goesdun
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 32661
- Sejak
- 7 Feb 2008
- Pesan
- 3.024
- Nilai reaksi
- 66
- Poin
- 48
Wilayah Gunung Kidul kaya peninggalan purbakala terutama dari zaman batu besar atau Megalitikum. Mayoritas dari situs bersejarah itu tetap terpelihara keamanan dan keasliannya meskipun minim pengamanan. Warga mengaku takut memindahkan peninggalan dari zaman purbakala karena adanya mitos kualat.
Warga Dusun Gondang, Desa Ngawis, Karangmojo, Gunung Kidul, Arjo Wito, mengemukakan, ayahnya, Mbah Porjo, meninggal dunia setelah mencoba memindahkan kubur batu atas perintah penjajah Belanda. Kala itu, Belanda sempat meminta warga menggali kubur batu untuk mencari bekal kubur berupa perhiasan manik-manik dan emas.
Semenjak kematian warga akibat memindahkan kubur batu, warga di Dusun Gondang mengaku tidak berani memindahkan atau merusak peninggalan purbakala. Selain batu menhir dan kubur batu yang telah ditata di dalam kompleks Situs Gondang seluas 400 meter persegi, peninggalan kubur batu dari zaman purbakala ini masih banyak terserak di lingkungan rumah ataupun sawah milik penduduk.
Menurut Arjo Wito, banyaknya batuan yang terserak di Dusun Gondang itu jika dikumpulkan bisa lebih dari satu truk. Selain peninggalan berupa batu kubur seperti batu tegak (menhir), fragmen menhir, dan kubur batu, warga sempat menemukan aneka bekal kubur seperti cincin atau gelang emas. ”Kami tidak berani merusak karena takut kena tulah (bala),” ujar istri Arjo Wito, Sukinah, Selasa (28/7).
Pada era tahun 1970-an, Arjo Wito dan Sukinah pertama kali menemukan kubur batu yang menyembul di ladang tadah hujan milik mereka. Setelah beberapa kali dikunjungi tim peneliti arkeologi, areal ladang tersebut kemudian dibeli oleh pemerintah. Pada tahun 1996, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DI Yogyakarta mulai memagari Situs Gondang dengan kawat dan besi. Hingga kini, Arjo Wito bekerja sebagai juru pelihara Situs Gondang.
Kuburan Budho
Meskipun kaya situs purbakala, masyarakat Gunung Kidul sama sekali tidak memiliki bekal pengetahuan tentang sejarah peninggalan tersebut. Mereka umumnya menyebut kubur batu itu sebagai kuburan Budho (umat Buddha). ”Kami turut menjaga karena situs ini adalah kekayaan daerah. Tetapi, warga sama sekali tidak tahu sejarah dari kuburan Budho ini,” ungkap beberapa warga seperti Purwanto dan Sastro Sakim.
Tidak adanya papan petunjuk tentang sejarah dan umur situs tak hanya terjadi di Situs Gondang, melainkan juga di Situs Sokoliman yang teletak beberapa ratus meter dari Situs Gondang di Dusun Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, umur kedua situs ini diperkirakan 3000 tahun sebelum Masehi.
Pada tahun 1934, peneliti Jl Moens dan Van der Hoop meneliti dan menemukan bekal kubur berbentuk manik-manik, alat besi, fragmen gerabah, dan benda-benda perunggu di wilayah Karangmojo tersebut. (WKM)
sumber : Kompas
Warga Dusun Gondang, Desa Ngawis, Karangmojo, Gunung Kidul, Arjo Wito, mengemukakan, ayahnya, Mbah Porjo, meninggal dunia setelah mencoba memindahkan kubur batu atas perintah penjajah Belanda. Kala itu, Belanda sempat meminta warga menggali kubur batu untuk mencari bekal kubur berupa perhiasan manik-manik dan emas.
Semenjak kematian warga akibat memindahkan kubur batu, warga di Dusun Gondang mengaku tidak berani memindahkan atau merusak peninggalan purbakala. Selain batu menhir dan kubur batu yang telah ditata di dalam kompleks Situs Gondang seluas 400 meter persegi, peninggalan kubur batu dari zaman purbakala ini masih banyak terserak di lingkungan rumah ataupun sawah milik penduduk.
Menurut Arjo Wito, banyaknya batuan yang terserak di Dusun Gondang itu jika dikumpulkan bisa lebih dari satu truk. Selain peninggalan berupa batu kubur seperti batu tegak (menhir), fragmen menhir, dan kubur batu, warga sempat menemukan aneka bekal kubur seperti cincin atau gelang emas. ”Kami tidak berani merusak karena takut kena tulah (bala),” ujar istri Arjo Wito, Sukinah, Selasa (28/7).
Pada era tahun 1970-an, Arjo Wito dan Sukinah pertama kali menemukan kubur batu yang menyembul di ladang tadah hujan milik mereka. Setelah beberapa kali dikunjungi tim peneliti arkeologi, areal ladang tersebut kemudian dibeli oleh pemerintah. Pada tahun 1996, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DI Yogyakarta mulai memagari Situs Gondang dengan kawat dan besi. Hingga kini, Arjo Wito bekerja sebagai juru pelihara Situs Gondang.
Kuburan Budho
Meskipun kaya situs purbakala, masyarakat Gunung Kidul sama sekali tidak memiliki bekal pengetahuan tentang sejarah peninggalan tersebut. Mereka umumnya menyebut kubur batu itu sebagai kuburan Budho (umat Buddha). ”Kami turut menjaga karena situs ini adalah kekayaan daerah. Tetapi, warga sama sekali tidak tahu sejarah dari kuburan Budho ini,” ungkap beberapa warga seperti Purwanto dan Sastro Sakim.
Tidak adanya papan petunjuk tentang sejarah dan umur situs tak hanya terjadi di Situs Gondang, melainkan juga di Situs Sokoliman yang teletak beberapa ratus meter dari Situs Gondang di Dusun Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, umur kedua situs ini diperkirakan 3000 tahun sebelum Masehi.
Pada tahun 1934, peneliti Jl Moens dan Van der Hoop meneliti dan menemukan bekal kubur berbentuk manik-manik, alat besi, fragmen gerabah, dan benda-benda perunggu di wilayah Karangmojo tersebut. (WKM)
sumber : Kompas