yophi
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 45381
- Sejak
- 5 Jun 2008
- Pesan
- 512
- Nilai reaksi
- 15
- Poin
- 18
Jakarta – Di atas kertas, elektabilitas dan popularitas pasangan SBY-Boediono sudah melampaui para pesaingnya, yakni JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. Dipasangkan dengan sandal jepit sekalipun, SBY optimistis menang. Namun mengapa kubu Cikeas ragu memenangkan pilpres dalam satu putaran?
Ada sinyal koalisi besar kubu Cikeas yang kini terbangun adalah koalisi setengah hati, sehingga mesin partai dan basis konstituen parpol pendukungnya bakal susah digerakkan. Inikah latar belakang kubu SBY hingga kini masih bimbang dan ragu dalam menghadapi lawan-lawan politiknya untuk bisa menang dalam satu putaran?
Duet SBY-Boediono ini didukung oleh 23 partai politik, terdiri dari lima parpol yang lolos ke parlemen (Partai Demokrat, PKS, PPP, PAN, dan PKB) serta 18 parpol nonparlemen (PBB, PBR, PDS, PKPI, PKPB, PPRN, PDP, PPPI, Partai Republikan, Patriot, PNBKI, PPI, Pelopor, PKDI, PIS, PPIB, dan PPDI). Dengan demikian, pasangan ini memegang rekor terbanyak dalam jumlah dukungan.
Di luar parpol, duet ini juga didukung kebijakan politik BLT, BOS, KUR, PNPM Madani dan berbagai jenis politik ijon lainnya. Sehingga kubu ini hampir pasti sangat optimistis untuk menang dalam pertarungan pilpres nanti.
Di antara para kandidat, capres SBY memiliki popularitas dan elektabilitas tertinggi. Sehingga tidak aneh bila kemudian banyak orang mengatakan bahwa SBY dipasangkan dengan sandal jepit sekali pun akan tetap menang.
Persoalan muncul karena duet SBY-Boediono ini terkesan bernuansa kedaerahan, elitis, dan sepuh. Kritik muncul terhadap pasangan ini, yakni kurang memperhatikan unsur Jawa dan luar Jawa. Sementara sosok Boediono, yang dianggap sebagai ekonom Neoliberalis, bisa menjadi amunisi bagi kompetitor untuk menyerang pasangan ini.
Beberapa partai pendukung koalisi seperti PKS, PAN, dan PPP sempat berang dan mengancam akan keluar dari koalisi. Situasi itu membuat SBY-Boediono bimbang dan ragu untuk bisa menang dalam satu putaran. Sementara pilpres berlangsung dalam dua putaran, diprediksi kubu SBY-Boediono akan kedodoran, karena memang sudah menyimpan benih keretakan dalam koalisi setengah hati yang mereka bangun sendiri.
SBY selama empat tahun juga kurang berhasil mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan, kurang berhasil dalam menggerakkan sektor riil. Di sini, masuk akal jika dunia usaha berharap, pemerintah baru hendaknya probisnis yang diaktualisasikan dengan memulihkan dan membangkitkan kinerja sektor riil.
Namun dimensi politik tak kalah penting untuk dicermati, termasuk perlunya DPT yang baik dan bersih. Jika tidak, apalagi jika DPT terbukti bermasalah, hal itu bisa menimbulkan gejolak politik yang mengkhawatirkan. Keadaan itu bahkan bisa menghancurkan iklim bisnis dunia usaha, sekalipun SBY memenangkan pilpres.
Pasca deklarasi 15 Mei, slogan SBY Berboedi membahana di hampir pelosok daerah. Namun slogan itu belakangan diketahui mengandung kelemahan, karena berbau elitis dan jumawa.
Semua ini membuat kubu SBY semakin waspada. Mereka kini bisa dikalahkan oleh lawan politik yang underdog dan bersahaja, sesuatu yang sebelumnya tak terduga.
Ada sinyal koalisi besar kubu Cikeas yang kini terbangun adalah koalisi setengah hati, sehingga mesin partai dan basis konstituen parpol pendukungnya bakal susah digerakkan. Inikah latar belakang kubu SBY hingga kini masih bimbang dan ragu dalam menghadapi lawan-lawan politiknya untuk bisa menang dalam satu putaran?
Duet SBY-Boediono ini didukung oleh 23 partai politik, terdiri dari lima parpol yang lolos ke parlemen (Partai Demokrat, PKS, PPP, PAN, dan PKB) serta 18 parpol nonparlemen (PBB, PBR, PDS, PKPI, PKPB, PPRN, PDP, PPPI, Partai Republikan, Patriot, PNBKI, PPI, Pelopor, PKDI, PIS, PPIB, dan PPDI). Dengan demikian, pasangan ini memegang rekor terbanyak dalam jumlah dukungan.
Di luar parpol, duet ini juga didukung kebijakan politik BLT, BOS, KUR, PNPM Madani dan berbagai jenis politik ijon lainnya. Sehingga kubu ini hampir pasti sangat optimistis untuk menang dalam pertarungan pilpres nanti.
Di antara para kandidat, capres SBY memiliki popularitas dan elektabilitas tertinggi. Sehingga tidak aneh bila kemudian banyak orang mengatakan bahwa SBY dipasangkan dengan sandal jepit sekali pun akan tetap menang.
Persoalan muncul karena duet SBY-Boediono ini terkesan bernuansa kedaerahan, elitis, dan sepuh. Kritik muncul terhadap pasangan ini, yakni kurang memperhatikan unsur Jawa dan luar Jawa. Sementara sosok Boediono, yang dianggap sebagai ekonom Neoliberalis, bisa menjadi amunisi bagi kompetitor untuk menyerang pasangan ini.
Beberapa partai pendukung koalisi seperti PKS, PAN, dan PPP sempat berang dan mengancam akan keluar dari koalisi. Situasi itu membuat SBY-Boediono bimbang dan ragu untuk bisa menang dalam satu putaran. Sementara pilpres berlangsung dalam dua putaran, diprediksi kubu SBY-Boediono akan kedodoran, karena memang sudah menyimpan benih keretakan dalam koalisi setengah hati yang mereka bangun sendiri.
SBY selama empat tahun juga kurang berhasil mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan, kurang berhasil dalam menggerakkan sektor riil. Di sini, masuk akal jika dunia usaha berharap, pemerintah baru hendaknya probisnis yang diaktualisasikan dengan memulihkan dan membangkitkan kinerja sektor riil.
Namun dimensi politik tak kalah penting untuk dicermati, termasuk perlunya DPT yang baik dan bersih. Jika tidak, apalagi jika DPT terbukti bermasalah, hal itu bisa menimbulkan gejolak politik yang mengkhawatirkan. Keadaan itu bahkan bisa menghancurkan iklim bisnis dunia usaha, sekalipun SBY memenangkan pilpres.
Pasca deklarasi 15 Mei, slogan SBY Berboedi membahana di hampir pelosok daerah. Namun slogan itu belakangan diketahui mengandung kelemahan, karena berbau elitis dan jumawa.
Semua ini membuat kubu SBY semakin waspada. Mereka kini bisa dikalahkan oleh lawan politik yang underdog dan bersahaja, sesuatu yang sebelumnya tak terduga.


