medy aja
IndoForum Newbie B
- No. Urut
- 36553
- Sejak
- 16 Mar 2008
- Pesan
- 236
- Nilai reaksi
- 7
- Poin
- 18
Saya seorang ibu dengan 2 orang anak ,
>> mantan direktur sebuah Perusahaan
>> multinasional. Mungkin anda termasuk orang
>> yang menganggap saya orang
>> yang berhasil dalam karir namun sungguh
>> jika seandainya saya boleh
>> memilih maka saya akan berkata kalau lebih
>> baik saya tidak seperti
>> sekarang dan menganggap apa yang saya raih
>> sungguh sia-sia.
>>
>> Semuanya berawal ketika putri saya
>> satu-satunya yang berusia 19 tahun
>> baru saja meninggal karena overdosis
>> narkotika.
>> Sungguh hidup saya hancur berantakan
>> karenanya, suami saya saat ini
>> masih terbaring di rumah sakit karena
>> terkena stroke dan mengalami
>> kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
>>
>> Putera saya satu-satunya juga sempat
>> mengalami depresi berat dan
>> Sekarang masih dalam perawatan intensif
>> sebuah klinik kejiwaan, dia juga
>> merasa sangat terpukul dengan kepergian
>> adiknya. Sungguh apa lagi yang
>> bisa saya harapkan.
>>
>> Kepergian Maya dikarenakan dia begitu
>> guncang dengan kepergian Bik Inah
>> pembantu kami.
>>
>> Hingga dia terjerumus dalam pemakaian
>> Narkoba.
>>
>> Mungkin terdengar aneh kepergian seorang
>> pembantu bisa membawa dampak
>> Begitu hebat pada putri kami.
>>
>> Harus saya akui bahwa bik Inah sudah
>> seperti keluarga bagi kami, dia
>> telah ikut bersama kami sejak 20 tahun
>> yang lalu dan ketika Doni berumur
>> 2 tahun.
>>
>> Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah
>> seperti ibu kandungnya
>> sendiri.
>>
>> Ini semua saya ketahui dari buku harian
>> Maya yang saya baca setelah dia
>> meninggal.
>>
>> Maya begitu cemas dengan sakitnya bik
>> Inah, berlembar-lembar buku
>> hariannya berisi hal ini.
>>
>> Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit
>> karena kelelahan dan diopname
>> di rumah sakit selama 3 minggu)
>>
>> Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat
>> di buku hariannya "Hari ini
>> Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu
>> saja.
>>
>> Sungguh hal ini menjadikan saya semakin
>> terpukul.
>>
>> Tapi saya akui ini semua karena kesalahan
>> saya.
>>
>> Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni,
>> Maya dan Suami saya.
>>
>> Waktu saya habis di kantor, otak saya
>> lebih banyak berpikir tentang
>> keadaan perusahaan dari pada keadaan
>> mereka.
>>
>> Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12
>> jam kemudian, bahkan mungkin
>> lebih.
>>
>> Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah
>> begitu capai untuk memikirkan
>> urusan mereka.
>>
>> Memang setiap hari libur kami gunakan
>> untuk acara keluarga, namun
>> sepertinya itu hanya seremonial dan
>> rutinitas saja, ketika hari Senin
>> tiba saya dan suami sudah seperti "robot"
>> yang terprogram untuk urusan
>> kantor.
>>
>> Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali
>> mengingatkan saya untuk berhenti
>> bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu
>> saya tolak, saya anggap ibu
>> terlalu kuno cara berpikirnya.
>> Memang Ibu saya memutuskan berhenti
>> bekerja dan memilih membesarkan kami
>> 6 orang anaknya.
>>
>> Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi
>> karir ibu waktu itu katanya
>> sangat baik.
>>
>> Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa
>> saja dari segi karir dan
>> penghasilan.
>>
>> Meski jujur saya pernah berpikir untuk
>> memutuskan berhenti bekerja dan
>> mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu
>> saja perasaan bagaimana
>> kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau
>> berhenti bekerja, dan lalu apa
>> gunanya saya sekolah tinggi-tinggi?.
>>
>> Meski sebenarnya suami saya juga
>> seorangyang cukup mapan dalam karirnya
>> dan penghasilan.
>>
>> Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya
>> menjadi lebih perhatian pada
>> Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua
>> minggu semuanya kembali seperti
>> asal urusan kantor dan karir fokus saya.
>>
>> Dan kembali saya menganggap saya masih
>> bisa membagi waktu untuk mereka,
>> toh teman yang lain di kantor juga bisa
>> dan ungkapan "kualitas pertemuan
>> dengan anak lebih penting dari kuantitas"
>> selalu menjadi patokan saya.
>>
>> Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar
>> kendali saya dan berjalan
>> begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
>
>>
>> Maya berubah dari anak yang begitu manis
>> menjadi pemakai Narkoba.
>>
>> Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah
>> sindiran dan protes Maya saat ini
>> selalu terngiang di telinga.
>>
>> Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk
>> berhenti bekerja dan memutuskan
>> kembali ke desa untuk membesarkan Bagas,
>> putera satu-satunya, setelah
>> dia ditinggal mati suaminya .. Namun
>> karena Maya dan Doni keberatan maka
>> akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa
>> tinggal bersama kami.
>>
>> Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat
>> dibanggakan Maya.
>> Namun sindiran Maya tidak begitu saya
>> perhatikan. Akhirnya semua terjadi
>> , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang
>> lebih dua minggu, bik Inah
>> meninggal dunia di Rumah Sakit.
>>
>> Dari buku harian Maya saya juga baru tahu
>> kenapa Doni malah pergi dari
>> rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.
>>
>> Memang Doni pernah memohon pada ayahnya
>> agar bik Inah dibawa ke
>> Singapore untuk berobat setelah dokter di
>> sini mengatakan bahwa bik Inah
>> sudah masuk stadium 4 kankernya.
>>
>> Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu
>> marah pada kami. Dari sini
>> saya kini tahu betapa berartinya bik Inah
>> buat mereka, sudah seperti ibu
>> kandungnya!
>> menggantikan tempat saya yang seolah hanya
>> bertugas melahirkan mereka
>> saja ke dunia.
>>
>> Tragis !
>>
>> Dan sebuah foto "keluarga" di dinding
>> kamar Maya sering saya amati Kalau
>> lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang
>> lalu kami sekeluarga ke desa
>> bik Inah.
>>
>> Atas desakan Maya kami sekeluarga
>> menghadiri acara pengangkatan Bagas
>> sebagai kepala sekolah madrasah setelah
>> dia selesai kuliah dan belajar di
>> pesantren.
>>
>> Dan Doni pun begitu bersemangat untuk
>> hadir di acara itu padahal dia
>> paling susah untuk diajak ke acara serupa
>> di kantor saya atau ayahnya.
>>
>> Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah,
>> Bagas, Doni dan Maya
>> tersenyum bersama.
>>
>> Tak pernah kami lihat Maya begitu senang
>> seperti saat itu dan seingat
>> saya itulah foto terakhirnya.
>>
>> Setelah bik Inah meninggal Maya begitu
>> terguncang dan shock, kami sempat
>> merisaukannya dan membawanya ke psikolog
>> ternama di Jakarta.
>>
>> Namun sebatas itu yang kami lakukan
>> setelah itu saya kembali berkutat
>> dengan urusan kantor.
>>
>> Dan di halaman buku harian Maya penyesalan
>> dan air mata tercurah.
>>
>> Maya menulis :
>> "Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan
>> Maya, terus siapa yang bangunin
>> Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya,
>> siapa yang nyambut Maya kalau
>> pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya
>> buat berdoa, siapa yang Maya
>> cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa
>> yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..........
>> Ya Tuhan, Maya kangen banget sama bik
>> Inah"
>> bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai
>> ibunya, bukan bik Inah ?
>>
>> Sungguh hancur hati saya membaca itu
>> semua, namun semuanya sudah
>> terlambat tidak mungkin bisa kembali,
>>
>> seandainya semua bisa berputar kebelakang
>> saya rela berkorban apa saja
>> untuk itu.
>>
>> Kadang saya merenung sepertinya ini hanya
>> cerita sinetron di TV dan saya
>> pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini
>> real dan kenyataan yang terjadi.
>>
>> Sungguh saya menulis ini bukan berniat
>> untuk menggurui siapapun tapi
>> sekedar pengurang sesal saya semoga ada
>> yang bisa mengambil pelajaran
>> darinya.
>>
>> Biarkan saya yang merasakan musibah ini
>> karena sungguh tiada terbayang
>> beratnya.
>>
>> Semoga siapapun yang membaca tulisan ini
>> bisa menentukan "prioritas
>> hidup dan tidak salah dalam memilihnya".
>> Biarkan saya seorang yang
>> mengalaminya.
>>
>> Saat ini saya sedang mengikuti program
>> konseling/therapy untuk
>> menentramkan hati saya.
>>
>> Berkat dorongan seorang teman saya
>> beranikan tulis ini semua.
>>
>> Saya tidak ingin tulisan ini sebagai
>> tempat penebus kesalahan saya,
>> karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula
>> untuk memaksa anda
>> mempercayainya, tapi inilah faktanya.
>>
>> Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
>>
>> Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa
>
>> umur saya untuk suami dan Doni.
>>
>> Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang
>> telah menyia-nyiakan amanahNya
>> pada saya.
>>
>> Dan disetiap berdoa saya selalu memohon
>> "YA Tuhan seandainya Engkau akan
>> menghukum Maya karena kesalahannya,
>> sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan,
>> biar saya yang menggantikan tempatnya
>> kelak, biarkan buah hatiku tentram
>> di sisiMu".
>>
>> Semoga Tuhan mengabulkan doa saya
Yap,buta bror and ses yang dah berkeluarga..jngan sampe terjadi...
hilang harta bisa di beli ...hilang keluarga kemana harus mencari...
dapet juga apa yah masih pantes...
>> mantan direktur sebuah Perusahaan
>> multinasional. Mungkin anda termasuk orang
>> yang menganggap saya orang
>> yang berhasil dalam karir namun sungguh
>> jika seandainya saya boleh
>> memilih maka saya akan berkata kalau lebih
>> baik saya tidak seperti
>> sekarang dan menganggap apa yang saya raih
>> sungguh sia-sia.
>>
>> Semuanya berawal ketika putri saya
>> satu-satunya yang berusia 19 tahun
>> baru saja meninggal karena overdosis
>> narkotika.
>> Sungguh hidup saya hancur berantakan
>> karenanya, suami saya saat ini
>> masih terbaring di rumah sakit karena
>> terkena stroke dan mengalami
>> kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
>>
>> Putera saya satu-satunya juga sempat
>> mengalami depresi berat dan
>> Sekarang masih dalam perawatan intensif
>> sebuah klinik kejiwaan, dia juga
>> merasa sangat terpukul dengan kepergian
>> adiknya. Sungguh apa lagi yang
>> bisa saya harapkan.
>>
>> Kepergian Maya dikarenakan dia begitu
>> guncang dengan kepergian Bik Inah
>> pembantu kami.
>>
>> Hingga dia terjerumus dalam pemakaian
>> Narkoba.
>>
>> Mungkin terdengar aneh kepergian seorang
>> pembantu bisa membawa dampak
>> Begitu hebat pada putri kami.
>>
>> Harus saya akui bahwa bik Inah sudah
>> seperti keluarga bagi kami, dia
>> telah ikut bersama kami sejak 20 tahun
>> yang lalu dan ketika Doni berumur
>> 2 tahun.
>>
>> Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah
>> seperti ibu kandungnya
>> sendiri.
>>
>> Ini semua saya ketahui dari buku harian
>> Maya yang saya baca setelah dia
>> meninggal.
>>
>> Maya begitu cemas dengan sakitnya bik
>> Inah, berlembar-lembar buku
>> hariannya berisi hal ini.
>>
>> Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit
>> karena kelelahan dan diopname
>> di rumah sakit selama 3 minggu)
>>
>> Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat
>> di buku hariannya "Hari ini
>> Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu
>> saja.
>>
>> Sungguh hal ini menjadikan saya semakin
>> terpukul.
>>
>> Tapi saya akui ini semua karena kesalahan
>> saya.
>>
>> Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni,
>> Maya dan Suami saya.
>>
>> Waktu saya habis di kantor, otak saya
>> lebih banyak berpikir tentang
>> keadaan perusahaan dari pada keadaan
>> mereka.
>>
>> Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12
>> jam kemudian, bahkan mungkin
>> lebih.
>>
>> Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah
>> begitu capai untuk memikirkan
>> urusan mereka.
>>
>> Memang setiap hari libur kami gunakan
>> untuk acara keluarga, namun
>> sepertinya itu hanya seremonial dan
>> rutinitas saja, ketika hari Senin
>> tiba saya dan suami sudah seperti "robot"
>> yang terprogram untuk urusan
>> kantor.
>>
>> Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali
>> mengingatkan saya untuk berhenti
>> bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu
>> saya tolak, saya anggap ibu
>> terlalu kuno cara berpikirnya.
>> Memang Ibu saya memutuskan berhenti
>> bekerja dan memilih membesarkan kami
>> 6 orang anaknya.
>>
>> Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi
>> karir ibu waktu itu katanya
>> sangat baik.
>>
>> Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa
>> saja dari segi karir dan
>> penghasilan.
>>
>> Meski jujur saya pernah berpikir untuk
>> memutuskan berhenti bekerja dan
>> mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu
>> saja perasaan bagaimana
>> kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau
>> berhenti bekerja, dan lalu apa
>> gunanya saya sekolah tinggi-tinggi?.
>>
>> Meski sebenarnya suami saya juga
>> seorangyang cukup mapan dalam karirnya
>> dan penghasilan.
>>
>> Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya
>> menjadi lebih perhatian pada
>> Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua
>> minggu semuanya kembali seperti
>> asal urusan kantor dan karir fokus saya.
>>
>> Dan kembali saya menganggap saya masih
>> bisa membagi waktu untuk mereka,
>> toh teman yang lain di kantor juga bisa
>> dan ungkapan "kualitas pertemuan
>> dengan anak lebih penting dari kuantitas"
>> selalu menjadi patokan saya.
>>
>> Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar
>> kendali saya dan berjalan
>> begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
>
>>
>> Maya berubah dari anak yang begitu manis
>> menjadi pemakai Narkoba.
>>
>> Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah
>> sindiran dan protes Maya saat ini
>> selalu terngiang di telinga.
>>
>> Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk
>> berhenti bekerja dan memutuskan
>> kembali ke desa untuk membesarkan Bagas,
>> putera satu-satunya, setelah
>> dia ditinggal mati suaminya .. Namun
>> karena Maya dan Doni keberatan maka
>> akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa
>> tinggal bersama kami.
>>
>> Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat
>> dibanggakan Maya.
>> Namun sindiran Maya tidak begitu saya
>> perhatikan. Akhirnya semua terjadi
>> , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang
>> lebih dua minggu, bik Inah
>> meninggal dunia di Rumah Sakit.
>>
>> Dari buku harian Maya saya juga baru tahu
>> kenapa Doni malah pergi dari
>> rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.
>>
>> Memang Doni pernah memohon pada ayahnya
>> agar bik Inah dibawa ke
>> Singapore untuk berobat setelah dokter di
>> sini mengatakan bahwa bik Inah
>> sudah masuk stadium 4 kankernya.
>>
>> Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu
>> marah pada kami. Dari sini
>> saya kini tahu betapa berartinya bik Inah
>> buat mereka, sudah seperti ibu
>> kandungnya!
>> menggantikan tempat saya yang seolah hanya
>> bertugas melahirkan mereka
>> saja ke dunia.
>>
>> Tragis !
>>
>> Dan sebuah foto "keluarga" di dinding
>> kamar Maya sering saya amati Kalau
>> lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang
>> lalu kami sekeluarga ke desa
>> bik Inah.
>>
>> Atas desakan Maya kami sekeluarga
>> menghadiri acara pengangkatan Bagas
>> sebagai kepala sekolah madrasah setelah
>> dia selesai kuliah dan belajar di
>> pesantren.
>>
>> Dan Doni pun begitu bersemangat untuk
>> hadir di acara itu padahal dia
>> paling susah untuk diajak ke acara serupa
>> di kantor saya atau ayahnya.
>>
>> Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah,
>> Bagas, Doni dan Maya
>> tersenyum bersama.
>>
>> Tak pernah kami lihat Maya begitu senang
>> seperti saat itu dan seingat
>> saya itulah foto terakhirnya.
>>
>> Setelah bik Inah meninggal Maya begitu
>> terguncang dan shock, kami sempat
>> merisaukannya dan membawanya ke psikolog
>> ternama di Jakarta.
>>
>> Namun sebatas itu yang kami lakukan
>> setelah itu saya kembali berkutat
>> dengan urusan kantor.
>>
>> Dan di halaman buku harian Maya penyesalan
>> dan air mata tercurah.
>>
>> Maya menulis :
>> "Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan
>> Maya, terus siapa yang bangunin
>> Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya,
>> siapa yang nyambut Maya kalau
>> pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya
>> buat berdoa, siapa yang Maya
>> cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa
>> yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..........
>> Ya Tuhan, Maya kangen banget sama bik
>> Inah"
>> bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai
>> ibunya, bukan bik Inah ?
>>
>> Sungguh hancur hati saya membaca itu
>> semua, namun semuanya sudah
>> terlambat tidak mungkin bisa kembali,
>>
>> seandainya semua bisa berputar kebelakang
>> saya rela berkorban apa saja
>> untuk itu.
>>
>> Kadang saya merenung sepertinya ini hanya
>> cerita sinetron di TV dan saya
>> pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini
>> real dan kenyataan yang terjadi.
>>
>> Sungguh saya menulis ini bukan berniat
>> untuk menggurui siapapun tapi
>> sekedar pengurang sesal saya semoga ada
>> yang bisa mengambil pelajaran
>> darinya.
>>
>> Biarkan saya yang merasakan musibah ini
>> karena sungguh tiada terbayang
>> beratnya.
>>
>> Semoga siapapun yang membaca tulisan ini
>> bisa menentukan "prioritas
>> hidup dan tidak salah dalam memilihnya".
>> Biarkan saya seorang yang
>> mengalaminya.
>>
>> Saat ini saya sedang mengikuti program
>> konseling/therapy untuk
>> menentramkan hati saya.
>>
>> Berkat dorongan seorang teman saya
>> beranikan tulis ini semua.
>>
>> Saya tidak ingin tulisan ini sebagai
>> tempat penebus kesalahan saya,
>> karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula
>> untuk memaksa anda
>> mempercayainya, tapi inilah faktanya.
>>
>> Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
>>
>> Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa
>
>> umur saya untuk suami dan Doni.
>>
>> Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang
>> telah menyia-nyiakan amanahNya
>> pada saya.
>>
>> Dan disetiap berdoa saya selalu memohon
>> "YA Tuhan seandainya Engkau akan
>> menghukum Maya karena kesalahannya,
>> sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan,
>> biar saya yang menggantikan tempatnya
>> kelak, biarkan buah hatiku tentram
>> di sisiMu".
>>
>> Semoga Tuhan mengabulkan doa saya
Yap,buta bror and ses yang dah berkeluarga..jngan sampe terjadi...
hilang harta bisa di beli ...hilang keluarga kemana harus mencari...
dapet juga apa yah masih pantes...