GOLDWAY
IndoForum Senior E
- No. Urut
- 108195
- Sejak
- 4 Nov 2010
- Pesan
- 3.835
- Nilai reaksi
- 273
- Poin
- 0
JANGAN ASAL MARAH
Pada dasarnya, marah adalah sifat alami manusia. Semua orang pernah marah. Namun demikian, cara orang mengatasi amarahnya tersebut tentu berbeda-beda. Seseorang yang mempunyai tingkah laku agresif mungkin akan cendrung mengumpat memaki, dan bahkan melakukan perusakan semisal dengan membanting barang-barang yang ada di dekatnya. Pada tingkat yang lebih ekstrim, marah dapat mengarah pada tindak kriminal seperti membunuh, melukai, atau menyiksa seperti halnya yang terjadi pada kasus ibu San tersebut di atas. Namun demikian, ada pula orang yang mengekspresikan amarahnya dengan cara pasif seperti diam, mengurung diri, murung, atau menangis.
Apapun ekpresinya, marah tetaplah sesuatu yang membahayakan (baik diri sendiri ataupun orang lain) jika tidak dikendalikan dengan benar.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
“Sesungguhnya marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak Adam. Ingatlah bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridoan, dan sejelek-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan melambatkan rido.”
(H.R. Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri)
Dari hadits tersebut, umat Islam pun diminta untuk menahan amarah karena itulah hal terbaik yang dapat dilakukan. Marah sedapat mungkin harus dihindari, terlebih marah yang diekspresikan dengan melakukan kerugian pada orang lain. Ketika marah, besar sekali kemungkinan kita ditunggangi oleh setan sehingga mampu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip agama.
Bagaimanapun juga, Rasulullah Saw. menghendaki pengikutnya menjadi umat yang pemaaf, bersikap lembut, serta tegar dengan mengharap rido dan balasan dari Allah Swt. Hal ini tercermin dalam dua keterangan berikut.
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”
(Q.S. Al-A’raaf [7]: 199)
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(Q.S. Ali Imran [3]: 134)
Namun demikian, apabila kita telah terlanjur marah, Islam mengajarkan beberapa hal untuk meredam amarah tersebut.
Pertama, mengubah posisi tubuh ketika marah. Jika kita marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika duduk masih belum cukup untuk membuat kita lebih tenang dan marah mereda maka berbaringlah. Hal tersebut sesuai dengan hadits Rasulullah Saw. berikut ini.
“Apabila salah seorang di antara kamu marah, dan ketika itu ia dalam kedudukan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kerana hal itu akan menghilangkan marahnya. Dan kalau tidak, maka hendaklah ia berbaring.”
(H.R. Muslim)
Kedua, segeralah ambil air wudu. Rasulullah Saw. bersabda,
“Marah itu datangnya daripada setan, dan setan itu diciptakan daripada api, sedangkan api itu hanya dipadamkan dengan air. Oleh itu apabila salah seorang di antara kamu marah, maka hendaklah ia berwudu.”
(H.R. Abu Daud)
Ketiga, mandi. Dalam hadits Abu Daud disebutkan,
“Duduk ketika sedang berdiri, tiduran ketika sedang duduk, jika masih marah, berwudu atau mandilah dengan air dingin.”
Apakah semua marah dikatagorikan buruk? Ternyata tidak.
Marah diperbolehkan apabila terjadi pelanggaran terhadap agama apalagi terdapat hak-hak Allah yang dilanggar.
Salah satu contohnya adalah Rasulullah Saw. marah ketika melihat imam shalat membaca ayat yang sangat panjang sementara di antara makmum terdapat orang lemah, sakit, dan mempunyai urusan.
Marah juga diperbolehkan bagi suami yang melihat istrinya berduaan dengan lelaki lain yang bukan muhrim. Di sini, suami wajib marah dan cemburu (ghirah) karena kalau tidak hal tersebut dapat membuka peluang istri untuk melakukan zinah dengan lelaki lain dan ini sudah melanggar hak-hak atau hukum-hukum Allah.
semoga bermanfaat...

