Berita Kecelakaan Lion Air: Penjelasan Detik-detik Terakhir Pesawat Jatuh

Discussion in 'Gossip, Berita & Politik' started by politik, 10 Nov 2018.

  1. politik

    politik IndoForum Beginner D

    No. Urut:
    288509
    Joined:
    14 May 2018
    Messages:
    602
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Walau para penyelidik belum menyimpulkan apa yang menyebabkan pesawat Lion Air JT610 terjerumus ke laut, namun mereka tahu bahwa pada hari-hari sebelum kecelakaan itu, pesawat tersebut telah mengalami masalah berulang di beberapa sistem yang sama yang dapat menyebabkan pesawat itu menukik tajam ke laut. Jika terdapat kesalahan, pilot harus mengambil keputusan dalam hitungan detik. Dan mengharapkan seseorang melakukan segalanya dengan benar dalam tekanan yang tinggi sangatlah sulit. Maka dari itu, hal tersebut harus dicegah sebisa mungkin.

    Oleh: Hannah Beech dan Keith Bradsher (The New York Times)

    Saat-saat terakhir dari Lion Air Penerbangan 610—seiring pesawat itu meluncur pada pagi hari dari langit Indonesia yang tenang ke perairan Laut Jawa—pasti sangat menakutkan tetapi terjadi dengan cepat.

    Pesawat Boeing dengan lorong tunggal tersebut—yang dirakit di Negara Bagian Washington dan dikirim ke Lion Air kurang dari tiga bulan yang lalu—tampaknya telah menukik tajam ke dalam air, mesin canggihnya memacu pesawat menuju ombak dengan kecepatan 400 mil per jam dalam waktu kurang dari satu menit.

    Pesawat itu menabrak laut dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga beberapa peralatan logam di pesawat berubah menjadi bubuk, dan perekam data penerbangan pesawat itu terlepas dari kotak berlapis baja, terdorong ke dasar laut berlumpur.

    Seiring para penyelidik Amerika dan Indonesia menemukan teka-teki tentang apa yang salah, mereka tidak berfokus pada satu waktu, tetapi pada isu-isu bermasalah yang berakhir dengan kematian semua 189 orang di dalamnya.

    Itu hampir selalu terjadi dalam kecelakaan pesawat, di mana bencana jarang dapat disematkan pada satu faktor. Walau para penyelidik belum menyimpulkan apa yang menyebabkan Penerbangan 610 terjerumus ke laut, namun mereka tahu bahwa pada hari-hari sebelum kecelakaan itu, pesawat tersebut telah mengalami masalah berulang di beberapa sistem yang sama yang dapat menyebabkan pesawat itu menukik tajam ke laut.

    Pertanyaan tentang masalah-masalah itu dan bagaimana masalah itu ditangani, merupakan pengingat yang serius dari kepercayaan yang kita tunjukkan setiap kali kita mengikat sabuk pengaman dan terbang ke langit dalam sebuah tabung logam.

    Pada tanggal 29 Oktober, pada pagi hari dengan sedikit angin, apa yang tampaknya menjadi serangkaian masalah yang sempurna—mulai dari kesalahan data berulang yang berasal dari instrumen pesawat terbang, hingga maskapai penerbangan dengan catatan keamanan yang menyedihkan—mungkin telah membuat pilot muda pesawat tersebut menghadapi tantangan yang tak dapat diatasi.

    Pada Rabu (7/11), Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa data yang salah diproses di pesawat Max 8 tersebut, dapat menyebabkan pesawat tiba-tiba jatuh. Para penyelidik yang memeriksa Penerbangan 610 tersebut mencoba untuk menentukan apakah itu yang terjadi.

    Boeing minggu ini mengeluarkan buletin global yang menasihati para pilot untuk mengikuti manual operasinya dalam kasus-kasus seperti itu. Tetapi untuk melakukannya, kata para ahli, akan mengharuskan kapten Penerbangan 610, Bhavye Suneja (seorang warga negara India berusia 31 tahun), dan rekannya, Harvino, (seorang warga Indonesia berusia 41 tahun), untuk membuat keputusan dalam hitungan detik di momen kepanikan yang hampir pasti.

    Mereka harus menyadari bahwa masalah dengan pembacaan di layar kokpit menyebabkan penurunan tiba-tiba. Kemudian, menurut FAA, mereka harus mengambil kendali fisik pesawat tersebut.

    Itu bukan masalah sederhana soal menekan tombol. Sebagai gantinya, para pilot berkata, Kapten Suneja dapat menguatkan kakinya di dasbor dan menarik kuk, atau roda kontrol, kembali dengan seluruh kekuatannya. Atau dia bisa melakukan proses empat langkah untuk mematikan daya ke motor listrik di ekor pesawat, yang menyebabkan pesawat menukik ke bawah.

    Semua ini harus terjadi dalam hitungan detik—atau pesawat akan berada dalam risiko serius untuk jatuh.

    “Mengharapkan seseorang yang berada pada tekanan tinggi untuk melakukan segalanya dengan benar, sangatlah sulit,” kata Alvin Lie, seorang pakar penerbangan Indonesia dan ombudsman negara tersebut. “Itu sebabnya Anda tidak ingin menempatkan pilot dalam situasi seperti itu jika ada hal yang dapat Anda lakukan untuk menghentikannya.”

    LANGIT YANG PENUH
    Bahkan seiring semakin banyak orang yang terbang, penerbangan menjadi lebih aman. Tahun lalu adalah yang paling aman dalam sejarah perjalanan udara komersial. Rata-rata, hanya satu dari setiap 16 juta penerbangan yang menghasilkan kecelakaan mematikan, menurut Jaringan Keselamatan Penerbangan. Hampir satu dekade telah berlalu sejak kecelakaan fatal yang dialami oleh sebuah maskapai Amerika.

    Namun, seiring dengan semakin banyaknya bukti, tampaknya nasib Penerbangan 610 dapat menggambarkan bagaimana rantai peristiwa individual—terutama dengan pesawat yang sangat otomatis—dapat menyebabkan konsekuensi yang fatal.

    Kecelakaan itu juga menunjukkan masalah yang berkembang dalam penerbangan, yang secara tidak langsung disebabkan oleh munculnya maskapai penerbangan berbiaya rendah dan pertumbuhan eksplosif dalam jumlah orang yang mampu terbang.

    Walau Boeing dan saingannya di Eropa, Airbus, memproduksi pesawat secepat yang mereka bisa, namun jumlah pilot yang berpengalaman, insinyur pesawat terbang, mekanik, dan bahkan regulator keamanan udara, masih tertinggal.

    “Masalahnya adalah, maskapai yang kurang diminati adalah yang memiliki sumber daya paling sedikit, yang sangat kekurangan dalam hal sumber daya manusia,” kata Martin Craigs, ketua Aerospace Forum Asia, kelompok advokasi industri di Hong Kong.

    Kisah Lion Air dimulai hampir 20 tahun yang lalu, ketika sebuah agen perjalanan Indonesia dan saudaranya mendirikannya sebagai maskapai penerbangan yang akan menawarkan penerbangan murah antara pulau-pulau yang tersebar di seluruh kepulauan negara berpenduduk padat tersebut.

    Bahkan seiring perusahaan yang terhubung secara politik tersebut—yang memiliki beberapa maskapai penerbangan—mendorong ekspansi agresif dengan pinjaman dari bank dan lembaga kredit pemerintah, maskapai itu juga memiliki setidaknya 15 penyimpangan keamanan utama. Pilot mengeluh bahwa mereka terlalu banyak bekerja dan dibayar rendah, dan beberapa yang menantang perusahaan tersebut terkait masalah kontrak, sekarang dipenjara.

    Yang lebih memprihatinkan, pilot mengatakan bahwa budaya di maskapai ini mengabaikan keselamatan. Seorang pilot yang menolak menerbangkan sepasang pesawat yang dianggapnya tidak aman, akhirnya dikesampingkan oleh Lion Air dan menyelesaikan kasusnya di pengadilan beberapa tahun kemudian.

    Seorang mantan penyelidik untuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan bahwa Lion Air berulang kali mengabaikan perintah untuk mendaratkan pesawat atas masalah keamanan. Pilot dan mantan regulator keamanan mengatakan bahwa penerbangan Lion Air dan kru pemeliharaan secara teratur mengisi dua buku log, satu asli dan satu palsu, untuk menyembunyikan penyimpangan.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG