• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mengatasi Masalah Hidup dengan Beriman pada Allah dan Takdirnya

Blog Sakinah

IndoForum Newbie D
No. Urut
176628
Sejak
6 Jul 2012
Pesan
90
Nilai reaksi
0
Poin
6
Dengan adanya masalah kehidupan, hidup menjadi lebih variatif. Setiap manusia memiliki andil yang berbeda-beda dalam mengarungi samudera kehidupan ini, dengan tingkatan yang berbeda-beda. Beradaptasi dengan masalah hidup mengharuskan kita memeras otak mencari metode terbaik untuk menyelesaikannya. Sebagian orang menemukan jalan buntu, disebabkan sibuknya memperhatikan setumpuk masalah pribadi dan telah terlanjur terbuai oleh kegundahan hatinya.

Sesungguhnya iman kepada Allah dan takdir-Nya itulah yang dapat merubah seseorang dan pola pikirnya. Dari keluh kesah menjadi sabar, dari kebencian menjadi rela, dari risau menjadi tenang dan dari gelisah menjadi senang. Keimanan yang membentengi manusia dari masalah kehidupan dan fitnah-fitnah, membantunya untuk bersikap sabar dan memotivasinya ketika di timpa musibah dan fitnah. Keimananlah yang merubah pola pikir seseorang, dari yang tidak menggunakan logika menjadi pikiran yang sehat dan realistis sesuai dengan perjalanan kehidupan ini dan liku-likunya.

Mengimani takdir baik dan takdir buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’aam: 59). “Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)

Meskipun Allah telah menentukan takdir atas seluruh hamba-Nya, bukan berarti bahwa hamba-Nya dibolehkan untuk meninggalkan usaha. Karena Allah telah memberikan qudrah (kemampuan) dan masyii-ah (keinginan) kepada hamba-hamba-Nya untuk mengusahakan takdirnya. Allah juga memberikan akal kepada manusia, sebagai tanda kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain, agar manusia dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Allah tidak menghisab hamba-Nya kecuali terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukannya dengan kehendak dan usahanya sendiri.

Seorang mukmin yang menghadapi kesusahan dengan kesabaran dan keridhaan, maka akan muncul rasa senang, bahagia, hilangnya kesedihan, kekecewaan dan sempurnalah baginya kehidupan yang baik di dunia ini. Semua kesusahan merupakan pengalaman berharga yang harus dijadikan sebagai peta dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh dengan gelombang dan ombak besar. Tidak ada orang yang sanggup menghadapi tekanan kehidupan atau mengatasi masalah tanpa meminta pertolongan kepada Penciptanya. Di tangan-Nyalah urusan segala takdir, baik yang kecil maupun yang besar. Dialah yang mengangkat kesedihan dan menghilangkan kesusahan. Tidak ada kekuatan bagi seorang makhluk pun yang mampu menghilangkan kesusahan atau mendatangkan manfaat kecuali atas izin dan kehendak Allah.

Takdir adalah hak mutlak milik Allah. Manusia hanya memiliki hak menebar usaha, melakukan amalan, berikhtiar dan bekerja. Kita harus mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita harus tetap berusaha, niscaya Allah akan memberikan kemudahan. Dengan meyakini takdir, seorang muslim akan memiliki ketabahan, terutama di saat harus menerima dera musibah secara bertubi-tubi atau di saat menghadapi ancaman terhadap ketentraman hidupnya. Di sisi lain, keyakinan kepada takdir, menyeruakkan nuansa kesegaran berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala, bagi orang-orang yang tabah dan sabar. “Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatak kesenanagan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)

Keyakinan terhadap takdir, menjunjung manusia ke arah ketabahan, kepasrahan dan keteduhan hati. berbahagialah dengan takdirmu, niscaya keabadian menghampirimu dengan segala keindahannya.
Ibnu Qayyim berkata: “ Bertawakal kepada Allah, mencakup setengah agama dan setengahnya lagi adalah bertaubat.” Karena sesungguhnya agama adalah ibadah dan meminta tolong kepada Allah, maka bertawakal kepada Allah adalah meminta tolong kepada-Nya, sedangkan bertaubat adalah ibadah kepada-Nya. Apabila seorang hamba meminta tolong kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, yakin dan beriman kepada takdir-Nya, niscaya Allah akan bersamanya di waktu susah dan sempit.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.