampai ke bawah.
Makanya, jenis- jenisnya tidak bisa dimengerti kecuali dalam kerangka Kesatuan Ultima.
 
gua orang atheist yg tak beragama

skarang gua bingung, menurut agama hindu kalau hidup di surga atau neraka rupa kita itu kira kira terlihat umur berapa?

OK gw beri analogi :

" Gw ibaratkan roh adl air dan badan kita adalah botol, dunia ini gw ibaratkan kulkas...ketika air masuk ke dalam botol dan diletakkan ke dlm kulkas itu sama artinya kita terlahir ke dunia yg fana ini. Air dlm botol akan membeku dan berbentuk sama dengan botol (sama artinya dgn terpengaruh oleh keduniawiaan), ketika botol pecah maka air tersebut akan berbentuk seperti botol, beda ama air dlm botol yg gak terpengaruh ama kulkas, air ini akan tetap air(gak berwujud) walaupun botolnya pecah. Jadi kesimpulannya roh yg terpengaruh keduniawiaan (masuk surga dan neraka) akan berbentuk sama dgn jazadnya, tapi roh yg suci(moksa) tidak berwujud dan tidak ada yg tahu wujud aslinya..."

hehehe...>:D<
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.