• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kesempurnaan (kesia-siaan)

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
Adakah manusia yang sempurna. Bahkan pemilik pabrik rokok sempurna juga tidak sempurna. Lalu apa yang diinginkan dari kesempurnaan? Mendekatinya mungkin. Dalam artian luas, dengan segala kekurangannya. Ha?! Gak sempurna dong! Mendekati paling tidak, menurut pandangan masing-masing, hehehehe.
.
Ada yang menanyakan ke gw, "Vin, hari ini sudah berapa batang rokok yang lu isep?"
.
Jawab gw, "Perokok itu tidak pernah menghitung berapa batang yang sudah diisapnya. Yang sibuk mau ngitung-ngitungnya justru yang tidak merokok... hahahaha... Masih banyak kegiatan yang jauh lebih positif dan prduktif daripada gw menghitung puntung rokok yang ada di asbak gw...." Dan untungnya, teman lawan saya bicara itu seperti tersadar dengan kebegoannya menanyakan hal tersebut, dan tidak justru marah.... Syukurlah... Susah kan menghadapi batak sarkas kaya gw.
.
Dan itu memang sangat jauh dari sempurna. Rokok saya saja bukan Sampurna. Masih Gudang Garam, dan belum merah untungnya.
.
Terus, kita ngobrol. Berlanjut ke pengenalan diri. Apa yang sudah kita kenali dari diri kita? Selain kita hanya bisa makai merk ini saja. Harus nyaman. Dan kadang-kadang protes kalo gak sesuai dengan kesempurnaan yang kita idealkan. Padahal anda bukan saya. Dan saya bukan anda.
.
Karena tidak ada panduan mengenai kesempurnaan. Kesempurnaan seperti kepercayaan. Hanya sempurna bagi penganutnya. bagi yang lain, jelas tidak sempurna.
.
Begitu juga dengan saya dan anda. Kita suka protes pada kerjaan bawahan kita yang tidak sesuai dengan idealnya kesempurnaan kita. Ujung-ujungnya mungkin berujung pada marah. Bentak-bentak. Sampe keluar umpatan serem kaya, bangsat, kon***... dasar tolol dsb...
.
Padahal, pada hakekatnya memang tidak ada yang sempurna. Padahal kita bisa berkomentar seperti ini sambil tersenyum pahit pada kerjaan orang lain, "saya pernah membaca yang lebih buruk," persis seperti komentar Rita Skeeter si wartawati sinis di Harry Potter.
.
Kalau mau sempurna. Kerjakan sendiri. Minum kopi di Exelso atau Starbuck. masih banyak ketidak nyamanan kok. Dari servis yang kadang tidak memuaskan sampai ke citra rasa yang tdk sesuai dengan lidah. Tapi, kan bukan kita yang buat. Kerjaan orang lain. Mungkin itu yang terbaik versi dia. Bukan versi kita. Kalau mau sempurna, buat aja sendiri kopinya. DI rumah atau di mana saja. Coba suguhi ke orang lain. Pasti orang lain juga komentarnya ini tidak sempurna. Nah, kalo mau sempurna, bikin saja sendiri. Bagi kita yang kita kerjakan, kopi yang kita olah, kita sajikan untuk kita, adalah yang paling sempurna. Kalau tidak mau mengakui bahwa agak aneh rasanya, hehehehe...
.
Lalu, protes yang terlalu sering juga membuat orang bebal. Akhirnya kita bisa dicap seperti ini. Bahwa dia mister perfeksionis sadis, yang setiap hari datang bulan, karena marah-marah terus.... Yang rugi siapa? Diri sendiri tentu saja.
.
Mencoba melihat secara luas. Memahami ketidak sempurnaan hidup. Kekurangan orang lain. Kejelekan kerjaan bawahan, kalau dihayati nikmat loh.... Kebesaran Tuhan ada disana ternyata. Gitu juga dengan sex. Sakit dan perihnya kena gigit gigi pas dior**, bisa jadi pengalaman yang lebih menggairahkan daripada dior** pelacur kelas atas yang perfek banget isepannya... sayangnya, kesempurnaannya jadi hilang, pas harus bayar.... hahahahaha....
.
Kembali lagi, siapa sih yang sempurna. Jujur saja, Tuhan saja sering dituding macem-macem. Tuhan sendiri sering masih harus dibela. Tuhan sendiri masih harus dipertahankan. Tuhan sendiri sering disalahkan. Dengan ucapan halus, rahasia ilahi, sudah takdir... sudah suratan, bahwa semua sudah ada yang mengatur...
.
Bukan salah Tuhan kalau kita beranggapan begitu. Karena, pengertian kita pada kesempurnaan, belum bisa dibikin baku. Semua menjadi tidak sempurna. Sampai-sampai Tuhan secara tidak sengaja juga seakan-akan menjadi tidak sempurna.
.
Dan ini karena kita sendiri tidak sempurna, bukan Tuhan.
 
ada suatu cerita.....anak-anak yang SLTB dan SLTP di gabung menjadi 1 sekolah..

anak SLTB bernama Richard.
sedangkan anak SLTP lainnya bernama agus dan bosman.

suatu ketika anak SLTB ini bermain dengan agus.....
bosman yang melihat hal ini...mengatakan jangan main lagi dengan richard....karena kamu bisa-bisa di jauhi teman-teman kamu...
RICHARD ITU CACAT.

sesudah itu agus tidak main lagi dengan richard dan percaya kata-kata bosman.

sesudah itu dengan air mata yang berlinang di mata,, richard pergi kembali ke-kelas dan bertanya kepada guru nya.

"bu,apa benar saya cacat?"

bu guru mendekati richard dan memegang tangan richard dan berkata.."
"memang benar kamu cacat,bu guru juga cacat,dan semua di sini cacat !

tapi kamu salah satu yang tahu bahwa kamu cacat,
dan sungguh cacat adalah sudah tahu cacat tapi tidak mau mengerti ke-cacatan-nya.
ini dinamakan cacat sungguh cacat."


kadang-kadang kita tahu bahwa merokok itu tidak baik.....bahkan orang bijaksana tahu yang bermanfaat,baik,dan berguna.....

sudah tahu merokok tidak baik,kok masih juga mau merokok?....cacat sungguh cacat kah?


sory jika kata-kata saya menyinggung mu...tapi ego lah yang main disini.
kurangilah merokok step by step...memang susah - tapi susah bukan mustahil.

anda tinggal pilih mau menempatkan diiri di posisi mana?
posisi cacat sungguh cacat,
cacat saja,
atau orang sempurna tanpa cacat. ^^


salam dari mantan perokok,. ^^
 
Eh... Mercedes, pindah forum nih....

Memang sedang dikurangi kok bro... hehehe... Hanya sekedar mengisi kekosongan. Bosan dengan uraian searah di Forum Buddhis. Mau cari angin segar nulis opini di sini. Yah... namanya juga cerita dari hati.

Merokok memang merugikan kesehatan. Makan nasi juga loh.... Minum kopi juga... Apalagi minum tuak. Tapi, agak susah berdebat masalah ini. Yah, akhirnya memang kesehatan adalah hak asasi siapapun individunya.

Thanks atas perhatianmu atas merokok. Tulus, seorang teman memang mengingatkan temannya yang lain yang melakukan kesalahan. Saya belajar ganja dulu baru merokok. Itu bukan kebanggaan. Itu permainan hidup. Hingga saat ini ganja sudah tak ada, tinggal rokok yang harus dienyahkan. Bukan dengan memusuhi, tapi dengan menyadari. Dengan menulis seperti ini, aku sering menertawai diriku sendiri. Semacam terapi... semoga bermanfaat. Tidak hanya bagi saya, tapi juga bagi siapa saja yang baca.
 
^
Sumpe Gw Nyoba-Nyoba Ngerokok Gak Ngerti Dimana Letak Nikmatnya ....
 
kalo gak dapat dimana enaknya, lebih baik jangan diterusin. bisa jadi ngerti enaknya ntar. kalo udah tahu gimana enaknya, bisa kecanduan. kalo udah kecanduan. susah berhenti. kalo udah susah berhenti.... siap-siap dimusuhin orang yang gak merokok. kalo udah dimusuhin... gak enak kan?!
 
Kalo Rokok sih gampang dilepasin, krn ga ada sisi emosionalnya..
Bgmn dengan seks ?
Ada yang bisa lepasin ?
Ada Mantan Pelaku Seks di sini ?? :-/
 
@Reflection4us
Pasti ada... cuman itu kayanya too personal to discuss... hehehehe
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.