• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sepatu Tua di Ujung Lorong

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Sepatu Tua di Ujung Lorong


Lorong itu sepi. Udara dharap mengalir pelan lewat celah-celah jendela tua, menciptakan daun pintu kayu tua berderit lembut. Di ujung lorong, di bawah cahaya temaram lampu gantung yg mulai meredup, sepasang sepatu kulit cokelat tua tergeletak diam.

Tak ada yg menyangka, bahwa sepatu itu menyimpan kisah yg lebih dalam dari yg terlihat.

Dulu, sepatu itu milik Pak Surya. Seorang pensiunan guru yg tinggal sendiri di rumah tua peninggalan orang tuanya. Ia bukan pria kaya, namun seluruh anak-anak di kampung mengenalnya sebagai guru yg baik hati, murah senyum, & sering membawa sebungkus permen untuk muridnya setiap hari.

Sepatu itu, meski sudah tua & penuh tambalan, sering dipakai Pak Surya ke mana pun ia pergi. Katanya, Sepatu ini menemani langkah-langkah penting dalam hidup saya. Dari perdana kali saya diterima mengajar, hingga hari saya pensiun.

Setiap pagi, Pak Surya duduk di beranda, menyeruput kopi sambil memandangi anak-anak sekolah yg lewat. Kadang ia melambai, kadang cuma tersenyum. Tak pernah ada yg melihat ia keluar rumah tanpa sepatu itu. Hingga suatu hari, ia menghilang.

Tetangga mulai bertanya-tanya. Tak ada suara radio dari dalam rumahnya seperti biasa, tak ada aroma kopi pagi yg mengepul dari dapurnya. Setelah dua hari tak terlihat, warga akhirnya membuka pintu rumah itu.

Pak Surya ditemukan duduk tenang di kursi kayunya. Matanya terpejam, seolah tertidur. Tapi nafasnya sudah lama berhenti.

Di bawah kakinya, sepasang sepatu tua itu tergeletak. Sepatu yg sering ia rawat & bersihkan, kini terlepas dari pemiliknya untuk selamanya.

Namun cerita tak berhenti di sana.

Malam-malam setelah kepergiannya, beberapa warga mengaku melihat siluet seseorang berjalan di lorong rumah itu, dengan langkah lambat & suara sepatu tua yg menyeret pelan. Seorang anak kecil bahkan bersumpah melihat bayangan Pak Surya berdiri di jendela, tersenyum.

Tentu saja orang-orang menertawakannya. Itu cuma imajinasi anak-anak, mengatakan sebagian. Tapi lorong itu tetap sepi. Dan sepatu tua itu tetap di sana, seolah menunggu kaki tuanya kembali.

Lima tahun berlalu.

Rumah Pak Surya kini jadi rumah baca untuk anak-anak desa. Lorong itu dipenuhi buku-buku, dindingnya penuh gambar & tulisan anak-anak. Tapi sepatu itu tetap ada. Tak ada yg berani memindahkannya. Seolah jadi penanda, bahwa seseorang pernah tinggal di sana, mensayangi anak-anak, & memberi jejak yg tak pernah benar-benar menghilang.

Karena terkadang, yg kita tinggalkan bukanlah harta. Tapi kenangan, yg melekat kuat, seperti suara sepatu tua yg masih bergema di hati orang-orang yg pernah mensayangi kita.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.