yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Direktur Departemen Komunikasi BI, Difi A Johansyah, Senin 2 Desember 2013, menjelaskan inflasi November 2013 lebih rendah dibandingkan dengan pola historisnya dalam lima tahun terakhir. Inflasi yang rendah dipengaruhi masih berlanjutnya deflasi di kelompok harga pangan (volatile food).
"Deflasi 0,57 persen pada November 2013 akibat koreksi harga cabai terutama di Jawa dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta penurunan harga daging ayam ras di hampir seluruh wilayah Indonesia," ujar Difi dalam keterangan tertulisnya.
Selain itu, ia melanjutkan, inflasi inti November 2013 juga melambat menjadi 0,20 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,34 persen. "Dengan masih berlanjutnya tren penurunan inflasi ini, bunk Indonesia memperkirakan inflasi tahun 2013 akan di bawah 9 persen dan menurun pada kisaran target 4,5+1 persen pada tahun 2014," kata Difi.
Sementara itu, lanjut Difi, neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2013 membaik sesuai perkiraan bunk Indonesia. Pada Oktober 2013, neraca perdagangan kembali surplus sebesar 0,05 miliar dolar AS, setelah sebelumnya pada September 2013 mencatat defisit 0,81 miliar dolar AS.
Perbaikan neraca perdagangan dipengaruhi surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat menjadi 0,79 miliar dolar AS. Terutama ditopang perbaikan ekspor nonmigas yang secara tahunan tumbuh positif 2,5 persen (year on year/yoy) akibat meningkatnya volume ekspor produk primer (CPO dan karet mentah) dan produk manufaktur (antara lain tekstil dan produk tekstil dan peralatan listrik).
Selain itu, impor nonmigas juga terkontraksi 8,8 persen (yoy), khususnya pada kelompok bahan baku dan barang modal sejalan dengan pengaruh tren perlambatan permintaan domestik.
"Pada sisi lain, defisit neraca perdagangan migas pada Oktober 2013 menyempit menjadi 0,74 miliar dolar AS, dari defisit sebesar 1,31 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya," kata Difi.
Penurunan defisit neraca perdagangan migas ini, menurut Difi, dipengaruhi kontraksi pada impor migas sebesar 9,4 persen (yoy) dan meningkatnya ekspor migas sebesar 3,0 persen (yoy).
"Sejalan perkembangan ini, bunk Indonesia memandang prospek defisit transaksi berjalan ke depan akan terus membaik," kata Difi.