Ajido-Marujido
IndoForum VIP: The Special One
- No. Urut
- 10016
- Sejak
- 31 Des 2006
- Pesan
- 4.815
- Nilai reaksi
- 147
- Poin
- 63
JAKARTA - Industri perbankan nasional masih sangat sehat. Kalau pun ada kasus satu bunk gagal kliring, hal itu tidak bisa digeneralisasi bahwa semua bunk sedang kesulitan. Lagipula, gagal kliring bukan parameter utama untuk mengatakan bahwa perbankan nasional sedang krisis.
"Kondisi bunk-bunk di tanah air semuanya masih sangat sehat, tidak perlu ada kekhawatiran," ujar Ketua Himpunan bunk-bunk Milik Negara (Himbara) Agus Martowardojo usai breakfast meeting bersama wartawan di kantornya kemarin (20/11).
Dirut PT bunk mandilu Tbk (BMRI) itu meminta agar masyarakat tidak terpengaruh oleh rumor-rumor tak jelas soal perbankan nasional. "Kondisi memang sulit, tapi semuanya masih dan akan selalu terkendali," tuturnya.
Mantan kandidat gubernur BI itu mencontohkan pemberitaan soal bunk Century yang dinilainya malah membuat masyarakat takut. "Saya baru pulang dari London, bertemu 120 investor. Semuanya tanya itu, dan menggeneralisasi bahwa semua bunk (nasional) sedang kesulitan," ujarnya.
Salah satu parameter yang menunjukkan bahwa kondisi perbankan masih stabil, kata dia, adalah penyaluran kredit yang lancar. Loan to deposit ratio (LDR, rasio kredit terhadap danang pihak ketiga) masih dalam kategori sehat, di kisaran 79 persen.
Saat ini, ada sekira Rp 400 triliun DPK yang belum dikucurkan dalam bentuk kredit dari total DPK Rp 1.600 triliun. Hal itu mengindikasikan masih banyak potensi danang yang bisa disalurkan ke masyarakat.
"Tapi, tentu bunk akan hati-hati, melihat tergantung bagaimana kualitas proyek yang diajukan calon debitur," tutur Agus.
Khusus untuk likuiditas valas, Agus mengakui memang saat ini sedang ketat. "Kalau terlihat LDR valas sangat tinggi itu karena memang DPK valas tidak banyak," jelasnya.
Agus mengakui, pada kuartal empat memang gerak perbankan akan lebih pelan. "Tapi, sekali lagi itu bukan berarti perbankan sedang kesulitan. Semua stakeholder harus menyamakan persepsi, jangan satu kasus kecil dibesar-besarkan yang nantinya bisa memicu rush," tuturnya.
Wadirut bunk mandilu Wayan Agus Mertayasa mengatakan, bunk memang mulai berpikir ulang terhadap semua rencana ekspansinya. Tapi, itu bukan berarti bukti bahwa bunk dalam kondisi limbung. "Para bankir hanya berhati-hati, meningkatkan risk management," tuturnya.
Di bunk mandilu, pascagagal mengakuisisi bunk Indover di Belanda, perseroan tetap menyusun sejumlah rencana alternatif untuk pengembangan di pasar internasional. "Tapi, yang jelas tidak tahun ini. Kita sedang review semuanya. Intinya, tetap akan ekspansi tapi penuh kecermatan," jelas Wayan. (eri/fan)
sumber: http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=36740
"Kondisi bunk-bunk di tanah air semuanya masih sangat sehat, tidak perlu ada kekhawatiran," ujar Ketua Himpunan bunk-bunk Milik Negara (Himbara) Agus Martowardojo usai breakfast meeting bersama wartawan di kantornya kemarin (20/11).
Dirut PT bunk mandilu Tbk (BMRI) itu meminta agar masyarakat tidak terpengaruh oleh rumor-rumor tak jelas soal perbankan nasional. "Kondisi memang sulit, tapi semuanya masih dan akan selalu terkendali," tuturnya.
Mantan kandidat gubernur BI itu mencontohkan pemberitaan soal bunk Century yang dinilainya malah membuat masyarakat takut. "Saya baru pulang dari London, bertemu 120 investor. Semuanya tanya itu, dan menggeneralisasi bahwa semua bunk (nasional) sedang kesulitan," ujarnya.
Salah satu parameter yang menunjukkan bahwa kondisi perbankan masih stabil, kata dia, adalah penyaluran kredit yang lancar. Loan to deposit ratio (LDR, rasio kredit terhadap danang pihak ketiga) masih dalam kategori sehat, di kisaran 79 persen.
Saat ini, ada sekira Rp 400 triliun DPK yang belum dikucurkan dalam bentuk kredit dari total DPK Rp 1.600 triliun. Hal itu mengindikasikan masih banyak potensi danang yang bisa disalurkan ke masyarakat.
"Tapi, tentu bunk akan hati-hati, melihat tergantung bagaimana kualitas proyek yang diajukan calon debitur," tutur Agus.
Khusus untuk likuiditas valas, Agus mengakui memang saat ini sedang ketat. "Kalau terlihat LDR valas sangat tinggi itu karena memang DPK valas tidak banyak," jelasnya.
Agus mengakui, pada kuartal empat memang gerak perbankan akan lebih pelan. "Tapi, sekali lagi itu bukan berarti perbankan sedang kesulitan. Semua stakeholder harus menyamakan persepsi, jangan satu kasus kecil dibesar-besarkan yang nantinya bisa memicu rush," tuturnya.
Wadirut bunk mandilu Wayan Agus Mertayasa mengatakan, bunk memang mulai berpikir ulang terhadap semua rencana ekspansinya. Tapi, itu bukan berarti bukti bahwa bunk dalam kondisi limbung. "Para bankir hanya berhati-hati, meningkatkan risk management," tuturnya.
Di bunk mandilu, pascagagal mengakuisisi bunk Indover di Belanda, perseroan tetap menyusun sejumlah rencana alternatif untuk pengembangan di pasar internasional. "Tapi, yang jelas tidak tahun ini. Kita sedang review semuanya. Intinya, tetap akan ekspansi tapi penuh kecermatan," jelas Wayan. (eri/fan)
sumber: http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=36740



