roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Kembali, tahun ini kita menjelang bulan suci, bulan ramadhan bagi umat Islam. Banyak sendi-sendi kehidupan bakal agak berubah sedikit menyambut bulan yang disucikan ini.
.
Puasa bagi kebanyakan orang adalah menahan haus dan lapar dari sejak matahari belum/menjelang terbit hingga matahari sudah/telah tenggelam.
.
Makna lebih dalam lagi, umat Islam pada bulan ini berusaha untuk tidak lose control dalam hal nafsu duniawi. Menghindari marah-marah, emosi yang berlebihan dan berusaha untuk memupuk amal sebanyak mungkin.
.
Menjelang puasa, kami sekeluarga mengadakan jiarah ke makam Kakek dan Nenek. Kakek, dalam hal ini kami memanggil 'Atok' Lubis adalah Muslim terpandang dulu di daerahnya. Smepat mendirikan madrasah dan sebuah Mesjid yang sampai saat ini masih berdiri tegak menjulang menyambut kami di Air Joman (Pasar Lembu - Asahan).
.
Sementara nenek sendiri adalah seorang mantan buruh yang didatangkan Belanda dari Jawa. Tidak pernah mengenal kampung halaman dan saudara kandungnya lagi semenjak diculik Belanda pada jaman kolonial.
.
Lalu bagaimana ayahku bisa menjadi Buddha? Ini sebuah cerit ayang juga sungguh panjang. Semuanya terjadi di jaman revolusi. Tepatnya pada periode perang antara Republik yang masih bayi, Jepang yang sudah mulai tergusur dan Belanda yang ingin bercokol kembali.
.
Perang mencerai beraikan keluarga Atok - Nenek. 2 dari 3 anak mereka, yaitu ayah dan bibi, terpaksa berpisah dengan mereka karena perang. Ayah dibawa seorang China bermarga Lim, dan diselamatkan, dipelihara dan dirawat sampai dewasa di Merbau - Labuhan Batu. Sementara bibi yang bungsu, juga dibawa seorang China ke daeerah Deli Tua.
.
Uwak Jono juga kabarnya begitu. Tertua dari 3 bersaudara ini tetap Muslim. Dan secara konstan akhirnya bisa berhubungan dengan adiknya di Labuhan Batu - yaitu ayahku dan bibi di Deli Tua.
.
Anehnya, uwak Jono selalu menyampaikan bahwa atok dan nenek sudah meninggal.
.
Hingga, anak dari bibi ternyata satu kerja di sebuah apotik di Medan dengan anak uwak Jono. Dan, bocorlah informasi, bahwa atok dan nenek masih sehat walafiat di Air Joman. Info ini lantas disampaikan kepada ayah.
.
Ayah, di bulan Ramadhan, tahun 1981 berserta ibu dan aku berangkat ke Air Joman. Seornag wanita setengah baya berpakaian kurung seperti penduduk melayu menyambut kami.
.
"Tidak ada haji Sanusi Lubis di sini.... maaf bapak siapa yah..." tanyanya curiga melihat seorang berwajah pribumi, kulit hitam, dengan seorang wanita bermata sipit menggendong seorang anak.
.
"Saya Wagiman, anaknya...." jawab ayah tegas.
.
Wanita itu memandang sekilas... lalu tanpa ragu memeluk ayah.... Ibu kaget bukan kepalang.
.
Ternyata wanita setengah baya itu, adik ayah yang tidak sempat dikenalnya. Nenek sering merindukan ayah. Dan... wanita itu, Bi Salmah membawa kami ke rumah panggung.
.
Tangis, airmata, bahagia.... semua campur jadi satu. Tragedi keluarga akhirnya kelar di Bulan Ramadhan. mengetahui ayah bukan Muslim, buru-buru bi Salmah mengambilkan air putih untuk aku, ayah dan Ibu.
.
Ibu sungkem kepada mertuanya. Untuk pertama kali, setelah perkawinan puluhan tahun dan sudah melahirkan 12 orang anak. Aku yang terakhir.
.
Marhaban ya Ramadhan. Jangan heran kalau tampangku beda dengan teman Chinese yang lain. Tentu saja karena darah batak kental mengalir di nadi saya.
.
.
Selamat berpuasa. semoga sukses.
.
.
Kevin Roughtorer Gildor Lubis
.
Puasa bagi kebanyakan orang adalah menahan haus dan lapar dari sejak matahari belum/menjelang terbit hingga matahari sudah/telah tenggelam.
.
Makna lebih dalam lagi, umat Islam pada bulan ini berusaha untuk tidak lose control dalam hal nafsu duniawi. Menghindari marah-marah, emosi yang berlebihan dan berusaha untuk memupuk amal sebanyak mungkin.
.
Menjelang puasa, kami sekeluarga mengadakan jiarah ke makam Kakek dan Nenek. Kakek, dalam hal ini kami memanggil 'Atok' Lubis adalah Muslim terpandang dulu di daerahnya. Smepat mendirikan madrasah dan sebuah Mesjid yang sampai saat ini masih berdiri tegak menjulang menyambut kami di Air Joman (Pasar Lembu - Asahan).
.
Sementara nenek sendiri adalah seorang mantan buruh yang didatangkan Belanda dari Jawa. Tidak pernah mengenal kampung halaman dan saudara kandungnya lagi semenjak diculik Belanda pada jaman kolonial.
.
Lalu bagaimana ayahku bisa menjadi Buddha? Ini sebuah cerit ayang juga sungguh panjang. Semuanya terjadi di jaman revolusi. Tepatnya pada periode perang antara Republik yang masih bayi, Jepang yang sudah mulai tergusur dan Belanda yang ingin bercokol kembali.
.
Perang mencerai beraikan keluarga Atok - Nenek. 2 dari 3 anak mereka, yaitu ayah dan bibi, terpaksa berpisah dengan mereka karena perang. Ayah dibawa seorang China bermarga Lim, dan diselamatkan, dipelihara dan dirawat sampai dewasa di Merbau - Labuhan Batu. Sementara bibi yang bungsu, juga dibawa seorang China ke daeerah Deli Tua.
.
Uwak Jono juga kabarnya begitu. Tertua dari 3 bersaudara ini tetap Muslim. Dan secara konstan akhirnya bisa berhubungan dengan adiknya di Labuhan Batu - yaitu ayahku dan bibi di Deli Tua.
.
Anehnya, uwak Jono selalu menyampaikan bahwa atok dan nenek sudah meninggal.
.
Hingga, anak dari bibi ternyata satu kerja di sebuah apotik di Medan dengan anak uwak Jono. Dan, bocorlah informasi, bahwa atok dan nenek masih sehat walafiat di Air Joman. Info ini lantas disampaikan kepada ayah.
.
Ayah, di bulan Ramadhan, tahun 1981 berserta ibu dan aku berangkat ke Air Joman. Seornag wanita setengah baya berpakaian kurung seperti penduduk melayu menyambut kami.
.
"Tidak ada haji Sanusi Lubis di sini.... maaf bapak siapa yah..." tanyanya curiga melihat seorang berwajah pribumi, kulit hitam, dengan seorang wanita bermata sipit menggendong seorang anak.
.
"Saya Wagiman, anaknya...." jawab ayah tegas.
.
Wanita itu memandang sekilas... lalu tanpa ragu memeluk ayah.... Ibu kaget bukan kepalang.
.
Ternyata wanita setengah baya itu, adik ayah yang tidak sempat dikenalnya. Nenek sering merindukan ayah. Dan... wanita itu, Bi Salmah membawa kami ke rumah panggung.
.
Tangis, airmata, bahagia.... semua campur jadi satu. Tragedi keluarga akhirnya kelar di Bulan Ramadhan. mengetahui ayah bukan Muslim, buru-buru bi Salmah mengambilkan air putih untuk aku, ayah dan Ibu.
.
Ibu sungkem kepada mertuanya. Untuk pertama kali, setelah perkawinan puluhan tahun dan sudah melahirkan 12 orang anak. Aku yang terakhir.
.
Marhaban ya Ramadhan. Jangan heran kalau tampangku beda dengan teman Chinese yang lain. Tentu saja karena darah batak kental mengalir di nadi saya.
.
.
Selamat berpuasa. semoga sukses.
.
.
Kevin Roughtorer Gildor Lubis
