hendladi
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 113568
- Sejak
- 15 Jan 2011
- Pesan
- 685
- Nilai reaksi
- 2
- Poin
- 18
JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi III DPR RI Nasir Jamil mengatakan ide 'Koin untuk Presiden' dimaksudkan positif. Gagasan ditujukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal gajinya yang tak pernah naik selama tujuh tahun.
"Ini kan bukan melecehkan, tapi bentuk keprihatinan. Walau memang dianggap oleh istana bahwa masyarakat dinilai salah tanggapi pernyataan Presiden. Katanya Presiden humor. Ini hanya mensinergikan dengan empati di luar parlemen. Bukan untuk mengkiritik, menyindir, dan tentu tidak juga mengkritik kelembagaan Presiden. Ini bagian dari ungkapan saja," paparnya di Gedung DPR RI, Selasa (25/1/2011).
Politisi PKS ini menegaskan, ide 'Koin untuk Presiden' memang datang darinya dan sejumlah rekan di Komisi III DPR RI, seperti Bambang Soesatyo dari Fraksi Golkar, Martin Hutabarat dari Fraksi Gerindra, Syarifuddin Suding dari Fraksi Hanura dan Edy Ramli dari Fraksi Demokrat.
Namun, Nasir mengaku tak tahu-menahu keberadaan kotak transparan yang langsung ada di sela rapat kerja komisi dan Kapolri tadi malam. Nasir mengatakan gagasan datang dari obrolan singkat di sela rapat kerja dengan Kapolri tadi malam.
Mereka berbicara tentang tindak lanjut pernyataan Presiden tersebut. "Itu bentuk empati dan simpati kami," tambahnya.
Kotak itu sendiri tak tampak pagi ini. Namun, Nasir mengatakan jika kotak itu penuh, isinya akan diserahkan ke kelompok masyarakat yang juga bergerak atas pernyataan Presiden. Tak akan diserahkan langsung ke Istana Negara. "Enggak mungkin kita langsung serahkan ke Presiden. Kalau kita serahkan Presiden, itu kan nanti dinilai hanya olok-olok (candaan) saja," tandasnya.
