• Saat ini anda mengakses IndoForum sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya diperuntukkan bagi anggota IndoForum. Dengan bergabung maka anda akan memiliki akses penuh untuk melakukan tanya-jawab, mengirim pesan teks, mengikuti polling dan menggunakan feature-feature lainnya. Proses registrasi sangatlah cepat, mudah dan gratis.
    Silahkan daftar dan validasi email anda untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang benar dan cek email anda setelah daftar untuk validasi.
  • Tips kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19:
    • Cuci tangan kamu sesering mungkin;
    • Jaga jarak dengan orang lain minimal 2 meter;
    • Minimalkan kegiatan di luar ruangan.
    Stay safe in your bubble!

Jawara robot, anak desa bukan berarti prestasi ndeso

facebookeb

IndoForum Senior A
No. Urut
210735
Sejak
9 Jan 2013
Pesan
7.471
Nilai reaksi
96
Poin
48
Ahmad Khoirul Hadi (15), Nabil Al Annisi (14), dan Mohammad Harris Riqin (13), warga Desa Campureco, Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur, siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs/sederajat SMP) Tarbiyatul Wathon, sebentar lagi akan go internasional.

Ahmad (kelas IX) anak penarik ojek dan penjual ikan, Nabil (kelas VIII) anak sopir lepas, dan Haris (kelas VII) anak nelayan, bulan November lalu menjadi juara dari dua kompetisi robot tingkat nasional.

Mereka menjadi juara di kompetisi robot se Jawa dan Bali di Jember Line Tracer IV yang digelar Universitas Jember dan kompetisi Robot Elite Competition 2 (Reco 2) di Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung.

Sebagai anak desa, yang rata-rata penduduknya bekerja sebagai pedagang, nelayan dan menjadi buruh di luar negeri (TKI), Ahmad dan dua adik kelasnya itu, membuka mata dunia dengan prestasinya. Apalagi, di bulan Januari mendatang, ketiganya akan terbang ke Singapura untuk mengikuti kompetisi robot internasional.

Prestasi yang membanggakan desa dan sekolahnya yang hanya berbasis pendidikan agama di Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatul Wathon di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng itu, nyatanya lahir dari ketekunan tiga bocah anak dari keluarga sederhana berpenghasilan rata-rata Rp 60.000 per hari.

"Mereka memulainya dari hoby utak-atik mesin tamiya rusak, kemudian di sekolah saya mengarahkannya ke robot. Ternyata, mereka bisa enjoy dan menikmatinya hingga berbuah prestasi yang membanggakan," kata AM Muhklis Indrawan alias Wawan, tutor Ahmad Cs, Kamis (11/12) lalu.

Memang, lanjut Wawan, mereka bukan anak orang kaya yang bisa mendapatkan semua kebutuhan yang diinginkan, juga bukan anak bersekolah dari sekolahan elit seperti anak-anak kota.

"Mereka hanya anak desa dari keluarga sederhana, yang hanya bisa belajar di sekolah biasa, sekolah MTs lagi. Ini yang menjadikan kita, guru-guru sekolah dan penduduk desa bangga terhadap ketiganya," ucap alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Prestasi Ahmad dan dua adik kelasnya itu, diakui Wawan, meruntuhkan anggapan, prestasi hanya milik anak kota bersekolah elit nan mahal saja. "Tapi kami sudah membuktikan, bahwa kami bisa seperti mereka (pelajar kota di sekolah mahal)," tandas dia bangga.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Atas.