• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Prinsip-prisip Berdoa Saat Sakit

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. stanza
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

stanza

IndoForum Beginner E
No. Urut
44969
Sejak
31 Mei 2008
Pesan
441
Nilai reaksi
3
Poin
18
TUHAN PENYEMBUHKU


Peristiwa Penyembuhan di Dalam Alkitab


Sebagian besar mujizat di dalam Alkitab adalah mujizat penyembuhan. Dalam keempat Injil Perjanjian Baru tercatat dua puluh penyembuhan yang spesifik. Orang buta dicelikkan; orang-orang yang sejak lama sakit disembuhkan saat itu juga; anak-anak dan orang dewasa, secara pribadi atau kelompok, semuanya disembuhkan dengan sentuhan atau kata-kata Yesus. Selain penyembuhan secara individu kita berulang kali membaca dalam berbagai konteks dan keadaan bahwa orang banyak datang kepada Yesus dan Dia menyembuhkan mereka semua (Matius 4:23, 24; 8:16,17; Markus 1:32-34; 3:10-12; Lukas 6:17-19; 7:21; 13:32)

Orang kristiani mula-mula juga menyaksikan penyembuhan ajaib. Hanya beberapa hari setelah turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahir. Itu merupakan pertunjukkan yang mengagumkan dari kuasa Allah, dan orang-orang menanggapinya dengan memuji Allah karena "mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya" (Kisah Para Rasul 3:9-10). Rasul Petrus memanfaatkan ketertarikan yangd itimbulkan oleh mujizat itu sebagai kesempatan untuk mengabarkan pesan Injil. Ia menjelaskan bahwa orang itu disembuhkan hanya dengan kuasa Kristus (ayat 16). Gereja mula-mula berharap penuh bahwa Allah akan menunjukkan kuasa-Nya dengan mengulurkan tangan-Nya untuk "menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus" (Kisah Para Rasul 4:30)


Apakah Kita Dapat Disembuhkan?​

Dengan begitu banyaknya mujizat penyembuhan yang tercatat dalam Injil, kita tentunya ingin tahu apakah mujizat yang sama berlaku bagi kita saat ini. Penyembuhan adalah masalah penting. Meskipun semua orang kristiani setuju bahwa Tuhan sendirilah yang menyembuhkan kita (Keluaran 15:26), berbagai kelompok kristiani memberikan jawaban yang berbeda-beda terhadap pertanyaan tentang bagaimanan Allah mneyembuhkan,atau bahkan apakah Allah melakukan mujizat penyembuhan di masa kini. Tujuan saya bukanlah mengadu domba kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Sebaliknya, saya ingin menyelidiki apa yang dikatakan oleh Kitab Suci dan menarik kesimpulan, bukan berdasarkan pendapat atau tradisi tertentu, melainkan berdasarkan kebenaran yang alkitabiah.

Jadi--apa yang harus kita lakukan saat penyakit parah menyerang hidup kita? Saya telah menyusun lima tindakan alkitabiah yang seharusnya dilakukan oleh orang kristiani saat jatuh sakit. Langkah-langkah ini berdasarkan janji dan perintah Allah, yang diberikan kepada mereka yang dalam iman adalah anak-anak Allah.

Jika Anda sedang membaca buku ini dan Anda belum percaya kepada Yesus Kristuss sebagai Juru Selamat dan Tuhan, maka itu adalah suatu keputusan penting yang harus Anda pertimbangkan dengan serius. Alkitab menyatakan bahwa kita semua terpisah dari Allah karena dosa kita . Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus, Allah sendiri, datang ke bumi sebagai manusia dan hidup di tengah-tengah kita. Dia dibunuh dengan kejam di atas kayu salib, tetapi Dia tidak mati bagi dosa-Nya sendiri. Yesus menanggung hukuman atas dosa-dosa kita di atas kayu salib. Yesus mati--dan tiga hari kemudian Dia bangkit dari kematian. Bahkan, Dia hidup sekarang ini! Yesus berjanji untuk mengubah orang-orang yang percaya kepada-Nya dan yang memberikan dirinya untuk mengikuti Dia. Jika Anda sakit, Yesus mungkin tidak menyembuhkan Anda dalam kehidupan sekarang ini, tetapi di balik pintu kematian Anda akan disempurnakan untuk selamanya.

Kita yang percaya kepada Kristus dapat mencari petunjuk dalam firman-Nya, terutamasaat kita sakit. Melakukan langkah-langkah yang dijelaskan kepada kita di dalam Alkitab tidak menjamin kesembuhan dari Allah; tetapi tidak melakukan langkah-langkah itu pun tidak akan membatasi kemam puan Allah untuk bekerja dengan penuh kuasa dalam hidup kita. Langkah-langkah tersebut adalah langkah-langkah ketaatan dan iman yang mengakui kedaulatan kuasa Allah atas kita sebagai anak-anak-Nya, serta kemampuan Allah agar bekerja secara ajaib untuk memenuhi kebutuhan.


Berdoa Memohon Kesembuhan dari Allah​

Pertama-tama, saya mendapati bahwa banyak orang kristiani tidak pernah secara khusus meminta Allah untuk menyembuhkan penyakit mereka. Kita berdoa bagi orang lain, tetapi tidak bagi diri kita sendiri! Saat lulus dari seminari, saya memegang suatu paham tentang mujizat, yang oleh para ahli telogi disebut dengan paham cessationist. Saya percaya bahwa semua mukjizat dan penyembuhan supranatural berhenti seiring dengan kematian para rasul. Selama bertahun-tahun, saya berdoa untuk orang-orang yang sakit, tetapi saya tidak pernah secara khusu meminta kepada Allah untuk menyembuhkan seseorang dengan ajaib.

Setelah seseorang penatua jemaat yang saleh menunjukkan sebuah ayat dalam Yakobus kepada saya, barulah saya menyadari betapa salahnya saya selama ini. Saya telah membaca ayat itu berpuluh-puluh kali, tetapi saya belum pernah menerapkan kebenarannya secara terus-menerus dalam hidup saya, "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa" (Yalobus 4:2). Selama bertahun-tahun pelayanan saya, saya belum pernhah menyaksikan seseorang dipulihkan dari sakit dengan cara yang ajaib. Jadi saya mulai berdoa dengan cara yang berbeda.

Sekarang, jika saya mengunjungi seseorang yang sakit, atau yang akan menjalani operasi, atau yang telah didiagnosa dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, saya berdoa meminta Allah untuk menyembuhkan orang itu. Saya tidak menuntut penyembuhan; saya memintanya. Doa saya bukanlah sebuah perintah yang congkak atau mencolok; itu adalah seruan yang rendah hati dari seseorang anak Allah.

Saat berdoa, saya juga mengakui bahwa Allah jauh lebih besar dan bijaksana dari saya. Saya meminta penyembujan, ettapi saya juga tunduk pada kehendak-Nya. Saya telah ditentang beberapa kali karena berdoa dengan cara demikian. Seseorang telah memberi tahu saya bahwa bila saya berdoa "jika itu kehendak-Mu", itu menunjukkan bahwa saya kurang beriman. Tentu saja ia yakin bahwa menyembuhkan selalu menjadi kehendak Allah. Namun, saat melihat KItab Suci, saya tidak setuju dengan kesimpulannya. Kadang kala, saat Allah mengizinkan orang percaya yang setia jatuh sakit, hal itu jelas merupakan kehendak-Nya. Ketika kita meminta Allah untuk melakukann sesuatu "jika itu kehendak-Nya", kita sebenarnya mengakui bahwa kita tidak tahu pasti apa kehendak-Nya dalam situasi ini.

Bila kita berpikir bahwa hanya dengan mengungkapkan kehendka kita, sebagai orang kristiani, akan membuat sesuatu menjadi kekendak Allah, adalah keliru. Doa bukanlah manipulasi kita terhadap Allah. Doa adalaj penyesuaian kehendak kita terhadap kehendak-Nya. Kadang kala, ketika kita meminta Allah untuk menyembuhkan "jika itu kehendak-Nya, Dia akan mengabulkan permintaan itu. Saya pernah menyaksikan hal itu terjadi. Kadang kala, kehendak Allah akan mulai mengubah hati kita, sehingga kita meminya hal yang lain-- permintaan kita diselaraskan dengan kehendak-Nya. Kadang, kala Allah tidak mengabulkan permintaan kita, tetapi membimbing kita untuk bersandar pada hikmat dan pemeliharaan-Nya.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk tidak sekedar berbicara kepada Allah dalam doa kita, tetapi juga mendengarkan-Nya. Menantikan Tuhan adalah sebuah disiplin rohani yang sudah tidak dikenal lagi oleh sebagian besar dari kita. Kita menghambur masuk dalam hadirat Allah, menyerukan permintaan kita, lalu beralih pada hal-hal lain. Akan tetapi,jika kita belajar untuk menanti dengan diam dan terbuka di hadapan-Nya, kita akan melihat Allah bekerja dengan penuh kuasa dalam hidup kita.Dia akan mulai mengubah apa yang kita inginkan atau memberi kita pemahaman yang lebih dalam tentang kehendak-Nya. Roh Allah di dalam diri kita akan memberi kepastian tentan apa yang menjadi kehendak Allah atau meningkatkan kepercayaan kita akan kasih dan perhatian Allah. Saat berdoa meminta kesembuhan dari Allah, pastikan Anda mendengarkan taggapan yang tenang dan lembut dari Allah.

Dalam situasi tertentu, saya mendapati diri datang kepada Allah berulang kali dengan sebuah permintaan agar disembuhkan atau agar Allah menyembuhkan orang lain. Paulus memohon kepada Allah tiga kali agar penderitaan fisiknya, duri didalam dagingnya, diambil (2 Korintus 12:8). Yesus, di taman Getsemani, memohon kepada Bapa, kalau boleh cawan penderitaan yang ada di hadapan-Nya disingkirkan. Kemudian, setelah Dia kembali dan mendapati murid-murid-Nya sedang tidur, Yesus berdoa lagi, megucapkan kata-kata yang sama (Markus 14:36-39). Salah satu pemahaman keliru yang populer di kalangan orang kristiani adalah bahwa jika kita berdoa lebih dari satu kali tentang sesuatu yang kita butuhkan, maka kita melakukan kesalahan karena "bertele-tele" seprti yang diperingatkan Yesus dalam Matius 6:7. Mengikuti teladan Yesus dan Paulus, doa yang sungguh-sungguh dan rendah hati, yang diajukan berkali-kali untuk kebutuhan yang sama, hanyalh menunjukkan betapa beratnya beban kebutuhan itu dalam hidup kita.

Yesus memperingatkan, "Teruslah meminta, maka kamu akan diberi; teruslah mencari maka kamu akan menemukan; teruslah mengetuk, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Matius 7:7,menurut saya). Jika Allah ingin agar kita berhenti mendoakan hal tertentu, Dia akan mempertanyakannya dengan jelas. Namun, sebelum kita mendapatkan kepastian kehendak Allah, kita harus terus berdoa. Kita boleh saja menahan diri untuk tidak makan selama beberapa waktu (disebut berpuasa dalam Alkitab) agar dapat memusatkan doa kita, atau bersekutu dengan orang lain untuk berdoa bersama, atau bahkan, seperti yang dilakukan Yesus, berdoa semalaman. Akan tetapi, dorongan Roh Allah dalam hati kita untuk "bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur" (Kolose 4:2) seharusnya memacu diri kita untuk bertekun dalam doa, merasa yakin bahwa Bapa kita senag mendengar anak-Nya berseru dengan rendah hati dalam penyerahan diri kepada-Nya.

Jika Anda, anggota keluarga Anda, atau sesama jemaat dalam gereja Anda sakit, berdoalah. Mintalah agar Allah menyembuhkan anak-Nya. MIntalah dalam iman. Mintalah dalam penyerahan diri kepada Bapa yang berdaulat dan penuh kasih.


Carilah Pertolongan Medis​


Setelah Anda berdoa, bnagkitlah, dan cari dokter! Mencari pertolongan medis bukanlah tanda kurangnya iman. Perawatan medis bisa menjadi salah satu cara yang digunakan Allah untuk menjawab doa Anda. Allah telah menciptakan zat-zat yang bisa dibuat menjadi obat untuk mengatasi penyakit dan mendorong penyembuhan. Seluruh isi dunia yang Allah ciptakan "sungguh amat baik" (Kejadian 1:31) dan harus diterima dan digunakan dengan penuh rasa syukur (Mazmur 24:1)

Profesor Wayne Grudem berpendapat bahwa jika tersedia obat-obatan atau perawatan dokter. Tentu saja kita menaruh kepercayaan kita bukan pada dokter atau obat-obatan, melainkan kepada Allah. Namun, kita harus sadar bahwa Allah meminta tubuh kita agar berekasi terhadap perawatan yan tepat dan mengaruniakan pengetahuan kepada umat manusia untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu.

Kadang kala Allah memilih bekerja secara ajaib untuk mendatangkan kesembuhan pada tubuh kita. Kadang kala dia juga memilih untuk bekerja melalui hukum-hukum alam yang telah Dia tetapkan untuk mendatangkan pemulihan dankesehatan. Penyembuhan secara normal setelah beberapa waktu juga merupakan karya Allah, sama sepeti penyembuhan langsung yang ajaib.

Dua contoh alkitabiah menekankan arti penting mencari pertolongan medis setelah berdoa meminta kesembuhan dari Allah. Pada tahun ke-39 pemerintahannya sebagai raja Yudea, Asa menderita suatu penyakit di kakinya. Penyakit itu tampaknya merupakan cara Allah yang terakhir dan penuh kasih untuk mengalihkan Asa dari jalannya yang penuh penindasan dan ketidaktaatan. "Namun dalam kesakitannya itu ia tidakmencari pertolongan TUHAN, tetapi pertolongan tabib-tabib" (2 Tawarikh 16:12) Dua tahun kemudian, Asa meninggal. Asa mengandalkan para tabib ketika ia seharusnya mencari Tuhan. Tak ada dokter ataupun obat yang dapat menyembuhkan sesuatu yang dipakai Allah sebagai hukuman. Demikian juga, tak ada penyakit atau kondisi fisik yang dapat menahan kuasa Allah jika Diamau menyembuhkannya.

Dua ratus tahun setelah kematian Asa, seorang raja yang lain jatuh sakit. Hizkia hmapir mati. Nabi Yesaya menyuruhnya untuk menyampaikan pesan terakhir kepada keluarganya karena ia akan mati. Sang raja menanggapinya dengan berdoa sunguh-sungguh kepada TUhan untuk meluputkan nyawanya. Penyakit itu menyempurnakan apa yang diinginkan Allah dalam hidup Hizkia--membawanya kembali pada ketaatan sepenuh hati kepada Tuhan. Ketika Allah melihat tanggapan yang diingankan-Nya dari Hizkia, Allah memberikan pesan baru kepada Yesaya, "Baiklah dan katakanlah kepada Hizkia...: Tetap Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketika engkau akan pergi ke rumah TUHAN. Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi (2 Raja-raja 20:5,6)

Jika Anda jatuh sakit, berdoalah. Tuhanlah yang menyembuhkan Anda. Lalu, carilah oerawatan medis yang tepat. Allah mengizinkan umat manusia untuk memperoleh pemahaman yang luar bisa tentang bagaimana tubuh manusia bekerja. Namun, jangan pernah lupa abhwa Allah dapat menyebuhkan, bahkan ketika cara-cara medis gagal. Seorang wanita yang menghabiskna seluruh hartanya untuk membayar dokter, dantidak seorang pun dari mereka yang dapat menyembuhkannya, apda suatu hari hanya dengan menyentuh jubah Yesus langsung memperoleh kesmebuhan (Lukas 8:43,44)

Saya telah berkali-kali berdoa meminta kesembuhan dari Allah bagi diri saya sendiri dan orang lain. Ada kalanya Allah menjawab dengan penyembuhan langsung yang ajaib. Namun, acap kali penyembuhan itu datang melalui istirahat, pola makan yang baik, dan perawatan medis yang baik. Pergi ke dokter tidak menunjukkan saya kurang beriman; tetapi itu adalah tindakan yang bijaksana.

Pada awal tahun 1970-an seorang ahli Perjanjian Lama yang brilian meninggalkan posisinya sebagai pengajar di sebuah seminari pengabaran Injil untuk memulai sebuah gereja baru. Jumlah pengikutnya di Indiana utara berkembang pesat dan menimbulkan kegemparan, bahkan di media sekuler. Hobart Freparan mengabarkan Injil penyembuhan. Para pengikutnya diminta agar tidak ke dokter atau ke rumah sakit lagi. Bahkan, dokter gigi dan mata pu tidak diperlukan lagi. Dunia yang belum diselamatkan mungkin membutuhkan bantuan medis seperti itu, tetapi orang-orang percaya sejati memiliki akses yang tak terputus terhadap mujizat penyembuhan. Para wanita hamil di beri tahu bahwa salah satu bisan dari jemaat akan membant mereka dalam proses persalinan.

Khotbah Horbart Freeman terdengar begiu sempurna-- sampai akhirnya seorang bayi meninggal saat dilahirkan akibat komplikasi yang relatif kecil, yang tidak bisa diatasi oleh bidan. Lalu, anak yang lain meninggal juga. Pengkhotbaj yang penuh semangat itu menyatakan bahwa anak-anak itu meninggal karena orangtua mereka belum sepenuhnya percaya pada firman tentang kesembuhan. Sementara itu, aula besar yang dibangun oleh para pengikutnya mulai kosong. Hobart Freeman sendiri meninggal beberapa tahun kemudian akibat penyakit ditubuhnya yang dibiarkan tanpa perawatan.

Berhati-hatilah apa yang Anda dengar dari pengkhotbah di televisi atau penyembuhan rohani yang tidak sesuai dngan pengajaran Firman Allah. Menurut keyakjinan yang tidak utuh dan menyimpang tentang penyembuhan dapat menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan Anda.
 
Akuilah Semua Dosa yang Anda Ketahui Dalam Hidup Anda​


Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa orang-orang kristiani bisa jatuh sakit. Dan penyakit itu merupakan cara pendisiplinan dan koreksi dari Allh atas dosa yang ada dalam hidup mereka. Tidak semua penyakit merupakan hukuman dosa, tetapi penyakit bisa saka merupakan bukti dari teguran Allah. Tuhan tidak menghukum kita dalam amarah atau karena benci; Dia mendisiplinkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Allah begitu mengasihi kita, sehingga Dia tidak bisa membiatkan kita terus menerus melakukan ketidaktaatan atau kelalaian.

Jika Anda jatuh sakit, luangkan waktu untuk mengoreksi diri sendiri dengan jujur dan seksama. Apakah Anda tidak taat dalam hal-hal tertentu? Apakah Anda sedang memasuki jalan yang membahayakan atau berdosa dalam hidup Anda? Apakah Anda pernah melawan hukum atau perintah Allah dalam hal hubungan atau kegiatan pribadi tertentu?

Saya harus memperingatkan Anda agar tidak terlalu mencari-cari kesalahan diri. Ada orang yang berkata kepada saya, "Dua tahun yang lalu saya melakukan sesuatu, tetapi saya mengakuinya dan sudah menyelesaikannya-- tetapi, mungkin sekarang saya sedang dihukum untuk apa yang saya lakukan dulu." Disiplin bukanlah hukuman. Hukuman bagi dosa-dosa kita juga sudah dibayar penuholeh Kristus melalui kematiannya di kayu salib.

Teguran Allah akan datang dalam hidup kita jika kita tidak mau mengakui dan berbalik dari dosa.Kita mengeraskan hati terhadap Allah sampai pada titik di manan hanya tindakan keras yang akan menarik perhatian kita. Menurut pengalaman saya, jika orang kristiani sedang menerima pendisiplinan dari Allah, maka orang itu akan menyadarinya. Saat menelaah hidup, kita langsung tahu mengapa Allah mengizinkan penyakit itu datang.

Jika Anda sakit dan Anda thu bahwa Allah telah mengizinkan penyakit itu datang karena ketidaktaatan Anda, akuilah bahwa tindakan itu adalah seperti yang dikatakan Allah--dosa. Lalu, ubahlah pikiran, sikap, dan hidup Anda. Dengan pertolongan Allah, tinggalkan dosa itu. Ajaklah orang-orang percaya lain yang dapat dipercaya untuk memastikan pertanggungjawaban Anda. Barulah kesembuhan itu akan datang.

Beberapa tahun yang lalu, saya mengidap serangkaian infeksi akut. Saya thu mengapa penyakit itu datang. Saya telah mengakui sebuah dosa dalam hidup saya kepada Allah, tetapi saya belum meyelesaikannya secara jujur dengan orang-orang yang terkena imbas dosa itu. Roh Allah telah mendesak saya beberapa kali untuk mengakuinya secara terbuka, tetapi saya menolak. Dokter saya adalah seorang kristiani yang peka. Ketika saya datang ke kantornya untuk mengobati infeksi ketiga dalam tiga bulan dan antibiotika terbaiknya tampaknya tidak mampu berbuat banyak, ia berkata, "Doug, ini lebih dari sekedar masalah fisik. Ada hal lain yang sedang terjadi. Saya siap membiacarakannya kapan saja." Saat saya meninggalkan kantornya, air mata mulai mengalir di wajah saya. Saya sudah tertangkap basah! Campur tangan penuh kasih dari dokter itu menggulirkan proses pertobatan yang panjang dan sukar dalam hidup saya.

Dalam kemurahan hati-Nya, Allah tidak meninggalkan kita ketika kita menjauhi-Nya. Dia mengikuti kita--tetap mengasihi kita--dan menempatkan segala macam halangan yang dapat Dia letakkan di hadapan kita agar kita berbalik kepada-Nya. Ketika kita sadar dan memutuskan untuk kembali kepada Bapa, saat kita memalingkan kepala untuk memutar arah, kita melihat Dia siap merengkuh kita. Akibat buruk dari ketidaktaatan kita mungkin masih tetap harus dihadapi, tetapi kita mungkin masih tetap harus dihadapi, tetapi kita tidak mengahadapinya sendirian. Selama proses lkita mengaku dosa, bertobat, dan menjalani pemulihan, Bapa berjalan mendampingi kita.


Minta Diurapi​


Penyembuhan bisa datang setelah Anda melakukan salah satu langkah yang telah saya jelaskan. Akan tetapi, jika penyakit itu tetap ada, Anda perlu melakukan langkah alkitabiah yang keempat. Yakobus, dalam surat Perjanjian Barunya yang singkat, memberi tahu orang-rang yang sakit adar meminta para penatua gereja mengurapi mereka dengan minyak. Praktik mengurapi orang sakit dengan minyak adalah salah satu praktik alkitabiah yang paling terabaikan, dan menyebabkan kerugian besar bagi kita, orang kristiani. Saya kerap bertanya kepada para pendeta yang saya jumpai dalam berbagai situasi, apakah pengurapan terhadap orang-orang sakit merupakan bagian dari pelayanan mereka. Umumnya, respons yang saya dapatkan tidak bertentangan dengan gagasan tersebutm tetapi mereka juga bersikap masa bodoh. Mereka tidak memiliki keberatan terhadap pengurapan; hanya saja, mereka tidak melakukannya.

Dalam Gereja Katolik Roma, mengurapi orang sakit dianggap sebagai salah satu sakramen. Dulu disebut extreme unction, yang pada dasarnya persiapan terakhir bagi seseorang untuk menghadapi kematian. Dalam beberapa tahun belakangan ini, tujuan di balik pengurapan kesembuhan Allah kepada orang-orang yang lemah dan sudah lanjut usia". Bebrapa orang Kristen Protestan telah mengambil pendekayan tanpa pandang bulu terhadap pengurapan dan mengurapi setiap orang untuk tujuan yang bermacam-macam.

Beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk mempelajari Yakobus 5:14-16 dan sungguh-sungguh melakukan perkataan ayat itu. Saya mulao mengajarkan ayat ini kepada jemaat saya, dan seiring berlalunya waktu kamu mulai melakukan apa yang diperintahkan Allah kepada kami. Ayat itu sendiri culup jelas:
Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya.

Saat Anda merenungkan ayat ini, ingatlah bahwa Yakpbus menulis salah satu dari kitab-kitab Perjanjian Baru yang mula-mula,saat mujizat masih diperlihatkan secara luas, dan karunia penyembuhan tampak terlihat helas di dalam gereja. Namun, Yakobus menulis kepada sebuah gereja yang digembalakan oleh para penatua, bukan para rasul, dan ia memberi, kepada mereka dan kita,s ebuah pola untuk mengatasi penyakit dalam keluarga gereja.

Yakobus menetapkan tiga syarat bagi orang yang sakit. Pertama, orang itu harus sakit. Kata Yunani yang dipakai oleh Yakobus mengandung arti harafiah "tidak berdaya"; kata ini sering dipakai untuk merujuk penyakit fisik. Praktik pengurapan dilakukan terhadap orang-orang yang sakit parah, yang sepertinya sudah tidak memiliki kekuatan dari dalam diri mereka untuk sembuh. Saya pikir pengurapan tidak cocok untuk penyakit ringan, dan juga tidak tepat dilakukan jika orang yang sakit belum melakukan langkah-langkah lainnya. Jika seseorang yang belum berdoa meminya penyembuhan secara pribadi atau belum pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan medis meminta saya melakukan pengurapan, saya mendorongnya untuk melakukan langkah-langkah itu dulu.

Syarat kedua bagi orang yang sakit itu adalah ia haruslah seorang Kristiani, seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus. "Kalau ada seseorang diantara kamu [arti harafiah,'di tengah-tengah kamu'] yang sakit..." Ini adalah urusan keluarga. Pengurapan tidak diperuntukkan bagi orang yang belum percaya atau masyarakat umum.

Orang yang percaya yang sakit parah itu kemudian harus mengambil inisiatif untuk mintya diurapi. Saya tidak memiliki kewenangan alkitabiah untuk datang begitu saja ke rumahorang yang sakit untuk melakukan pengurapan,jadi ia harus mampu memahami dan mengikuti prosesnya.

Setelah orang yang sakit itu meminta pengurapan, para penatua gereja bertanggung jawab untuk memenuhi permintaannya. JIka Anda adalah anggota gereja yang dalam tradisinya tidak memiliki orang-orang yang secara resmi ditunjuk sebagai "penatua" maka orang yang dimaksud itu, dalam bahasa umum, adalah orang-orang yang bertanggungjawab atas kepemimpinan rohani dalam gereja. Pastinya seorang pendeta adalah seorang penatua, dan para pemimpin rohani lain yang sudah dewasa juga dapat mengambil peran ini. Yakobus secara tersirat menyatakan bahwa lebih dari satu penatua akan ikut serta. Allah bisa saja bekerja melalui doa penatua yang mana saja untuk mendatangkan kesembuhan.

Para penatua bertanggung jawab untuk berdoa atas orang yang sakit itu dan mengurapinya dengan minyak. Biasanya saya meminta para penatua untuk meletakkan tangan dengan lembut ke atas orang sakit, sedangkan saya menuangkan minyak zaitun di jari saya dan megoleskannya ke dahi orang itu. Teman saya mempunyai seorang pendeta yang percaya bahwa karena semua penatua harus bersoa, maka semuanya harus mengurapi. Setiap penatua dalam gerejanya menaruh minyak ke kepala orang yang sakit saat ia berdoa meminta penyembuhan dari Allah.

Meskipun minyak dipakai sebagai obat pada zaman dahulu, saya berpendapat bahwa Yakobus tidak sekedar berbicara tentang penggunaan obat.MInyak sering dipakai dalam Kitab Suci untuk menggambarkan karya Roh Kudus. Raja dan iman diurapi dengan minyak sebagai lambang pemberian uasa kepada mereka untuk melayani (Keluaran 30:30; 1 Samuel 10:1,10 ; 16:13). Minyak yang digunakan dalam pengurapan merupakan tanda nyata ketergantungan penuh kita kepada Roh Kudus untuk mendapatkan kesembuhan (2 Korintus 22; 1 Yohanes 2:20). Tak ada kuasa pada diri orang yang skait; tak ada kuasa di dalam minyak atau para peantua; senua kuasa ada di dalam Allah.

Para penatua harus mengurapi orang yang sakit "di dalam nama Tuhan", yaitu atas perintah Tuhan dan dengan kuasa Tuhan. Segala hal dalam proses pengurapan haris berpusat kepada Tuhan, Hasilnya tidak berdasarkan penatua mana yang mengurapi, atau berdoa, atau mengucapkan kata-kata tertentu. Bagi dunia melakukan prosedur ritual tertentu. Bagi dunia yang menolak Kristus, pengurapan terlihat bodoh dan sepele, tetapi Allah kerap memakai hal-hal yang lemah dan boodh untuk menunjukkan kuasa-Nya dan untuk mematahkan hikmat manusia.

Jika orang yangs sakit telah memenuhi saya syarat-syarat alkitabiah, dan jika para penatua telah melakukan tanggung jawab rohani mereka, maka hasilnya ada di tangan Allah.

Hasil pertamanya adalah salahsatu yang paling sering disalahpahami. Yakobus berkata, "Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu." Terjemanhan ini membuat seolah-olah penyembuan orang yang sakit itu tergantung pada iman para penatua; jika mereka berdoa dengan iman, orang itu akan sembuh; jika orang itu tidak sembuh, para penatua tidak berdoa dengan iman--atau tidak dengan iman yang cukup.

Namun, menurut saya bukan itu yang dimaksud Yakobus dalam perikop ini. Pendapat bahwa penyembuhan hany abergantung pada iman kita atau iman para penatua juga berarti bahwa jika iman kita cukup besar, kita tidak akan pernah meninggal. Hal yang sebenarnya dikatakan oleh Yakobus adalah, "Dan doa yang lahi rdari iman akan menyelamatkan orang sakit itu..." Saya yakin bahwa doa yang lahir dari iman adalah doa khusus yang diberikan oelah Allah melalui para penatua jika Dia bermaksud memberilan penyembuhan. "Tuhan akan membangunkan dia," lanjut Yakobus. Lagi pula, doa yang lahir dari iman adalah doa, dan seperti semua doa, yang ditekankan adalah kerelaan kita untuk berserah pada hikmat dan pemeliharaan Allah. JIka doa yang lahir dari iman diberikan oleh Allah, maka doa itu menyempurnakan kehendak-Nya, dan entah berangsur-angsur atau langsung, orang yang sakit itu akan membaik.

Setiap kali saya mengajar tentang penyembuhan dan pengurapan orang sakit,s elalu ada orang yang bertanya, "Apakah para penatua tahu jika doa yang lahir dari iman sudah diberikan?" Jawaban saya terdiri dari dua bagian. Seiring berjalannya waktu, orang akan tahu apakah doa yang lahir dari iman dusah diberikan, karena orang yang sakit akan pulih atau terus memburuk keadaanya. Pada saat pengurapan saya biasanya tidak bisa mengatakan apakah doa yang lahir dari iman telah mengalir melalui kami, kadang-kadang saya bisa.

Beberapa tahun lalu, seorang wanita jemaat kami, yang memiliki sejarah penyakit jantung yang panjang, harus masuk rumah sakit kembali menjalani operasi jantung lagi sepertinya tidak memungkinkan. Ia minta diurapi,dan seteleha pengurapan saya hampir berkata, "Clara, kau akan baik-baik saja. Aku yakin." Namun, saya menyimpannya dalam hati. Hari berikutnya para dokter tidak menemukan masalah. Mereka heran karena jantungnya dalam kondisi yang sangat baik. Tuhan telah melakukan pekerjaan kuasa yang luar biasa sebagai jawaban dari ketaatan dan doanya.

Sebaliknya, saya ikut serta dalam proses pengurapan seorang wanita kristiani yang baik. Ia mengidap kanker otak, dan saat kami meninggalkan rumahnya, saya tahu bahwa ia tidak akan pulih. Pertanda dari Alah itu tidak sering datang, tetapi jika pertanda itu datang, saya kewalahan dengan kekuatan pertanda yang muncul dalam hati dan piirna saya.

Yakobus menambahkan satu pertanyaan lagi pada penjelasannya tentang pengurapan, "Dan jika ia [orang yang sakit] telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diamui. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku disamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh." (Yakobus 5:15,16). Dalam pelayanan pengurapan,s angatlah penting untuk menekankan kepada orang yang sakit bahwa ia harus benar-benar mengakui dosa apapun yang ia sadari kepada Allah. Hati yang terbuka dan bersih dihadapan Tuhan adalah bagian penting yang harus dibawa oleh orang yang sakit dalam proses pengurapan. Saya juga mendorong para penatua yang ikut serta untuk memeriksa hati mereka, sehingga tidak ada sesuatu dalam diri kita yang akan mendukakan Roh Kudus untuk menghalangi pekerjaan-Nya. Aspek dalam pelayanan pengurapan inilah yang membuat saya tidak membuka pelayanan pengurapan bagi semua orang yang ingin ikur serta. Saya pikir, penting jika orang-orang yang berpartisispasi menyadari bahwa keadaan rohani mereka di hadapan Allah memiliki pengaruh yang besar terhadap apa yang terjadi selamam dan setelah proses pengurapan.

Jika Anda sakit parah, pertimbangkanlah dalam doa untuk meminta penatua gereja mengurapi dan berdoa bagi kesembuhan Anda. Pengurapan bukanlah jaminan kesembuhan; pengurapan bukanlah sulap. Pengurapan adalah praktik yang telah diberikan Allah pada gereja dan merupakan praktik yang akan dihormati dan diberkati Allah jika kita menaati-Nya dengan rendah hati.


Berserah Sepenuhnya dalam Pemeliharaan Allah​


Setiap langkah yang saya jelaskan di atas dirancnag untuk membuat kita menyadari ketergantungan penuh kita pada Allah untuk semua sisi kehidupan kita, termasuk kesehatan fisik kita. Saat Anda berdoa dan mencari perawatan medis yang baik, dan bahkan meminta untuk diurapi, Allah mungkin membangkitkan Anda dari penyakit Anda. Jika Dia melakukannya, berikan pujian dan hormat bagi-Nya. Akan tetapi, Allah, dalam hikmat dan kasih yang sama, kadang kala memilih untuk tidak menyembuhkan Anda. Jangan berpikir bahwa Allah tidak mengasihi orang-orang percaya lain dibandingkan Anda. Kedalaman kasih-Nyalah yang ingin Dia tunjukkan kepada Anda, bahkan dalam keadaan sakit atau cacat.

Taati apa yang Allah katakan kepada Anda dalam firman-Nya dan berserahlah pada kehendak-Nya. Anda mungkin berpikir hal itu terasa seperti menyerah--atau pasrah--dan memang begitu! Namun, kita tidak akan menyerah terhadap nasib, keberuntungan,atau keputuasaan, tetapi terhadap pemeliharaan dan perhatian Bapa yang penuh kasih. Doa Anda memohon kesembuhan mungkin terjawab saat Allah menyembuhkan Anda selama-lamanya dengan membawa Anda ke dalam hadirat Kristus untuk selama-lamanya.

Lagu yang paling menyenangkan hati Allah bukanlah yang dinyanyikan pada masa-masa indah dalam keadaan sehat dan berlimpahan, melainkan yang dinyanyikan melalui air mata di saat-saat tergelap,d i tengah-tengah percobaan dan penderotaan.

Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH (Mazmur 73:26,28)





[Douglas Connelly]
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.