Berita Lagi, Mantan Tahanan Wanita Uighur Ceritakan Kondisi Mengerikan di Sel

Discussion in 'Gossip, Berita & Politik' started by politik, 7 Dec 2018 at 13:57.

  1. politik

    politik IndoForum Beginner C

    No. Urut:
    288509
    Joined:
    14 May 2018
    Messages:
    732
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Ketika otoritas negara China membebaskan Gulbahar Jelil—seorang wanita etnis Uighur yang lahir dan besar di Kazakhstan—mereka mengatakan kepadanya bahwa dia dilarang memberi tahu siapa pun tentang apa yang telah dia alami selama satu tahun, tiga bulan, dan 10 hari, masa tahanan. Dia tak mematuhi larangan itu, dan membeberkannya dalam sebuah wawancara. Berikut cerita Jelil tentang pengalaman kelamnya di dalam tahanan yang amat menyiksanya

    Oleh: Darren Byler (SupChina)

    Gulbahar Jelil diberitahu untuk tidak menyebutkan bau busuk dan penyakit yang menyebar di selnya yang penuh sesak. Dia tidak menyebutkan bahwa 30 wanita dipaksa untuk berbagi ruang 14 meter persegi.

    Dia tidak boleh berbicara tentang derita kelaparan mereka, bagaimana para tahanan hanya menerima sekitar 600 kalori per hari—setara dengan dua atau tiga roti bagel tawar—dan bahwa ia telah kehilangan hampir 45 kilogram berat badan selama masa penahanannya.

    “Anda akan makan lebih banyak makanan sekarang, karena Anda akan segera dibebaskan,” kata mereka. Mereka memberitahunya bahwa makanan yang diberikan kepadanya, dan tempat jorok yang dia tinggali—sebuah sel dengan toilet terbuka yang dijejali 30 orang yang tak mandi—adalah masa lalu. Itu adalah mimpi buruk yang harus dia lupakan selamanya.

    Hal itu—dan trauma lainnya—dijelaskan Jelil dengan rincian yang menyakitkan, dalam wawancara 82 menit yang ditayangkan bulan lalu di saluran Pidaiylar Biz yang berbasis di Turki.

    Direkam di Turki kurang dari sebulan setelah pembebasannya, Jelil menangis berkali-kali selama wawancara. “Saya ingin seluruh dunia mendengar tentang penindasan ini,” katanya.

    Jelil dibesarkan di Kazakhstan tetapi sangat melekatkan dirinya dengan warisan Uighur, dan karena ini—dan kisah-kisah yang dia dengar dari wanita antara usia 14 dan 80 tahun di pusat-pusat penahanan—dia merasa terdorong untuk berbicara. Inilah mengapa dia datang ke Turki, di mana Uighur memiliki lebih banyak kebebasan untuk berbicara.

    “Saya seorang wanita Uighur,” katanya dalam wawancara Pidaiylar Biz. “Darah saya adalah Uighur. Saya ingin berbicara dengan polisi China yang menahan saya karena mencurigai saya seorang teroris. Mengapa mereka tidak membebaskan saya setelah tiga bulan atau enam bulan? Mengapa mereka menahan saya selama satu tahun, tiga bulan? Investigasi macam apa ini? Apa yang telah saya lakukan? Saya ingin jawaban. Mengapa mereka mengatakan saya dibebaskan? Mengapa? Saya ingin jawaban. Apa yang saya lakukan? Mereka bilang saya seorang teroris. Mengapa mereka menyiksa saya?”

    Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG