pinnacullata
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 24506
- Sejak
- 24 Okt 2007
- Pesan
- 13.034
- Nilai reaksi
- 224
- Poin
- 63
Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar kaya Amenhotep, berasal dari
keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik. Karena ia
berasal dari keluarga yang lebih miskin dibanding dengan
suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak selayaknya, sampai suatu hari ia dan
suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang nelayan yang miskin dan
istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru
untuk mengganti jalanya yang robek pun ia tidak mampu. Istri nelayan tersebut adalah
orang yang pemboros, malas dan suka berjudi, seluruh penghasilan suaminya
digunakannya untuk berfoya-foya.
Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata kepada suaminya, bahwa seharusnya
istri nelayan tersebut membantu memperbaiki jala suaminya. Amenhotep, menentang
pendapat istrinya, mereka berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian memanggil
nelayan miskin tersebut.
Amenhotep menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut. Putri Qara sedih
karena terhina, suaminya memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa
dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan tidak berani membantah, karena
Amenhotep terkenal kejam dan sadis karena kekayaannya.
Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam bekerja. Karena kepandaian dan
kebijaksanaan Putri Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya. Sampai suatu ketika
ada seorang tua dengan baju compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah Putri
Qara, pelayan dirumah tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian
melepas terompahnya dan meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh
pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan
menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri mengenali terompah tersebut dan
memerintahkan pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru
dan 3 keping uang emas ditambah pesan : aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi
pekerti, kebijaksanaa dan kemauan untuk bekerja.
Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan akan tindakannya di masa lalu,
karena egonya dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan seorang wanita
yang hanya bisa menghamburkan harta suaminya.
Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena ternyata begitu besar pengaruh
seorang istri untuk suaminya.
Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria dengan bijaksana, dan hai
pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses
pasti terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana.