• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Melawan Terorisme Bergaya Takfiri

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Spoiler for teroris jilbab biru:
Melawan Terorisme Bergaya Takfiri




Oh adek yg jilbab biru. Hilang manis diterjang peluru. Dapat salam dari ayah ibu. Salah siapa jadi begitu.

Plesetan lirik lagu Oy Adik Jilbab Biru tersebut terpikirkan oleh penulis setelah melihat aksi teror di Mabes Polri pada 31 Maret 2021 lalu yg dilakukan oleh Zakiah Aini. Dalam video amatir & rekaman CCTV terlihat sosok berjilbab biru yg berjalan di dalam area Mabes sambil mengacungkan senjata & melepaskan tembakan. Tak lama, terduga teroris tersebut berhasil dilumpuhkan dengan timah panas. Pihak Kepolisian menyatakan bahwa Zakiah bergerak sendirian alias lone wolf.

Menariknya, kejadian teror tersebut tak lama berselang setelah aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, yg menewaskan dua pelaku & melukai 20 orang pada 28 Maret 2021 silam.

Jika dilihat dari pola serangannya, kedua aksi terorisme tersebut mengikuti pola terorisme JAD, sebuah kelompok teroris yg memiliki affiliasi dengan ISIS.

Berdasarkan jurnal studi terorisme yg ditulis mahasiswa UI, Aysha Rizki Ramadhyas, target penyerangan kelompok JAD adalah otoritas keamanan & non-muslim. Dapat dilihat dengan pola serangan yg menargetkan gereja & markas Kepolisian.
.
Menurut pengamat terorisme & direktur Istitute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, penggunaan sel-sel kecil & pelaku tunggal (lone wolf) dalam mengerjakan serangan teror jadi strategi yg sering dijalankan demi menjaga keamanan jaringan mereka. Sebab terlalu berbahaya bagi mereka untuk bergerak sebagai satu organisasi besar.

Pengamat terorisme Taufik Andrie mengatakan, pola eksekusi seorang diri atau dalam sel-sel kecil menciptakan serangan berikutnya sulit untuk dideteksi. Akibatnya pola serangan teror jadi acak, tidak harus mengpakai bom.

Sumber :Kompas [Pola Teror JAD, Serang Polisi & Non-Muslim secara Acak lewat Sel-sel Kecil]

Serangan kecil-kecilan ala JAD & ISIS ini berbanding terbalik dengan serangan teror Jamaah Islamiyah (JI) yg berafiliasi dengan Al Qaeda. Al Qaeda lebih linier dalam menentukan target & mengerjakan serangan kepada pihak yg mereka anggap sebagai musuh Islam, dimana serangan teror biasanya benar-benar menimbulkan korban jiwa massal dari pihak yg jadi target. Al Qaeda tidak bergulat pada polemik wacana pasca teror, tujuannya lebih kepada memberi pesan yg jelas kepada lawannya.

Sementara ISIS & kelompok-kelompok affiliasinya memiliki tujuan & pola yg berbeda. Berdasarkan pengamatan para pemerhati terorisme seperti yg sudah dipaparkan sebelumnya, penentuan target & pola serangan dari ISIS sering kali terlihat tidak masuk akal. Tengok saja bom Katedral Makassar, korban jiwa cuma kedua pelaku. Begitu pula penembakan di Mabes Polri, dapat-dapatnya pelaku nekat menenteng senjata di markas Kepolisian.

Dari pola acak seperti itu saja, dapat kita simpulkan bahwa tujuan dari ISIS bukanlah menjatuhkan korban di pihak lawan, melainkan menciptakan polemik wacana pasca teror. Seperti Islamophobia, serangan rekayasa, polarisasi politik, & sebagainya.

Tidak percaya? tengok saja pasca teror katedral Makassar & Mabes Polri, banyak pihak yg berpikir bahwa serangan teror hanyalah rekayasa. Menurut peneliti terorisme Ridlwan Habib, dalam JAD memang ada anggota kelompok teroris yg beroperasi di media sosial. Tujuannya, untuk mengaburkan penyidikan sekaligus menciptakan masyarakat tidak percaya.

SUmber :Merdeka [Peneliti Terorisme Sebut Kelompok JAD Ada yg Beroperasi di Media Sosial]

Bahkan, pola ISIS yg acak seperti ini sanggup menimbulkan perdebatan di kalangan organisasi akbar Islam seperti NU & Muhammadiyah. Pada 30 Maret 2021, Ketua Umum PBNU Said Aqil berbicara mengenai strategi untuk menghabisi jaringan terorisme. Said Aqil mengatakan pemberantasan terorisme harus dilakukan dari benihnya atau pintu masuknya ajaran ekstremisme, yaitu ajaran Wahabi.

Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughini lantas merespons pernyataan Said Aqil tersebut. Syafiq menegaskan terorisme dapat masuk melalui berbagai pintu.

"Salafi itu bukan mazhab yg monolitik. Ada banyak varian di dalamnya. Kalau ada teroris yg berpaham Salafi, tidak berati salafiyah identik dengan terorisme. Jika ada teroris yg beragama Islam, tidak berarti Islam mendorong terorisme. Jika ada teroris berbangsa Indonesia, tidak berarti bangsa Indonesia itu teroris. Terorisme dapat masuk melalui pintu agama, ideologi, politik, etnisitas, ekonomi, & lain-lain. Berwacana memerlukan logika, tidak sekedar retorika," mengatakan Syafiq pada 31 Maret 2021.

Sumber :Detik [Muhammadiyah: Jika Ada Teroris Salafi, Tak Berarti Salafiyah Identik Terorisme]

Dari contoh itu saja, ISIS sudah berhasil mencapai tujuan dari terornya. Menciptakan polemik pasca teror, menciptakan polarisasi politik, hingga menciptakan ketidakpercayaan & berbagai teori konspirasi.

Pertanyaannya, mengapa ISIS memilih mengpakai pola menimbulkan polemik panjang seperti ini?

Seorang mantan pengikut ISIS menyebutkan ada sifat yg sangat unik dari ISIS. Yakni gampang memusyrikaan seseorang yg berbeda pemahaman. Mereka yg berbeda dianggap murtad, kafir, fasik.

Sumber :Detik [Sifat ISIS Menurut WNI Mantan Pengikut: Gampang Kafirkan Orang]

Maka dapat kita simpulkan, garis perjuangan ISIS adalah pengkafiran ekstrim antar pihak alias takfiri. Berdasarkan Dhawabit At-Takfir (kriteria pengkafiran), mereka yg mudah memvonis kafir disebut dengan ifrath fi at-takfir. ISIS sangat sukses dengan garis perjuangan pengkafiran ekstrim seperti ini, ditandai dengan keberhasilan mereka merekrut anggota ata partisipan yg menyetujui pengkafiran ekstrim. Bahkan keberhasilannya menciptakan pihak yg berseberangan dengan ISIS (Islam moderat, non muslim, dll) juga mengerjakan pengkafiran ekstrim kepada ISIS.

Sumber :MUI-Jateng [Kriteria Pengkafiran (Dhawabit At-Takfir)]

Oleh karena itu, keberhasilan teror ISIS bukan pada serangan itu sendiri, melainkan berada di tangan kelompok ifrath fi at-takfir ekstrim muslim, sekuler, & kritikus.

Akibatnya setelah serangan teroris ISIS, muncullah kesan Islamophobia pada kelompok NU & pemerintah, timbullah bingkai rekayasa teror oleh negara yg digaungkan kritikus setelah serangan teroris ISIS sehingga menimbulkan polemik politik bernuanasa polarisasi agama. Hal yg diharapkan dari serangan ISIS.

Secara sederhana, Strategi & strategi pola serangan ISIS adalah menciptakan jurang pemisah antar manusia dengan membakar ego masing-masing kubu.

Oleh karena itu, supaya terorisme ISIS dapat hilang, caranya adalah meredam ego dari masing-masing kubu, baik yg kelompok Islam yg berseberangan dengan pemerintah maupun kelompok Islam & sekuler yg sejalan dengan Istana. Tak sadarkah mereka bahwa ego itulah yg menyebabkan terorisme di Indonesia hingga kini masih saja terjadi?

Hal ini diperparah pula dengan kelompok pendukung istana yg memiliki sikap-sikap berlebihan kepada kelompok Islam oposisi. Ironis, cara yg mereka yakini dapat menekan ekstremisme, radikalisme, & terorisme, justru jadi bahan bakar bagi teror ISIS selanjutnya.
Hari ini 08:51
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.