Berita Indonesia Belum Belajar dari Gempa dan Tsunami Sebelumnya

Discussion in 'Gossip, Berita & Politik' started by politik, 13 Oct 2018 at 13:44.

  1. politik

    politik IndoForum Newbie A

    No. Urut:
    288509
    Joined:
    14 May 2018
    Messages:
    304
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Setelah bencana di Sulawesi yang menewaskan sekitar 2.000 orang dan 5.000 lainnya menghilang, banyak yang berspekulasi bahwa Indonesia belum belajar dari gempa dan tsunami sebelumnya. Juru bicara BNPB Sutopo pun mengakui bahwa kesiapan Indonesia untuk menghadapi bencana dan kapasitas untuk menanggapi masih sangat kurang, setidaknya karena pendanaan publik yang sangat rendah. Selain itu, kurangnya latihan pendidikan dan keselamatan, membuat orang-orang tidak tahu cara melindungi diri mereka sendiri ketika gempa terjadi.

    Oleh: Kanupriya Kapoor (Reuters)

    Pemuda yang berdiri di atas tumpukan lumpur abu-abu dan puing-puing di pulau Sulawesi di Indonesia, menunggu ekskavator yang ia harapkan akan menggali jenazah orang tuanya, menyuarakan rasa putus asa yang dirasakan banyak orang di negara yang dilanda gempa tersebut.

    “Ini adalah sesuatu yang terjadi sepanjang waktu di Indonesia. Mengapa kita tidak lebih baik dalam menanganinya?” Bachtiar menangis ketika mesin itu berdesing menggali reruntuhan dapur seseorang di kota Palu.

    Gempa bumi berkekuatan 7,5 skala Richter pada 28 September 2018 lalu, memicu tsunami dan pencairan tanah menjadi genangan yang luas (likuifaksi)—sebuah fenomena yang mengubah tanah menjadi lunak dan lumpur yang mendidih, dan menewaskan 2.073 orang, menurut perkiraan resmi terbaru. Lebih dari 5.000 korban kamungkinan masih hilang.

    “Dalam setiap bencana, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik,” kata Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), minggu ini.

    Sutopo mengakui bahwa kesiapan Indonesia untuk menghadapi bencana dan kapasitas untuk menanggapi masih sangat kurang, setidaknya karena pendanaan publik yang sangat rendah. Dia mengatakan bahwa anggaran untuk tanggap bencana negara saat ini adalah Rp4 triliun ($262 juta) per tahun, setara dengan 0,002 persen dari anggaran negara.

    “Kita tidak boleh lupa bahwa akan ada banyak bencana yang akan datang. Ini membutuhkan anggaran,” katanya. “Kita perlu belajar dari Jepang karena mereka konsisten dalam persiapan.”

    Para kritikus mengatakan bahwa, meskipun ada perbaikan pada tingkat nasional dalam penanggulangan bencana sejak tsunami Samudera Hindia yang menghancurkan pada tahun 2004, pihak berwenang setempat sering kekurangan pengetahuan dan peralatan, sehingga upaya penyelamatan ditunda sampai militer dapat mencapai daerah tersebut.

    Selain itu, kurangnya latihan pendidikan dan keselamatan, membuat orang-orang tidak tahu cara melindungi diri mereka sendiri ketika gempa terjadi.

    Gempa dan tsunami Palu adalah bencana gempa bumi kedua di Indonesia pada tahun 2018. Pada bulan Agustus, pulau Lombok diguncang oleh gempa yang meratakan desa-desa dan menewaskan lebih dari 500 orang.

    Itu adalah yang terbaru dalam serangkaian tsunami mematikan yang menghantam Indonesia pada tahun 2005, 2006, dan 2010. Namun tidak satu pun dari bencana itu yang sebanding dengan tsunami tahun 2004 yang menewaskan sekitar 226 ribu orang di 13 negara, dan lebih dari 120 ribu korban di antaranya berasal dari Indonesia.

    Indonesia terletak di bagian barat daya Cincin Api Pasifik dan secara praktis berada di atas lempeng tektonik yang terus bergerak, di bawah negara kepulauannya yang rimbun dengan lautan biru.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG