byakuya
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 46894
- Sejak
- 25 Jun 2008
- Pesan
- 14.460
- Nilai reaksi
- 288
- Poin
- 83
Ada seorang dusun yang hampir tidak memiliki rasa malu dan ahlak yang baik.
Kesukaannya meminta-minta. Ia tidak akan meninggalkan rumah seseorang sebelum memperoleh sesuatu, baik berupa pakaian atau pun makanan.
Tetapi dia tidak pernah merasa sakit hati atau kecewa atau diusir, jika tidak dipenuhi permintaannya. Berkali-kali dia membikin kaget Nasrudin.
Suatu hari, orang dusun itu datang kerumah Nasrudin. Dia mengetuk pintu.
“Siapa itu?” tanya istri Nasrudin.
“Aku ada urusan dengan Nasrudin Afandi,” jawabnya.
Mendengar ada orang mencarinya, Nasrudin lalu keluar dari kamar. Ia terkejut melihat tamunya adalah orang yang sering membuatnya kesal.
“Mau apa kamu?” tanya Nasrudin.
“Aku tamu Allah,” jawabnya.
“Kalau begitu mari ikuti aku,” kata Nasrudin sambil keluar rumah.
Sampai di depan masjid Nasrudin berkata kepada tamunya tadi, “Kalau kau ke rumahku, itu salah alamat. Inilah rumah Allah, wahai tamu Allah. Silahkan masuk.”
bonus:
Nasrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga memergokinya.
“Sedang apa kau, Nasrudin?”
Nasrudin berimprovisasi, “Aku punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual.”
“Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!” kata sang tetangga, marah.
Nasrudin bergaya filosof, “Tangga, bisa dijual di mana saja.”
Kesukaannya meminta-minta. Ia tidak akan meninggalkan rumah seseorang sebelum memperoleh sesuatu, baik berupa pakaian atau pun makanan.
Tetapi dia tidak pernah merasa sakit hati atau kecewa atau diusir, jika tidak dipenuhi permintaannya. Berkali-kali dia membikin kaget Nasrudin.
Suatu hari, orang dusun itu datang kerumah Nasrudin. Dia mengetuk pintu.
“Siapa itu?” tanya istri Nasrudin.
“Aku ada urusan dengan Nasrudin Afandi,” jawabnya.
Mendengar ada orang mencarinya, Nasrudin lalu keluar dari kamar. Ia terkejut melihat tamunya adalah orang yang sering membuatnya kesal.
“Mau apa kamu?” tanya Nasrudin.
“Aku tamu Allah,” jawabnya.
“Kalau begitu mari ikuti aku,” kata Nasrudin sambil keluar rumah.
Sampai di depan masjid Nasrudin berkata kepada tamunya tadi, “Kalau kau ke rumahku, itu salah alamat. Inilah rumah Allah, wahai tamu Allah. Silahkan masuk.”
bonus:
Nasrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga memergokinya.
“Sedang apa kau, Nasrudin?”
Nasrudin berimprovisasi, “Aku punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual.”
“Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!” kata sang tetangga, marah.
Nasrudin bergaya filosof, “Tangga, bisa dijual di mana saja.”