• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Ini Gaya Hidup Baru Solusi Agar Bandung Bebas Sampah

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
Zero_Logo_Hi_Res.jpg

Sampah masih menjadi masalah utama Kota Bandung. Solusi yang dijalankan untuk mengelola sampah masih tradisional, yakni membuang sampah pada tong sampah, ditarik petugas kebersihan ke TPS hingga TPA.

Pengelolaan tersebut dinilai hanya menghabiskan tempat, menimbulkan ancaman polusi, dan ongkos angkut sampah kota yang sangat tinggi.

Sebenarnya ada satu cara mengatasi sampah secara sederhana tetapi radikal, yakni lewat prinsip "zero waste". Prinsip tidak nyampah ini dikampanyekan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) yang berpusat di Bandung.

"Proses sampah di Kota Bandung hanya memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain," kata juru bicara YPBB, Anilawati Nurwakhidin, di Bandung, Kamis (5/4/2013).

Anilawati menjelaskan, "zero waste" adalah gaya hidup yang keluar dari kebiasaan memperlakukan sampah selama ini. Gaya hidup ini meminimalkan produk atau barang yang menimbulkan sampah plastik (non-organik).

Langkahnya, mengurangi sampah mulai dari memilih produk pakaian, makanan, transportasi, dan lain-lain. Cara ini bisa diterapkan mulai lingkup terkecil masyarakat, yakni keluarga, lewat pemisahan sampah organik dan non-organik.

Anilawati menyebutkan, 50 persen sampah adalah sisa makanan (organik). Nah, sisa makanan ini jangan dibuang, tetapi bisa diurus sendiri misalnya dengan metode takakura atau kompos. Semua sampah organik bisa dijadikan kompos yang akan hancur oleh bakteri pengurai.

Cara membuat takaran ini mudah, bisa memasukan tanah ke dalam wadah kemudian diisi bakteri pengurai yang bisa didapat di toko kompos.

Sebanyak 50 persen lagi sampah non-organik. Sampah ini bisa dipilah mana yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak. Biasanya, 20 persen dari sampah non-organik ini bisa didaur ulang, dan sisanya 30 persen baru dibuang ke tong sampah yang akan berakhir di TPA.

"Tetapi langkah tersebut jangka pendeknya, karena kita prinsipnya zero waste, 100 persen tidak nyampah," katanya.

Sambil menjalankan langkah jangka pendek tadi, mulailah dengan menerapkan prinsip zero waste. Misalnya, tidak pakai popok sekali pakai, beli biskuit kiloan (tanpa plastik), menerapkan prinsip beli baju bekas, HP bekas, dan lain-lain, sehingga tidak ada lagi produk yang menimbulkan sampah baru.

YPBB melakukan pendekatan terhadap masyarakat kelas menengah ke atas untuk menerapkan prinsip zero waste. Kelas kelompok menengah itu dinilai paling banyak memproduksi sampah. Lewat berbagai macam pelatihan, diharapkan mereka bisa menerapkan zero waste.

"Kalau di keluarga saja mungkin belum ada pengaruhnya, tapi jika di lingkup RW atau sekolah, tentu dampaknya akan besar," katanya.

Dengan memengaruhi kelompok masyarakat kelas menengah, diharapkan mereka bisa menjadi relawan dan menularkan pola hidup zero waste kepada orang lain.

YPBB sendiri memiliki 13 staf, 4 orang di antaranya kerjja full time. Aktivitasnya melakukan suporting sistem, yakni membuat skema program yang bisa dilakukan sebanyak mungkin orang untuk perubahan. Para staf tersebut dibantu para relawan sebagai penyebar program.

Menurutnya, Bandung pada siang hari menampung 4 juta orang yang beraktivitas. Jumlah tersebut potensial untuk menjadi relawan.

Para staf YPBB juga menerapkan pola zero waste dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya dengan selalu membawa wadah untuk belanja kue-kue, bagi staf perokok tidak memakai rokok filter karena filternya sulit diurai jika dibuang. "Tetapi lebih baik tidak merokok sama sekali," katanya.

Sarana transportasi yang dipakai juga mempertimbangkan aspek lingkungan. Aktivis YPBB lebih memilih kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Kalaupun kendaraan pribadi, sepeda menjadi pilihan utama karena ramah lingkungan.

"Kita mengutamakan pola hidup organik (alami)," tandasnya.

Persoalan sampah selama ini identik dengan kotor, jijik, bau, sehingga Bandung tidak bisa mendapat Adipura. Tetapi kata Anilawati sebenarnya persoalan sampah bukan sekedar Adipura.

Ia menuturkan, jenis sampah jaman ini berbeda dengan dulu. Skarang banyak sampah kimia yang mengandung banyak racun, seperti plastik yang merupakan hasil tambang dari perut bumi, pipa pvc, batre, dan lain-lain.

Sampah-sampah modern ini jika terbakar menimbulkan racun pemicu kanker, cacat pada bayi, autisme. Banyak sampah non organik yang mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan racun lainnya.

"Sampah saat ini menimbulkan penyakit yang belum dikenal sebelumnya sama halnya seperti kita enggak pernah kenal plastik sebelumnya," ujarnya.

Akibatnya, racun dari sampah mengelilingi kehidupan manusia. "Sampah ternyata dampaknya dahsyat, jadi bukan hanya sekedar kotor dan bau," bebernya.

Dia berharap, warga Bandung bisa menuju prinsip hidup zero waste. Dengan begitu, tidak perlu lagi biaya angkutan sampah yang tinggi, tidak perlu PLTSA, dan lingkungan menjadi lebih sehat.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.