• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

sejarah tanah genting di masa genting

Sejarahmania

IndoForum Newbie A
No. Urut
74095
Sejak
25 Jun 2009
Pesan
267
Nilai reaksi
7
Poin
18
Sejarah negara Palestina adalah sejarah yang tua sekali. Siapakah bangsa asli dari palestina tiada orang yang tahu. Berganti-ganti Palestina diduduki bangsa-bangsa lain:
1400 SM - 586 SM : Yahudi atau keturunan Bani Israil (sebelum itu diduduki bangsa Kana’an dan Pulasti atau Philistijn, oleh karena itu namanya Palestina).
586 SM – 538 SM : Babilon, pada masa raja Nebukadnezar.
538 SM – 332 SM : Persia, oleh Cyrus.
332 SM – 63 SM : Yunani, pada saat invasi oleh Raja Alexander The Great ke Timur (Persia).
63 SM – 637 M : Romawi, dianeksir saat raja Julius Caesar.
637 M – 1517 M : Arab, dibawah Jendral Khalid bin Walid pada masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq.
1517 M – 1918 M : Turki Ottoman.
1918 M – 1948 M : Inggris, akibat dari kekalahn Turki Pada Perang Dunia I.

Ini tidak berarti, bahwa penduduk Palestina berganti-ganti menurut bangsa-bangsa yang mendudukinya. Ketika bangsa yahudi menduduki Palestina, mereka terus tinggal menetap disana. Sejak itu bangsa yahudi memandang Palestina sebagai tanah airnya, lebih-lebih bahwa dalam kitab mereka (Taurat) disebutkan Tuhan telah memberikan tanah Palestina kepada Ibrahim (Abraham), nenek moyang bangsa Yahudi dan Arab Bani Ismail. Bangsa lain yang menduduki Palestina hanya sebagai bangsa penjajah saja. Tetapi lain halnya bangsa Arab yang di Palestina. Ketika bangsa Romawi pada tahun 70 masehi merusak dan membakar Yerusalem, maka mulailah bangsa Yahudi meninggalkan Palestina menyebar ke seluruh dunia mencari nafkah. Sebaliknya bangsa Arab banyak yang masuk Palestina, lebih-lebih setelah Arab merebutnya dari Romawi pada Raja Heraclius (637 M) hingga Palestina merupakan kesatuan tanah Arab. Karena itu bangsa Arab memandang Palestina sebagai tanah Airnya.
Sekarang pertanyaan yang timbul dan belum dijawab sampai sekarang yaitu: Tanah air siapakah Palestina itu? Arab atau Yahudi?

ZIONISME

Ketika Palestina masih dibawah Turki, telah banyak orang Yahudi masuk Palestina dan hidup damai dengan bangsa Arab. Mereka ingin hidup di Tanah Suci yang menurut sejarah dan agama mereka begitu erat hubungannya dengan mereka. Atas dasar perasaan agama ini kemudian oleh para pemimpin Yahudi diberi corak politik dengan dibentuknya gerakan Zionisme pada tahun 1985 oleh Theodore Herzl.
Tujuan Zionisme :
1. Mempersatukan semua orang Yahudi diseluruh dunia menjadi satu “nation” dan tidak hanya sebagai suatu “ras”.
2. Menuntut palestina sebagai tanah air bangsa Yahudi.
3. Mendirikan negara Israel di Palestina.
4. Mengusahakan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina.
Dengan timbulnya zionisme ini pecahlah persaudaraan Arab-Yahudi menjadi permusuhan. Imigrasi Yahudi ke Palestina mulai besar-besaran pada tahun 1905, ketika orang-orang Yahudi di Rusia yang ikut dalam revolusi 1905 (gagal) lari ke Palestina. Dengan begitu permusuhan Arab-Yahudi pecah menjadi perang kecil-kecil.

SOAL PALESTINA

Soal palestina ialah soal antara bangsa Arab dengan Yahudi.
Bangsa Yahudi ingin kembali ke Palestina yang dipandangnya sebagai tanah air merek (dasar agama) dan ingin mendirikan negara Yahudi di Pelestina. (lihat Zionisme). Bangsa Arab menentang keinginan Yahudi karena Palestina adalah Tanah air mereka dan bukan tanah air orang Yahudi. Bangsa Yahudi telah meninggalkan Palestina dan bangsa Arab telah berabad-abad lamanya di Palestina. Berdasarkan agama Islam Palestina (Yerusalem) juga tanah suci.
Soal Palestina ini berkobar menjadi perang besar-besaran dengan campur tangan pihak ketiga, yaitu Inggris. Baik Arab maupun Yahudi berjasa bagi Inggris pada Perang Dunia I. Bangsa Yahudi (Chaim Weizmann, pemimpin Zionisme saat itu) menyanggupi bantuan dukungan bangsa Yahudi di seluruh dunia secara finansial (orang-orang Yahudi besar pengarunya di negara-negara besar sebagai kapitalis dan terpelajar) jika Inggris mau menyanggupi pula tuntutan Zionisme sesudah perang. Bangsa Arab mau membantu Inggris untuk meruntuhkan kerajaaan Turki jika Inggris mau membrikan kemerdekaan Arabia (termasuk Palestina) kepada bangsa arab. Inggris menyanggupinya baik kepada Arab maupun kepada Yahudi. Satu tanah disanggupkan kepada dua bangsa!.... dan dengan ini menimbulkan perang antara Arab dan Yahudi……. Dan kedua-duanya terhadap Inggris sendiri!

BALFOUR DECLARATION (2 NOVEMBER 1917)

Kepada bangsa Arab Inggris menyanggupkan kemerdekaan bagi bangsa Arab (Palestina juga masuk), dan oleh karena itu Husein (Amir Mekkah sejak 1908, kelak nanti memprokalamirkan negara Arab”Hijaz”) memihak Inggris dan mengobarkan revolusi Arab. Kepada bangsa Yahudi Inggris mengeluarkan Balfour Declaration pada 2 November 1917 yang mengatakan :
Akan menirikan “a national home” untuk bangsa Yahudi di Palestina.
Hak-hak bukan bangsa bukan-Yahudi tidak akan dirugikan.
Balfour Declaration ini diprotes keras oleh bangsa Arab karena merugikan bangsa Arab dan terang-terangan melanggar janji-janji Inggris kepada Husien. Sebaliknya Balfaour Declaration diterima dengan gembira oleh bangsa Yahudi. Soal Palestina menjelma menjadi soal segitiga : Arab – Yahudi – Inggris. Dengan ini Balfour Declaration memperuncing sengketa di Palestina

Catatan:
HTML:
Balfour Declaration mengandung pengtertian-pengertian yang bertentangan hingga merupakan apa yang disebut dalam politisi Prancis “negre blanc”(negro putih). Dalam Balfour Declaration Inggris memberikan barang (Palestina) yang bukan kepunyaannya (punya Arab) kepada orang lain (Yahudi) dengan mengatakan tidak bermaksud merugikan orang yang punya barang ini (Arab). Sungguh Balfour Declaration ini merupakan teka-teki politik belaka! Yang pasti Balfour Declaration ini menimbulkan begitu banyak kesulitan hingga Inggris sendiri bingung dan menyerahkan mandatnya kepada PBB pada tahun 1948 lalu meniggalkan Palestina. Arab dan Yahudi dibiarkan mencari sendiri-sendiri penyelesaian soal yang ditimbulkan oleh Inggris.

PALESTINA DIBAWAH MANDAT INGGRIS

Tiga bangsa ingin menguasai Palestina, yaitu Arab, Yahudi, dan Inggris

Arab
1. Palestina dipandang sebagai tanah airnya.
2. Palestina adalah negaran Arab (Penduduk Palestina ialah bangsa Arab dan bangsa Yahudi hanya minoritas saja. Kebudayaan Palestina adalah kebudayaan Arab dan berpakaian Arab).
3. Palestina adalah tanah suci agama Islam.
Yahudi
1. Palestina dipandang sebagai tanah airnya.
2. Boleh dikatakan bangsa yahudi ini tersebar diseluruh duni sangat tidak disukai oleh bangsa-bangsa ditengah-tengah mereka berada. Bangsa yahudi membutuhkan suatu tempat sebagai “terugval basis”(tempat untuk mengundurkan diri).Untuk itu Palestina merupakan tempat yang baik, karena Palestina mempunyai arti yang penting sekali dalam agama dan sejarah bangsa Yahudi.
3. Palestina adalah tanah suci agama Yahudi.
Inggris
Palestina Letaknya sangat strategis :
1. Sebagai penjaga satu-satunya “jembatan antara Asia dan Afrika” (semenanjung Sinai). Inggris ingin menguasai Palestina dan Mesir.
2. Terusan Suez tidak dapat dipertahankan kalau tidak menguasai Palestina.
3. Palestina, Trans-Yordania, dan Irak merupakan rantai pertahanan Inggris untuk menjamin hubungan Inggris – Asia, apababila perhubungan melalui suez tidak mungkin lagi. Palestina , Trans-Yordania, merupakan penghubung antara laut tengah dan Teluk Persia.
4. Pipa-pipa minyak dari Irak, dan dari Arab juga (baru dipasang) ke Laut Tengah, melalui Palestina. Minyak Irak diekspor dari pelabuhan Haifa.

Catatan:
Sesudah Perang Dunia II, negara-negara Timur Tenga lebih penting bagi dunia barat karena adanya tanda-tanda Rusia ingin menerobos ke daerah ini (politik air hangat Rusia).Oleh karena itu soal Palestina penting bagi Inggris-Amerika. Baik Yahudi maupun Arab harus dijadikan kawannya, Yahudi karena besar pengaruhnya di dunia dan Arab, tanpa Arab Timur Tengah sukar dipertahankannya.

SanRemo Agreement menetapkan Palestina sebagai mandat Inggris. Pemerintahan Inggris di Palestina dimulai dengan sikap yang pro Yahudi. Komisaris angung Inggris di Palestina ialah seorang Yahudi kewarganegaraan Inggris, Sir Herbert Samuel (1920-1925).
Untuk menjamin kepentingan Yahudi dibentuk suatu badan Yahudi yaitu Jewish Agenc. Kelak Jewish Agency ini menjelma menjadi pemerintah negara Israel.

Pembentukan Jewish Agency ini ditetapkan dan disahkan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dalam mandat Inggris (Pasal 4). Untuk menjaga keselamatan Jewish Agnecy dibentuk organisasi militer yang disebut Haganah, kelak akan menjelma menjadi tentara Israel. Jewish Agency ini mendapat bantuan besar dari kapitalis Yahudi diseluruh dunia, antara lain dari Rothschild, seorang milyuner terbesar di Eropa. Karena itu kedudukan Jewish Agency ini sangat kuat sekali tidak hanya melindungi orang-orang Yahudi dari serangan-serangan Arab, tetapi juga dapat memajukan Palestina dengan membuat jalan-jalan besar, irigasi, mendirikan industri, sekolah-sekolah (antara lain Hebrew University, 1925) dan membeli tanah2 yang luas dari orang2 arab, hingga penduduk Arab terdesak.

Dengan adanya Balfour Declaration dan mulainya mandat Inggris atas palestina, meningkatlah imigrasi Yahudi ke Palestina. Orang-orang Arab menutut supaya imigrasi Yahudi dihentikan, tetapi tidak berhasil, lalu mereka melawan orang-orang Yahudi. Pemimpin perlawanan Arab terhadap Yahudi ialah Muhammad Amin al Huseini, Mufti Besar Yerusalem. Tahun 1929 untuk pertama kali terjadi pertempuran besar antara Arab dan Yahudi, sehingga Inggris terpaksa mengirimkan Panitia Penyelidikan ke Palestina untuk menyelidiki keadaan Palestina.
Akibatnya:

The Passfield White Paper (20 Oktober 1930)

Perjanjian ini menetetapkan:
a. Imigrasi yahudi dihentikan selama masih ada orang Arab yang masih belum dapat pekerjaan.
b. Orang yahudi tidak diperkenanankan lagi membeli tanah selama masih ada orang Arab yang belum punya tanah.
Whita Paper ini berarti kemenangan bagi Arab dan kekalahan bagi Yahudi. Orang Yahudi menyebut White Paper ini “Black Paper” dan menentang sekeras-kerasnya.
Tahun 1933 Adolf hitler menjadi “fuhrer” Jerman dan mengobarkan gerakan antisemit sehingga banyak orang Yahudi lari keluar Jerman. Imigrasi orang Yahudi ke Palestina bertambah besar hingga membahayakan kedudukan Arab. Bangsa Arab kemudian membentuk ”Arab High Committee” (Panitia Tinggi Arab) tahun 1936 yang bertugas memimpin perlawanan Arab terhadap Yahudi. Pertempuran-pertempuran Arab-Yahudi terjadi dimana-mana.
Palestina dalam keadaan Perang!!!

Peel Commision (8 Juli 1937)

Peel Commision yang dikirim untuk menyelidiki keadaan Palestina, mengusulkan, atas dasar tidak mungkinnya dipersatukan Bangsa Arab dan Yahudi, pembagian Palestina menjadi :
a. Yahudi : daerah sepanjang dari batas utara sampai Jaffa.
b. Mandat Inggris : Yerusalem, Betlehem, Jaffa dan jalan kereta api Jaffa-Yerusalem.
c. Arab : daerah Palestina yang dikurangi a dan b.
Usul Peel Commision ini dterima oleh Yahudi, tetapi ditolak keras oleh Arab, karena usul itu berarti penciptaan dan pengesahan negara yahudi. Bangsa Arab kemudian mengadakan kongres di bludan (Siria) untuk menentukan sikap terhadap soal Palestina.

Konggres Pan Arab (8 September 1937)

Konggres Pan Arab di Bludan merupakan pelopor dari Arab League (Liga Arab), karena disini berkumpulnya negara-negara Arab dari Timur Tengah mempersatukan gerakan dan sikap mereka terhadap soal Palestina. Putusan-putusan Konggres Pan Arab di Bludan ialah :
1. Menolak dengan tegas usul Peel Commision.
2. Menuntut dihapuskannya mandat Inggris atas Palestina dalam waktu tertentu.
3. Menuntut berdirinya Negara Palestina Yang Merdeka.
4. Menuntut hapusnya Palestina sebagai “a national home” untuk bangsa Yahudi” dan berhentinya imigrasi Yahudi ke Palestina.
Konggres Pan Arab menimbulkan pertempuran Arab-Inggris-Yahudi diseluruh Palestina, Keadaan Palestina menyerupai perang saudara. Pemimpin-pemimpin Arab ditangkapi dan Mufti Besar Yerusalem (Muhammad Amin al Huseini) Lari ke Siria, Jerman, dan Akhirnya ke Mesir. 30000 tentara Inggris lengkap dengan angkatan udaranya beraksi di Palestina. Yerusalem, Jaffa, Haifa mengalami pembomam yang dahsyat. Inggris menjadi bingung dan mengusulkan diadakan perundingan Palestina (Palestine Conference) di London. Perundingan ini diadakan di London tahun 1939, tetapi gagal karena Arab dan Yahudi tidak mau melepaskan pendiriannya.
Kemudian Inggris mengeluarkan “White Paper” yang memuat rencana Inggris mengenai soal Palestina.

White Paper 1939 (17 Mei 1939)

Isi White Paper ini adalah:
a. Dalam waktu 10 tahun lagi Palestina akan diberi kemerdekaan penuh.
b. Dalam 5 tahu UUD harus tersusun yang menjamin adanya “a Jewish home” (Perhatkan : bukan “a Jewish National Home”.
c. Antara 1939-1944 diperbolehkan masuk Palestina sejumlah 75000 orang Yahudi.
d. Pada tahun 1944 imigrasi Yahudi dihentikan sama sekali.(ini berarti jumlah Yahudi sekitar 1/3 jumlah penduduk Palestina).
e. Bangsa Yahudi dilarang membeli tanah.e
White Paper merupakan pukulan yang hebat bagi Yahudi dan kemenangan bagi Arab.

Perang Dunia II

Ketika perang dunia II, Yahudi terus memihak Inggris agar sesudah perang Inggris mau mencabut White Paper 1939. Arab juga memihak Inggris supaya mau memberikannya kepada Arab. Selama perang berkecambuk kerjasama ketiganya.

Sesudah Perang Dunia II

Yahudi keluar dari Perang Dunia II sebagai orang kuat, karena selama bekerjasama dengan Inggris mereka memperoleh persenjataan yang modern dan lengkap. Jewish Agency menjelma menjadi pemerintahan Yahudi dan organisasi Haganah menjadi tentara Yahudi. Jumlah orang Yahudi di Palestina makin meningkat. Sebagai “displaced pers on” (korban perang yang tidak punya tempat tinggal lagi yang seharusnya diurus UNO) orang-orang Yahudi mengalir masuk Palestina. Inggris menolak imigrasi Yahudi ini dengan kekerasan. Jewish Agency membalas dengan kekerasan pula kepada Inggris. Orang-orang Yahudi menjalankan teror (pasukan teror Yahudi: Irgun Z’vai Leumi dan Stern-Gang. Palestina menjadi tambah kacau dan Inggris membawa soal Palestina dimuka UNO pada tanggal 18 Febuari 1947).
Setelah mengirimkan panitia penyelidik (UNSCOP = United Nations Special Commisioan on Palestine) maka UNO memutuskan membagi Palestina menjadi daerah Arab dan daerah Yahudi. Putusan UNO memujurkan Yahudi karena dunia mengakui adanya daerah Yahudi di Palestina. Ini merupakan benih negara Israel yang ingin mereka wujudkan. Dengan putusan UNO-pun membatalkan White Paper 1939. Bangsa Arab menolak dan menentang putusan UNO ini dengan segala daya dan upaya. Meletuslah pertempuran-pertempuran antara Arab –Yahudi yang hebat.

Catatan:
HTML:
Inggris sebetulnya tidak setuju dengan putusan UNO ini. Dalam kekacauan yang timbul di Palestina karena putusan UNO ini, inggris diam-diam membantu Arab. Sebab-sebabnya ialah :
Inggris ingin melihat Palestina di bawah Arab, (ini berarti Inggris melepas Balfour Declaration) agar Palestina satu blok Arab dengan negara-negara Arab lainnya . nama Inggris mempunyai pengaruh yang besar.
Terhadap Rusia , Pendirian Arab lebih tegas  anti-Rusia dari pada pendirian Yahudi yang berasal dari berbagai negara yang berbagai paham. Paham sosialisme agak mendalam diantara bangsa Yahudi dan tidak  sedikit orang Yahudi yang berasal dari Rusia.

INGGRIS MENNGGALKAN PALESTINA DAN LAHIRNYA REPUBLIK ISRAEL (15 MEI 1948)

Inggris menetapkan bahwa Inggris akan mengakhiri mandatnya di Palestina pada tanggal 15 Mei 1948 dan akan meninggalkan Palestina. Tanggal ini merupakan peristiwa yang besar sekali bagi Palestina. Bertepatan dengan keluarnya Inggris dari Palestina, bangsa Yahudi memproklamirkan berdirinya Republik Israel. Sebagai presiden pertama dipilihlah Chaim Weizmann, pemimpin gerakan zionisme. Negara baru ini mendapatkan pengakuat dari USA, Rusia dan beberapa negara lain. Inggris tidak mengakuinya.
Setelah proklamasi Israel, negara-negara Arab yang tergabung dalam Arab League (Mesir, Arabia, Yaman, Irak,Trans-Yordania, Libanon, Siria) menggempur Palestina untuk menghancurkan Israel, tetapi gagal. Israel terbukti kuat untuk menahan serbuan Arab League. Hanya legiun Arab dari Trans-Yordania saja yang berhasil memperoleh kemenangan-kemenangan

Catatan:

HTML:
Arab league atau liga Arab adalah persatuan negara-negara Arab (Mesir, Saudi Arabia, Irak, Yaman, Trans-Yordania, Lebanon, Siria dan tahun 1953 Libya juga) dan didirakan pada tanggal 22 Maret 1945 di Bludan (Siria). Tujuan dari Arab League adalah :
Menjamin kemerdekaan bagi anggota2nya.
Mempererat hubungan dan persaudaraan antara anggota2nya.
Kerjasama anggota2nya dalam lapangan ekonomi, politik, dan militer.
Tiap anggotanya harus tunduk pada putusan Dewan Liga terdiri wakil2 negara2 arab. Wakil dari Palestina diperbolehkan duduk dalam Dewan Liga tetapi belum mempunyai status yang tertentu.
Perang yang berkobar antara Israel dan Arab League memaksa UNO mengambil tindakan tegas. Pertama harus diadakan genjatan senjata. Kemudian batas-batas antara negara Israel dan Arab Palestina akan ditentukan. UNO mengirim Bernadotte sebagai mediator. Bernadotte berhasil mengadakan genjatan senjata, tetapi pembagian Palestina yang diusulkannya sangat merugikan Israel, sehingga ia dibunuh oleh Yahudi garis keras di Yerusalem. Ia digantikan oleh Ralph Bunche yang berhasil melaksanakan pembagian Palestina. Tetapi masalah Palestina merupakan api yang belum padam sampai saat ini dan rentan sekali konflik sewaktu-waktu dapat menyala kembali.
 
pada saat negara Islam masih ada, inilah yg dilakukan oleh pemimpin negara Islam sebelum Negara Islam Hancur 1924

Pada Juni tahun 1896 M, datanglah pemimpin Yahudi Internasional Theodore Herzl ditemani Neolanski kepada Khalifah Abdul Hamid di Konstantinopel. Kedatangan mereka adalah meminta Khalifah memberikan tanah Palestina kepada Yahudi. Tidak tanggung-tanggung, mereka pun memberi iming-iming, “Jika kami berhasil menguasai Palestina, maka kami akan memberi uang kepada Turki (Khilafah Utsmaniah) dalam jumlah yang sangat besar. Kami pun akan memberi hadiah melimpah bagi orang yang menjadi perantara kami. Sebagai balasan juga, kami akan senantiasa bersiap sedia untuk membereskan masalah keuangan Turki”.


Namun, Khalifah Abdul Hamid menentang keras. Beliau menyatakan, “Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (palestina), Karena ia bukan miliku. Tanah itu adalah hak umat. Umat ini telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka..Yahudi silahkahkan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Islam dimusnahkan pada suatu hari, Maka mereka boleh mengambil tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara Aku hidup, Aku lebih rela menusukan ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islam. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selama kami masih hidup!”

Kesungguhan sang Khalifah itu ditunjukkan pula dalam Maklumat yang dikeluarkannya pada tahun 1890 M: ”Wajib bagi semua menteri untuk melakukan studi beragam serta wajib mengambil keputusan yang serius dan tegas dalam masalah Yahudi tersebut”

Ketegasan Khalifah menjadikan Herzl tak berdaya menghadapinya. Dia pun menyampaikan, ”Sesungguhnya saya kehilangan harapan untuk bisa merealisasikan keinginan orang-orang Yahudi di Palestina. Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak akan pernah bisa masuk kedalam tanah yang dijanjikan selama Sultan Abdul Hamid II masih tetap berkuasa dan duduk di atas kursinya”


Tahun 1902, delegasi Herzl kembali mendatangi Sultan Hamid. Delegasi Herzl menyodorkan sejumlah tawaran seperti
(1) memberikan hadiah sebesar 150 juta Poundsterling untuk pribadi Sultan
(2) membayar semua utang pemerintah Turkis Utsmani yang mencapai 33 juta Pounsterling
(3) membangun kapal induk untuk menjaga pertahanan pemerintah Utsmani yang bernilai 120 juta Frank
(4) memberikan pinjaman tanpa bunga sebesar 35 juta Poundsterling dan
(5) membangun sebuah universitas Utsmani di Palestina.
Namun, semua tawaran itu, ditolak oleh Sultan Hamid II.

Beberapa catatan menyebutkan setidaknya ada 6 kali delegasi yahudi mendatangi istana khalifah untuk meloloskan proposal ini. Diantaranya dialog yg “menyarankan” agar orang2 yahudi ”membeli” palestina terjadi antara sir moses haim montefiore dengan Shah Nasr ad Dhin.

lalu Khalifah Abdul Hamid II menolaknya dan mengatakan kepada delegasi tersebut,
“Nasehatilah temanmu Hertzl agar tidak mengambil langkah-langkah baru dalam masalah ini. Sebab, saya tidak akan bisa mundur dari tanah suci (Palestina) ini, walau hanya sejengkal. Karena tanah ini bukanlah milikku. Tanah ini adalah milik bangsa dan rakyatku. Para pendahuluku telah berjuang demi mendapatkan tanah ini. Mereka telah menyiraminya dengan tetesan darah. Biarlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku tercabik-cabik, maka sangat mungkin mendapatkan Palestina tanpa imbalan dan balasan apapun. Namun patut diingat, bahwa hendaknya pencabik-cabikan itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun, tentu aku tidak menerima ragaku dicabik-cabik selama hayat masih di kandung badan.”

Itulah sikap gemilang penguasa Muslim dan rakyatnya saat itu. Kini, rakyat Palestina sejak 1948 dijajah Israel. Mereka terus dibombardir bom, ditembaki senapan, dan setiap hari hidup dalam ketakutan. Bahkan, januari Desember 2009 hingga kini telah syahid lebih dari 1000 lebih orang laki-laki, perempuan, anak-anak dan orang tua renta. Setidaknya, 1700 orang luka-luka. Rumah sakit anak pun diporakporandakan. Protes dan demonstrasi terjadi di mana-mana. Pengumpulan danang, makanan, dan obat-obatan terus berjalan. Sungguh amal mulia, sekalipun ini hanya membantu mengobati yang luka tapi tidak dapat menghentikan kebiadaban Israel. Karenanya, sebagian kalangan berupaya mengirimkan relawan perang. Seruan jihad dimana-mana. Ini menunjukkan rakyat di berbagai negara merasa satu tubuh dengan saudara-saudaranya di Palestina.

Sikap rakyat ini berbeda dengan sikap penguasanya. Negeri-negeri Muslim punya kekayaan dan kekuatan untuk menghentikan kebiadaban Israel. Namun, para penguasa tidak menggunakannya. Paling hanya mengecam. Aneh, ratusan nyawa melayang dalam sekejap hanya dijawab dengan sekedar melakukan sidang. Padahal, menghentikan penjajahan tidak bisa dengan sekedar kutukan atau perundingan. Senjata harus dilawan senjata. Semestinya, para penguasa Muslim mengerahkan pasukan. Alih-alih mengenyahkan penjajah, sebagian penguasa Muslim justru malahan makan bersama pimpinan Israel, bersalaman dan berpelukan dengan mereka. Lebih mengherankan lagi, penguasa Saudi justru menangkap ulama yang menyerukan pengiriman pasukan membela Palestina. Kalau dulu, Khalifah Abdul Hamid mati-matian menjaga dan membela tanah Palestina, kini para penguasa membiarkan Israel menjajah tanah suci itu bahkan hanya diam menyaksikan pembantaian Muslim Palestina sambil memberikan bantuan makanan dan obat-obatan alakadarnya.

Dulu, Herzl merasa putus harapan untuk menguasai Palestina karena ketegasan penguasa Muslim kala itu, Khalifah Abdul Hamid. Beliau tidak kompromi. Sebaliknya, kini Israel tidak merasa gentar kepada dunia Islam padahal negerinya besar-besar dan penduduknya lebih dari 1,4 milyar. Mengapa? Sebab, kaum Muslim terpecah-pecah dan penguasanya tidak tegas seperti Khalifah Abdul Hamid.dan juga ketiadaan akan Khilafah
 
Yahudi beserta antek2nya memang bener2 harus dimusnahkan di muka Bumi ini!!! /pif

memank mereka pembuat gara2, udah merusak ajarannya nabi Isa, masi aja gt, gw harap yahudi segera lenyap dari muka bumi ini. Prihatin sekali gw ma pengikut ajaran nabi Isa yg telah dirusak oleh Yahudi pdhal masih bnyk yg baik tapi disesatkan di jalan yang tidak semstinya menuju cahaya :(

Yahudi harus ditumpas! Kecuali yg tidak memerangi....
 
Hanya dengan Khilafah dan Jihad lah solusi untuk palestina!!!!
 
Yang saya ceritakan tersebut sejarah Palestina ditinjau dari segi politik.
Dalam hadist nabi SAW, diceritakan bahwa salah satu dari parameter dunia akan kiamat adalah kaum muslimin akan memerangi Yahudi, sampai-sampai batu yang bersembunyinya seoang yahudi akan berbicara kepada kaum muslimin ada yahudi dibalik sana bunuhlah, begitu kalau tidak salah.
Inti dari konflik yang berkepanjangan Palestina yaitu adanya Balfour declaration ini, sehingga menyebabkan yahudi memiliki hak untuk berpolitik dan berkuasa di Palestina.
Palestina ini InsyaAllah merupakan parameter nanti akan berjayanya islam kembali, walaupu saya sudah kakek-kakek, bilamana adanya pangilan jihad saya InsyaAllah akan berjihad dan mengangkat senjata, agar nama saya fulan bin fulan dituliskan di pintu jannah sebagai ahlinya(jannah) nanti.
 
inti dari konflik nya itu bukan dari deklarasi balfour, inti dari konflik di palestina adalah hancurnya negara Islam/khilafah Islam disitulah mulainya penderitaan umat muslim di palestina dan negeri muslim lainya.

tidak seperti saat negara islam masih ada..masih ada yg melindungi seperti hal nya khalifah abdul hamid II mengatakan “Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (palestina), Karena ia bukan miliku. Tanah itu adalah hak umat. Umat ini telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka..Yahudi silahkahkan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Islam dimusnahkan pada suatu hari, Maka mereka boleh mengambil tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara Aku hidup, Aku lebih rela menusukan ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islam. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selama kami masih hidup!”

nah sekarang di manakah pemimpin umat Islam, yg umat berlindung di belakangnya?
tidak ada..
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.