Politik Realita Pemilih Milenial di Pilpres 2019: Seberapa Besar Pengaruhnya?

Discussion in 'Gossip, Berita & Politik' started by politik, 13 Oct 2018.

  1. politik

    politik IndoForum Beginner C

    No. Urut:
    288509
    Joined:
    14 May 2018
    Messages:
    743
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Seberapa besar pengaruh pemilih milenial dalam Pilpres 2019 mendatang? Memang, kaum milenial membentuk sekitar 42 persen dari total pemilih terdaftar di Indonesia. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar lainnya tentang proses demokrasi Indonesia: Seberapa banyak kebebasan yang dimiliki pemilih muda untuk membuat pilihan politik mereka sendiri? Bagaimana kebebasan ini harus dipupuk?

    Oleh: Dwintha Maya Kartika, Muhammad Sinatra (The Diplomat)

    Dengan periode kampanye dimulai pada bulan September, banyak perhatian sekarang diarahkan pada prospek Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Prabowo Subianto untuk memenangkan pemilihan presiden yang akan datang, yang akan diselenggarakan pada bulan April 2019.

    Kampanye awal menunjukkan tanda-tanda bahwa kedua kubu menargetkan para pemilih milenial—mereka yang berada dalam rentang usia 17-35 tahun, dan mencakup sebanyak 79 juta orang atau 42 persen dari total pemilih terdaftar, berdasarkan data pada awal September. Tindakan Jokowi selama Asian Games dan pasangan Prabowo, Sandiaga Uno yang terlibat dengan kelompok pemuda, adalah bukti untuk ini.

    Walau bobot politik kaum milenial harus diakui dalam Pilpres 2019, namun perhitungan politik tidak boleh terlalu melebih-lebihkan dampak suara milenial terhadap hasil pemilu. Pemilih di atas 35 tahun masih mencakup lebih dari separuh jumlah total pemilih terdaftar.

    Kaum milenial Indonesia sering disalahartikan sebagai entitas monolitik yang akan merespons secara positif terhadap kampanye politik yang mencolok dan sensasional. Namun, milenial jarang sepakat ketika menyangkut partisipasi politik.

    Beberapa orang menganggap bahwa kebanyakan kaum milenial tak peduli politik, berdasarkan temuan survei yang menunjukkan pemilih muda yang rendah pada pemilu 2014. Namun secara historis, pemuda Indonesia telah memainkan peran penting di banyak titik kritis proses politik negara, seperti Sumpah Pemuda dan gerakan reformasi tahun 1998.

    Dalam konteks modern, partisipasi politik tidak bisa diukur melalui cara-cara konvensional untuk memilih surat suara. Kegiatan seperti berpartisipasi dalam kesukarelaan politik, gerakan sosial, protes, dan berbagi materi terkait kampanye di media sosial, juga merupakan bentuk ekspresi politik—yang melibatkan anak muda yang aktif dan melek teknologi.

    Selain itu, partisipasi politik dan preferensi generasi millennial dipengaruhi oleh sejumlah besar faktor, termasuk pembagian berdasarkan tempat tinggal di perkotaan dan pedesaan, latar belakang pendidikan, dan religiusitas, beberapa di antaranya. Misalnya pada tahun 2010, hanya sekitar enam persen pemuda Indonesia yang memperoleh gelar universitas. Dengan demikian, kampanye politik hanya beresonansi pada kelompok muda tertentu.

    Selain gaya kampanye yang non-konvensional dan edgy, ada juga faktor-faktor lain yang memengaruhi preferensi politik kaum milenial.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG