roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Rough serdadu yang sempat bertugas di Tim Tim. Pada era Orde Baru ini, peperangan dan bunuh membunuh sudah menjadi kerjaannya sehari hari. Hari itu dia menulis surat keapda orang tuanya yang sudah tua di Medan. Isinya.
Salam sayang dan rindu ananda,
Ibu, Bapak, bagaimana khabarnya? Semoga baik-baik saja dan selalu dalam lindungannya. Bapak tidak pernah lupa minum obat kan? Ibu bagaimana gulanya? Semoga kabar baik dari balasan Ibu Bapak.
Sebulan lagi ananda akan bebas tugas ibu/bapak. Yang artinya, ananda akan bersama ibu dan bapak lagi segera mungkin. Namun ada yang ingin ananda sampaikan sekaligus ananda minta ijin persetujuan dari ibu dan bapak.
Sewaktu peperangan di sini, pernah sekali nyawa ananda diselamatkan seorang penduduk asli. Kalau tidak ada dia, mungkin ananda tidak akan mungkin bisa kembali dari peperangan. Akibat pertolongannya tersebut, ananda mengangkat saudara dengan dia. Dia cacat. Kedua kakinya yang terkena tembakan sudah membusuk dan akhirnya harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya dari infeksi.
Dengan surat ini ananda memohon persetujuan dan izin dari Ibu/Bapak karena ananda bermaksud membawa dia pulang beserta ananda.
Demikian disampaikan.
Peluk dan cium ananda.
Tak berapa lama, datang balasan dari orang tua Rough.
Anakku, bukan maksud Ibu/bapak untuk menolak niat baikmu. Tapi pikirkan sekali lagi. Bukankah hal tersebut akan menjadi beban tambahan bagi kehidupan kita yang sudah susah. Bapak sudah sakit-sakitan, Ibu juga. Perlu konsekuensi tersendiri untuk merawat orang cacat.
Bukan berarti ibu/bapak tidak memikirkan jasanya yang sudah menyelamatkan jiwamu. Tapi kamu juga harus mengerti bahwa semuanya perlu biaya sekarang. Kamu juga bakal bertugas ke tempat lain lagi kan? Kamu anak satu satunya ibu dan bapak. Kalau kamu tidak ada, siapa yang bisa merawatnya?
Semoga mengerti anakku....
Rough membaca surat balasan orang tuanya dengan getir.
Tak berapa lama kemudian di Medan, di rumah orang tua Rough. Datang peti Jenazah yang diantar orang militer ke kediaman mereka. Ayah dan Ibu Rough melihat dengan was-was.
Kemudian didapat keterangan dari petugas Militer bahwa peti jenazah itu berisi jenazah Rough, yang 3 hari yang lalu bunuh diri. Tidak diketahui mengapa dia bunuh diri. Namun, ditemukan surat balasan dari orang tua Rough di sebelahnya.
Ternyata yang cacat adalah Rough sendiri. Serdadu malang yang mencoba ingin cari tahu bagaimana reaksi orang tuanya bila mengetahui anaknnya cacat. Tanpa kaki. Praktir di kursi roda saja.
Rough memakai cerita seorang teman yang sudah diangkat sebagai saudara agar orang tuanya bisa memberikan pendapat senetral mungkin. Dan penolakan orang tuanya pada orang cacat seperti dia, membuat Rough tidak tega untuk menambah beban orang tuanya tersebut.
Apa yang bisa diharapkan dari serdadu cacat? Pensiuan?
Dan Rough memilih menarik picu senjatanya.
Salam sayang dan rindu ananda,
Ibu, Bapak, bagaimana khabarnya? Semoga baik-baik saja dan selalu dalam lindungannya. Bapak tidak pernah lupa minum obat kan? Ibu bagaimana gulanya? Semoga kabar baik dari balasan Ibu Bapak.
Sebulan lagi ananda akan bebas tugas ibu/bapak. Yang artinya, ananda akan bersama ibu dan bapak lagi segera mungkin. Namun ada yang ingin ananda sampaikan sekaligus ananda minta ijin persetujuan dari ibu dan bapak.
Sewaktu peperangan di sini, pernah sekali nyawa ananda diselamatkan seorang penduduk asli. Kalau tidak ada dia, mungkin ananda tidak akan mungkin bisa kembali dari peperangan. Akibat pertolongannya tersebut, ananda mengangkat saudara dengan dia. Dia cacat. Kedua kakinya yang terkena tembakan sudah membusuk dan akhirnya harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya dari infeksi.
Dengan surat ini ananda memohon persetujuan dan izin dari Ibu/Bapak karena ananda bermaksud membawa dia pulang beserta ananda.
Demikian disampaikan.
Peluk dan cium ananda.
Tak berapa lama, datang balasan dari orang tua Rough.
Anakku, bukan maksud Ibu/bapak untuk menolak niat baikmu. Tapi pikirkan sekali lagi. Bukankah hal tersebut akan menjadi beban tambahan bagi kehidupan kita yang sudah susah. Bapak sudah sakit-sakitan, Ibu juga. Perlu konsekuensi tersendiri untuk merawat orang cacat.
Bukan berarti ibu/bapak tidak memikirkan jasanya yang sudah menyelamatkan jiwamu. Tapi kamu juga harus mengerti bahwa semuanya perlu biaya sekarang. Kamu juga bakal bertugas ke tempat lain lagi kan? Kamu anak satu satunya ibu dan bapak. Kalau kamu tidak ada, siapa yang bisa merawatnya?
Semoga mengerti anakku....
Rough membaca surat balasan orang tuanya dengan getir.
Tak berapa lama kemudian di Medan, di rumah orang tua Rough. Datang peti Jenazah yang diantar orang militer ke kediaman mereka. Ayah dan Ibu Rough melihat dengan was-was.
Kemudian didapat keterangan dari petugas Militer bahwa peti jenazah itu berisi jenazah Rough, yang 3 hari yang lalu bunuh diri. Tidak diketahui mengapa dia bunuh diri. Namun, ditemukan surat balasan dari orang tua Rough di sebelahnya.
Ternyata yang cacat adalah Rough sendiri. Serdadu malang yang mencoba ingin cari tahu bagaimana reaksi orang tuanya bila mengetahui anaknnya cacat. Tanpa kaki. Praktir di kursi roda saja.
Rough memakai cerita seorang teman yang sudah diangkat sebagai saudara agar orang tuanya bisa memberikan pendapat senetral mungkin. Dan penolakan orang tuanya pada orang cacat seperti dia, membuat Rough tidak tega untuk menambah beban orang tuanya tersebut.
Apa yang bisa diharapkan dari serdadu cacat? Pensiuan?
Dan Rough memilih menarik picu senjatanya.