Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Menyampaikan kebenaran jadi salah satu misi penting dalam ajaran Islam, meski dalam keadaan sulit & pahit sekalipun. Kemudahan akses informasi kini dimanfaatkan sebagai sarana menjalankan misi tersebut. Akibatnya, semua orang dengan mudah menyerap sekaligus menyampaikan berbagai kebenaran yg diyakininya, sehingga tak jarang justru membawa kepada kehancuran tatanan sosial & berbagai mafsadah (kerusakan) dalam kehidupan. Ketika kebenaran dikuasai seseorang atau golongan, mereka akan merasa berhak untuk menyampaikan dengan sesukanya, menghakimi & menghukumi sebebasnya tanpa meninjau konteks & perjalanan kompleks sejarah, serta hal-hal lain yg semestinya jadi bahan kajian sebelum dihinggakan.
Ada hal yg para pendakwah melewatkannya, yaitu soal pemahaman bahwa manusia merupakan makhluk berbudaya. Tidak dapat dipisahkan antara manusia & budaya, manusia hidup menghasilkan budaya & budaya jadi acuan nilai kehidupan manusia. Menurut seorang Budayawan,Ngatawi Al-Zastrouwdalam bukunya yg berjudul Muhasabah Kebangsaan, menyebutkan bahwa secara konseptual, kebudayaan merupakan pertautan dari tiga unsur, yaitu: logika, etika & estetika. Logika terkait dengan akal & pikiran yg melahirkan konsep, teori, ilmu pengetahuan, teknologi & sejenisnya. Etika terkait dengan martabat kemanusiaan yg melahirkan moral, nilai & norma. Estetika terkait dengan rasa & keindahan yg melahirkan berbagai karya seni. Ketiga unsur tersebut bersifat komulatif, bukan alternatif.
Kemajuan sains sebagai produk logika, tanpa dibarengi dengan etika & estetika maka akan mengancam kemanusiaan. Etika tanpa logika & estetika cuma akan menghasilkan kekakuan sehingga menciptakan manusia yg keras & eksklusif. Estetika tanpa logika & etika cuma akan menghasilkan produk karya yg binal & liar yg dapat menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Inilah yg jadi pembeda, antara manusia & makhluk lain. Sehingga, pendekatan kebudayaan jadi kunci keberhasilan misi penyampaian kebenaran Islam.
Dahwah & budaya
Islam sesungguhnya berarti damai, di mana kedamaian merupakan dambaan semua manusia. Agama pun menganjurkan untuk menyebarluaskan kedamaian. Sederhana saja misalnya, mengucapkan salam kepada setiap manusia adalah upaya untuk menebar keramahan. Senapas dengan ungkapan masyhur di tataran kebudayaan lokal sunda yg kemudian dijadikan sebuah tata tabiat kedaerahan, yaitusilih asah, silih asih, silih asuh.Sebagaimana substansi islam ialah untuk keselamatan, ungkapan tersebut sebagai produk kebudayaan yg mengandung nilai keislaman yg sangat luhur. Begitu bijaksananya para leluhur Nusantara, sehingga sanggup mereduksikan esensi agama jadi karya sastra yg serat akan makna. Tercermin bahwa Islam begitu ramah dalam membangun budaya, bukan justru mendestruksinya. Hal tersebut memerlukan pemahaman substansi Islam secara matang berdasar pada berbagai khazanah & sudut pandang.
Jurnalis asal Australia,Sadand Dhume(2009), mengakui keramahan muslim di Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan satu-satunya negara yg berpenduduk mayoritas muslim & dapat menerima disparitas dengan baik, termasuk disparitas keyakinan. Islam di Indonesia begitu ramah, karena cenderung mencocokkan diri dengan kebudayaan setempat. Bukti sederhananya ialah, banyak yg menyebut dirinya seorang muslim, namun dapat menamai anak-anaknya dengan nama Wisnu, Sita, Bima & sebagainya sebagaimana nama-nama pada cerita pewayangan Hindu & Mahabarata.
Wali-wali Nusantara mengerjakan hal yg serupa dalam dakwahnya, yaitu mendakwahkan islam secara ramah & mengemas substansi Islam dengan kebudayaan. Wayang, sebagai media dakwah Sunan Kalijaga. Proses pertautan antara Logika, Etika & Estetika berhasil dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Produk yg dihasilkan bukan cuma sebuah karya seni, melainkan sanggup menembus hati & jantung kebudayaan masyarakat. Tanpa ada paksaan, nilai-nilai ajaran Islam sanggup diinternalisasi kepada masyarakat sehingga memiliki impact yg baik dari segi kognitif, afektif bahkan psikomotorik. Kembali lagi, bahwa hal tersebut tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya kematangan seorang pendakwah.
Selengkapnya disini gan
Hari ini 13:42
Ada hal yg para pendakwah melewatkannya, yaitu soal pemahaman bahwa manusia merupakan makhluk berbudaya. Tidak dapat dipisahkan antara manusia & budaya, manusia hidup menghasilkan budaya & budaya jadi acuan nilai kehidupan manusia. Menurut seorang Budayawan,Ngatawi Al-Zastrouwdalam bukunya yg berjudul Muhasabah Kebangsaan, menyebutkan bahwa secara konseptual, kebudayaan merupakan pertautan dari tiga unsur, yaitu: logika, etika & estetika. Logika terkait dengan akal & pikiran yg melahirkan konsep, teori, ilmu pengetahuan, teknologi & sejenisnya. Etika terkait dengan martabat kemanusiaan yg melahirkan moral, nilai & norma. Estetika terkait dengan rasa & keindahan yg melahirkan berbagai karya seni. Ketiga unsur tersebut bersifat komulatif, bukan alternatif.
Kemajuan sains sebagai produk logika, tanpa dibarengi dengan etika & estetika maka akan mengancam kemanusiaan. Etika tanpa logika & estetika cuma akan menghasilkan kekakuan sehingga menciptakan manusia yg keras & eksklusif. Estetika tanpa logika & etika cuma akan menghasilkan produk karya yg binal & liar yg dapat menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Inilah yg jadi pembeda, antara manusia & makhluk lain. Sehingga, pendekatan kebudayaan jadi kunci keberhasilan misi penyampaian kebenaran Islam.
Dahwah & budaya
Islam sesungguhnya berarti damai, di mana kedamaian merupakan dambaan semua manusia. Agama pun menganjurkan untuk menyebarluaskan kedamaian. Sederhana saja misalnya, mengucapkan salam kepada setiap manusia adalah upaya untuk menebar keramahan. Senapas dengan ungkapan masyhur di tataran kebudayaan lokal sunda yg kemudian dijadikan sebuah tata tabiat kedaerahan, yaitusilih asah, silih asih, silih asuh.Sebagaimana substansi islam ialah untuk keselamatan, ungkapan tersebut sebagai produk kebudayaan yg mengandung nilai keislaman yg sangat luhur. Begitu bijaksananya para leluhur Nusantara, sehingga sanggup mereduksikan esensi agama jadi karya sastra yg serat akan makna. Tercermin bahwa Islam begitu ramah dalam membangun budaya, bukan justru mendestruksinya. Hal tersebut memerlukan pemahaman substansi Islam secara matang berdasar pada berbagai khazanah & sudut pandang.
Jurnalis asal Australia,Sadand Dhume(2009), mengakui keramahan muslim di Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan satu-satunya negara yg berpenduduk mayoritas muslim & dapat menerima disparitas dengan baik, termasuk disparitas keyakinan. Islam di Indonesia begitu ramah, karena cenderung mencocokkan diri dengan kebudayaan setempat. Bukti sederhananya ialah, banyak yg menyebut dirinya seorang muslim, namun dapat menamai anak-anaknya dengan nama Wisnu, Sita, Bima & sebagainya sebagaimana nama-nama pada cerita pewayangan Hindu & Mahabarata.
Wali-wali Nusantara mengerjakan hal yg serupa dalam dakwahnya, yaitu mendakwahkan islam secara ramah & mengemas substansi Islam dengan kebudayaan. Wayang, sebagai media dakwah Sunan Kalijaga. Proses pertautan antara Logika, Etika & Estetika berhasil dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Produk yg dihasilkan bukan cuma sebuah karya seni, melainkan sanggup menembus hati & jantung kebudayaan masyarakat. Tanpa ada paksaan, nilai-nilai ajaran Islam sanggup diinternalisasi kepada masyarakat sehingga memiliki impact yg baik dari segi kognitif, afektif bahkan psikomotorik. Kembali lagi, bahwa hal tersebut tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya kematangan seorang pendakwah.
Selengkapnya disini gan
Hari ini 13:42