chesster
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 9428
- Sejak
- 11 Des 2006
- Pesan
- 3.191
- Nilai reaksi
- 428
- Poin
- 83
Heboh dan kontroversi mengenai keberadaan mesin waktu dan perjalanan menembus dimensi waktu menuju masa lalu, sepertinya harus diakhiri sekarang juga. Saat ini telah ada mesin waktu tersebut, dan cukup besar untuk menampung 200 juta manusia lebih secara ber-sama² mengarungi waktu menuju masa silam. Mesin waktu raksasa itu bernama Indonesia.
Betapa tidak, kalau kita amati kondisi Indonesia dewasa ini, tak ubahnya seperti kita menunggang mesin waktu balik ke masa lalu. Coba tanya kepada orang tua, paman, bibi, kakak, a'a, teteh dan generasi di atas kita bagaimana kondisi Indonesia di awal tahun 60'an.
Orang antri minyak tanah dan beras, pemadaman listrik bergiliran, penyakit busung lapar (di jaman itu lbh dikenal dgn HO atau Honger Oedem) menjadi pemandangan se-hari² di kala itu. Lalu bedanya apa dgn hari ini? Yah mungkin satu² perbedaan adalah hari ini kita mendapat tambahan bonus berupa kemacetan lalu lintas, sistem peradilan yg amburadul, tayangan TV yg bisa menyebabkan anak mati dan penyakit flu burung plus chikunguya. Lumayan naik mesin waktu dapat bonus gratis.
Indonesia memang bergerak pesat. Ketika negara lain di kawasan Asia Tenggara bergerak pesat ke depan, maka Indonesia bergerak sama pesatnya, tapi mundur ke belakang. Pesimis? Tidak perlu juga. Bahkan kita harus membantu laju percepatan mundur ini supaya suatu saat kita sampai pada titik dimana kita pernah "Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja". Yaitu tatkala mesin waktu ini sampai di jaman Majapahit dan Sriwijaya.
SBY gagal dalam perebutan Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Itu bukan salah SBY melainkan kesalahan panitianya. Coba kalau SBY dinominasikan untuk Nobel Fisika, pasti dia yg menyabet hadiah itu. Karena dia mampu menciptakan sebuah mesin waktu raksasa. Memang para presiden pendahulunya juga punya andil dalam "prestasi" ini, tapi tetap saja SBY lah yg paling menonjol, sebab di era kepemimpinan dia lah mesin waktu ini terwujud.
Betapa tidak, kalau kita amati kondisi Indonesia dewasa ini, tak ubahnya seperti kita menunggang mesin waktu balik ke masa lalu. Coba tanya kepada orang tua, paman, bibi, kakak, a'a, teteh dan generasi di atas kita bagaimana kondisi Indonesia di awal tahun 60'an.
Orang antri minyak tanah dan beras, pemadaman listrik bergiliran, penyakit busung lapar (di jaman itu lbh dikenal dgn HO atau Honger Oedem) menjadi pemandangan se-hari² di kala itu. Lalu bedanya apa dgn hari ini? Yah mungkin satu² perbedaan adalah hari ini kita mendapat tambahan bonus berupa kemacetan lalu lintas, sistem peradilan yg amburadul, tayangan TV yg bisa menyebabkan anak mati dan penyakit flu burung plus chikunguya. Lumayan naik mesin waktu dapat bonus gratis.
Indonesia memang bergerak pesat. Ketika negara lain di kawasan Asia Tenggara bergerak pesat ke depan, maka Indonesia bergerak sama pesatnya, tapi mundur ke belakang. Pesimis? Tidak perlu juga. Bahkan kita harus membantu laju percepatan mundur ini supaya suatu saat kita sampai pada titik dimana kita pernah "Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja". Yaitu tatkala mesin waktu ini sampai di jaman Majapahit dan Sriwijaya.
SBY gagal dalam perebutan Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Itu bukan salah SBY melainkan kesalahan panitianya. Coba kalau SBY dinominasikan untuk Nobel Fisika, pasti dia yg menyabet hadiah itu. Karena dia mampu menciptakan sebuah mesin waktu raksasa. Memang para presiden pendahulunya juga punya andil dalam "prestasi" ini, tapi tetap saja SBY lah yg paling menonjol, sebab di era kepemimpinan dia lah mesin waktu ini terwujud.


good bgt