judi
IndoForum Activist D
- No. Urut
- 12992
- Sejak
- 22 Mar 2007
- Pesan
- 12.330
- Nilai reaksi
- 460
- Poin
- 83
Semoga bisa jadi perenungan....
dan semoga Allah memberi hidayah bagi orang yang dikehendakinya
dan semoga Allah memberi hidayah bagi orang yang dikehendakinya
http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg16553.htmlIRONI DI MASJID "KUBAH EMAS" DEPOK
IRONI DI MASJID "KUBAH EMAS" DEPOK
Kegundahan seorang Ayah
Hari minggu tgl 14 Januari 2007, kami sekeluarga (istri dan kedua anak saya
masing-masing berumur 9 dan 5 tahun) bermaksud pergi ke untuk sholat ashar
di Masjid "Kubah Emas" (kalau tidak salah namanya Masjid Dian Al Mahri),
Istri dan kedua anak saya begitu bersemangat untuk sholat di Masjid yang
terletak daerah Meruyung, Depok tsb, Selain sholat saya juga ingin
memberikan alternatif wisata rohani yang positif pada anak saya. Namun saat
kami hendak masuk ke pintu gerbang Masjid, satpam penjaga melarang anak
saya masuk dengan alasan masih di bawah 10 tahun (begitupula nasib sama
dialami pengunjung lainnya).
Saya melihat pengumuman yang memang menuliskan melarang anak usia dibawah
10 tahun masuk ke areal masjid dengan alasan untuk menjaga kebersihan,
ketertiban, dan kekhusuan ibadah. Saya langsung terhentak kaget, kecewa
karena seumur hidup saya baru kali ini saya menemui sebuah Masjid yang
membuat larangan anak kecil masuk, bahkan ke halamannya saja tidak
boleh. Yang semakin menusuk hati saya adalah kekecewaan yang begitu
terlihat dari ekspresi anak saya terutama anak laki-laki saya yang berusia
5 tahun, dia heran dan bertanya "kenapa yah, aku tidak boleh masuk?,
emangnya yang punya mesjid tidak suka anak kecil yah?". Saat itu saya tidak
bisa menjawab apapun, jawaban seperti apa yang harus saya berikan pada anak
saya?. Selama ini saya berusaha untuk selalu membiasakan anak saya sholat
di masjid sebelah rumah. Namun saat ia begitu antusias untuk melihat Masjid
yang begitu tersohor dan indah justru ia tidak bisa masuk. Akhirnya kami
sholat Ashar di Mushola dekat pintu gerbang Masjid "Kubah Emas". Mushola
yang -maaf- tempat wudhunya tidak terawat dan kotor namun welcome kepada
kami termasuk anak-anak saya.
Setelah sholat saya berpikir mengapa pemilik Masjid itu menerapkan sebuah
aturan yang bahkan melebihi aturan di Masjidilharam? dimana ada orang yang
thawaf terlihat membawa bayi dan tidak dilarang oleh Asykar (polisi
kerajaan). Saya tidak pernah mendengar atau membaca sebuah ayat atau hadits
yang melarang anak dibawah 10 tahun tidak diperbolehkan pergi ke Masjid.
Yang saya tahu memang Rasulullah melarang anak kecil sholat di shaff
terdepan bukan melarang datang sholat ke Masjid. Saya khawatir aturan di
Masjid "Kubah Emas" ini melewati apa yang digariskan Rasulullah.
Secara Psikologis , pelarangan ini tentu menjadi kontraproduktif dengan
proses pengenalan dan pembiasaan dini agar anak dekat dengan Masjid dan mau
ke Masjid. Bayangkan jika semua Masjid melarang anak dibawah usia10 tahun
sholat di Masjid, maka Masjid akan kehilangan jama'ahnya sebab generasi
mudanya tidak pernah dibiasakan pergi ke Mesjid. Generasi muda Islam akan
semakin jauh dari tempat sujud ke Tuhannya dan mungkin mereka akan "phobia"
dengan Masjid.
Jika memang pemilik Masjid Kubah "Emas" ingin membatasi segmen pengunjung
maka seharusnya jangan disebut Masjid, sebut saja "ini adalah tempat sholat
pribadi kami yang berada di areal pribadi, setiap yang ingin sholat harus
ikut peraturan keluarga kami". Sebab jika disebut Masjid maka sudah
memasuki dimensi publik dimana semua muslim berhak sholat di Masjid manapun
termasuk dengan anak-anaknya. Tentu setiap orang tua harus menjaga anaknya
agar tertib.
Terakhir saya berharap "pemilik" Masjid "Kubah Emas" (juga ke masjid
manapun) mau meninjau kebijakannya. Anak adalah harapan masa depan Islam,
mereka harus didik dekat dan cinta Masjid sejak dini, kalau tidak mereka
akan lebih dekat pada "tempat" lain yang belum tentu membawa kebajikan bagi
mereka.. Saya berharap pula, Masjid yang begitu megah, mewah dan konon
menelan biaya ratusan milyar rupiah lebih ramai dengan kegiatan lainnya
selain tempat sholat, seperti pengajian dan pengkajian dan seminar Islam,
mentoring/pengajian bagi anak-anak yang pasti akan tertarik karena
halamannya luas dan indah. Betapa mubazirnya Masjid ini jika hanya dipakai
"hanya" untuk sholat dan itu pun dibatasi. Kita bisa berkaca pada Masjid
Nabawi pada awalnya dijaman Rasulullah masih hidup, dibangun secara
sederhana, dengan atap dari pelepah kurma, dinding dari lumpur yang
dikeraskan. Namun Masjid itu begitu kaya dengan aktivitas, menjadi tempat
Rasulullah membina ummatnya, bermusyawarah tentang masalah ummat Islam,
mengatur strategi, menimba ilmu dan disitulah peradaban Islam mulai
dibangun.
Saya pribadi masih punya PR untuk menjelaskan kepada anak laki-laki saya
agar ia tidak salah "belajar", jangan sampai ia punya persepsi bahwa Masjid
bukan tempat anak-anak untuk dekat sama Tuhannya.., naudzubillah minzalik.
Hilmy Wahdi.
Psikolog Alumnus UI
Mahasiswa Program Doktor UNJ
Dosen tidak tetap di FE UI ekstension
Ayah dari dua anak yang sedang belajar untuk dekat dengan Tuhannya.


