goesdun
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 32661
- Sejak
- 7 Feb 2008
- Pesan
- 3.024
- Nilai reaksi
- 66
- Poin
- 48
Johannesburg - Maskot resmi Piala Dunia 2010 diperkenalkan dalam acara gala FIFA di Johannesburg, Selasa (23/9) kemarin. Maskot yang berwujud leopard (macan tutul) berambut hijau itu diberi nama Zakumi.
Pilihan nama tersebut memiliki arti khusus. ZA singkatan dari Afrika Selatan, sementara Kumi berarti sepuluh ragam bahasa Afrika. Maskot ini didesain secara khusus di Afrika Selatan yang akan menggelar Piala Dunia hanya dalam rentang 21 bulan mendatang. Perhelatan ajang empat tahunan ini tercatat baru pertama kali di benua hitam.
Sekjen FIFA, Jerome Valcke menjelaskan detail alasan terpilihnya Zakumi sebagai maskot Piala Dunia mendatang. "Zakumi mewakili masyarakat, letak geografis, dan semangat dari Afrika Selatan, dalam menggambarkan esensi Piala Dunia 2010. Kami yakin akan menikmati periode menyenangkan dengannya sebelum dan selama Piala Konfederasi serta Piala Dunia," jelas Valcke.
Zakumi diharapkan bisa membantu menjadikan Piala Dunia 2010 sebagai pesta akbar, menyenangkan dan tak terlupakan, sekaligus menunjukkan spirit benua Afrika pada ribuan tamu internasional.
Maskot ini didesain khusus oleh Andries Odendaal dari Cape Town. Pilihan binatang berambut hijau ini dimaksudkan untuk membuat kamuflase di tengah lapangan sepakbola.
Menurut mantan bintang Afrika Selatan, Lucas Radebe, Zakumi diharapkan mampu menciptakan suasana yang baik di kalangan penggemar dan meningkatkan aspek hiburan di Piala Dunia 2010. "Ia kebanggaan Afrika Selatan dan ingin memastikan bila dunia akan datang bersama-sama ke Afrika Selatan," papar Radebe.
FIFA pertama kali memperkenalkan maskot resminya pada Piala Dunia 1966, dengan nama Willie, berwujud singa Inggris. Maskot lainnya berwarna oranye yang diberinama Naranjito di Spanyol pada 1982, Ciao yang berbentuk batang berwarna khas Italia pada 1990 dan Footix, ayam jantan Prancis pada 1998.
Namun tak semua maskot ini menuai sukses. Di Jerman 2006 lalu, maskot singa Goleo tak laku secara komersial, bahkan perusahaan yang memproduksinya bangkrut karena hasil penjualan lebih kecil dibandingkan biaya produksi. (adn/afp)
