• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Misi Mistik yang Berujung Maut

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
(27 Aug 2008, 265 x , Komentar)

Laporan: Amiruddin-Akbar Hamdan, Makassar

Di Balik Tewasnya Anggota KPA Batara Gowa

Sabtu malam, 23 Agustus lalu, penulis tiba-tiba menerima pesan singkat (SMS) dari seorang anggota Korpala Universitas Hasanuddin. Isinya, mengabarkan bahwa ada tiga pendaki yang “terjebak” di Pos 13 Bawakaraeng.Malam itu, BASARNAS, SAR Unhas, SAR UNM dan Korpala Unhas tengah breafing di Lembanna, kaki pegunungan Bawakaraeng, menyusun rencana evakuasi terhadap para korban.

Belakangan ini, kawasan pegunungan Bawakareng memang dirundung cuaca buruk. Kabut tebal menyelimuti pandangan. Hujan yang disertai angin kencang, ditambah suhu yang sangat dingin terus menerpa.

Cuaca buruk ini pula yang menghalangi upaya evakuasi terhadap para korban. Ditambah lagi, Pos 13, lokasi di mana ketiga korban terjebak termasuk sulit dicapai. Dalam cuaca bersahabat saja, pendaki dengan stamina fit membutuhkan waktu tempuh sekitar 7-8 jam untuk bisa mencapai pos 13.

Mereka harus melalui medan-medan pendakian yang berat, turunan curam, malah harus melewati puncak Bawakaraeng (pos 10), lalu turun lagi hingga ke pos 13.

Minggu lalu, tim SAR gabungan akhirnya tiba di pos 13. Tiga pendaki itu ditemukan sudah tak bernyawa lagi. Dg Makkuling, 45, dan istrinya Sumiati, 25, ditemukan meninggal dalam posisi terbaring di jalur pendakian. Tubuh keduanya sudah kaku akibat dinginnya suhu di Bawakaraeng.

Sedangkan jenazah Farid (bukan Syarif), 22, ditemukan agak di bawah, tepatnya di dasar jurang sedalam 50 meter.

Hingga malam tadi, cuaca buruk masih saja menyelimuti area sekitar pegunungan Bawakaraeng. Wartawan Fajar Abu Bakar AR di Tassoso, Sinjai Barat melaporkan bahwa tim SAR gabungan yang berjumlah belasan orang yang membawa ketiga jenazah korban masih berada di antara pos 12-pos 11 pegunungan Bawakareng.

Rencananya, tim SAR akan mengevakuasi jenazah melalui jalur Tassoso, Sinjai Barat. “Evakuasi ke Lembanna dibatalkan karena cuaca di Bawakaraeng masih memburuk. Sementara jalur ke Tassoso cenderung lebih baik,” kata Sekretaris SAR Sinjai, Andi Ilham.

Ilham mengatakan, tim evakuasi masih harus menginap semalam (tadi malam, red) di antara pos 12-pos 11 Bawakaraeng. Pagi ini, tim tersebut akan melanjutkan perjalanan ke pos 9 Bawakaraeng lalu turun ke Tassoso, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat.

“Mereka akan melanjutkan perjalanan subuh nanti dan tiba (Rabu,red) malam di Tassoso jika cuaca normal,” tandas Ilham.

Siang kemarin, tim SAR Sinjai juga memperluas jalur pendakian Bawakaraeng-Tassoso untuk melancarkan proses evakuasi. Jalur ini disebut-sebut tergolong jarang dilalui oleh pendaki sehingga ilalangnya tumbuh dengan subur.

Perubahan rute evakuasi ini juga langsung disikapi aparat Polisi Hutan Gowa dengan menutup jalur pendakian di Lembanna. Beberapa regu simpatisan yang ingin memberikan bantuan, termasuk kerabat para korban diarahkan ke Tassoso, Sinjai Barat yang berjarak sekitar 30 km dari Lembanna, Kecamatan Tinggimoncong, Gowa.

Di Tassoso sendiri sudah siaga 16 anggota SAR Sinjai beserta aparat kepolisian setempat. Sempat diperoleh kabar, tim evakuasi kekurangan logistik.

Misi Mistik

Dari keterangan sejumlah sumber diperoleh informasi bahwa misi Dg Makkuling Counter Strike adalah menziarahi satu makam tua di kawasan lembah Kharisma. Lembah ini terletak di antara pegunungan Lompobattang dan Bawakaraeng. Saat melakukan pendakian, tim kecil Dg Makkuling dilaporkan membawa beberapa jenis kembang dan songkolo (beras ketan masak, red).

Sayangnya, kebenaran misi beraroma mistik itu belum bisa dipastikan. Keluarga Ahmadi Syam Dg Makkuling yang ditemui di rumah duka, malam tadi, menolak berkomentar lebih jauh mengenai ikhwal keberangkatan korban ke Bawakaraeng.

“Kami mohon kepada media untuk tidak menyebarluaskan seputar kematian ayah kami. Kami di sini sudah sangat terpukul. Kami hanya ingin melihat jenazah beliau,” tutur Harlinda, salah seorang anak Dg Makkuling dari istri pertamanya.

Dg Makkuling memang disebut-sebut sebagai pendamping rombongan sekaligus yang akan memimpin acara ritual. Di dalam rumah korban sendiri terlihat terpajang deretan gambar tokoh agama yang sudah dikenal sebagai Waliullah dan beberapa diantaranya Habib (keturunan Rasulullah saw).

Dilarang Mendaki

Suasana duka juga menyelimuti kediaman Farid. Di kalangan keluarga, anak kedua dari empat bersaudara pasangan HM Laode-Hj Tati itu dikenal sosok yang sabar. Informasi mengenai kematian mahasiswa Fakultas Hukum Unhas angkatan 2006 tersebut, sama sekali tak disangka.

“Kita sama sekali tidak menyangka Farid akan meninggal di Bawakaraeng. Semua keluarga di Pangkajene (kampung almarhum di Kabupaten Sidrap, red) menangis,” kata Nisa, keluarga korban.

Menurut Nisa, Farid yang tinggal bersama kakaknya di BTP Blok B313 sebenarnya sudah sering dilarang mendaki. Namun hobi mahasiswa berambut gondrong itu tak bisa dibendung oleh keluarganya.

“Dia memang suka mendaki. Bahkan tahun lalu, ia pulang mendaki sehari sebelum Lebaran Idul Fitri,” kata Nisa seraya menangis. Saat mendengar kabar kematian Farid, Nisa yang juga tinggal di BTP mengaku sama sekali tidak percaya. Iapun beberapa kali mencoba menghubungi HP korban kemarin malam.

“Saya telepon beberapa kali tapi tidak aktif,” katanya seraya membeberkan bahwa korban yang tinggal di Jl Lapadda, Pangkajene akan dikebumikan di Sidrap. (m01)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.