• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Inflasi Akhir Tahun Diperkirakan 8,8%

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
OPrji.jpg
Tingkat inflasi Indonesia tahun ini akan mencapai angka 8,8 persen. Persentase yang paling tinggi berada pada angka 9 persen.

"Target inflasi yang ditetapkan pemerintah sebesar 7,2 persen memang tidak mungkin lagi tercapai, tapi sampai akhir tahun laju inflasi kami perkirakan mencapai 8,8 persen, tidak akan melebihi 9 persen," tutur Ekonom Asia Pacific Economic and Market Analysis Citi Research Helmi Arman, di Jakarta, Selasa (5/11/2013).

Menurut dia, pemerintah telah berhasil mengendalikan laju inflasi yang meroket akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Juni lalu. Ini terbukti, lanjutnya, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan tingkat inflasi di bulan Oktober berada pada level 0,09 persen.

Helmi memperkirakan inflasi pada November akan berada pada level yang sama dengan bulan sebelumnya. Sementara di bulan Desember, menurut dia, inflasi akan berada di bawah 1 persen.

Sementara itu terkait defisit current account Helmi mengatakan, pada kuartal ketiga 2013 diperkirakan masih mendekati angka hingga USD 8 miliar. Angka tersebut membaik dibandingkan kuartal II 2013 yang sebesar USD 9,8 miliar.

Namun menurut dia hal ini masih dilihat sebagai kondisi yang belum stabil. "Berdasarkan asumsi nominal PDB, defisit transaksi berjalan masih di atas 3,5 persen, dibandingkan forecast bunk Indonesia (BI) 3,36 persen," jelasnya.

Helmi menilai, BI telah obyektif menurunkan defisit transaksi berjalan. "Meski aliran modal di pasar obligasi mulai pulih, BI dapat memperketat kebijakan moneternya jika hasil data tidak menunjukkan pengurangan defisit pada current account sesuai harapan," pungkasnya.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.